Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia tahu
" TOLONG... TOLONG... TAS SAYA KENA JAMBRETTTTT.. "
" TOLONGGGGGG... "
Melihat seorang ibu-ibu berteriak minta tolong, langsung saja tanpa berpikir panjang, seorang wanita muda berlari mengejar pria yang menjambret tas milik ibu-ibu tadi.
Beruntung dia memang pandai beladiri sejak kecil, berhasil menumbangkan penjambret tadi tanpa perlu bersusah payah. Penjambret tadi sebenarnya hanya modal nekat dan kepepet karena tuntutan kehidupan. Alhasil dalam beberapa pukulan dari wanita itu, penjambret itu langsung tumbang.
" Makasih ya mbak.. " ucap Ibu tadi.
" Sama-sama, bu.. Tapi kalau boleh tahu kenapa orang tadi malah dikasih duit, bu? "
Ibu-ibu itu tersenyum, " Karena saya yakin, dia melakukan perbuatan tadi bukan karena terbiasa melakukannya, melainkan karena kepepet. Jadi lebih baik saya kasih, daripada dia jambret lagi kan. " ujar ibu itu masih tersenyum.
" Ibu terlalu baik, di masa semua orang bisa menghalalkan segala cara untuk bisa hidup. " ucapan wanita muda ini terdengar sinis entah karena apa.
" Ngomong-ngomong, karena kamu udah tolong saya, boleh nggak kalau saya ajak kamu makan dulu atau minum kopi deh... Anggap saja sebagai ucapan Terima kasih. "
" Nggak perlu, bu.. Saya juga kebetulan aja lewat. Saya juga lagi buru-buru mau interview. "
Baru setelah wanita muda itu mengatakan akan interview, baru ibu-ibu itu melihat tampilan wanita muda di depannya itu. Terlihat agak sedikit kacau, setelah adegan lari-larian mengejar jambret.
" Gini aja, siapa nama kamu? Saya tawarkan kamu pekerjaan dari sekretaris anak saya. Gimana? " tawar si ibu yang memiliki ketertarikan khusus pada wanita muda ini.
" Nama saya Senjana, bu. Panggil saja Senja. Tapi maaf Bu saya tidak bisa menerima tawaran ibu. Soalnya saya belum lulus kuliah, baru semester empat bu. " wanita muda cantik bernama Senjana ini tersenyum malu.
" Oh gitu.. "
" Nggak apa deh, soalnya udah banyak yang langsung resign kalau udah kerja sama anak saya. Galak katanya, sama mulutnya lemes banget kek mulut cewek.. " Senjana terkekeh. Nampak sekali ibu ini baik hati.
" Ini nomer telepon saya. " si ibu menyerahkan kartu namanya, " Kita janjian besok ketemu di depan gedung Liquor Group. Pagi jam 9 ya.. Saya tunggu kamu datang. " ujar ibu itu.
" Ibu Rahayu Antasena... " si ibu mengangguk.
" Besok ya, jam 9 pagi. Saya tunggu kamu sampai kamu datang. " Senjana mengangguk.
Awal pertemuan yang akhirnya membuat Senjana mengenal Angkara Antasena dan Miyara Antasena, serta mengetahui rahasia kelam keluarga ini yang baru saja mendapatkan musibah dimana suami Rahayu, ketahuan mengkhianati pernikahan mereka.
" Kamu pasti tahu kan cerita setelahnya dari Yara. " Santana mengangguk.
" Senjana itu membawa cahaya juga kekacauan di keluarga kami, San. Tapi kalau saya yang hidup sudah enak begini dari kecil harus terpuruk di depan Senjana yang masalahnya berkali lipat lebih pelik dari masalah yang saya hadapi, rasanya saya malu. " ujar Angkara berani mengakui apa yang tidak diketahui keluarganya sendiri.
" Senjana itu udah sebatang kara, nggak ada saudara, nggak ada keluarga, cuma mantan pembantunya sama mantan sopir kalau nggak salah yang sekarang menemani Dia. "
Tangan Santana terkepal kencang, tak menyangka selama sepuluh tahun terakhir, sudah banyak yang Senjana lalui tanpa dia ketahui. Sesal dalam dirinya muncul, kenapa dia tidak di sisi gadis yang dia cintai itu saat masa-masa sulit menghampirinya.
" Orang tuanya meninggal dunia, mas? " pancing Santana.
