"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Pinangan di Balik Kopi Pagi
Satria meletakkan gelasnya dengan ketukan pelan yang tegas. Ia mendongak, menatar adik iparnya dengan pandangan sedingin es batu. "Apa?"
"Soal omongan Kakak tengah malam tadi di dapur," bisik Keisha dengan nada barbar yang ditahan-tahan agar tidak memicu kecurigaan ibunya. "Aku sudah mikir jernih. Kakak beneran harus cepat-cepat disembuhkan. Hari ini juga, aku bakal hubungi Kak Citra, asisten dosenku yang kemarin aku ceritain. Pokoknya Kakak harus ketemu ia lusa!"
Satria membetulkan letak duduknya, postur tubuhnya yang tegap semakin mengintimidasi. "Kakak sudah memberikan jawaban mutlak semalam, Keisha. Kakak tidak butuh diperjodohkan dengan siapa pun."
"Loh! Enggak bisa begitu dong, Kak! Ini demi kebaikan bersama!" cerocos Keisha mulai meledak-ledak, tangannya bergerak heboh di udara. "Kakak itu cuma kelamaan menduda, makanya standar pencarian jodohnya melenceng ke arah yang tidak logis. Kak Citra itu spek premium, Kak! Cantik, anggun, pintar, kurang apa lagi coba buat mendampingi Mayor kaku seperti Kakak?"
"Kakak tidak sedang mencari perempuan pajangan untuk lencana seragam Kakak," sahut Satria pendek, nadanya datar namun menusuk. "Dan Kakak tidak suka ada orang lain yang mencampuri urusan pribadi Kakak."
"Orang lain kata Kakak? Aku ini adik ipar Kakak ya! Tantenya Rafka!" balas Keisha sengit, bibirnya mengerucut sebal. "Aku cuma mau membantu biar Kakak enggak salah jalan. Masih banyak cewek normal di luar sana yang mau langsung diajak nikah tanpa proses pendekatan lama-lama, asal bukan aku!"
"Papa ...." Rafka yang sejak tadi menyimak perdebatan sengit dengan mulut penuh nasi akhirnya mendongak. "Kak Citra itu siapa? Rafka enggak mau punya Mama baru yang galak. Rafka maunya sama Tante Kei aja yang bisa diajak main lumpur!"
"Rafka, diam dan habiskan makananmu," tegur Satria tegas, membuat anaknya langsung menciut dan kembali menusuk telurnya. Satria kembali mengalihkan matanya yang hitam pekat pada Keisha. "Kamu dengar sendiri? Prioritas Kakak adalah kenyamanan Rafka. Dan Rafka hanya menginginkan kamu."
"Itu karena Rafka belum kenal cewek lain, Kak! Anak kecil mah bisa dimanipulasi perasaannya pakai mainan baru!" bantah Keisha barbar, tidak mau kalah. "Pokoknya lusa aku bakal bawa Kak Citra ke tempat kita janji temu. Kakak suka atau enggak, Kakak harus lihat dulu!"
Satria memajukan sedikit tubuhnya ke arah meja, memangkas jarak di antara mereka. Suasana di sekitar meja makan mendadak mencekam. "Keisha, jangan menantang keras kepala seorang tentara. Kakak bilang tidak, artinya tidak."
"Dan Kakak juga jangan seenaknya memerintah aku pakai gaya komando lapangan! Aku bukan prajurit Kakak!" balas Keisha dengan mata membelalak berani, menantang langsung dominasi sang Mayor.
Di tengah-tengah adu mulut yang semakin memanas dan membuat Ibu Dania hanya bisa menghela napas panjang di depan wastafel, Ayah Farrel tiba-tiba berdeham keras.
Ehem.
Ketegangan di antara Satria dan Keisha mendadak terhenti sejenak. Kedua orang dewasa itu refleks menengok ke arah kepala meja. Ayah Farrel meletakkan kacamatanya di atas meja, lalu menatap Keisha dengan sorot mata yang serius namun tenang.
"Keisha," panggil Ayah Farrel, suaranya berat dan berwibawa. "Daripada kamu sibuk mengurusi perjodohan Kakak iparmu yang jelas-jelas tidak ia inginkan ... Ayah mau tanya satu hal yang mengganjal sejak kemarin sore."
