Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: PERTEMUAN PERTAMA DI HUTAN LAWU
Setelah menguji kesetiaan dan mendengarkan cerita dari Sari, Anjani, dan Sekar, Bima Samudra bergumam pelan di dalam hatinya.
"Rupanya mereka bertiga tulus. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bersantai. Aku harus segera memahami warisan Eyang Jagat seutuhnya, agar bisa keluar dari dunia rahasia ini."
Ketiga ratu cantik itu yang melihat Bima hanya diam setelah menatap mereka, jadi salah tingkah dengan wajah memerah.
"Tuan, apakah ada yang salah...? Kenapa setelah melihat kami Tuan hanya diam saja...?" tanya Sari dengan malu-malu sambil memainkan ujung kebayanya.
"Oh, tidak ada yang salah," jawab Bima dengan senyum yang menenangkan. "Hanya saja, sepertinya sekarang belum saatnya untuk itu. Aku harus segera mempelajari semua ingatan dari warisan Eyang Jagat, agar bisa segera keluar dari dunia rahasia ini dan melanjutkan perjalanan turun gunungku."
"Iya, Tuan," jawab ketiga wanita itu dengan patuh, walau ada sedikit rasa kecewa yang manis di wajah mereka.
Bima segera duduk bersila di tengah Joglo megah di dalam Alam Jiwanya. Ia memejamkan mata dan mulai menyelami lautan ingatan warisan yang begitu luas dari Eyang Jagat Buana.
Tanpa terasa, waktu pun berlalu.
Tiga hari tiga malam di dalam dimensi Alam Jiwa, yang jika di dunia luar mungkin hanya beberapa jam, akhirnya Bima berhasil memahami semua ingatan dari warisan itu. Mulai dari sejarah kelam dunia persilatan Nusantara, teknik-teknik rahasia yang sudah punah, resep pil-pil surgawi, hingga rahasia tentang Alam Fana dan Alam Dewa.
Setelah selesai, Bima pun keluar meninggalkan Alam Jiwanya.
Begitu ia membuka mata di dunia nyata, ia kembali berdiri tepat di tempat kuil megah itu sebelumnya berada. Kuil itu sudah tidak ada, karena sudah ia simpan di dalam Alam Jiwanya. Dan tepat di bawah tempat kuil itu berdiri sebelumnya, terdapat sebuah pedang yang tertancap gagah di atas batu hitam.
Bima segera menghampirinya. Begitu ia mendekat dalam jarak sepuluh meter, sebuah aura yang sangat kuat, penuh penindasan dan wibawa kuno, langsung keluar dari pedang itu, mencoba menekan siapa pun yang mendekat.
Jika kultivator biasa yang mendekat, mungkin lututnya sudah gemetar dan pingsan.
Namun Bima segera mengaktifkan Perisai Pelindung Nirvana dari tenaga dalamnya. Sebuah cahaya keemasan tipis menyelimuti tubuhnya.
Berkat kekuatan tingkat Alam Nirvana, Bima tidak merasakan tekanan apa pun lagi dari pedang itu. Aura pedang itu bahkan terasa ramah padanya.
Setelah sampai di dekat pedang itu, Bima mulai mengamati setiap sisi dari pedang tersebut.
"Sungguh pedang yang indah. Gagangnya berukir kepala Naga Jawa yang sangat detail, bilahnya berkilau perak dengan ukiran aksara Jawa Kuno yang unik. Pedang Pembalik Langit ini betul-betul keren," gumam Bima kagum. "Menurut ingatan dari warisan, untuk mengambil pedang ini cukup meneteskan setetes esensi darahku."
Bima pun memulai prosesnya. Ia menggores ujung jarinya dan meneteskan setetes darah emasnya ke bilah pedang itu.
Begitu darah menetes, seketika pedang itu bergetar hebat.
"Wunggg..."
Cahaya yang sangat menyilaukan muncul dari dalam pedang itu. Dari dalam cahaya itu, perlahan muncul sosok seorang wanita cantik jelita.
Rambutnya panjang terurai seperti sutra hitam, wajahnya cantik sempurna, matanya bening, mengenakan gaun putih keperakan yang melayang-layang. Kecantikannya tidak kalah dengan ketiga ratunya.
Dengan santai, Bima bertanya, "Nona, siapakah dirimu ini...?"
"Aku adalah Roh Pedang, Tuan. Tuan telah membangunkan ku dari tidur panjangku selama ribuan tahun. Ini semua memang sudah diatur oleh takdir," jawab sosok cantik itu dengan suara yang merdu seperti lonceng.
"Siapa namamu...?" tanya Bima lagi.
"Aku hanyalah Roh Pedang, Tuan. Aku tidak mempunyai nama. Eyang Jagat tidak pernah memberiku nama," jawabnya dengan wajah yang tampak sedikit sedih dan kesepian.
