NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Jejak di Balik Kamera

Raka Pradipta bekerja seperti seseorang yang selama dua tahun belajar menyembunyikan jejaknya, dan kini harus membaca jejak orang lain.

Ia duduk di meja panjang ruang makan Rumah Pulang pukul dua dini hari, laptop terbuka, dikelilingi tumpukan kertas, tiga cangkir kopi kosong, dan sebuah flash disk berisi salinan data yang diberikan Dita. Carlo duduk di seberangnya dengan lengan terlipat. Laras berdiri bersandar di ambang pintu dapur. Andien duduk paling ujung dengan secangkir teh jahe yang sudah lama dingin.

"Foto itu bukan berasal dari kamera pengawas rumah warga," kata Raka tanpa mengangkat mata dari layar. "Itu rekaman dari sistem keamanan sebuah gedung perkantoran di Jalan Palem Raja, dikelola vendor bernama Sentra Prima Sekuriti. Arsip lama mereka disimpan di server cadangan selama lima tahun."

"Dan siapa yang bisa mengakses server itu?" tanya Laras.

"Pemilik gedung. Manajemen keamanan. Dan, dengan surat kuasa tertentu, pihak yang sedang menangani perkara hukum yang melibatkan rekaman tersebut." Raka menggulir layar. "Saya sudah minta Komisaris Arief mengirim permintaan resmi ke vendor. Mereka menjawab dalam dua jam, karena saya mengancam akan melaporkan pelanggaran perlindungan data."

"Ancaman yang bagus," gumam Carlo.

"Saya belajar dari mantan atasan." Raka tersenyum tipis, lalu senyumnya menghilang. "Log akses menunjukkan unduhan terjadi pada pukul 22.47 sebelas hari lalu, menggunakan kredensial yang terdaftar atas nama sebuah firma hukum."

Hening.

"Firma hukum mana?" tanya Andien pelan.

Raka memutar laptopnya agar semua orang bisa melihat. Di layar, di bawah kolom *Pengguna Terdaftar*, tertera tiga kata yang membuat napas Andien tertahan.

*Prasetyo & Rekan.*

Laras mengangguk perlahan, seperti dokter yang akhirnya menerima hasil biopsi yang sudah ia duga. "Hadi Prasetyo. Pengacara Bram."

"Pria berkumis tipis yang duduk di sebelahnya waktu pemeriksaan," ujar Carlo. "Yang terus membuka-buka map dengan gaya terlalu sibuk."

"Yang kini sedang menyiapkan memori banding," lanjut Raka. "Sidang bandingnya dijadwalkan bulan depan."

Andien meletakkan cangkirnya. Kepalanya, yang tadi berdenyut oleh letih, mendadak jernih. "Saya saksi kuncinya."

"Ya."

"Kalau kesaksian saya dianggap tidak bisa dipercaya..."

"Rekaman yang kamu buat dengan perekam kecil itu bisa dipersoalkan keabsahannya," Laras menyelesaikan kalimatnya dengan suara datar. "Kredibilitasmu sebagai saksi bisa dijatuhkan. Gadis desa yang licik, perebut suami orang, penuh motif tersembunyi. Siapa yang akan percaya pada kata-katanya?"

"Mereka tidak mau menghancurkan Rumah Pulang," bisik Andien. "Mereka mau menghancurkan saya."

"Dan itu hampir berhasil." Carlo mengepalkan tangan di atas meja. "Kalau kamu tidak keluar ke halaman tadi malam..."

"Tapi saya keluar."

Carlo menatapnya, dan sorot matanya melembut. "Iya. Kamu keluar."

---

Dita bergabung pukul tiga, membawa bukti baru yang ia gali sendiri.

Wartawan muda itu tampak seperti belum tidur dua hari, rambutnya berantakan, tetapi matanya menyala. Ia meletakkan ponselnya di meja dan memutar sebuah rekaman suara.

"Ini wawancara saya dengan Pak Wawan, petugas lama Sentra Prima. Saya datang ke rumahnya tadi sore, bilang saya wartawan yang ingin menebus kesalahan."

*"Saya tidak berani bilang, Mbak,"* terdengar suara pria tua, gugup. *"Tapi memang ada dua orang dari firma hukum itu datang ke kantor kami. Satu pengacara muda, satu perempuan yang katanya paralegal. Mereka bawa surat tugas dari pengadilan, tapi sebenarnya surat itu hanya untuk meminta salinan rekaman terkait kasus Pak Bram, bukan untuk mengunduh arsip lama sebanyak itu."*

*"Siapa nama paralegalnya?"*

*"Sinta. Sinta Maharani. Dia yang pegang laptop."*

Dita menghentikan rekaman. "Saya sudah cek. Sinta Maharani terdaftar sebagai karyawan Prasetyo & Rekan sejak tiga tahun lalu. Dan..." Ia menelan ludah. "Saya menemukan sesuatu yang lebih buruk."

