NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:746
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Desa Sungai Hitam

Rombongan dari Aula Pengobatan berangkat pada pagi berikutnya, dua belas orang dengan empat gerobak penuh obat, kain, dan tong air bersih. Di depan berjalan Tabib Kepala Rong, seorang lelaki enam puluhan bertubuh kecil dengan janggut kelabu dan cara bicara yang tidak membuka ruang untuk bantahan. Di belakangnya empat tabib muda, Lin Xue di antara mereka, lalu para pengangkut barang. Jian Chen, Dao, dan Tan Fu ikut sebagai tenaga murid luar. Ye Ran tinggal di pondok pengobatan dengan pesan tegas dari Lin Xue: jangan keluar tanpa Lu Gang.

Perjalanan memakan dua hari. Pada sore kedua, mereka melihat desa itu dari punggung bukit. Sungai Hitam, dinamai karena airnya yang gelap oleh lumpur dari hulu, mengalir membelah sebuah perkampungan dengan sekitar seratus rumah. Asap tidak terlihat dari satu pun cerobong. Tidak ada anak berlarian di jalan.

"Terlalu sepi," gumam Dao.

"Mereka bersembunyi," kata Tabib Kepala Rong. "Atau sudah tidak mampu keluar."

Di gerbang desa, seorang lelaki tua dengan wajah kuning pucat menyambut mereka. Ia berpegangan pada tongkat dan berbicara dengan suara serak. "Syukurlah Tabib datang. Sudah empat puluh orang sakit. Sebelas meninggal sejak pekan lalu."

"Gejalanya?" tanya Tabib Kepala Rong sambil turun dari gerobak.

"Demam tinggi, mual, lalu bercak hitam di perut dan paha. Setelah dua hari, mereka tidak bisa minum. Tiga hari, mereka meninggal."

"Apakah semua minum air sungai?"

"Semua minum dari sumur dan sungai. Tidak ada yang lain."

Jian Chen berdiri di belakang rombongan dan mendengarkan semua itu dengan dada terasa berat. Dalam hidup pertamanya, ia datang ke tempat ini dua minggu setelah wabah memuncak, ketika empat puluh tujuh orang sudah dikubur. Sekarang ia datang pada hari kesembilan dan jumlah korban masih sebelas. Itu berarti masih ada waktu.

Tabib-tabib itu mulai bekerja sebelum malam. Mereka mendirikan tiga tenda besar di tanah lapang di ujung desa, satu untuk pasien ringan, satu untuk pasien berat, satu untuk persediaan. Lin Xue langsung memeriksa tiga pasien pertama dengan gerakan cepat dan tangan yang tidak gemetar. Dao dan Tan Fu mengangkat tong air dari gerobak. Jian Chen berjalan menyusuri sungai di tepi desa, menunduk, mencium dan mengamati air yang mengalir.

"Apa yang kaucari?" tanya Dao yang menyusulnya.

"Sesuatu yang tidak seharusnya ada."

"Dalam air?"

"Di hulu." Jian Chen menegakkan tubuh dan menatap arah sungai mengalir. "Air ini terlalu keruh untuk sungai biasa pada musim ini. Ada bangkai di hulu."

"Bangkai apa?"

"Aku belum tahu. Besok kita periksa."

"Kau yakin?"

"Tidak sepenuhnya," kata Jian Chen. "Tapi aku tidak punya alasan untuk menunggu."

Ia kembali ke tenda persediaan dan menemui Tabib Kepala Rong yang sedang menyusun daftar ramuan. "Tabib," katanya. "Kita harus menyuruh warga berhenti minum air sungai dan sumur sekarang. Semua air harus direbus dulu."

Tabib Kepala Rong tidak mengangkat kepala. "Kau murid luar."

"Ya."

"Tugasmu mengangkat barang."

"Tugasku juga memperingatkan kalau melihat bahaya."

"Wabah ini disebabkan hawa buruk yang naik dari tanah lembap," kata Tabib Kepala Rong dengan nada orang yang sudah mengucapkan kalimat itu ratusan kali. "Obat penolak hawa buruk sudah kubawa. Tidak perlu merebus air."

"Tabib, semua korban minum dari sumur dan sungai. Itu yang kudengar dari kepala desa."

"Itu kebetulan. Semua orang di desa minum air."

"Justru karena itu," kata Jian Chen. Ia berusaha menahan suaranya. "Kalau penyebabnya hawa, kenapa tabib-tabib di tenda belum jatuh sakit? Kita semua menghirup hawa yang sama."

