NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:527
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Menjenguk Valeska

Malam semakin larut dan shift kafe akhirnya selesai. Setelah menyapu sisa-sisa dapur dan membereskan piring-piring kotor, rasa ganjal di dada Elang bukannya memudar, malah makin menekan.

Mengingat betapa nekadnya Valeska kemarin menerobos hujan deras, Elang memutar kunci motornya, membelah malam menuju Gang Mawar. Dia meyakinkan dirinya bahwa ini hanya demi memastikan cewek itu tidak mati konyol di dalam kontrakannya.

Motor matic-nya berhenti pelan di depan rumah kayu Nek Izah. Begitu Elang mendekati kontrakan Valeska, dia melihat pintunya sedikit terbuka dan lampu minyak remang-remang menyala dari dalam.

Elang mengetuk pintu pelan. "Nek Izah?"

Nek Izah keluar dari dalam dengan wajah letih. "Eh, Mas Elang... Masuk, Mas."

Elang melangkah masuk dan matanya seketika terpaku pada sosok Valeska yang terbaring lemas di atas kasur kapuk tipis. Wajah cewek itu pucat pasi, bibirnya kering membiru, dan kompresan hangat bertengger di dahinya. Valeska tertidur sangat lelap dengan napas yang masih berat, tubuhnya meringkuk di balik sarung kusam.

"Nduk Valeska demam tinggi dari tadi pagi, Mas," bisik Nek Izah prihatin, menyapu air matanya. "Kemarin malam pulang basah kuyup, kakinya berdarah, tangannya terkelupas semua. Dia ndak bisa bangun sama sekali, mengigau terus panggil Papa Mamanya..."

Elang mematung. Matanya menatap jari-jemari Valeska yang memerah dan terkelupas parah, serta perban lusuh yang membungkus kakinya. Sensasi bersalah yang teramat dingin menghantam ulu hati Elang. Kata-kata jahat yang diucapkannya kemarin di dapur kafe mendadak berputar ulang di kepalanya bagai tamparan keras.

"Dia... belum makan nasi dari kemarin malam, Mas," tambah Nek Izah pelan. "Kasian banget..."

Elang menelan ludah yang terasa sangat pahit. "Makasih ya, Nek, udah jagain Valeska. Biar besok saya yang urus ke kafe."

Keesokan harinya, sebelum shift sore dimulai, Elang berdiri di depan meja kerja Mas Bayu di ruang manajer kafe.

"Ada apa, Lang? Kamu kelihatan serius banget," tanya Mas Bayu heran sambil meletakkan cangkir kopinya.

Elang menarik napas panjang, menatap Mas Bayu lurus-lurus tanpa raut ragu. Kali ini, dia menceritakan semuanya secara jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi atau dikurangi.

"Soal Valeska, Mas," ujar Elang tegas. "Dia enggak masuk bukan karena malas atau sengaja bolos. Dia demam tinggi di kontrakannya, enggak bisa bangun sama sekali."

Mas Bayu tersentak, mengernyit. "Demam?"

"Iya," lanjut Elang, suaranya makin dalam. "Valeska itu anak Pratama Aurelius, tersangka korupsi yang beritanya ada di TV. Rumahnya disita, keluarganya hancur, dan dia sendirian. Sekolahnya di SMA Nusantara menunggak SPP jutaan rupiah dan terancam dikeluarkan kalau enggak bayar."

Mas Bayu membelalakkan mata, kaget bukan main. "Astagfirullah... Anak Pratama?"

"Dia jalan kaki belasan kilo tiap hari pakai sepatu sempit sampai kakinya berdarah, Mas," sambung Elang tanpa emosi buatan, tapi tiap katanya menohok. "Kemarin sore dia pecahin piring itu karena kepalanya pusing kurang tidur, belajar sendirian sampai malam. Dan pas pulang kemarin, dia pulang kelaparan menerobos hujan deras karena uang hariannya dipotong."

Mas Bayu terduduk kaku di kursinya, wajahnya mendadak memucat oleh rasa bersalah yang amat besar. Pikirannya melayang pada raut keputusasaan Valeska saat memohon agar pemotongan uang harian itu dikurangi.

"Gusti..." bisik Mas Bayu memegang dahinya, napasnya berat. "Saya... saya enggak tahu kalau kondisi dia sampai separah itu, Lang. Saya pikir dia cuma anak remaja biasa yang ceroboh..."

Mas Bayu bangkit dari kursinya, merogoh dompet di mejanya dan menarik beberapa lembar uang ratusan ribu, lalu menggabungkannya dengan jatah uang harian Valeska yang sempat dipotong. Dia memasukkannya ke dalam sebuah amplop cokelat bersih.

"Lang," kata Mas Bayu dengan suara bergetar penuh penyesalan, menyodorkan amplop itu ke tangan Elang. "Potongan tiga hari itu batal. Ini uang harian dia yang kemarin-kemarin, plus ada sedikit bantuan modal kerja dan uang berobat dari saya dan kafe."

Elang menerima amplop itu, menatap Mas Bayu.

"Tolong sampaikan permintaan maaf saya ke Valeska," ujar Mas Bayu tulus. "Bilang sama dia, istirahat dulu sampai sembuh total. Tempat kerja dia di dapur kafe ini bakal tetap ada, enggak akan saya ganti sama siapa pun."

