NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Semburat Senja dan Saingan Baru

Langkah kaki Nayla terayun cepat, hampir menyerupai lari kecil saat ia melewati pintu dapur belakang rumah Mbah Harjo. Gadis itu menaruh keranjang telur di atas meja dapur dengan gerakan tergesa-gesa, membuat Bude Lastri yang sedang memotong sayuran terkejut. Tanpa menunggu sapaan lebih lanjut, Nayla buru-buru berpamitan dengan nada suara yang bergetar samar. Wajahnya yang putih bersih masih merona merah padam hingga ke daun telinga, sisa dari debaran aneh akibat insiden dekapan tidak sengaja di pancuran air semen tadi. Nayla melesat keluar dari gerbang halaman tanpa berani menoleh lagi ke belakang, takut jika sepasang matanya harus bertatapan kembali dengan manik mata cokelat gelap milik Arkananta Dewangga.

Sementara itu, Arkan masih berdiri mematung di teras belakang dekat ember cucian. Pria bertubuh tinggi tegap itu berulang kali berdeham keras, mencoba meluruhkan sisa hawa panas yang masih membakar permukaan wajah tampannya. Sentuhan fisik yang teramat dekat dengan Nayla di lantai pancuran yang licin tadi benar-benar sukses mengacaukan seluruh sistem logika berpikirnya. Ego dan keangkuhan pria metropolitan Jakarta dalam diri Arkan menolak keras getaran asing tersebut. Pria itu menyugar rambut depannya yang sedikit basah dengan tangan kiri, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa detak jantungnya yang berpacu cepat sejak tadi murni karena ia terkejut hampir tergelincir, bukan karena pesona seorang gadis desa yang berpakaian sederhana itu.

Satu jam berlalu, rasa bosan yang teramat sangat mulai menyergap Arkan di dalam kamar sederhana yang pengap. Suasana rumah Mbah Harjo tampak sepi karena Pak Barkah belum pulang dari ladang dan Reno masih berada di sekolah. Menolak untuk terus tenggelam dalam lamunan konyol tentang insiden mencuci baju tadi pagi, Arkan akhirnya memutuskan untuk berjalan keluar menuju halaman depan rumah. Dengan tangan kanan yang masih terbalut kain kasa putih bersih, pria kota itu melangkah santai mendekati pintu pagar bambu rendah untuk mencari embusan angin sore yang sejuk.

Langit Desa mulai dihiasi oleh semburat warna oranye keemasan yang menandakan senja akan segera tiba. Arkan bersandar pada pilar pagar kayu, melipat tangan kiri di dada sambil melemparkan pandangan kosong ke arah jalan setapak desa yang dikelilingi pohon-pohon rindang. Namun, pandangan mata Arkan mendadak terkunci pada sebuah objek yang bergerak mendekat dari belokan jalan setapak yang berjarak sekitar lima puluh meter dari posisinya berdiri.

Nayla tampak sedang berjalan kaki dengan langkah yang kini jauh lebih santai. Namun, perhatian Arkan teralih sepenuhnya pada sebuah sepeda motor bebek sederhana yang mendadak melambat dan berhenti tepat di samping gadis itu. Seorang pria muda turun dari motor tersebut dengan gerakan yang sangat ramah. Pria itu bertubuh tegap proporsional, mengenakan kemeja kain polos yang rapi, berkulit sawo matang yang bersih, dan langsung melemparkan sebuah senyuman hangat yang tampak sangat tulus begitu melihat Nayla. Pria lokal itu adalah Dimas Dananjaya, ketua pemuda karang taruna desa sekaligus menantu idaman para orang tua di Desa ini.

Dari kejauhan, Arkan memperhatikan interaksi di antara keduanya dalam bisu. Sepasang alis tebal sang Tuan Muda Jakarta seketika menukik tajam, dan rahang tegasnya mengeras tanpa alasan yang jelas. Di depan matanya, Nayla tampak menyambut kehadiran Dimas dengan senyuman yang sangat cerah. Gadis itu yang biasanya selalu bersikap ketus, galak, dan memasang wajah menantang di depan Arkan, kini justru tampak begitu lembut dan sesekali tertawa lepas saat berbicara dengan pria lokal tersebut. Dimas terlihat menyerahkan sebuah buku tebal yang langsung diterima Nayla dengan wajah berbinar senang.

Gejolak emosi yang sangat asing dan tidak nyaman mendadak bangkit meledak di dalam dada Arkan. Saraf-saraf di tubuh tegapnya menegang hebat, memicu rasa dongkol yang amat sangat. Namun, karena dinding gengsi dan keangkuhannya masih berdiri sangat kokoh, Arkan sama sekali belum menyadari getaran rasa cemburu yang sedang membakar hatinya sendiri. Pria kota itu menolak mengakui bahwa ia tidak suka melihat Nayla tersenyuman manis bersama pria lain. Sebaliknya, logika Arkan yang masih belum akur dengan Nayla langsung mencari pembenaran yang sinis untuk menutupi rasa tidak nyaman tersebut.

