Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberanian Di balik Abu dan Bayangan Masa Lalu
Kecepatan mobil sedan hitam itu terus memuncak, merajai jalanan protokol Jakarta yang mulai lengang oleh larutnya malam. Jarum spedometer bergerak mendekati angka seratus kilometer per jam, membelah hembusan angin malam dengan deru mesin yang meraung kasar. Di dalam kabin, udara terasa begitu kram, pekat, dan mencekik.
Naya mencengkeram sabuk pengamalnya kuat-kuat. Matanya yang membelalak tak berkedip menatap profil samping Raka. Rahang pria itu mengeras begitu rapat, sementara matanya yang tajam menatap lurus ke depan dengan kilatan amarah dan kegelisahan yang menyala-nyala.
"Pak Raka! Jawab saya!" jerit Naya, suaranya pecah menembus deru mesin. "Pesan tadi itu apa maksudnya?! Kenapa nama saya disebut sebagai saksi kunci kebakaran pabrik?! Kenapa dia bilang Anda cuma memanfaatkan saya?!"
Raka tidak bersuara. Pria itu terus menginjak pedal gas, membiarkan keheningan yang membakar itu menjawab setiap jeritan Naya
"Jawab, Raka Mahendra!" teriak Naya lagi, kali ini dengan menyambar lengan kemeja Raka. "Jangan diam saja seperti pengecut!"
Ckit!
Ban mobil mencicit nyaring membelah jalanan saat Raka membanting setir ke bahu jalan secara mendadak. Mobil berhenti bergetar di bawah naungan pohon peneduh yang gelap di tepi jalan tol yang sepi.
Raka mencopot sabuk pengamalnya dengan gerakan kasar. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Naya dengan pandangan mata yang membara, merah, dan sarat akan emosi yang teramat dalam, sebuah tatapan yang belum pernah Naya lihat sebelumnya.
"Kamu mau tahu jawabannya, Naya?!" bentak Raka dengan suara rendah yang menggelegar di ruang kabin yang sempit.
"Kamu mau tahu kenapa nama keluarga Kanindita selalu menghantuiku selama delapan tahun terakhir?!"
Naya tertegun. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat saat berhadapan langsung dengan murka pria di depannya. "Ya! Saya mau tahu! Jangan buat saya seperti orang bodoh yang cuma dijadikan mainan dalam kesepakatan gila ini!"
Raka menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sejenak seraya mengusap wajahnya yang tampak amat lelah. Ketika pria itu membuka matanya kembali, aura keangkuhan yang biasa melekat padanya mendadak lenyap, berganti menjadi sebuah kepedihan purba yang sangat kelam.
"Delapan tahun lalu," bisik Raka, suaranya mendadak berubah serak. "Pabrik tekstil cabang ketiga Mahendra Group di Bandung terbakar hebat di tengah malam.
Kebakaran itu menewaskan tiga puluh pekerja ... termasuk pamanku, satu-satunya saudara kandung Ayah yang paling dekat denganku."
Naya terdiam. Ia ingat peristiwa itu. Dulu, berita kebakaran pabrik tekstil terbesar di Jawa Barat itu mendominasi seluruh stasiun televisi selama berminggu-minggu.
"Hasil penyelidikan polisi waktu itu menyimpulkan adanya korsleting listrik," lanjut Raka, matanya menerawang menatap kegelapan di luar jendela. "Tapi Ayahku tidak pernah percaya. Ayah menemukan indikasi bahwa kebakaran itu disengaja, sebuah sabotase bisnis dari saingan Mahendra Group yang menyuap orang dalam pabrik."
Naya menahan napasnya. "Lalu ... apa hubungannya dengan saya dan keluarga saya?"
Raka memutar kepalanya, menatap lurus ke dalam bola mata Naya. "Orang dalam yang dituduh menerima suap dan lalai menjaga keamanan pabrik malam itu ... adalah ayahmu, Surya Kanindita. Kepala Bagian Operasional Malam."
Brak!
Kata-kata itu menghantam kesadaran Naya bagaikan hantaman gada besi yang tak kasatmata. Wajah Naya seketika pucat pasi, seluruh darah di tubuhnya serasa tersedot habis hingga ke ujung kaki.
"N-nggak ... Nggak mungkin!" geleng Naya cepat, suaranya gemetar hebat. "Ayah saya orang baik! Ayah sangat bertanggung jawab! Mana mungkin Ayah tega mencelakakan belasan orang demi uang suap?!"