Bima menatapnya dengan rasa iba.
"Baiklah, karena sekarang kau adalah milikku, bagaimana jika aku memberimu nama...?"
"Betulkah, Tuan...?" kata Roh Pedang itu dengan gembira, matanya langsung berbinar-binar.
"Iya. Mulai sekarang, kau kuberi nama Ayu Lestari. Karena kau cantik dan akan abadi bersamaku. Bagaimana, kau suka...?" tanya Bima dengan senyum hangat.
"Suka, Tuan, sangat suka. Nama Ayu Lestari sangat indah," jawabnya dengan penuh kebahagiaan, pipinya merona.
"Baiklah, Ayu. Sekarang aku akan membawamu. Aku harap kamu jadi pengikutku yang patuh. Aku akan menyimpanmu di dalam Cincin Semesta ku ini," kata Bima sambil menunjukkan Cincin Semesta di jarinya.
"Tuan, kenapa Tuan tidak menyimpan Ayu di dalam lautan jiwa Tuan saja...? Dengan begitu Ayu bisa melindungi Tuan setiap saat dan menemani Tuan mengobrol," kata Ayu Lestari memberikan saran dengan manja.
Bima tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Baiklah kalau begitu, masuklah," perintah Bima.
"Baik, Tuan," jawab Ayu Lestari dengan patuh.
Seketika pedang megah itu berubah menjadi seberkas cahaya perak yang sangat indah, lalu masuk ke dalam lautan jiwa Bima, bersemayam dengan anggun di samping Joglo Alam Jiwanya.
Setelah semuanya selesai, Bima memulai perjalanannya untuk keluar dari dunia rahasia itu. Sebuah gerbang cahaya terbuka di depannya.
Setelah keluar dari dunia ajaib itu, Bima kembali muncul di depan mulut gua kristal tempat ia masuk pertama kali, yang kini berada di balik Air Terjun Jumog Tujuh Warna.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara segar Gunung Lawu. Akhirnya ia kembali.
Bima mulai berjalan menuruni gunung, mengikuti langkah kakinya yang ringan. Setelah beberapa saat berjalan melewati hutan pinus di jalur Desa Cemoro Kandang, ia mendengar suara pertempuran yang cukup dahsyat dari kejauhan.
"Duaarrr...!"
Bima segera menghampiri sumber suara itu dengan Teknik Langkah Bayu Pamungkas. Dalam sekejap mata, ia sudah sampai di lokasi.
Sampai di sana, Bima melihat sekelompok orang yang sedang bertarung mati-matian melawan seekor Kadal Raksasa Api setinggi tiga meter. Yang membuat Bima kaget, orang-orang itu semuanya adalah wanita. Lima wanita cantik dengan pakaian silat modern.
Bima menonton pertempuran itu dengan santai dari balik kekosongan udara, menggunakan teknik menghilang. Pertempuran itu terlihat sungguh dahsyat. Pepohonan di sekitar sudah hancur berantakan, tanah porak-poranda. Kelima wanita itu pun sudah terluka semua, napas mereka terengah-engah, termasuk pemimpin mereka. Namun kadal raksasa itu masih sangat kuat, belum tampak lelah sama sekali.
Melihat para wanita itu yang sudah di ambang kekalahan, Bima pun tidak tega dan memutuskan untuk menawarkan bantuan. Ia muncul dengan senyum manisnya yang paling memikat.
"Hai, nona-nona yang cantik, apa kalian butuh bantuan...?"
Melihat senyum Bima yang begitu memikat dan tiba-tiba muncul dari udara kosong, kelima wanita itu sampai lupa berkedip, terpesona. Di tengah pertarungan hidup dan mati, ada pemuda tampan seperti pangeran muncul.
"Nona, kenapa kalian hanya diam...? Mau aku bantu atau tidak...?" tanya Bima lagi dengan nada usil.
"Apakah kamu mampu menghadapi hewan ini sendirian...?" tanya pemimpin kelompok itu, seorang wanita berwajah tegas namun cantik dengan kuncir kuda, dari Sragen. "Kami tidak mau membahayakan nyawamu. Kadal ini adalah Raja Kadal Api, kekuatannya sudah setara Alam Bumi..."
"Baiklah, nona-nona cantik, biar aku saja yang memberi pelajaran kadal nakal ini," kata Bima dengan santai.
Bima lalu melompat ringan ke depan kadal itu. Tanpa jurus yang hebat, tanpa teriakan, ia hanya menampar kepala kadal itu dengan pelan.
"Plak...!"
"Duuaarrr...!"
Dalam satu pukulan pelan itu, kepala Raja Kadal Api yang sangat keras itu langsung meledak menjadi serpihan. Tubuh raksasanya tumbang ke tanah dengan keras.