"Apa?"

"Redaktur saya, yang memberi saya data itu, menerima transfer dari rekening atas nama pribadi Hadi Prasetyo dua hari sebelum artikel terbit." Dita menunduk. "Saya tidak tahu apakah saya bisa terus bekerja di sana setelah ini."

"Itu tanggung jawab mereka, bukan kamu," kata Laras tegas.

"Tapi saya yang menandatangani byline-nya."

"Dan kamu yang sekarang duduk di sini, berani mengakuinya." Laras menatapnya. "Itu perbedaannya."

Dita mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Andien menggeser mangkuk kecil berisi kue pisang ke arahnya tanpa berkata apa-apa, dan Dita mengambilnya dengan tangan gemetar, tertawa kecil di antara napasnya yang tersendat.

---

Komisaris Arief tiba menjelang subuh dengan dua penyidik siber dan wajah yang menunjukkan ia sudah menduga semuanya.

"Pelanggaran Undang-Undang ITE, pengaksesan data tanpa hak, pencemaran nama baik, dan kemungkinan perintangan penyidikan," katanya sambil membaca laporan yang Raka serahkan. "Ini bukti yang kuat. Saya akan mengajukan permohonan penggeledahan kantor Prasetyo & Rekan pagi ini."

"Bagaimana dengan Pak Hadi sendiri?" tanya Carlo.

"Dia akan dipanggil sebagai saksi dulu. Kami butuh bukti langsung bahwa dialah yang memerintahkan unduhan itu." Komisaris Arief menutup map. "Tapi saya sudah mendengar dari penyidik lain, dia sedang gelisah. Dua hari lalu dia menarik uang tunai dalam jumlah besar dan memesan tiket ke Singapura."

"Melarikan diri," gumam Raka.

"Atau mengatur rencana B." Komisaris Arief menatap jam dinding. "Pesawatnya berangkat pukul sembilan. Kami punya tiga jam."

Andien berdiri. "Saya ikut."

"Tidak," serentak Carlo dan Laras.

"Saya tidak akan menangkap siapa pun," katanya, mengangkat dua tangan. "Tapi saya ingin berdiri di tempat dia bisa melihat saya. Dia pikir saya gadis yang akan bersembunyi karena malu. Saya ingin dia tahu itu salah."

Carlo menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, pelan.

"Aku ikut."

---

Bandara pagi itu ramai oleh penumpang yang menarik koper dan antre di loket. Hadi Prasetyo berdiri di barisan tengah, mengenakan jas biru tua yang terlalu rapi untuk perjalanan, kumis tipisnya tertata sempurna, tas kerja hitam digenggam erat seperti nyawa.

Ia tak melihat tiga orang berseragam preman yang mengikuti dari jauh, tak melihat Komisaris Arief yang berdiri di dekat pintu keberangkatan, dan hampir tak menoleh ketika seorang perempuan berkebaya sederhana dengan celemek terselip di tas berhenti dua langkah di depannya.

"Pak Hadi."

Hadi menoleh. Alisnya terangkat, dan senyum sopan pengacara terpasang otomatis di wajahnya. "Maaf, Ibu...?"

"Andien Suparman. Kepala dapur Rumah Pulang." Andien tersenyum tipis. "Kita bertemu di kantor polisi, waktu Bapak mendampingi Pak Bram. Bapak menanyakan sumber rekaman dengan nada yang sangat meyakinkan."

Senyum itu bergetar sepersekian detik. "Ah. Tentu saja. Mohon maaf, saya sedang terburu-buru."

"Saya tidak akan lama." Andien menatap lurus. "Saya hanya ingin berterima kasih."

"Terima kasih?"

"Untuk artikel itu." Suaranya tenang, ramah, hampir lembut. "Sebelum Bapak menerbitkannya, saya tidak tahu betapa banyak orang yang akan membela saya. Seorang ibu dari desa menangis di halaman rumah singgah. Wartawan yang menulisnya datang menyerahkan diri. Dan sekarang..." Ia melirik ke belakang Hadi.

Hadi menoleh.

Komisaris Arief melangkah maju, lencananya terangkat. Di sampingnya berdiri dua penyidik siber dan Dita, yang membawa map bukti di dadanya seperti perisai.

"Bapak Hadi Prasetyo," kata Komisaris Arief. "Anda kami minta ikut ke kantor untuk dimintai keterangan terkait pengaksesan data tanpa hak dan penyebaran informasi yang menyesatkan."