Tabib Kepala Rong akhirnya mengangkat kepala. Matanya dingin. Di sudut tenda, Lin Xue berhenti mencatat dan memperhatikan mereka.

"Murid luar," kata Tabib Kepala Rong. "Siapa namamu?"

"Jian Chen."

"Aku tidak akan membatalkan keputusanku karena omongan murid luar."

"Tabib," kata Lin Xue sambil melangkah maju. "Merebus air tidak merugikan. Biayanya hanya kayu bakar. Kalau kita salah, kita hanya buang kayu. Kalau kita benar, kita menyelamatkan nyawa."

Tabib Kepala Rong menatapnya lama. "Kau membela dia."

"Aku membela logika."

"Baik." Tabib Kepala Rong mengibaskan tangan. "Rebus air untuk pasien. Warga lain tetap pakai obat penolak. Itu keputusanku."

"Itu pun cukup untuk memulai," bisik Lin Xue ketika Jian Chen melewatinya.

Malam itu, ketika semua orang beristirahat di tenda, Jian Chen mengunjungi tenda pasien berat. Di sana, di dipan paling ujung, terbaring seorang lelaki tua berjanggut putih dengan wajah merah karena demam. Tangannya yang kurus mencengkeram selimut.

Jian Chen berhenti di ambang tenda. Dadanya mengencang.

"Tabib Shu," bisiknya.

Lelaki tua itu membuka mata perlahan. Pandangannya kabur, tetapi ia tersenyum tipis. "Anak muda. Siapa kau?"

"Aku Jian Chen, dari Sekte Pedang Fajar."

"Pedang Fajar." Tabib Shu mengangguk. "Sudah lama aku tidak bertemu orang dari sana. Kau membawa obat?"

"Rombongan Aula Pengobatan membawanya. Aku hanya membantu."

"Hm." Tabib Shu menatap Jian Chen lebih lama. "Wajahmu... aku merasa pernah melihatmu."

"Mungkin kau salah ingat."

"Mungkin. Aku sudah tua." Ia terbatuk, lalu menarik napas pendek. "Duduklah, anak muda. Orang sakit suka ditemani."

Jian Chen duduk di bangku kecil di samping dipan. Tangannya gemetar, dan ia menyembunyikannya di bawah lutut. Dalam hidup pertamanya, lelaki tua ini mengajarinya tentang Akar Embun Perak, tentang ramuan, tentang cara menunggu. Ia pernah menyebut lelaki ini guru, walaupun hanya sekali, dan hanya setelah lelaki ini sudah meninggal.

"Kau sakit sejak kapan?" tanya Jian Chen.

"Empat hari. Aku merasa lebih lemah dari yang lain." Tabib Shu tertawa lemah. "Tabib yang sakit itu paling malu."

"Kau minum dari sungai?"

"Dari sumur di belakang gubukku. Tapi sumur itu dekat dengan sungai."

"Kau pernah mencium bau aneh di air?"

"Bau tanah busuk. Seminggu lalu." Tabib Shu menatap langit-langit tenda. "Aku mengira tanah longsor di hulu."

"Terima kasih," kata Jian Chen. Ia berdiri. "Aku akan memastikannya besok."

"Anak muda." Tabib Shu memegang pergelangan tangannya dengan jari-jari yang kering. "Apa kau punya orang yang kausayang?"

Jian Chen terdiam. "Ada."

"Jaga mereka. Itu satu-satunya hal yang benar-benar penting." Tabib Shu melepaskannya. "Sekarang pergi tidur. Aku masih bisa bertahan satu malam lagi."

Jian Chen keluar dari tenda dan berdiri lama di bawah langit gelap. Lin Xue muncul di sampingnya, membawa lentera kecil.

"Kau mengenal pasien itu," katanya.

"Sedikit."

"Kau gemetar."

"Aku tidak gemetar."

"Tanganmu gemetar." Lin Xue meraih tangannya tanpa meminta izin dan menggenggamnya sebentar. "Kau ingin menolongnya."

"Ya."

"Aku akan berusaha sekeras mungkin," kata Lin Xue. "Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa."

"Aku tahu."

"Dan kau," lanjut Lin Xue, melepaskan tangannya. "Jangan menyalahkan dirimu kalau gagal."

Jian Chen menatapnya dalam cahaya lentera yang bergoyang. "Itu permintaan yang sulit."

"Aku tahu," jawab Lin Xue. "Tapi aku tetap memintanya."

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!