Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG DI BALIK HUJAN
"Kamu mau melarikan diri sampai kapan, Sora?"
Suara rendah Aris bergelombang halus di udara dapur yang mendadak terasa begitu sempit. Sora meremas serbet kain di jemarinya, berusaha keras menjaga agar tumpuan kakinya tidak runtuh.
Ia tidak berani membalikkan badan. Sentuhan hangat di leher dan jejak manis bibir Aris di sudut bibirnya masih menjejak pekat di kulitnya, meninggalkan sensasi panas yang membuat seluruh persendiannya lemas.
"Aku nggak melarikan diri, Aris... Tolong, jauhi aku."
Aris tidak mundur sedikit pun. Sebaliknya, ia melangkah satu tapak lebih dekat, menyisakan jarak yang sangat tipis di antara dada tegapnya dan punggung Sora yang bergetar. Hawa panas tubuh pria itu merayap menembus kain sutra tipis gaun Sora.
"Kalau kamu mau aku menjauh, kenapa jantungmu berdetak secepat ini?" bisik Aris tepat di samping telinganya. Tangannya terulur melingkari pinggang Sora dari belakang, menahan napas wanita itu dalam satu sentuhan mantap yang sangat protektif.
Sora memejamkan mata rapat-rapat. Rasa bersalah yang membakar jiwanya beradu sengit dengan kehangatan ajaib yang menjalar dari telapak tangan Aris di perutnya. Sudak terlalu lama ia tidak dirangkul seperti ini—dirangkul dengan keinginan yang begitu nyata dan rasa menghargai yang jujur.
"Rian bisa saja tiba-tiba pulang," cicit Sora pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh dadanya sendiri.
"Rian tidak akan pulang siang ini, Sora," jawab Aris dengan kepastian yang terkesan dingin. "Dia sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Dan kamu... kamu ditinggalkan sendirian di sini, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja."
Usapan lembut telapak tangan Aris berpindah perlahan, merayap naik menyusuri rusuk Sora hingga berhenti tepat di bawah dadanya. Setiap pergerakan jemari pria itu penuh perhitungan, seolah sedang menuntun Sora melewati ambang batas antara kesetiaan yang sia-sia dan gairah terlarang.
Sora melenguh pelan, tak mampu menyembunyikan getaran di tubuhnya. Ia menyandarkan bagian belakang kepalanya pada bahu tegap Aris, menyerah sejenak pada kenyamanan semu yang ditawarkan pria di belakangnya.
Pukul tiga sore.
Suara deru mobil Aris perlahan menghilang dari pelataran depan rumah. Rumah megah itu kembali hening, diselimuti oleh keheningan dingin yang terasa ribuan kali lebih mencekam dari biasanya.
Sora duduk melamun di sudut sofa ruang tamu. Seikat bunga tulip putih pemberian Aris kini berdiri anggun di dalam vas kristal di atas meja marmer. Warna putihnya begitu bersih dan kontras dengan kegelapan pikiran Sora saat ini.
Ia menyentuh bibirnya sendiri dengan jemarinya yang dingin. Bayangan tatapan mata Aris yang membara, usapan lembut di lehernya, serta aroma parfum kayu cendana yang masih tertinggal tipis di kulitnya terus berputar tanpa henti.
Bip.
Ponsel Sora di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Rian:
"Ra, aku lanjut dinner sama klien sampai malam. Nggak usah tunggu aku makan malam, langsung tidur saja."
Sora menatap layar ponsel itu dengan mata berembun. Tidak ada ucapan maaf karena telah melewatkan makan siang yang disiapkannya bersusah payah. Tidak ada pertanyaan apakah Aris menikmati makanannya. Hanya instruksi dingin dan datar.
Sora tertawa tawar—sebuah tawa lirih yang penuh keputusasaan. Ia meletakkan ponselnya kembali, lalu berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke halaman luar. Hujan deras mulai mengguyur Kota Jakarta, meneteskan bulir-bulir air yang membasahi kaca bening di hadapannya.
Malam makin larut, menembus jarum jam sepuluh.
Guruh bersahut-sahutan di langit malam yang gelap. Sora berbaring sendirian di atas ranjang king size yang dingin. Selimut tebal yang membalut tubuhnya sama sekali tidak mampu mengusir rasa menggigil di dalam dadanya.