Sontak, kelima wanita itu kaget bukan kepalang. Mulut mereka terbuka lebar. Mereka berpikir, ini manusia atau dewa...? Bagaimana mungkin Raja Kadal Api yang membuat lima pendekar wanita Alam Satria terluka parah bisa dikalahkan hanya dengan satu tamparan pelan.
Bima menghampiri para wanita yang masih terkejut itu.
"Hai, nona, ada apa...? Kenapa kalian terlihat begitu terkejut...?" tanya Bima dengan wajah polos.
"Bagaimana kamu mengalahkan kadal itu begitu mudah...? Siapa kamu sebenarnya, manusia atau dewa...? Kenapa kekuatanmu begitu mengerikan...?" tanya pemimpin itu dengan penuh rasa ingin tahu, suaranya masih gemetar.
"Aku ini hanya manusia biasa, nona, sama seperti kalian. Itu tadi hanya seekor kadal yang nakal, bukanlah hal yang sulit," ujar Bima sambil tersenyum ramah. "Oh ya, kenapa kalian bisa sampai bertarung dengan kadal ini...?"
"Tuan, adik kami sedang sakit keras di Desa Ngargoyoso," jawab wanita itu dengan wajah sedih. "Menurut tabib di Karanganyar, penyakitnya hanya bisa disembuhkan dengan empedu Kadal Api ini. Tapi tanpa diduga, kami malah bertemu dengan rajanya, sehingga begitu sulit mengalahkannya hingga kami semua terluka."
"Owh, jadi begitu," gumam Bima dengan penuh simpati.
"Wusssst..."
Bima mengeluarkan beberapa Pil Surgawi Pemulih Luka dari Cincin Semestanya. Pil itu bercahaya hijau dan harum semerbak.
"Nona, minumlah pil ini dan sembuhkan semua luka kalian," kata Bima sambil menyerahkan pil itu.
"Tapi Tuan, ini Pil Surgawi yang begitu berharga, hanya setingkat di bawah Pil Tingkat Dewa. Ini terlalu berharga, harganya bisa untuk membeli satu rumah di Solo. Bagaimana kami bisa menerimanya...?" tolak wanita itu dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku punya banyak pil seperti itu di rumah. Kalian minum saja pil itu, jangan dipikirkan," perintah Bima dengan nada memaksa namun lembut.
Para wanita itu segera meminum pil itu dan duduk bersila untuk menyembuhkan luka. Selagi mereka fokus menyembuhkan luka, Bima pergi ke dalam hutan untuk mencari makanan. Ia menangkap beberapa ikan besar dari Sungai Bengawan Solo kecil di dekat sana dan segera membakarnya dengan bumbu racikan khas gunung.
Bima memang sangat pandai memasak, warisan dari Kak Sekar. Aroma ikan bakarnya yang harum dan menggugah selera sampai membangunkan para wanita itu dari meditasinya.
Melihat mereka sudah bangun, Bima langsung menyapanya.
"Nona, jika kalian sudah selesai, mari makan bersama di sini. Aku sudah menyiapkan makan untuk kalian," ajak Bima dengan ramah.
Para wanita itu segera menghampiri Bima.
"Terima kasih, Tuan, Tuan begitu baik, padahal Tuan tidak mengenal kami," kata wanita pemimpin itu dengan tulus.
Bima berkata sambil tersenyum nakal khasnya, "Nona, berbuat baik tidak perlu kenal dulu. Tapi dengan menolong orang, kita bisa jadi kenal, bukan begitu, nona cantik...?"
Mereka pun mengangguk dengan pipi merona.
"Ayo makan," ajak Bima.
Saat mencicipi masakan Bima, mereka merasa itu sangat enak, jauh lebih enak dari masakan restoran di kota.
"Enak sekali...!" seru mereka.
Mereka makan dengan sangat lahap sampai mereka kekenyangan. Bima hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu, jauh dari kesan pendekar wanita yang tangguh tadi.
"Apakah makannya enak, nona...?" tanya Bima.
"Sangat enak, Tuan. Saya baru pertama kali merasakan ikan bakar yang seenak ini seumur hidup saya," jawab wanita pemimpin itu dengan gembira.
"Baguslah kalau begitu. Kalau kalian sudah selesai, ambillah empedu kadal yang kalian butuhkan itu dan segeralah pulang untuk mengobati adik kalian. Jangan buat dia terlalu lama menunggu dan khawatir," kata Bima mengingatkan para wanita itu dengan bijaksana.
"Tuan, apakah Tuan mau ikut dengan kami ke Desa Ngargoyoso...? Kami akan menjamu Tuan sebagai ungkapan terima kasih kami atas pertolongan Tuan yang sangat besar ini...?" ajak para wanita itu pada Bima dengan penuh harap.
Bima tersenyum tipis, menatap ke arah kaki Gunung Lawu, ke arah kota yang ramai di bawah sana.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?