" Iya.. Papanya karena kecelakaan pas usia Senjana 18 tahun, kalau mamanya empat tahun kemudian. Dan awal kamu tahu, dulunya Senjana itu pernah depresi lho. "
" APAAAAA? " tubuh Santana tersentak. Sampai Angkara pun juga kaget dibuatnya.
" Ya ampun, San.. Kamu kenapa kok kagetnya sampai segitunya? " ujar Angkara tanpa ada curiga sedikit pun.
" Maaf, mas.. Saya kaget aja. "
" Sama.. Saya lebih-lebih lagi kagetnya pas dengar semua itu dari mulut dokter yang nangani Senjana sejak umur 18 tahun... "
" Tapi ini belum seberapa, San.. Ada yang lebih gila lagi. "
Santana sedikit takut untuk mendengar lanjutannya, tapi diapun sangat penasaran, " Apa mas? "
" Radiyaksa.. Kamu pernah dengar? " Santana mengangguk.
" Senjana putri tunggal pasangan Radiyaksa yang mewarisi semua harta mereka. tapi apa kamu tahu, begitu mamanya meninggal dunia, Senjana menjual semua warisannya termasuk Radiyaksa Group. "
" Dijual, mas? Semua....? "
Angkara mengangguk, " Sini kalau kamu mau dengar alasannya. " Santana mendekat sampai pindah sofa.
" Dia bilang, " Untuk apa saya mempertahankan perusahaan yang dibangun di atas penderitaan dan darah seseorang. " itu katanya.. "
Deg.. Deg.. Deg..
Jantung Santana langsung berdetak sangat kencang sampai rasanya dadanya terlalu sesak. Kepalanya mendadak terasa sangat pusing sekali, tubuhnya juga gemetar.
' Dia tahu... Dia sudah tahu... Dia tahu semuanya. ' batin Santana berteriak kencang.
********
" Mbak Senja...... " seorang anak kecil seusia Anjani, berlari ke arah Senja dan langsung memeluknya.
" Fatih kangen sama mbak.. Kangen banget.. " ujar si bocah bernama Fatih itu.
" Mbak juga kangen, Tih.. Tapi ini kok makin lama makin berat, ya.. Kamu naik berapa kilo ini BB nya? " tanya Senjana membercandai Fatih yang merupakan cucu mbok Jumi dan Pak Seno, anak dari Miduri dan mas Jamal.
" Iiiihhhhh.. Ibuk..... Mbak Senja nakal... " teriak Fatih yang langsung meminta turun dan mengadu pada Miduri.
Senjana terkekeh melihat bocah gendut itu, selalu penuh semangat dan ceria, mengingat Senjana pada dirinya saat muda sebelum kenyataan menampar dirinya.
Senjana ingat dulu dia itu sangat ceria, selalu membawa suasana menyenangkan saat berkumpul bersama teman-temannya. Senjana juga pandai bergaul dan ramah pada semua orang. Tapi sekarang, Senjana selalu menjaga jarak pada siapapun termasuk keluarga Antasena. Bukan apa, Senjana hanya malu, jika mereka tahu tentang masa lalunya.
********
Ditemani es teh buatan mbok Jumi dan juga singkong rebus yang tadi sempat dipanen pak Seno, Senjana duduk di emperan rumahnya ditemani Miduri. Keduanya tengah melihat Fatih bersama ayahnya, sedang mencuci mobil milik Senjana. Mobil yang ditinggalkannya di rumah ini, enggan dia bawa ke kota. Satu-satunya benda yang tersisa dari masa kelamnya, mobil yang menyimpan banyak kenangannya bersama Santana.
" Kamu nggak apa, Sen.. Mbak, sudah dengar semuanya dari ibu dan bapak. "
Terdengar helaan nafas pelan, " Kacau, mbak. Perasaan ku tidak karuan rasanya. Rindu, malu, sakit, dan entah bagaimana aku menggambarkan perasaan ku tentang dia. " jawab Senjana terlihat lelah.
" Mbak rasa mendingan kamu tinggal disini aja, Sen. Ikut bapak sama ibu berkebun, atau kalau bosan main tempat mbak aja bantu-bantu ketering. Toh itu juga modalnya dari kamu, malah nggak mau dibalikin. Mas Jamal masih ngerasa nggak enak sama kamu tahu. " Senjana terkekeh.
" Kenapa jadi bahas bisnis ketering mbak Mi sih? "
" Iya.. Ya.. " keduanya pun tertawa bersama. Melupakan sejenak kemelut dalam hati.