Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kesempatan Bagus
Sesampai di kediamannya, Zella dan Abi dibuat terkejut melihat tenda dipenuhi orang-orang yang tengah menikmati makanan yang sudah tersaji.
"Ada apa ini?" tanya Abi pada Zella.
"Aku akan mencari jawaban." Zella turun dari mobil dan langsung mendekati Saman.
"Ayah, ada apa ini?" tanya Zella pada Saman.
"Maaf Zell, Ayah tetap dengan rencananya, dia tak peduli penolakan kalian waktu itu dan kekeh mengadakan syukuran kecil-kecilan. Syukuran pernikahan kamu dan Abi, sekalian syukuran karena keadaan Abi membaik."
"Aduh saya jadi tak enak, buat kalian repot seperti ini." Abi tiba-tiba mendekat dengan kursi rodanya.
"Nggak repot, tamu yang ada hanya pekerja di perkebunan dan peternakan kami. Kami ingin berbagi kebahagiaan sama mereka atas pernikahan kamu dan anak kami Zella," jawab Saman.
"Ini suaminya mbak Zella? Ya ampun tampan banget kayak Aktor film-film turkey." ucap salah satu tamu.
Mendengar komentar itu sontak semua orang melupakan makan mereka dan berkerumun mengerumuni Abi dan Zella.
"Nggak apa-apa duduk di kursi roda. cakep gini rebahan di kasur pun aku mau," ucap tamu yang lain.
Zella dan Abi dibuat tersenyum oleh komentar tamu -tamu yang ada. Mereka bergantian bersalaman dengan Zella dan Abi. Iringan do'a-do'a dari setiap tamu yang menyalami terus tertuju untuk Zella dan Abi.
Zella merasa ini sudah lebih dari 10 menit Abi berada di luar ruangan tanpa pendingin udara. Wajah Zella seketika panik menyadari kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Apa kita langsung masuk saja?"
"Ciyeee pengantin wanitanya udah nggak tahan mau on bok sing," goda salah satu tamu, dengan mengucapkan kata sekenanya.
Abi mengerti kepanikan Zella, dia meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. "Aku baik-baik saja. Lihat wajahku ada memerah?"
Zella mulai menyadari keadaan Abi memang tak ada masalah. Seketika dia teringat obrolan dokter dan Miko tadi malam.
"Aku juga merasa aneh, mengapa aku baik-baik saja walau lama berada di luar ruangan, biasanya aku langsung pingsan dan sesak napas. Jadi biarkan aku menikmati keadaan ini, aku sangat lama merindukan keadaan seperti ini."
Abi membaur bersama tamu yang ada. Dia meladeni candaan para tamu sebisanya. Keadaan cukup ramai dan damai.
Supir yang mengemudikan mobil Abi, sibuk menurunkan barang bawaan majikannya, sesekali para tamu menggodanya.
Di sisi lain, tatapan Indri terus tertuju pada Abi, dia tak menyadari kalau putrinya kini berada tepat di sampingnya.
"Ada yang salah dengan laki-laki itu?"
"Entahlah, setelah melihat kejadian tadi pagi, mama merasa yakin mengikhlaskan kamu sama dia. Mungkin kamu dihadirkan dalam hidup Abi sebagai penolongnya. Dan mama berusaha menerima itu karena teringat potongan nasihat, 'sebaik-baik manusia adalah yang berguna untuk sesamanya.' jadi untuk apa mama sedih, mama yakin anak mama akan jadi penolong buat pria itu."
"Tapi nggak kebalik ma? Bukannya kita yang dapat pertolongan pria itu?" Zella ikut memandang kearah Abi.
Saat yang sama Abi juga menatap kearahnya, Zella tersenyum dan melambaikan tangannya pada Abi.
"Berarti kalian saling melengkapi?"
"Mungkin saja. Hanya saja aku harus pergi jauh dari mama dan Tifa. Titip Tifa ya ma. Lagi-lagi aku harus mengganggu mama dengan urusan anakku."
"Mama akan terus menjaga Tifa. Kamu tenang saja."
"Kapan Ayah Saman merencakanan hajatan ini?" tanya Zella.
"Sejak tahu hari pernikahanmu. Dia merencanakan pesta ini agar semua pekerja tahu kalau anak sambungnya sudah menikah. Ayah Saman selalu ditanya para pelanggannya yang tertarik padamu, jika semua pekerja tahu kau sudah menikah maka akan banyak orang yang menjelaskan status anak cantik mama ini."