"Ayahmu ditangkap malam itu juga," potong Raka dingin, menatap reaksi panik Naya tanpa belas kasihan. "Namun belum sempat persidangan digelar, ayahmu mengalami kecelakaan mobil saat dibawa menuju gedung kejaksaan. Kecelakaan itu membuat ayahmu koma selama berbulan-bulan dan menderita amnesia permanen sampai hari ini."
Naya meremas gaun kremnya hingga kusut. Memori masa lalu yang kelam mendadak berputar kembali di kepalanya. Patah-patah, ia teringat saat usianya masih empat belas tahun, hari di mana kehidupan keluarganya hancur berkeping-keping.
Ayahnya mendadak terbaring di rumah sakit dengan ingatan yang terhapus, ibunya jatuh sakit karena tekanan mental, dan seluruh aset keluarga mereka disita untuk mengganti kerugian.
"Karena ayahmu amnesia, kasus itu ditutup secara resmi dengan tuduhan kelalaian tunggal," kata Raka lagi. "Tapi Mahendra Group rugi ratusan miliar, nama baik kami tercoreng, dan keluargaku kehilangan sosok paman yang sangat kami cintai. Ayahku meninggal dua tahun kemudian karena serangan jantung akibat stres memikirkan kebangkrutan yang hampir melanda perusahaan."
Naya menatap Raka dengan mata yang mulai digenangi air mata. "Jadi ... jadi selama ini ... Anda membenci keluarga kami karena itu? Karena Anda pikir Ayah saya yang membunuh paman Anda?!"
Raka tidak menjawab langsung. Pria itu mengepalkan tangannya di atas lingkar kemudi. "Aku tumbuh besar dengan memikul dendam itu, Naya. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencari tahu kebenaran di balik abu kebakaran itu."
"Lalu kenapa pernikahan ini terjadi?!" tangis Naya akhirnya pecah, bulir air mata menetes membashi pipinya. "Kenapa Anda mau menjodohkan Kania dengan Anda?!
Dan kenapa saat Kania kabur ... Anda justru memaksa saya menggantikannya?! Kenapa bukan membakar keluarga kami ke penjara sekalian?!"
Raka menatap air mata yang mengalir di pipi Naya. Jarinya bergerak refleks hendak mengusap bulir bening itu, namun pria itu menahannya rapat-rapt di samping tubuhnya.
"Karena tiga bulan lalu," bisik Raka pelan, "sebuah dokumen rahasia tanpa nama dikirimkan ke mejaku. Dokumen itu berisi rekaman suara dan foto-foto analisis laboratorium forensik independent dari malam kebakaran."
Naya mengusap air matanya kasar. "Maksud Anda?"
"Bukti itu menunjukkan bahwa ayahmu ... Surya Kanindita ... sebenarnya bukan pelaku sabotase," ungkap Raka, membuat jantung Naya berhenti berdetak sejenak. "Ayahmu justru orang pertama yang menyadari adanya sabotase bahan kimia di ruang penyimpanan. Malam itu, ayahmu mencoba menghentikan penyebaran api dan menyelamatkan dokumen penting sebelum akhirnya ditangkap karena ditumbalkan oleh pelaku sebenarnya."
Naya ternganga. "A-Ayah ... Ayah saya tidak bersalah?"
"Ya," jawab Raka berat. "Ayahmu ditumbalkan. Dan dokumen itu menyebutkan bahwa di dalam rumah lama keluargamu ... ada sebuah buku catatan harian dan kilas penyimpanan data (flashdisk) milik ayahmu yang berisi nama dalang sebenarnya dari Mahendra Group, orang dalam yang menyuap pihak luar untuk membakar pabrik itu."
Naya merenungi setiap kalimat yang keluar dari mulut Raka. Kebenaran yang mengejutkan ini merobek seluruh anggapan buruknya tentang pria di hadapannya.
"Pernikahan dengan Kania awalnya dirancang oleh ibuku untuk menyatukan kembali hubungan bisnis lama," jelas Raka.
"Tapi saat Kania kabur dan kamu datang... aku sadar bahwa kamu adalah satu-satunya orang yang masih memiliki akses penuh ke peninggalan masa lalu ayahmu. Aku membutuhkan keberadaanmu di sisiku agar aku bisa mendapatkan bukti itu dan membersihkan nama ayahku ... sekaligus nama ayahmu."