Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden kecil
Pagi itu, seorang TNI-AD berpangkat Kapten, menyetir mobilnya menuju markas. Seragam PDH rapi, nama Ravela Natakusuma tercetak jelas di dada kanannya.
Usianya 28 tahun, belum menikah, dan disiplin adalah prinsip utama. Sebagai Komandan Kompi Yonif, ia akan memimpin apel pagi ini, jadi terlambat sama sekali bukan pilihan.
Saat melaju di jalan yang masih sepi, seekor kucing tiba-tiba menyeberang.
“Eh, kucing!” seru Ravela spontan sambil menekan rem mendadak.
Mobilnya berhenti mendadak, namun dari belakang, sebuah mobil tak sempat menghindar dan menabrak bagian belakang mobil Ravela.
“Ya ampun! Astaga—aduh, mobilnya!” Ravela terkejut kedua kalinya, jantungnya berdetak kencang. Ia segera menarik napas, menepikan mobil, dan keluar untuk mengecek keadaan.
Di sisi lain, pria di mobil belakang, Kaivan Wiratama, lebih sering dipanggil Kai, tengah sibuk menatap tablet, mengecek laporan proyek perusahaan properti dan konstruksinya, Wiratama Group.
Pendapatan tahunannya bisa mencapai triliunan rupiah, dan usianya yang sudah tiga puluh dua tahun belum membuatnya ingin menikah.
Baginya, pekerjaan jauh lebih penting daripada hal-hal yang merepotkan, termasuk urusan wanita.
Tiba-tiba mobilnya terdorong sedikit oleh sopirnya, Opi, yang mengerem mendadak. Kaivan menoleh. “Ada apa, pak Opi?” tanyanya.
“Ada mobil yang mengerem mendadak, Den. Jadi saya nabrak sedikit,” jawab Opi.
Kaivan mengangguk, “Oke, turun sebentar. Ajak pengendara itu bicara,” katanya.
Opi menuruti. Tak lama, Opi mengetuk jendela mobil Kaivan.
"Kenapa, Pak? Apa yang dia katakan?" tanya Kaivan.
"Pengendara mobil itu ingin berbicara langsung dengan Aden langsung,” kata Opi.
Kaivan menatap wanita berseragam TNI-AD tengah menunduk mengecek keadaan mobilnya sehingga ia tak bisa melihat wajah dari wanita itu.
Ia turun, melangkah mendekat, sambil berdehem halus. Wanita itu menoleh, dan pandangan mereka bertemu.
Kaivan terpaku sesaat. Cantik, tapi bukan cantik biasa, wajahnya tegas, mata tajam, dan aura keberanian yang memikat.
Untuk pertama kalinya, Kaivan melihat seorang tentara perempuan yang memancarkan pesona luar biasa.
“Mas! Mas tidak apa-apa kan?” suara wanita itu menembus kebingungan Kaivan.
Kaivan tersadar. “I–iya, saya tidak apa-apa,” jawabnya, menepis kekakuan sejenak.
Ravela melangkah mendekat, sedikit cemas. “Maaf, tadi saya harus mengerem mendadak karena ada kucing yang tiba-tiba menyeberang. Bagian depan mobil Anda jadi sedikit penyok. Saya akan bertanggung jawab.”
Kaivan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, tidak perlu diganti.”
Namun Ravela tetap bersikeras. “Tapi saya harus bertanggung jawab. Bisa minta nomor ponselnya, Mas?” Ia menatap Kaivan dengan serius tapi terburu-buru.
Kaivan menatap Ravela beberapa saat, kemudian mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
Ravela mengambilnya tanpa melihat. “Terima kasih, Mas. Nanti saya hubungi,” katanya cepat.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Ravela masuk ke dalam mobil lalu menyalakan dan memacu kendaraannya meninggalkan Kaivan.
Kaivan menatap mobil itu menjauh sambil tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama, ia kembali masuk ke dalam mobil.
“Ayo, kita berangkat. Sebentar lagi ada rapat,” perintah Kaivan. Opi mengangguk dan menyalakan mesin, mobil melaju meninggalkan jalan itu.
Ravela sampai di gerbang markas Yonif 714, mobilnya berhenti rapi di sisi lapangan apel. Ia menatap barisan prajurit yang sudah tertata rapi, wajah-wajah mereka fokus, beberapa masih terlihat mengantuk.
Tanpa menunggu lama, Ravela keluar dari mobil, sepatu hitam mengkilap menapak di aspal lapangan.
Di tengah lapangan, Letnan Satu Dimas Wicaksana, Wakil Komandan Kompi, sudah menunggu dengan tablet di tangan, siap membantu mengatur teknis lapangan dan disiplin prajurit.
Sersan Mayor Bima Santosa, Bintara Tinggi Kompi, berdiri di depan barisan, memantau kesiapan dan disiplin prajurit.
Ravela menarik napas sebentar, menegakkan punggung, lalu bersuara lantang. “Selamat pagi, Kompi!”
