Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sebelum Fajar Menyapa
BAB 1: Sebelum Fajar Menyapa
Udara dini hari di awal tahun 2026 terasa lebih menusuk tulang daripada tahun-tahun sebelumnya. Di sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor, Nayla sudah berdiri di depan cermin kusam di kamarnya. Gadis berusia 20 tahun itu mengikat rambutnya dengan kencang, lalu mengenakan jaket pudar yang warnanya sudah sulit dikenali.
Nayla menatap pantulan dirinya. Mata yang biasanya berbinar itu kini tampak sedikit sayu karena kurang tidur, namun ada api kecil yang menyala di sana. Ia melirik kalender di dinding yang penuh dengan coretan tinta merah—tanggal jatuh tempo utang koperasi ibunya.
"Nayla, sudah bangun, Nak?" Suara parau ibunya terdengar dari balik pintu kayu yang berderit.
Nayla membuka pintu, mendapati ibunya sedang mengemas beberapa gorengan sisa kemarin yang akan dipanaskan kembali. "Sudah, Bu. Nayla mau ke pasar induk sekarang. Katanya kalau jam tiga pagi, stok bakso ikan dari pelabuhan baru datang, harganya bisa lebih miring."
Ibunya menghela napas, raut wajahnya penuh rasa bersalah. "Harusnya kamu masih kuliah, Nay. Bukan malah kelayapan ke pasar jam segini."
Nayla memegang tangan ibunya yang kasar karena terlalu sering terkena minyak panas. "Bu, kuliah bisa menunggu. Tapi perut kita dan utang-utang itu tidak bisa. Nayla janji, Nayla akan cari jalan keluar. Matahari tidak pernah terlambat terbit, Bu. Begitu juga rezeki kita kalau kita jemput sebelum fajar."
Dengan motor tua yang suaranya batuk-batuk, Nayla membelah jalanan kota yang masih sepi. Di sepanjang jalan, ia melihat gedung-gedung tinggi dengan lampu neon yang mewah—simbol kemajuan tahun 2026 yang terasa sangat jauh dari jangkauannya. Bagi orang kaya, jam tiga pagi mungkin waktu untuk pulang dari pesta. Tapi bagi Nayla, ini adalah waktu untuk memulai peperangan.
Pasar Induk sangat ramai. Bau amis ikan, aroma sayuran busuk, dan asap knalpot truk pengangkut menyatu menjadi udara yang harus dihirup Nayla. Ia berjalan cepat menuju kios Pak Haji mamat, pemasok bakso ikan langganannya.
"Eh, Nayla! Rajin bener. Mau ambil berapa kilo hari ini?" tanya Pak Mamat sambil menghisap rokok kreteknya.
"Lima kilo dulu, Pak. Tapi... boleh kurang sedikit harganya? Cabai rawit lagi naik gila-gilaan, Pak. Saya mau buat bumbu basrengnya jadi susah kalau modal baksonya tinggi," rayu Nayla dengan senyum sopan namun penuh harap.
Pak Mamat terkekeh. "Tahun 2026 semua naik, Nay. Harga bahan bakar saja naik, otomatis ongkos kirim dari pelabuhan juga naik. Tapi ya sudah, buat kamu saya kasih harga lama. Asal nanti kalau basrengmu sudah sukses, jangan lupa sama saya."
"Pasti, Pak! Terima kasih banyak!" Nayla membayar dengan lembaran uang yang ia simpan rapi di dalam dompet kecilnya. Uang itu adalah uang terakhir yang ia punya. Jika basreng ini tidak laku, ia tidak tahu lagi harus makan apa besok.
Nayla pulang saat langit mulai berubah warna menjadi biru gelap keunguan. Sesampainya di rumah, ia tidak istirahat. Di dapur sempit berukuran 2x3 meter, ia mulai beraksi.
Pertama, ia mengiris bakso ikan itu tipis-tipis. Bunyi pisau yang beradu dengan talenan kayu menjadi musik pembuka harinya. Setiap irisan harus presisi—tidak boleh terlalu tebal agar renyah, dan tidak boleh terlalu tipis agar tidak mudah hancur. Ini bukan sekadar memotong makanan; ini adalah harapan yang ia iris satu per satu.
Sambil menunggu minyak di wajan besar memanas, Nayla menyiapkan bumbu rahasianya. Ia tidak menggunakan bumbu bubuk instan yang banyak dijual di toko. Nayla menggunakan cabai kering yang ia giling sendiri, dicampur dengan irisan daun jeruk segar yang aromanya langsung menyerbak memenuhi dapur. Bau harum dan pedas itu sampai membuat hidungnya gatal, tapi ia menikmatinya.
Sreeeeeet!
Suara bakso yang masuk ke dalam minyak panas terdengar nyaring. Uap panas mengepul mengenai wajah Nayla, membuat keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Ia terus mengaduk dengan sabar agar bakso-bakso itu matang merata dan berwarna keemasan.
"Aromanya beda dari yang kemarin, Nay," ayahnya muncul di pintu dapur dengan kursi roda. Ayahnya adalah seorang mantan buruh pabrik yang mengalami kecelakaan kerja setahun lalu. Sejak itu, ekonomi keluarga mereka runtuh.
Nayla menoleh dan tersenyum bangga. "Iya, Yah. Nayla coba teknik baru. Baksonya dikeringkan dulu sebentar sebelum digoreng supaya tidak banyak menyerap minyak. Dan bumbunya Nayla tambahkan sedikit kencur biar lebih gurih."
Nayla mengangkat satu keping basreng yang sudah matang, membiarkannya dingin sejenak, lalu memberikannya pada ayahnya.
Kriuk!
Suara renyah itu memenuhi dapur. Ayahnya mengangguk-angguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Ini enak, Nak. Sangat enak. Ayah yakin orang-orang akan suka."
Nayla merasa hatinya menghangat, jauh lebih hangat dari kompor di depannya. Ia kemudian mulai memasukkan basreng-basreng itu ke dalam plastik kemasan kecil. Ia menempelkan stiker sederhana yang ia tulis tangan: "Basreng Matahari - Pedasnya Membakar Semangat".
Saat matahari pertama mulai mengintip dari ufuk timur, Nayla sudah siap. Ia menggendong tas besarnya yang berisi puluhan bungkus basreng. Ia tidak akan menunggu pelanggan datang. Ia yang akan mendatangi mereka. Ia akan pergi ke tempat-tempat orang berolahraga pagi, ke stasiun kereta tempat para pekerja berangkat, dan ke sekolah-sekolah.
Nayla menarik napas panjang, menatap matahari yang mulai bersinar terang.
"Hari ini, takdirku mulai berubah," bisiknya pada diri sendiri.
Ia memacu motor tuanya keluar gang.