***

Dua hari berlalu, panas di tubuh Valeska perlahan mereda. Walau badannya masih terasa lemas dan kepalanya sedikit berat, dia sudah bisa duduk bersandar di pinggir kasur kapuknya.

Siang itu, tatkala Nek Izah sedang berada di pasar, seorang pria paruh baya mengenakan jaket kulit kusam mengetuk pintu kontrakan. Pria itu—kawan lama Pratama yang sempat menjenguk di rutan—menyerahkan sebuah amplop cokelat lusuh kepada Valeska sebelum berpamitan pergi.

Dengan jemari yang gemetaran, Valeska membuka lipatan surat di dalam amplop tersebut. Goresan tinta hitam dengan tulisan tangan yang sangat dia kenali terpampang di sana. Tulisan tangan Papanya.

“Valeska, anak Papa yang paling cantik dan paling Papa sayangi...

Maafin Papa ya, Nak. Papa gagal jadi Papa yang baik buat kamu. Papa gagal ngejaga kamu dan Mama. Papa sedih banget denger keadaan kamu sekarang dari luar... tapi Papa tahu anak Papa kuat.

Val, Papa cuma mau pesen satu hal. Jangan pernah balas kejahatan atau cemoohan orang lain dengan kebencian. Dunia ini mungkin lagi keras sama kamu, tapi jangan biarkan hati kamu makin keras dan penuh racun. Tetap jadi Valeska yang punya kebaikan di dalamnya, ya? Papa selalu doakan kamu dari sini...”

Air mata Valeska menetes lambat, membasahi lembaran kertas kusam itu. Dia memeluk surat tulisan tangan Pratama erat-erat di dadanya, mengisap aroma kertasnya seolah-olah sang Papa sedang berdiri merangkul bahunya. Surat itu menjadi satu-satunya sumber kekuatan baru yang tersisa di tengah puing-puing hidupnya.

Klek.

Suara langkah kaki di teras membuat Valeska dengan cepat menghapus air matanya dan menyorongkan surat itu ke bawah bantal.

Di ambang pintu, Elang melangkah masuk. Tapi kali ini, dia tidak datang sendirian. Di sampingnya berdiri Caca yang mengenakan jaket rajut warna merah muda, memegang tas plastik berisi rantang makanan dan buah-buahan.

"Permisi..." cicit Caca pelan dan sopan, melemparkan senyum hangat namun agak canggung ke arah Valeska.

"Gimana kondisi lo?" tanya Elang dengan nada suara yang jauh lebih lunak dan tenang dari biasanya. Dia meletakkan amplop cokelat dari Mas Bayu di atas meja kecil. "Ini dari Mas Bayu. Potongan tiga hari kemarin dibatalkan, plus ada bantuan modal kerja sama uang berobat buat lo. Mas Bayu juga minta maaf."

Valeska mematung di atas kasur, menatap Elang lalu beralih menatap Caca.

Di mata Valeska, pemandangan pasangan di depannya itu terasa begitu menyayat hati. Caca kelihatan sangat bersih, hangat, dan terlindungi. Sementara Elang berdiri di samping cewek itu dengan sorot mata yang lembut—sangat bertolak belakang dengan tatapan dingin penuh penghakiman yang selalu Elang berikan padanya.

Sensasi iri dan terasing itu kembali menghantam dada Valeska. Kenapa Caca bisa mendapatkan semua kehangatan itu tanpa harus berdarah-darah, sementara dirinya harus merayap di dasar lumpur?

"Kak Elang cerita kalau Kak Valeska lagi sakit," ujar Caca lembut, melangkah mendekat dan meletakkan rantang makanan di samping meja. "Jadi Caca ikut nemenin Kak Elang ke sini buat bawain sup hangat sama buah. Dimakan ya, Kak... biar cepet sembuh."

Elang menatap Valeska sejenak, menghela napas pelan. "Lo istirahat aja dulu sampai sembuh total. Mas Bayu blang tempat lo di kafe bakal tetep disimpan, kagak bakal diganti."

Valeska memperhatikan simpati dan rasa bersalah yang terpancar samar dari mata Elang.

'Dia merasa bersalah,' batin Valeska dingin, menatap amplop uang dan rantang makanan di mejanya.

Valeska meraih amplop itu tanpa menguapkan satu kata terima kasih pun. Wajahnya tetap datar, menyembunyikan rapat-rapat gejolak emosi di dadanya. Jika Elang masih punya rasa kasihan, dan jika Elang masih terikat oleh utang budi pada Papanya... kenapa tidak dimanfaatkan sekalian?

'Gue kagak bakal hancur sendirian di selokan ini,' janji Valeska dalam hati dengan tekat yang mengeras. 'Gue butuh perlindungan. Kalau Elang bisa dimanfaatin buat jadi benteng dan tameng gue dari injakan orang-orang di sekolah... kenapa enggak?'

Valeska mengeratkan genggamannya pada amplop di tangannya, lalu memalingkan wajah ke arah jendela kontrakan yang kusam. Namun, di saat yang sama, ingatan akan pesan manis di surat Papanya kembali berbisik pelan di sudut nuraninya.

'Maafin Valeska, Pa...' bisik Valeska pilu dalam hatinya, memejamkan mata rapat-rapat menahan sesak. 'Maafin Valeska kalau Valeska harus jadi cewek jahat lagi... Valeska cuma kagak punya pilihan lain buat bertahan hidup.'

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!