NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kera Putih

Kebangkitan Kera Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SERGAPAN BURUNG BANGKAI BERACUN

Gerobak tahanan terus berguncang saat roda-roda kayunya melintasi celah batu terjal di sepanjang Ngarai Gagak. Tebing-tebing batu hitam menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan, memotong cahaya matahari siang hingga jalur lorong di bawahnya terasa dingin dan remang.

Angin lembap yang berembus dari celah tebing membawa bau tanah kusam dan uap yang tidak sedap—bau busuk bangkai hewan yang membatu di lereng batu.

Lin Yuan duduk bersila di pojok kerangkeng besi, matanya terpejam pelan. Di bawah lapisan kulit dadanya yang terbebat linen, aliran hangat Kera Putih terus berputar lembut. Ia sengaja mengabaikan gesekan rantai besi di pergelangan tangannya, membiarkan energi *qi* tipis membalut persendiannya agar tidak memar dihantam guncangan gerobak.

"Jalanan ini selalu baunya menjijikkan," Mengerang pria bertato kekar di sebelahnya seraya memegangi perutnya yang lapar.

"Diamlah, Pemandangan tebing di sini memang tempat favorit monster udara untuk mencegat mangsa," Sahut tahanan lain berwajah tirus yang mengintip dari celah jeruji.

Tiba-tiba, suara derap kuda pengawal di luar gerobak mendadak berhenti.

"Tahan konvoi!" Teriak Komandan Pengawal yang berkuda di barisan paling depan.

Kuda-kuda militer meringkik gelisah, menghentak-hentakkan kakinya ke tanah basah. Burung-burung liar di atas celah tebing terbang berhamburan secara tidak wajar.

SRAAK! SRAAK!

Suara kepakan sayap yang amat berat bergema dari balik kegelapan celah tebing atas. Gesekan bulu keras bersahut-sahutan, makin lama makin dekat dan bergemuruh bagai badai.

"Awan di atas... mendadak bergerak memutar?" Bisik seorang pengawal militer sambil mendongakkan kepalanya, matanya membelalak kaget.

Dari celah tebing yang gelap, puluhan bayangan hitam meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Tubuh mereka sebesar serigala dewasa, diselimuti bulu abu-abu kusam yang tebal. Kepala mereka gundul tanpa bulu dengan kulit merah kehitaman, sementara paruh bengkok mereka yang tajam meneteskan cairan hijau pekat berbau membusukkan jaringan.

Burung Bangkai Beracun. Monster udara kelas satu yang terkenal berburu dalam kelompok besar dan melumpuhkan mangsanya menggunakan cairan asam dari tenggorokan mereka.

"Siapkan perisai! Monster udara menyerang!" Teriak Komandan Pengawal memegang gagang pedangnya.

GAK! GAK! GAK!

Jeritan melengking berkumandang memecahkan keheningan ngarai. Kawanan burung raksasa itu menukik tajam bagai hujan panah hitam.

BLES!

Seekor Burung Bangkai Beracun menyabet bahu seorang pengawal berkuda dengan cakar belakangnya. Pengawal itu terlempar dari atas pelana, memuntahkan darah sebelum tubuhnya dihantam oleh dua monster lain di atas tanah.

"Tembak panah!" Teriak prajurit pengawal yang panik.

Beberapa anak panah ditembakkan ke udara, namun kepakan sayap keras monster-monster itu menciptakan hembusan angin tebal yang membelokkan arah panah. Formasi pengawal militer kocar-kacir dalam sekejap mata. Cairan asam hijau ditembakkan dari paruh monster, menyiram perisai besi para pengawal hingga meleleh berasap dan membakar kulit lengan mereka.

"Argh! Mataku! Cairan ini membakar kulitku!" Jerit seorang prajurit berguling-guling di tanah.

Di dalam gerobak tahanan, kepanikan meledak seketika.

