Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pahit yang teramat pahit.
Bang Satria mendekap Pitta. Ia mengecup kening Pitta dengan lembut. Gadis itu menolaknya dengan kuat tapi Bang Satria memaksanya.
Flashback Bang Satria off..
"Astaghfirullah hal adzim." Bang Satria mengusap wajahnya. Terbersit rasa sakit dari rahasia yang selama ini ia simpan rapat. "Apa Oscar bisa menjaga Pitta ku dengan baik???"
//
Pintu kamar tertutup rapat. Pitta berbaring memeluk bantal, matanya menatap langit-langit kamar yang remang. Hatinya terasa sesak — ia tahu kata-katanya belum sepenuhnya sampai ke hati suaminya. Di ruang tengah, Bang Oscar masih duduk diam, asap rokok terakhir perlahan menghilang di angin malam yang dingin.
***
Pagi harinya...
Suara ketukan di pintu terdengar pelan. Pitta membukanya, dan melihat sosok Bang Satria berdiri di sana dengan wajah yang tak kalah lelahnya.
"Assalamualaikum, Kak Pitta. Maaf pagi-pagi sudah datang. Saya... mau bertemu dengan Bang Oscar." Suaranya berat, namun juga canggung melihat paras wajah Pitta. Mencoba bersikap sopan di hadapan kakak ipar kecilnya.
"Wa'alaikumsalam, Bang." Pitta mengangguk pelan, menyuruhnya masuk. Saat mereka berdiri di ruang tengah, Bang Oscar keluar dari kamar. Tatapannya dingin, namun kali ini tidak ada amarah yang meledak-ledak seperti semalam, ia hanya menahan rasa lelah yang tampak jelas di wajahnya.
"Pagi sekali, Sat? Ada pancaran???" tanya Bang Oscar datar.
Bang Satria menarik napas panjang, menatap Pitta sekilas, lalu menatap lurus ke mata kakaknya.
"Bang Oscar... Saya datang untuk menceritakan semuanya. Semua yang saya pendam. Karena saya sadar, diam saya justru menyakiti kita semua."
Ia berhenti sejenak, menelan ludah. Berusaha keras untuk kuat dan siap menghadapi apapun yang akan terjadi setelah ia mengungkapkan kejujurannya nanti.
"Beberapa bulan lalu, saat Abang berada di tahanan... Saya sempat berharap. Harapan yang salah dan tak pantas. Saat Pitta kesepian, saya ada di sisinya. Dan di momen itu, saya kehilangan kendali atas perasaan saya sendiri. Saya pernah mengungkapkan keinginan agar Pitta memilih saya."
Bang Oscar menegang, kepalan tangannya mengerat di sisi tubuh. Namun ia diam dan mendengarkan.
"Tapi Pitta menolaknya. Dengan tegas. Ia bilang hatinya hanya milikmu, dan ia akan menunggumu seberapa lama pun. Saat itu saya sadar, saya hanya orang ketiga dalam hati kalian. Saya memaksa perasaan yang tidak pernah ada tempatnya di sana."
Senyum sinis Bang Oscar terangkat tipis. Amarah yang awalnya sudah mereda kini naik kembali.
"Menolak atau menerima???"
Pitta kaget sampai terhuyung. Kakinya lemas sampai hampir ambruk di samping Bang Satria tapi pria itu menahannya.
Bang Oscar melangkah maju selang, matanya menatap tajam tepat ke mata adiknya yang masih menopang istrinya. Pitta melepaskan diri perlahan, tangannya gemetar hebat.
"Abang... Pitta menolak. Pitta benar-benar menolaknya." Suara Pitta terbata ketakutan, namun ia berusaha berdiri tegak meski kakinya lemas. "Pitta bilang, hati Pitta sudah milik Abang. Tidak ada lagi tempat di hati Pitta untuk pria lain."
Bang Oscar kembali tersenyum namun senyum itu semakin menampakan kepedihan yang dalam, yang selama ini terpendam dalam hatinya.
