Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23 Ratu mafia istri dokter dingin
Suara napas berat dan kalimat bernada ancaman dari seberang telepon tadi sukses membuat Mike diselimuti rasa panik yang luar biasa.
Telepon misterius itu jelas bukan berasal dari Sindi—karena suara di ujung sana terdengar berat dan asing, milik seorang pria misterius.
Peringatan tentang keselamatan Putri di kontrakan langsung menghancurkan kewarasan Mike.
Tanpa memedulikan teguran ayahnya yang masih mengurus kekacauan di lobi rumah sakit, Mike langsung berlari menyambar kunci mobilnya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh menuju kawasan kontrakan Putri.
Setibanya di sana, Mike melompat keluar dari mobil, menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa, dan langsung menggedor pintu kayu kontrakan Putri dengan keras.
Klek.
Pintu terbuka lebar. Putri berdiri di ambang pintu dengan pakaian santai, tampak sangat kaget melihat Mike datang di jam kerja dengan napas terengah-engah dan wajah pucat.
"Mike? Kamu kenapa datang siang-siang begini? Bukannya kamu harusnya masih di rumah sakit?" tanya Putri kebingungan, mengerutkan dahinya.
Tanpa menjawab sepatah kata pun atau menyapa Putri, Mike langsung menerobos masuk ke dalam ruangan sempit itu. Ia mengabaikan Putri yang memanggil-manggil namanya, lalu berlari memeriksa setiap sudut ruangan—mulai dari dapur kecil, kamar mandi, hingga kolong tempat tidur dan lemari pakaian. Ia membuka semua tirai jendela untuk memastikan tidak ada orang asing yang bersembunyi.
"Mike! Kamu ngapain sih?! Dari tadi bikin berantakan kos aku!" protes Putri dengan nada kesal, meski ada kilatan cemas dan gugup yang amat sangat di dalam bola matanya.
Mike menghentikan pemeriksaannya, berdiri tegak dengan napas masih memburu. Ia menatap Putri lekat-lekat.
"Sayang... Tadi ada yang menelponku, dan dia bilang ada orang lain di sini sama kamu. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu!"
Jantung Putri berdegup kencang tak karuan mendengar penjelasan Mike. Tenggorokannya mendadak terasa kering, tangannya yang memegang tepi meja bergetar hebat. Namun, dengan kecerdikan dan kelihaiannya bersandiwara, Putri langsung menarik napas dalam-dalam untuk mengontrol ekspresinya kembali. Ia memasang wajah manja, lalu melangkah mendekati Mike dan memegang pelan lengan pria itu.
"Sayang... mana ada orang?" ucap Putri dengan nada lembut yang dibuat-buat, tersenyum menenangkan.
"Kamu ini ada-ada saja. Penipu kali yang nelpon kamu, mau bikin kita panik. Tuh... aku di sini sendirian dari tadi, nggak ada siapa-siapa."
Mike menatap mata Putri, mencari-cari kebohongan di sana. Namun, melihat wajah wanita itu yang tampak tenang dan meyakinkan, rasa curiga Mike perlahan menguap. Ia menghela napas lega, lalu merengkuh tubuh Putri ke dalam pelukannya.
"Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa..." bisik Mike, merasa bebannya sedikit berkurang.
"Tadi aku benar-benar khawatir setengah mati."
Setelah beberapa saat menemani Putri dan memastikan kekasihnya itu aman, Mike berniat untuk kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan tugasnya dan mengecek situasi pasca-kerusuhan. Namun, dalam perjalanan menuju parkiran mobil, langkah Mike mendadak terhenti.
Pikirannya kembali melayang pada kejadian menegangkan di lobi rumah sakit tadi pagi.
Sosok wanita misterius berjaket hitam dan bermasker yang melompat dari lantai dua dan melumpuhkan preman-preman itu dengan gerakan bela diri tingkat tinggi terus mengusik benaknya. Cara bertarung itu... postur tubuh itu... terasa sangat familier.
Mike memutuskan untuk tidak langsung kembali ke rumah sakit. Ia berbelok arah menuju ruang keamanan pusat rumah sakit, meminta petugas sekuriti untuk membuka rekaman kamera CCTV di area lobi utama saat kerusuhan terjadi.
Di dalam ruangan monitor yang remang-remang, Mike duduk terpaku menatap layar komputer. Rekaman CCTV memperlihatkan detik-detik saat Sindi—yang wajahnya agak tertutup bayangan dan masker—bergerak secepat kilat menghajar para preman.
Kualitas rekaman di sudut tersebut memang agak buram dan pencahayaannya kurang bagus akibat kepulan asap merah.
Mike mengerjap-ngerjap, mendekatkan wajahnya ke layar monitor.
"Tunggu... Gerakan tangan itu... Cara dia memutar pergelangan tangan musuh... Kenapa mirip sekali..." gumam Mike curiga, namun ia masih ragu karena gambarnya tidak begitu jelas.
Rasa penasaran yang teramat besar membuat Mike mengurungkan niatnya kembali ke rumah sakit. Ia langsung menyetir pulang ke mansion mewah keluarganya.
Setibanya di rumah, Mike mendapati Sindi sedang duduk santai di sofa ruang keluarga, membaca sebuah buku dengan tenang.
Mike melangkah mendekat dengan langkah agak kaku. Ia mengeluarkan ponselnya, menampilkan tangkapan layar (screenshot) dari rekaman CCTV yang agak buram itu, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Sindi dengan sedikit cuek dan sinis.
"Sindi," panggil Mike tegas. "Coba lihat ini."
Sindi mendongak pelan, menutup bukunya dengan anggun. Ia melirik layar ponsel yang disodorkan Mike.
Di sana tampak gambar wanita berpangkat petarung yang sedang melompat. Wajahnya memang tidak kelihatan jelas karena buram dan bermasker, tapi postur tubuh dan jaket hitamnya tampak samar-samar.
"Apaan ini?" tanya Sindi datar, suaranya terdengar sangat tenang tanpa ada tanda-tanda gugup sama sekali.
"Tadi pagi di lobi rumah sakit tempatku bekerja ada kerusuhan preman mengamuk," jelas Mike menyelidiki, menatap tajam manik mata istrinya.
"Ada seorang wanita misterius yang menyelamatkan ibu-ibu dan melumpuhkan semua preman itu sendirian. Begitu aku lihat rekamannya, postur dan gayanya agak familier... Mirip sekali sama kamu."
Sindi tidak langsung panik. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang sangat elegan, lalu mengembalikan ponsel Mike dengan gerakan santai.
"Oh, ya?" jawab Sindi ringan, menatap Mike tanpa berkedip. "Mungkin itu cuma kebetulan mirip aku saja, Mas. Di luar sana kan banyak wanita yang suka ikut kelas bela diri atau pakai jaket hitam."
Mike tertegun sesaat, menatap wajah Sindi yang begitu polos dan tidak menunjukkan rasa bersalah atau panik sedikit pun.
Apakah aku benar-benar salah curiga? batin Mike mulai meragukan dirinya sendiri.
Sebelum Mike sempat membalas ucapan Sindi, tiba-tiba ponsel Sindi yang tergeletak di atas meja kaca bergetar nyaring. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor terenkripsi dengan sebuah teks singkat yang muncul di notifikasi atas:
[Laporan Ratu: Kelompok Red Dragon sudah bergerak mendekati target utama di area parkir rumah sakit...]
Mata Sindi melirik sekilas ke arah notifikasi layar ponselnya yang menyala terang tepat di hadapan Mike.
Bersambung.....
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,