⚠️ ROMANCE ADULT COMEDY.
Tertangkap basah tidur bersama di ranjangnya, memang Kelandru yang sengaja membuat itu.
Bagaimana dia tidak tertampar dan kecewa Sania yang sudah ia pacari 2 tahun ternyata berselingkuh satu tahun ini saat Kelan berada di Australia menjalani tugas dari orang tuanya. .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Payung Hujan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maka jangan selesai.
"Pria aneh!" Umpat Rea lelaki yang menggendongnya sambil berenang, Kelandru mengikat bawah gaun Rea agar tidak terangkat-angkat naik.
"Ada apa disini, kenapa tidak naik saja, kau sudah lama sekali dalam air."
Kelan terus berenang tidak peduli ucapan Rea hingga mereka sampai di ujung jembatan kayu. Lalu tidak lama laki-laki itu berhenti berpegag pada kayu jembatan, "Lihat--"
"Kelan ikan, ikan cantik-cantik!" Rea begitu excited.
"Jangan berisik nanti mereka pergi, duduklah diatas." Kelan menangkat tubuh Rea duduk diujung jembatan namun kakinya terus bergerak-gerak kegirangan.
"Ya Tuhan indah sekali," Rea menatap takjub pada ratusan mungkin ribuan ikan-ikan cantik di hadapannya.
"Harusnya kita bisa diving atau snorkeling."
"A-aku takut menyelam. Aku lihat seperti ini saja sudah cukup." Netra Rea berbinar, "Dari mana kau tahu banyak ikan disini?"
"Di sini juga titik pengunjung menyelam namun hari ini berpindah kesebelah sana."
"Aku tidak membawa makanan."
"Berikan dagingmu jadi panganan." Kelan tertawa kemudian berusaha naik duduk disebelah Rea, membiarkan matahari terik menyinari mereka.
"Hemm dulu ayahku sering mengajakku memancing, aku rindu ayah dan ibuku karena ulahmu mereka sampai sekarang tidak menegurku."
Kelan sesaat diam menundukkan kepalanya, "Mereka tidak akan membencimu. Percayalah."
Rea tidak lagi ingin membahas, "Kau tidak jadi menceritakan tentang Sania?"
Keland menggeleng, "Tidak penting dibahas, bagaimana kau mengenal dia. Kalian dua orang dengan karakter yang sangat berbeda."
"Ceritanya panjang, intinya aku ke Jakarta karena dia, cuma Sania yang aku kenal sampai dia nerusin usaha mendiang papanya disini terus aku kerja disana. Sania hidup sendirian sejak mamanya nikah lagi, jadi apapun itu aku yang selalu di sampaing dia."
"Kau tentang hubungan?"
"Percintaan? Aku tahu kau tapi hanya namamu saja lalu tinggal di Aussie. Sania tidak terlalu terbuka tentang hubungan."
"Kau yakin tidak tahu apapun tentang itu, bukankah sahabat pastu mengetahui semua tentang sahabatnya."
"Aku tidak tahu kau tapi tahu Enrico mantan kekasihnya saat kami masih kuliah. Tapi dia sudah menikah dan mungkin hidup bahagia sekarang."
Kelan tersenyum, "Kau hanya menilai dari yang kau lihat saja."
"Ha? Lalu aku harus menilai apa."
"Mereka kembali bersama saat aku di Aussie."
"A-apa?" Netra Rea membola, "Sania berselingkuh dengan Enrico. Kau sedang mengarang, pria itu beristri dan mereka memang benar-benar bahagia, aku tahu istrinya."
"Itu sebabnya aku mengatakan kau hanya menilai dari apa yang kau lihat. Setahun ini mereka bersama, kau tahu Sania berlibur ke Eropa?"
Rea berekspresi tidak yakin, "Ah...bagaimana bisa, oh itu dia ke Eropa aku tahu, bersama rekan-rekan bisnisnya bukan?"
Kelan tersenyum mencibir, "Aku tidak berbicara tanpa bukti. Dan tidak hanya sekedar tahu untuk menilai. Aku menyewa seseorang khusus untuk Sania, Sania mengikuti pria itu untuk perjalanan bisnis sekaligus mereka berlibur juga sebagai kencan terakhir kali sebab pria akan pindah tugas ke suatu negara."
