Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 Ratu Mafia istri dokter dingin
Setelah mengantar Putri kembali ke kontrakannya, Mike langsung memacu mobilnya menuju mansion.
Sebelumnya, Putri sempat memohon agar Mike turun sebentar ke dalam rumahnya agar ia bisa mengobati luka memar di sudut bibir dan punggung Mike. Namun, Mike menolak halus. Pikirannya terlampau kalut dan dipenuhi berbagai pertanyaan besar.
Sesampainya di mansion, Mike melangkah masuk dengan tubuh yang terasa remuk dan memar-memar di beberapa bagian.
Saat melewati area ruang keluarga, langkah Mike mendadak terhenti. Di atas sofa kulit yang empuk, Sindi tampak sedang duduk santai sambil menonton drama Korea kesukaannya.
Ia mengenakan pakaian tidur sutra yang simpel, rambut hitam panjangnya terurai indah, dan wajah cantiknya tampak tertawa kecil menikmati adegan lucu di layar televisi.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Mike terkesima melihat senyuman Sindi. Senyuman itu begitu lepas, tulus, dan terlihat sangat memesona—jauh dari kesan dingin atau kepura-puraan yang biasa wanita itu tampilkan di depan orang tua mereka. Jantung Mike sempat berdesir aneh selama beberapa detik.
Namun, Mike segera menggelengkan kepala dan menepis perasaan asing itu. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah sengaja melewati depan Sindi dengan gaya jalan yang dibuat agak pincang agar wanita itu melihat luka-luka di tubuhnya.
Akan tetapi, Sindi justru sama sekali tidak memedulikan keberadaan Mike. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah suaminya yang bersimbah luka memar, matanya tetap tertempel santai pada layar televisi seolah Mike hanyalah kasat mata.
Sikap acuh tak acuh Sindi membuat Mike mengepalkan tangan menahan kekesalan sebelum akhirnya menaiki tangga menuju kamarnya.
Keesokan paginya...
Sindi sudah duduk anggun di meja makan, menikmati sarapan paginya berupa roti panggang dan segelas teh hangat dengan tenang. Tiba-tiba, terdengar langkah kaki menuruni tangga.
Mike turun dengan setelan jas rapi. Tanpa mengucap sepatah kata pun, pria itu langsung menarik kursi dan duduk di meja makan—tepat di hadapan Sindi. Ini adalah untuk pertama kalinya Mike mau duduk di meja makan yang sama setelah beberapa minggu mereka menikah.
"Mana sarapan untuk saya?" tanya Mike dengan nada suara yang sangat dingin, menatap piring kosong di depannya.
Sindi tetap tenang. Ia mengambil pisau oles, mengoleskan selai pada rotinya, lalu mengunyahnya perlahan tanpa sedikit pun memperdulikan Mike yang sedang menunggunya.
Mike yang merasa dikacangi mulai kehilangan kesabaran. "Sindi! Mana sarapan untukku?!"
Sindi perlahan meletakkan rotinya kembali ke piring. Ia menatap Mike dari atas ke bawah dengan pandangan datar dan dingin.
"Mas Mike kan biasa sarapan di rumah kekasihmu, terus untuk apa aku menyiapkan makanan untukmu?" ketus Sindi tajam.
Tanpa menunggu balasan dari Mike, Sindi langsung berdiri dari kursinya, merapikan gaun santainya, lalu berbalik melangkah pergi menuju kamarnya di lantai atas.
Mike yang merasa diabaikan secara terang-terangan mendadak emosi. Wajahnya memerah padam. "Bibi! Bibi!" teriak Mike memanggil asisten rumah tangga dengan nada tinggi.
"I-iya, Tuan Mike?" sahut Bibi pelayan bergegas datang dari arah dapur dengan wajah cemas.
"Siapkan sarapan untuk saya sekarang juga!" perintah Mike ketus.