“Selamat pagi, Komandan!” jawab seluruh barisan serentak, suara mereka tak kalah lantang.
Ravela menatap barisan, matanya menelusuri setiap wajah prajurit. “Cek kehadiran! Peleton I, lapor!”
“Siap, Komandan! Semua hadir dan lengkap, Komandan!” jawab Letnan Dua Kirana Lestari dengan tegas, ia merupakan sahabat Ravela.
“Peleton II, lapor!”
“Siap, Komandan! Peleton II lengkap dan siap, Komandan!” ucap Letnan Dua Rendy Prakoso.
“Peleton III, lapor!”
“Siap, Komandan! Peleton III lengkap!” jawab Letnan Dua Fajar Nugraha, Perwira Peleton III.
Ravela mengangguk, puas. “Bagus. Bintara peleton, pastikan prajurit kalian menepati posisi dan menjaga postur. Jangan ada yang melamun atau tidak fokus. Ingat, disiplin itu dimulai dari detail terkecil.”
Sersan Mayor Bima Santosa mengangguk, menatap prajurit dan mengawasi barisan dengan ketat. “Setiap pelanggaran akan dicatat. Pastikan semuanya rapi,” katanya pada prajurit bintara dan perwira peleton.
Ravela menepuk tangan sekali. “Kita mulai dengan pemanasan ringan. Angkat tangan, gerakkan bahu, kaki tegap, dan atur pernapasan. Jangan sampai ada yang santai. Latihan hari ini panjang, jadi siapkan tubuh kalian!”
Prajurit mulai bergerak mengikuti instruksi. Ravela berjalan perlahan di antara barisan, menegur yang salah posisi, memuji yang melakukan tepat.
“Rendy, posisi senjatamu masih miring. Betulkan sekarang!”
“Siap, Komandan!”
“Fajar, pastikan jarak antar prajurit Peleton III tepat satu langkah. Jangan lebih dan jangan kurang,” perintah Ravela.
“Siap, Komandan!”
Ravela menoleh ke Dimas. “Lettu, catat setiap gerakan dan evaluasi. Ingat, teknis lapangan dan disiplin adalah tanggung jawab kita, bukan hanya prajurit.”
“Siap, Komandan,” jawab Dimas sambil menatap tablet.
Ravela menepuk tangannya lagi. “Hari ini kita fokus pada koordinasi tim, kecepatan gerakan, dan komunikasi. Latihan taktis akan dimulai setelah ini. Jangan lupa, keselamatan dan koordinasi adalah nomor satu.”
Seorang prajurit muda mengangkat tangan. “Komandan, bagaimana jika ada kondisi darurat di tengah latihan?”
Ravela menatapnya dengan tegas, tapi suaranya tenang. “Itu bagian dari latihan. Tetap tenang, ikuti prosedur, dan laporkan segera ke saya atau bawahan terdekat. Jangan bertindak sendiri.”
Seluruh barisan mengangguk, fokus penuh pada perintah Kapten mereka.
“Bagus. Sekarang, lanjutkan ke latihan senjata. Pastikan setiap gerakan presisi. Peleton I, mulai formasi. Peleton II dan III, siap menyesuaikan,” ucap Ravela tegas.
Barisan bergerak seperti satu kesatuan. Letnan Dua Kirana, Rendy, dan Fajar mengatur peleton masing-masing.
Latihan pun telah selesai.
“Bagus, Kompi! Hari ini kalian menunjukkan koordinasi yang baik. Tapi ingat, disiplin tidak berhenti di sini. Bawa itu ke setiap tugas dan misi kalian,” ujar Ravela.
“Siap, Komandan!” serentak seluruh prajurit menjawab, suara mereka tegas dan penuh hormat.
Ravela tersenyum tipis, menatap barisan. “Istirahat sebentar. Setelah itu, kita lanjut briefing singkat. Ingat, kalian adalah wajah Yonif 714, tampil rapi, disiplin, dan profesional di setiap kesempatan.”
“Siap, Komandan!”
Ravela duduk di mejanya di ruang kerja Komandan Kompi Yonif 714. Pagi yang sibuk di lapangan apel baru saja usai, dan kini ia menatap laporan-laporan latihan prajurit yang menumpuk di mejanya.
Pena digenggamnya, sesekali menandai catatan penting, tapi pikirannya tetap melayang pada sesuatu yang belum sempat ia urus.
“Ah ya... aku belum menghubungi pria itu,” gumam Ravela sambil membuka tas dan memeriksa semua saku seragamnya.
Ia mengangkat tas ke meja, mengacak-acak nya dengan hati-hati, tapi kartu nama yang diberikan pria pagi tadi tak kunjung terlihat.
“Lho kartu nama itu mana? Harusnya ada di sini,” ujarnya sambil menelusuri setiap lipatan tas, sedikit panik. “Kalau hilang bagaimana aku bisa ganti rugi?”