"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: WANITA ITU DATANG
Pagi di Dirgantara Group selalu dimulai dengan ritme yang kejam.
Jam dinding belum menunjukkan pukul delapan, tetapi lantai eksekutif sudah dipenuhi langkah cepat dan suara sepatu yang tergesa di atas marmer dingin.
Aira Senja telah duduk di mejanya sejak pukul tujuh kurang lima belas.
Layar laptop menyala di hadapannya. Jemarinya bergerak menyusun ulang jadwal rapat Arlan Dirgantara yang kembali berubah mendadak. Meski tampak fokus, kepalanya terasa berat. Semalam ia hampir tidak tidur.
Tatapan Arlan.
Suaranya yang dingin.
Kalimat “Ini baru hari pertama.”
Semua berputar di benaknya seperti hukuman yang diulang tanpa jeda.
“Fokus, Aira,” bisiknya pelan.
Ting!
Pintu lift eksekutif terbuka.
Aira mendongak—dan tubuhnya menegang.
Seorang wanita melangkah keluar dengan anggun, penuh percaya diri. Gaun krem elegan membalut tubuh rampingnya, sepatu hak tinggi berbunyi pelan namun tegas di atas marmer. Rambut panjangnya tergerai rapi. Wajahnya cantik—kecantikan yang terbiasa dipuji dan diprioritaskan.
Wanita itu berhenti tepat di depan meja Aira.
“Kamu sekretaris baru Arlan?” tanyanya lembut.
Terlalu lembut untuk benar-benar ramah.
Aira segera berdiri. “Iya, Nona.”
Senyum tipis terukir di bibir wanita itu. “Clarissa Mahendra.”
Nama itu menghantam kesadaran Aira.
Clarissa.
Nama yang sudah ia dengar bahkan sebelum ia kembali ke hidup Arlan.
“Calon istri Arlan,” lanjut Clarissa santai, seolah menyebutkan jabatan resmi.
Dada Aira mengencang, tetapi wajahnya tetap tenang.
“Selamat pagi, Nona Clarissa. Ada yang bisa saya bantu?”
Tatapan Clarissa menyapu Aira dari ujung rambut hingga sepatu haknya yang mulai kusam. Senyumnya tidak berubah, tetapi sorot matanya dingin.
“Kamu kelihatan… sederhana,” ucapnya pelan. “Aku kira Arlan akan memilih seseorang yang benar-benar selevel dengan lingkungannya.”
Aira menunduk sedikit. “Saya di sini untuk bekerja, Nona.”
“Oh tentu.” Clarissa terkekeh kecil. “Aku hanya heran. Arlan biasanya tidak menyimpan sesuatu yang sudah ia tinggalkan.”
Ia mendekat setengah langkah.
“Apalagi jika benda itu… pernah mengecewakannya.”
Jari Aira mencengkeram tepi meja hingga buku-bukunya memutih.
Belum sempat ia menjawab, pintu ruang CEO terbuka.
Arlan Dirgantara berdiri di ambangnya.
Tatapan Clarissa langsung berubah. Senyumnya melembut. Suaranya menghangat.
“Arlan.”
Arlan menatapnya sekilas, lalu pandangannya bergeser—terlalu cepat—ke arah Aira sebelum akhirnya kembali netral.
“Kopi,” ucapnya datar.
Sebuah perintah.
Aira segera bergerak. “Baik, Pak.”
Di pantry kecil, tangannya sedikit gemetar saat menuang kopi hitam tanpa gula untuk Arlan dan latte hangat untuk Clarissa. Ia mengatur napas sebelum kembali masuk.
Saat ia meletakkan cangkir di atas meja, suasana ruangan terasa lebih padat. Sunyi yang menggantung seperti kawat tipis yang ditarik terlalu kencang.
Clarissa duduk anggun di sofa.
“Aku dengar kamu bekerja sangat keras kemarin,” katanya ringan pada Arlan. “Sekretarismu kelihatan hampir pingsan.”
Arlan tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada layar laptop, tetapi rahangnya mengeras samar.
“Dia dibayar untuk kelelahan itu,” jawabnya akhirnya.
Nada datar. Tanpa emosi.
Namun jemarinya berhenti mengetuk meja.
Hanya sepersekian detik.
Aira berdiri di samping meja, menunduk.
Clarissa menyesap kopinya, lalu tersenyum puas.
“Kopinya enak. Kamu cukup berguna.”
Berguna.
Bukan profesional.
Bukan kompeten.
Hanya… berguna.
Clarissa bangkit berdiri. “Aku harap kita bisa akur, Aira Senja.”
Nada suaranya manis—namun jelas bukan ajakan.
Saat Clarissa melangkah keluar, ruangan itu kembali sunyi.
Aira baru saja menghela napas ketika suara dingin itu kembali terdengar.
“Jangan meremehkan Clarissa.”
Aira menegang.
“Dia tidak bodoh,” lanjut Arlan. “Dan dia sudah melihatmu sebagai masalah.”
“Saya tidak berniat—”
“Niatmu tidak relevan.”
Arlan berdiri dan berjalan mendekat. Langkahnya tenang, terkontrol. Terlalu dekat.
“Yang perlu kau ingat hanya satu.”
Ia berhenti tepat di depan Aira.
“Di gedung ini,” ucapnya pelan, “aku satu-satunya orang yang berhak menghancurkanmu.”
Tubuh Aira membeku.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia kembali—
yang Aira lihat di mata Arlan bukan hanya kebencian.
Ada sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.
Sesuatu yang belum mati.
Arlan berbalik lebih dulu, kembali ke mejanya seolah tak terjadi apa-apa.
Aira melangkah keluar ruangan dengan napas tertahan.
Di mejanya, ia menatap pantulan dirinya di layar laptop yang gelap. Wajah pucat. Mata lelah. Dunia yang semakin sempit.
Clarissa dengan senyum manisnya.
Arlan dengan kebencian dinginnya.
Keduanya seperti dua sisi pisau.
“Aku harus bertahan,” bisiknya dalam hati.
Bukan karena ia kuat.
Bukan karena ia punya pilihan.
Melainkan karena mundur bukan lagi kemungkinan.
Ia menegakkan punggungnya.
Tanpa ia sadari, dari balik dinding kaca ruang CEO, sepasang mata masih memperhatikannya.
Dan kali ini, tatapan itu tidak sepenuhnya dipenuhi dendam.
sangat seru