"Kalau begitu kenapa kamu membiarkan dia dekat denganmu, Pitta? Kenapa kamu membiarkan dia menemanimu setiap hari saat Abang tidak ada? Kenapa dia merasa punya kesempatan kalau kamu tak memberinya celah sedikit pun? Ada beberapa ajudan Abang yang sudah Abang minta untuk menjagamu. Dan satu hal lagi.. Ada Mama dan Papa."
"Karena dia keluarga kita, Bang.. Adiknya Abang." jawab Pitta, air mata mulai menetes di pipinya. "Karena saat itu Pitta sendirian, tak ada siapa-siapa, dan Bang Satria yang Pitta kenal di sini. Pitta hanya butuh teman, bukan pengganti Abang. Pitta butuh dukungan, bukan hati yang lain."
Lirikan tajam itu kembali mengarah pada Pitta. Senyum tipis itu terasa pahit mengusung kepahitan. "B*****t." Ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
Tangis Pitta semakin sesenggukan, tak pernah ia mendengar suaminya marah padanya sampai seperti ini.
Tepat saat itu Pak Dante tiba bersama Mama Dilan. Mereka terkejut mendengar semua itu, permasalahan anak-anaknya.
"Sejak kapan dan berapa kali kalian melakukannya????????" Tanya Bang Oscar tanpa basa basi. Lirikan tajam itu kini mengarah pada Bang Satria.
Bang Satria seakan tak sanggup menjawabnya. Tapi ia harus jujur untuk menyelesaikan semua masalah.
"Jangan salahkan Pitta, saya yang memaksanya." Jawab Bang Satria.
"Apa maksudmu, Satria????????" Pak Dante kaget mendengar pengakuan putra bungsunya. "Kamu berani dekati istri Abangmu?????" Pak Dante sampai menggoyang kedua bahu putranya yang kini juga memucat sama seperti Pitta.
"Berapa kali, Satria?????" Bang Oscar mengulang kembali pertanyaannya.
"Satu kali."
"Kamu sadar apa yang kamu katakan ini, Satria?????? Itu... itu istrinya Abangmu sendiri. Saudara kandungmu sendiri....!!" Bentak Pak Dante.
Bang Satria menunduk dalam, tubuhnya gemetar. Air mata mulai jatuh di pipinya.
"Saya tahu, Pa. Saya tahu ini salah besar. Saat itu... saat Bang Oscar di tahanan, saya melihat Pitta sendirian, lemah, dan tak punya siapa-siapa. Saya datang bukan dengan niat baik semata. Saya datang karena saya egois. Saya melihat celah, dan saya bo*oh sampai menyangka... menyangka mungkin saja... Pitta mau kembali dengan saya." Suaranya pecah, tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Mama Dilan langsung memeluk Pitta yang kini terisak hebat di sudut ruangan, menantunya itu gemetar tak berani menatap siapapun.
Bang Oscar berdiri diam di tempatnya. Wajahnya memucat, tatapan matanya kosong melompong, seakan nyawanya hilang begitu saja. Ia menatap adiknya dengan tatapan kepedihan yang begitu dalam, menorehkan luka sayatan yang menyakitkan.
"Kamu menyentuhnya..." suara Bang Oscar nyaris tak terdengar, namun setiap kata terasa berat menekan rongga dadanya begitu kuat. "Kamu berani menyentuh apa yang paling saya jaga di dunia ini??? Istri saya.."
"Saya minta maaf, Abang."
"Apa kamu bilang??? Abang??? Kamu masih anggap saya ini Abangmu????" Tatap mata Bang Oscar sungguh tajam mengarah pada adik laki-lakinya itu. Kamu tampar wajah saya, kamu injak harga diri saya dan kamu masih berani bilang kalau saya ini Abangmu???"
"Saya tau saya salah, Bang. Saya yang kurang ajar, saya khilaf." Kata Bang Satria.
"Bawa Pitta pergi.. Masalah anak, saya tetap tanggung jawab..!!" Ucap tegas Bang Oscar tanpa menatap siapapun lagi.
"Nggak, Bang. Jangan..!! Demi Allah Pitta cintanya sama Abang." Pitta sampai berlutut di kaki Bang Oscar tapi pria itu enggan menatapnya.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