"Buka kuncinya! Tolong buka pintu kerangkeng ini!" Teriak pria bertato sambil memukul-mukul jeruji besi dengan hysteria murni. "Kita akan mati konyol terkurung di sini!"

"Pengawal! Lepaskan rantai kami!" Jerit tahanan berwajah tirus dengan mata membelalak ketakutan.

Dua ekor Burung Bangkai Beracun hinggap di atas atap besi gerobak tahanan. Cakar baja mereka merobek kayu pelindung atap hingga serpihan kayu beterbangan. Paruh tajam mereka menjulur masuk melalui celah jeruji yang hancur, mencoba mencatok kepala para tahanan yang tersudut di dalam.

SREK!

Cakar monster menyabet lengan pria bertato hingga darah segar menyembur ke dinding jeruji. Pria itu menjerit histeris sambil merangkak mundur.

Lin Yuan tidak ikut berteriak. Ia berdiri tenang di tengah kegelapan kerangkeng yang berguncang. Matanya terkunci rapat pada dua prajurit pengawal yang tergeletak tak berdaya di dekat roda gerobak—kunci besi utama kerangkeng terikat di pinggang salah satu pengawal yang sudah pingsan.

GAK!

Seekor burung bangkai menjulurkan kepala gundulnya menembus jeruji atap yang jebol, mengincar leher Lin Yuan dengan paruh bengkok yang meneteskan asam beracun.

Lin Yuan tidak mundur seijat pun. Ia memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari patukan pertama. Paruh tajam monster itu merobek sedikit baju kusam di bahunya, menancap ke kayu dinding belakang.

Sebelum monster itu sempat menarik kepalanya kembali, Lin Yuan menyilangkan kedua pergelangan tangannya yang terbelenggu rantai besi tebal.

BAM!

Lin Yuan melingkarkan rantai besi tebal di tangannya tepat di sekeliling leher gundul sang monster, lalu menghentakkan kedua sikutnya ke belakang dengan dorongan otot panggul yang penuh.

KREK!

Suara remukan leher burung itu terdengar nyaring di tengah jeritan pertempuran. Monster itu kejang-kejang seketika, darah hitam kental menyembur dari paruhnya, membasahi wajah dan baju Lin Yuan.

Di dalam dadanya, lautan jiwa Kera Putih meledak seketika saat mencium uap darah monster segar. Seberkas energi hangat tertembak dari ulu hatinya, mengalir cepat membasahi meridian di sepanjang lengannya.

Lin Yuan tidak membuang waktu. Ia menyambar leher bangkai burung bangkai yang masih terjepit di jeruji, memutar badannya, lalu menghantamkan tubuh monster seberat lima puluh kilogram itu ke arah burung bangkai kedua yang sedang bersiap menyemburkan racun dari atas atap.

BRUK!

Monster kedua terlempar jatuh dari atap gerobak, menghantam tanah keras di samping roda.

Lin Yuan menjulurkan tangannya yang terbelenggu melewati celah jeruji yang telah bengkok, meraih sabuk kulit pengawal yang pingsan di bawah roda, dan menarik kunci besi utama masuk ke dalam kerangkeng.

KLANG!

Kunci diputar. Pintu besi gerobak tahanan terhempas terbuka lebar.

Para tahanan yang ketakutan melotot tak percaya menatap Lin Yuan yang berdiri di ambang pintu gerobak dengan wajah bersimbah darah hitam monster dan mata hitam pekat yang berkilat tenang.

"Keluar dari kerangkeng kalau masih ingin bernapas," Ucap Lin Yuan datar, suara beratnya memotong kepanikan di dalam gerobak.

Lin Yuan menyambar sebilah pedang pendek milik pengawal yang tergeletak di batu, menancapkan kakinya ke tanah basah, lalu menatap lurus ke arah puluhan monster udara yang masih mengamuk di atas ngarai.

1
Iskandar Muda
mantap
Fery Oktavian: semoga suka dengan ceritanya 👍🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!