Setelah menghabiskan sarapan yang disiapkan pelayan dengan perasaan dongkol, Mike langsung bergegas berangkat ke rumah sakit karena ada pasien yang harus dioperasi pagi ini.
Siang harinya di Rumah Sakit Sanjaya Utama...
Pintu ruangan kerja Mike diketuk pelan, lalu Baskoro melangkah masuk dengan setelan jas resminya.
"Mike" panggil Baskoro dengan suara berwibawa.
Mike mendongak dari dokumen medis di mejanya. "Ada apa, Papa?"
"Nanti malam ada pesta gala meriah dari kolega bisnis Papa. Istri dari teman Papa itu baru saja diangkat menjadi CEO di perusahaannya," jelas Baskoro panjang lebar. "Papa harap kamu hadir di pesta itu bersama Sindi. Jangan bikin malu keluarga lagi."
Mike hanya menatap ayahnya dengan raut wajah kaku. Pria itu tidak menjawab sama sekali, berpura-pura kembali sibuk menatap lembaran kertas di meja hingga Baskoro akhirnya melangkah keluar ruangan.
Malam harinya, ballroom hotel mewah tempat berlangsungnya pesta gala tampak begitu megah. Ratusan tamu dari kalangan elit dan pengusaha papan atas berkumpul memadati ruangan dengan gaun-gaun indah dan jas mahal.
Namun, pada saat pesta berlangsung, Mike sama sekali tidak membawa Sindi seperti yang diminta ayahnya. Pria itu justru melangkah masuk dengan menggandeng lengan Putri Adisti. Putri malam itu mengenakan gaun malam merah muda yang mencolok, berusaha tampil seanggun mungkin di samping Mike.
Kedatangan Mike langsung menarik perhatian banyak pasang mata. Semua tamu undangan terkesima melihat Mike yang begitu tampan dan gagah dalam balutan tuksedo hitamnya. Namun, bisik-bisik penasaran mulai menyeruak di antara para tamu.
"Wah, Dokter Mike tampan sekali ya... Tapi... siapa wanita yang dibawa sama dia malam ini?" bisik seorang wanita bergaun mewah pada temannya.
"Iya ya? Kayaknya itu bukan Sindi Permata deh... Sindi kan beda banget anggunnya, lagian mukanya familiar banget cewek itu..." sahut yang lain saling berpandangan heran.
Mike mengabaikan tatapan mata orang-orang di sekelilingnya. Ia membimbing Putri menuju tempat tuan rumah pesta berdiri.
"Selamat Pak, atas jabatan baru istrinya," ucap Mike ramah sambil menjabat tangan pengusaha paruh baya yang merupakan teman dekat ayahnya.
"Terima kasih banyak, Dokter Mike! Wah, senang sekali kamu bisa hadir," balas pengusaha itu bersemangat.
"Ayahmu selalu menceritakan kehebatanmu dan cantiknya istrimu di setiap pertemuan bisnis. Tapi... kok malam ini tidak hadir bersama istri?"
Mendengar pertanyaan itu, Putri yang berdiri di samping Mike mendadak merasa tersisihkan. Senyum manis di wajahnya seketika berubah menjadi senyum kecut.
Tangannya yang memegang tas kecil mengepal kuat menahan rasa malu dan rasa tidak terimanya karena lagi-lagi dianggap 'bukan siapa-siapa'.
Melihat situasi yang mendadak canggung dan raut wajah Putri yang berubah muram, Mike bergegas membuka suara untuk menyelamatkan suasana.
"Ohh... Iya Pak, istri saya lagi sibuk tidak bisa menemani saya malam ini. Jadi saya minta ditemani sahabat saya," jawab Mike dengan lancar dan senyum formal.
Putri yang mendengar kata "sahabat" keluar dari mulut Mike langsung membeku di tempatnya. Matanya membelalak kaget, dan dadanya terasa sangat sesak seolah baru saja dihantam batu besar.
Bersambung......
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,