Wajah Hadi berubah, bukan pucat, melainkan kaku, seperti topeng yang membeku. Tangannya mengencang pada tas kerja. Ia membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya, menyadari bahwa di sekelilingnya telah berkumpul cukup banyak orang yang menyaksikan.

"Ini salah paham," katanya akhirnya, suaranya terlalu datar.

"Mungkin." Andien mengangguk. "Dan Bapak punya hak penuh untuk menjelaskannya di depan hakim, dengan suara yang sama seperti yang Bapak pakai di ruang pemeriksaan."

Kalimat itu, yang ia pinjam dari Carlo, membuat sesuatu di mata Hadi bergeser. Bukan rasa takut. Rasa kalah yang paling sunyi.

Ia mengulurkan tas kerjanya kepada seorang penyidik tanpa perlawanan.

---

Pukul sebelas, di ruang rapat Rumah Pulang yang kini penuh sesak, Dita mempublikasikan artikel kedua.

Judulnya sederhana dan tak berhias.

**"KAMI SALAH: BAGAIMANA SEBUAH FITNAH DIRANCANG UNTUK MEMBUNGKAM SAKSI KUNCI"**

Di paragraf pertama, ia menulis permintaan maaf resmi atas nama dirinya dan, setelah berdebat sengit dengan pemimpin redaksi lewat telepon, atas nama media tempatnya bekerja. Artikel itu memuat kronologi lengkap: unduhan rekaman, transfer ke redaktur, bukti metadata, penangkapan di bandara. Dan di bagian akhir, tanpa bunga-bunga, ia menulis kalimat yang membuat Laras menutup mulut dengan punggung tangan.

*Andien Suparman bukan perebut suami siapa pun. Ia adalah perempuan yang, ketika dipaksa memilih antara membela diri dan membuka pintu dapurnya untuk kami, memilih membuka pintu.*

Carlo membaca artikel itu di layar ponsel dengan wajah yang sulit dibaca, lalu menyerahkannya pada Andien tanpa kata. Andien membacanya sekali, pelan, dan ketika sampai di kalimat terakhir, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan lega. Lebih seperti seseorang yang selama ini menahan napas dan baru menyadarinya.

"Dien?" Carlo menyentuh bahunya. "Kamu baik-baik saja?"

"Baik, Mas." Andien tersenyum, tetapi wajahnya agak pucat. "Hanya sedikit pusing."

"Kamu belum tidur dua malam."

"Mungkin itu." Ia meletakkan ponsel, berdiri, lalu tiba-tiba menyentuh perutnya dengan tangan kiri. Dapur berputar pelan di sudut matanya, bau sup ayam dari panci besar di sudut mendadak terasa terlalu tajam.

Ia berlari ke wastafel.

Laras, yang paling dekat, sudah bergerak sebelum ia sempat menutup mulut. Ia memegang rambut Andien dengan satu tangan dan menggosok punggungnya dengan tangan lain, gerakan otomatis seorang dokter yang telah melakukannya ribuan kali. Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara air keran dan napas Andien yang tersengal.

"Sudah?" tanya Laras pelan.

"Maaf, Bu..."

"Jangan minta maaf." Laras menyerahkan segelas air dan menatapnya lekat, dengan sorot yang Andien kenal betul, sorot yang sama yang ia lihat di lorong rumah sakit beberapa bulan lalu, sebelum semuanya berubah. "Mualnya sudah berapa hari?"

"Tiga hari. Mungkin empat. Saya kira cuma masuk angin, atau kelelahan..."

"Kapan terakhir kali datang bulan?"

Andien membeku, gelas di tangannya berhenti di udara. Ia menghitung dalam hati, jari-jarinya bergerak pelan di sisi gelas, dari hari pernikahan di desa, ke laut, ke dapur ini, ke bandara pagi tadi.

"Telat dua minggu," bisiknya.

Laras tersenyum, senyum yang lembut dan nyaris tak terlihat, tetapi di matanya ada sesuatu yang berkilau.

"Kalau begitu," katanya, "aku rasa kamu tidak sedang masuk angin."

Di belakang mereka, Carlo berdiri kaku di ambang dapur. Ia tak mendengar kata-katanya, tetapi ia melihat ekspresi di wajah dua perempuan itu, dan sesuatu di dadanya berhenti berdetak sejenak, lalu mulai lagi dengan irama yang sama sekali baru.

"Dien?" panggilnya, suaranya hampir tak keluar.

Andien menoleh padanya. Dan di wajah perempuan itu, di antara sisa pucat dan kelelahan dan air mata yang mulai menggenang, terbit sebuah senyum yang belum pernah Carlo lihat sebelumnya.

---

*Bersambung ke Bab 30...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!