Seorang wanita muda lajang, pekerja keras dan memiliki harta, tentu menjadi incaran para pemuda. Sejak menjanda lamaran selalu ada namun selalu ditolak oleh Zella. Namun beda cerita dengan Abi. Zella tak punya alasan untuk menolak.
Suasana semakin riuh saat biduan dangdut datang dan mulai menghibur tamu undangan. Zella menghela napas dalam melihat aksi heboh biduan dangdut yang langsung menjadi pusat perhatian khususnya kaum adam.
"Kesukaan Ayah Saman ini. Ya sudah aku mau masuk dan mandi dulu. Aku gerah."
Sedang di tengah tenda, Abi dibuat bingung dengan semangat para tamu yang ada, saat biduan di sana bergoyang heboh. Ada ibu-ibu yang menyeret suaminya pergi dari panggung karena suaminya sangat semangat menyawer dan menempel pada sang biduan. Abi tertawa melihat itu. Abi belum pernah hadir di acara seperti ini. Saat melihat Zella masuk kedalam rumah, Abi pun pamit pada orang terdekatnya, hendak menyusul Zella.
Namun keinginannya menyusul Zella tak mudah dia capai. Ada saja tamu yang menahannya agar tetap di sana. Abi mulai gelisah, tatap matanya selalu tertuju kearah rumah Zella.
"Kemaren di tenda sana banyak pria ganteng yang menghuni tenda itu, sejak kemaren mereka tak terlihat." ucap salah satu tamu wanita.
"Am, mereka anak buah saya, untuk membantu saya selama di sini, rumah Zella kecil tak muat menampung mereka, jadi mereka saya tempatkan di tenda," sahut Abi.
"Apa mereka masih single?" tanya perempuan lain.
"Ah, saya kurang tahu kehidupan pribadi pegawai saya. Kalau nanti mereka kembali, kalian tanyakan saja langsung." saran Abi.
"Am takut mas. Wajahnya emang ganteng, postur tubuh juga keren, tapi auranya melebihi dinginnya freezer ice cream!"
"Ah itu hanya bentuk profesionalisme pekerjaan mereka saja, aslinya pada baik dan ramah."
Tak jauh dari Abi, Indri menangkap ketidak nyamanan menantunya itu, mengingat kondisi kesehatan Abi, Indri langsung menghampiri menantunya itu.
"Abi, mama bukan mau mengusik kenyamanan kamu sekarang, tapi sebaiknya kamu masuk dan istirahat," ucap Indri.
"Yah ibu, mau amanin menantunya," keluh tamu yang lain.
"Bukan begitu, menantu saya baru banget keluar dari Rumah Sakit, tadi malam kondisinya memburuk, jadi saya izin culik menantu saya dulu, biar dia bisa beristirahat." Indri langsung mendorong kursi roda menjauh dari kerumunan tamu undangan.
Abi bisa bernapas lega, akhirnya bisa lepas dari fans dadakan itu. "Terima kasih banyak, mama Indri." ucap Abi.
"Maaf kalau aku terlambat, tadi banyak tamu yang ngajak ngobrol."
Akhirnya Abi bisa masuk ke dalam rumah dengan bantuan Indri. Di dalam rumah Abi tak mendapati sosok Zella. Abi memutuskan untuk masuk kamar, di sana dia mendengar suara gemericik air, senyuman langsung tersungging di wajah Abi.
Dengan sorot mata liciknya, Abi merasa ini kesempatan bagus untuk memulai hal itu, dia mengunci pintu kamar itu. Setelah memastikan pintu terkunci, Abi meraih remot kontrol tali seling yang mempermudahnya berpindah untuk berpindah dari kursi roda ke kasur atau sebaliknya.
Abi mulai bepindah dari kursi roda menuju kasur. Namun kala dirinya masih menggantung di tali Seling yang menahan tubuhnya menuju kasur, saat yang sama Zella keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang dililit di dada. Sedang wanita itu masih sibuk mengeringkan rambut dengan handuk yang lain, tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap kearahnya. Pemandangan itu membuat Abi takjub, paha mulus dan rambut basah yang tergerai seakan menguras kesadarannya.