Suara langkah kaki yang oleng di lorong depan kamar tiba-tiba terdengar. Sora buru-buru memejamkan matanya, pura-pura tertidur lelap saat pintu kamar terdorong terbuka.
Aroma alkohol yang tajam dan menyengat mendadak memenuhi ruangan, menguasai udara bersih beraroma lavender di kamar tidur mereka. Rian berjalan terhuyung mendekati ranjang. Pria itu melempar jasnya ke lantai begitu saja sebelum merebahkan tubuh beratnya di samping Sora.
Sora menahan napasnya. Ia tetap membelakangi Rian, berpura-pura tidak terbangun.
Namun detik berikutnya, tangan Rian terulur kasar menyambar bahu Sora, memutar tubuh istrinya secara paksa hingga Sora terentang terlentang di bawah tatapan suaminya yang sayu oleh pengaruh minuman keras.
"Rian... kamu mabuk?" tanya Sora prihatin sambil berusaha duduk.
"Mabuk?" Rian tertawa terkekeh, napasnya yang berbau alkohol berhembus kasar di wajah Sora. "Aku cuma merayakan kesepakatan bisnis besar, Ra. Kenapa? Kamu mau memprotesku lagi?"
Rian menindih tubuh Sora, mencium leher istrinya secara terburu-buru dan kasar—tanpa ada kehangatan, tanpa ada awalan yang lembut. Murni sebuah dorongan pelepasan hasrat akibat pengaruh alkohol.
Sora membelalakkan matanya. Sentuhan kasar Rian terasa begitu menyakitkan dan memuakkan, berbanding terbalik dengan usapan halus Aris siang tadi yang sangat menghargainya.
"Rian, lepas... kamu mabuk!" dorong Sora pada dada suaminya.
"Aku suamimu, Sora!" bentak Rian dengan suara rendah yang mengancam. Tangannya menahan kedua pergelangan tangan Sora ke atas kepala. "Kenapa kamu menolakku? Hah? Apa yang salah denganmu beberapa hari ini?"
Rian kembali mendaratkan ciuman kasarnya di perpotongan leher Sora, mengabaikan rintihan dan linangan air mata yang mulai mengalir deras dari sudut mata istrinya.
Sora merasa jijik dan terhina. Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi kilatan petir dari luar jendela, bayangan wajah Aris mendadak melintas di benaknya. Bisikan Aris siang tadi kembali menggema di telinganya: "Kalau malam ini Rian nggak pulang lagi... kamu tahu nomor teleponku, kan?"
Dengan sisa tenaga dan amarah yang meluap, Sora menghentakkan kakinya dan mendorong dada Rian sekuat tenaga hingga pria yang sedang dipengaruhi alkohol itu terhuyung dan jatuh telentang di sampingnya.
Rian mengerang pelan, lalu dalam hitungan detik, napasnya berubah menjadi dengkuran halus. Pria itu tertidur pulas akibat kelelahan dan efek minuman keras, membiarkan Sora gemetar sendirian di atas ranjang.
Sora bergegas turun dari ranjang dengan derai air mata yang tak terhentikan. Ia berlari kecil menuju kamar mandi, mengunci pintunya dari dalam, dan menyalakan keran air shower setinggi mungkin untuk menyamarkan suara tangisannya yang pecah.
Ia membungkuk di depan wastafel, memandangi wajahnya yang pucat dan berantakan di dalam cermin. Pernikahan ini benar-benar telah membusuk hingga ke akarnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Sora meraih ponsel yang dibawanya di saku jubah tidurnya. Ia membuka aplikasi pesan, menatap nama kontak Aris yang baru dikirimkan pria itu tadi siang.
Jemarinya mengetik sebuah pesan pendek dengan bulir air mata yang menetes membasahi layar kaca ponselnya.
"Aris... tolong aku."
Hanya butuh waktu tiga detik hingga notifikasi balasan masuk. Sebuah balasan kilat yang membuktikan bahwa pria itu memang sedang menunggu pesannya sejak tadi.
Sora membaca baris kalimat dari Aris dengan jantung yang berdetak kencang:
"Buka pintu samping rumahmu sekarang. Aku sudah ada di luar."