"Ha, Sania dan Enrico? Ya Tuhan, kasihan sekali Mila dan Ayyasa putrinya. Sania tega melakukan itu? Pa-padahal Sania juga lumayan dekat dengan Mila istri dari Enrico itu."
"Dekat bukan berarti dia akan baik dan malam dimana kita tertangkap basah tidur di ranjang yang sama. Sania bukan bersama Yolanda melainkan berada disebuah hotel paginya laki-laki itu berangkat."
"Oh Tuhan, Eh-- Lalu kau... artinya kau cukup sadar bukan Sania di ranjang malam itu tapi orang lain. Kau ingin menjadikan aku alat balas dendammu? Kau membuat seolah-olah--"
"Maaf--" Keland berucap tulus. "Sania sering menceritakanmu kalian sangat dekat."
"Kaland kau benar-benar jahat! Kau menikahiku sebagai alat balas dendam lalu akan merusak persahabatan kami karena dia akan beranggapan aku merebut kekasihnya."
"Maafkan aku... tapi dia juga bukan sahabat yang baik, dia tidak akan menjadikanmu tumbal dan tidak akan menyetui kita menikah jika dia memperdulikanmu, hanya karena ingin membuat keluargaku diam dan tidak membuat aku pergi jauh lagi memisahkan kami."
Rea menunduk sedih, "Kalian berdua sama berengsèknya, lalu kau fikir setelah ini selesai apa setatusku? JANDA! benar-benar jahat aku membenci kalian berdua terutama kau." Rea pun bangkit ia sudah sangat muak dengan semua ini.
Kelandru mentap kosong ke air, tidak tega melihat wajah Rea, "Maka jangan pernah selesai." ucapnya pelan sekali.
"JAHAT! kalian jahat!" Rea memekik pergi dari sana berjalan di jembatan itu.
Kelan berbalik badan dan segera bangkit, "Disana buntu, kita harus berenang lagi untuk kembali."
"Tidak perlu, aku lebuh memilih tersesat dari pada jadi tumbalmu."
Lelaki yang tidak memakai pakaian dan hanya memakai celana panjang itu berjalan mendekati Rea yang sudah menjauh sambil masih berteriak-teriak itu.
"Kembalilah, tidak ada jalan disana."
"Kau jahat!" Rea menyeka air matanya benar-benar sakit hati dengan Sania dan juga Kelandru.
Kini sampailah Rea dijalan itu dan benar tertutup oleh kayu-kayu pembatas mereka tidak bisa masuk resort kecuali berputar arah dan berenang. Rea terus menghadap pada dinding itu sampai Kelan menarik bahunya.
"Sampai hari ini kau dan Sania baik-baik saja bukan?"
Rea menahan tubuhnya agar tidak menoleh, "Karena ini baru di mulai. Kau menciumku, memelukku buat apa agar aku menyukaimu? Barulah kau akan mengambil kesempatan membuat Sania dan aku berseteru, kau sakit jiwa."
"Jika aku mau sudahku lakukan di hari-hari sebelum pernikahan bukankah kita sudah bertemu dan juga setelahnya aku bisa langsung berakting... membuat seolah-olah kau mengambil kesempatan dan merebutku darinya, ayo kembali."
"Kau saja sendiri."
Kelan tersenyum, "Di sini tidak ada siapapun, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk denganmu."
"Kau senang bukan?"
"Tentu tidak, kan aku butuh istriku untuk membalas Sania."
"Dan kau tidak akan pernah bisa membalasnya. Aku akan kacaukan ini semua."
"Kacaukan... sayang..." Kelan langsung memeluk Rea yang memunggunginya, menempelkan wajahnya pada tengkuk Rea memberi kecupan-kecupan kecil dengan kedua tangannya memeluk erat gadis itu bergerak mengusapi perut ratanya.
"Keland!"
"Kau akan berdosa menolak keinginan suamimu." Bisik Kelan semakin mengecupi leher Rea benar-benar membuat Rea meremang gelisah.
adakah karya author yg lain
padahal bagus lho ceritanya
semangat lagi ya kak payung
love kak