Keisha mengerutkan keningnya heran. "Tanya apa, Yah?"
Ayah Farrel melirik sekilas ke arah Satria yang kini posisinya kembali menegang sempurna di kursinya, lalu kembali menatar anak bungsunya. "Bagaimana sebenarnya hubungan kamu dengan Rendra, Nak, yang kemarin sore mengantarmu pulang itu? Ayah perhatikan, ia sepertinya sering sekali datang menjemput dan mengantarmu akhir-akhir ini."
Deg.
Mendengar pertanyaan tiba-tiba dari ayahnya, Keisha langsung membeku di tempat dengan mulut setengah terbuka. Rasa panik mendadak menyerang sistem pertahanannya. Ia bisa merasakan dengan sangat jelas, tepat di hadapannya, sepasang mata tajam milik Mayor Satria langsung memicing pekat, menatar lurus ke arahnya dengan intensitas dingin yang sanggup membekukan seluruh ruangan seketika.
***
Keisha mendadak diam. Seluruh kosakata barbar yang biasanya mengalir lancar dari bibirnya menguap seketika tanpa bekas. Lidahnya terasa kelu, kaku, dan mendadak tidak bisa digerakkan. Sendok logam yang dipegangnya terasa bertambah berat berkali-kali lipat, seolah-olah seluruh gravitasi bumi mendadak berpusat di tangannya. Sepasang matanya bergerak gelisah, menatap Ayah Farrel yang masih menanti jawaban dengan ekspresi tenang penuh wibawa, lalu beralih melirik Satria yang duduk tepat di hadapannya.
Di seberang meja, sang Mayor tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Satria tetap duduk tegap dengan postur sempurna khas perwira militer. Sepasang matanya yang hitam pekat mengunci wajah Keisha dengan intensitas yang sedingin es batu, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada letupan emosi yang sangat besar yang sedang ditahannya rapat-rapat di balik ekspresi datarnya. Keheningan itu merayap lambat, menyiksa detak jantung Keisha yang kian ugal-ugalan.
Sebelum Keisha sempat merangkai kalimat untuk menyangkal tuduhan pacaran dengan Rendra yang dilayangkan ayahnya, Ayah Farrel kembali membuka suara. Pria paruh baya itu meletakkan cangkir kopinya secara perlahan, lalu mengalihkan tatapannya dari Keisha, beralih menatap menantunya yang duduk di sebelah Rafka.
"Kemarin malam, setelah kamu masuk ke kamar karena mengeluh kakimu sakit, Satria sudah mengutarakan secara langsung kepada Ayah kalau dia ingin meminang kamu, Kei," ujar Ayah Farrel dengan suara beratnya yang berwibawa, tanpa ada keraguan sedikit pun. "Dia meminta izin secara resmi sebagai seorang laki-laki kepada Ayah untuk menjadikan kamu istrinya. Tapi, Ayah belum memberikan jawaban apa pun pada Satria. Ayah bilang, semua keputusan harus ditanyakan langsung kepadamu pagi ini."
Bleg.
Dunia Keisha rasanya seperti dihantam oleh godam raksasa. Jantungnya memberikan satu hentakan luar biasa kencang hingga ia bisa mendengar degupannya sendiri menggema di dalam telinga. Keisha semakin terkejut mendengarnya. Matanya membelalak lebar, menatar Satria dengan pandangan tidak percaya yang bercampur dengan rasa horor yang teramat sangat.
"Gila. Ini beneran gila. Jadi semalam saat di depan dispenser dia bukan cuma gertak sambal atau efek modus tengah malam? Dia beneran sudah bicara secara resmi sama Ayah?!" batin Keisha menjerit histeris. Otaknya yang sudah mengalami korsleting sejak tengah malam di dapur kini resmi mengalami mogok total. Seluruh sistem pertahanannya runtuh berantakan oleh keberanian kakak iparnya yang bergerak secepat kilat tanpa taktik gerilya.
Bersambung...
Akhirnya tiba juga di bab 20, terimakasih atas support Kakak semuanya. Semoga besok ada kabar baik. Kalau hasilnya zonk lagi, ya mungkin memang rezekinya tidak di sini, tapi saya berharap retensinya bagus dan bisa tetap melanjutkan ceritanya. Hari ini hanya up satu bab ya.
Mampir yuk ke karyanya Dewi