"Dasar perempuan bermuka dua," gumam Arkan ketus dengan suara baritonnya yang berat dan dingin, menatar lurus ke arah pemandangan di pinggir jalan sana. "Di depan saya bersikap sok suci, galak, dan ketus seperti mau mengajak perang. Tapi begitu di depan pria desa itu, sifat aslinya langsung keluar. Genit sekali."

Di pinggir jalan setapak, Dimas tampak menawarkan tumpangan motor kepada Nayla untuk mengantarnya pulang ke rumah, namun Nayla menolaknya secara halus dengan lambaian tangan yang sopan karena jarak rumahnya yang sudah dekat. Dimas tidak memaksa, ia mengangguk paham lalu kembali menyalakan motor bebeknya dan melaju pergi setelah melambaikan tangan pamit pada Nayla. Nayla kembali melanjutkan berjalan kaki menyusuri jalan setapak, tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya sejak tadi diawasi dengan tatapan mematikan oleh sepasang mata cokelat gelap dari balik pagar rumah Mbah Harjo.

Begitu langkah kaki Nayla tiba tepat di depan gerbang pagar bambu, langkahnya mendadak terkunci. Gadis itu tersentak kaget saat mendongakkan kepala dan menemukan sosok Arkan sedang berdiri tegas di sana. Pria kota itu sedang menatapnya dengan pandangan mata yang luar biasa dingin, sinis, dan penuh dengan aura permusuhan yang pekat, seolah Nayla baru saja melakukan sebuah kesalahan kriminal yang sangat besar.

Nayla yang sisa kecanggungannya tentang insiden pancuran air tadi subuh belum hilang sepenuhnya, mendadak merasa tidak nyaman ditatap seperti itu. Ia mengerutkan dahinya yang mulus, mencoba menenangkan debaran di dadanya lalu menggenggam buku pemberian Dimas dengan erat di depan dada tunik katun biru mudanya.

"Kenapa berdiri di depan pagar seperti ini? Menghalangi jalan orang saja," cetus Nayla dengan nada suara jernihnya yang ketus, mencoba mengembalikan benteng pertahanan dirinya yang biasa.

Arkan tidak langsung menjawab. Pria kota itu justru terkekeh sinis, sebuah tawa hambar yang terdengar sangat meremehkan telinga Nayla. Ia menegakkan punggung jangkungnya, menatap Nayla dari atas ke bawah dengan pandangan mata yang sarat akan cemoohan kaku khas pria metropolitan gila hormat.

"Saya cuma sedang mencari angin sore yang bersih," balas Arkan dengan nada suara beratnya yang penuh penekanan menohok. "Tapi pemandangan sore ini mendadak jadi tidak menarik lagi karena saya terpaksa melihat ada seorang gadis desa yang bertingkah sangat genit di pinggir jalan bersama pria lain."

Mendengar kata 'genit' keluar dari mulut pria kota yang angkuh itu, sepasang alis milik Nayla seketika menukik tajam tanda tersinggung berat. Langkah kakinya bergerak maju satu langkah dengan tegas, menatap lurus ke dalam manik mata Arkan dengan kilat amarah yang menyala. "Jaga bicaramu ya, Arkananta Dewangga! Siapa yang kamu sebut genit? Saya dan Mas Dimas itu sudah berteman lama sejak masa kuliah, dan kami sedang membicarakan urusan program penyuluhan kelompok tani desa!"

"Berteman lama atau sengaja tebar pesona?" potong Arkan tanpa kompromi, nada suaranya semakin mendingin demi menutupi gejolak asing yang meremas dadanya setiap kali mengingat senyuman manis Nayla untuk Dimas tadi. "Di depan saya dan Pak Barkah kamu bertingkah sok tegas seolah-olah kamu gadis paling mandiri di Sukmawarna ini. Tapi begitu ada pria desa bermotor bebek itu datang, senyumanmu langsung murah sekali. Sifat bermuka duamu itu benar-benar membuat saya muak."

Kata-kata keji dan tuduhan tak berdasar dari Arkan bagaikan hantaman keras yang merobek perasaan Nayla. Wajah manis gadis yang memiliki kulit putih bersih alami itu seketika menegang menahan rasa sakit hati dan amarah yang meledak di dalam dadanya. Air mata kemarahan hampir saja merebak di sudut matanya, namun harga dirinya menolak untuk terlihat lemah di depan pria kota yang sangat arogan ini.

Nayla mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat di sisi tubuhnya, menatap Arkan dengan tatapan kebencian mutlak yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Kamu... kamu benar-benar pria kota yang paling sombong, egois, dan tidak punya perasaan yang pernah saya temui seumur hidup saya! Saya menyesal telah menolong mengobati tanganmu kemarin!" bentak Nayla dengan nada suara yang bergetar hebat menahan tangis dongkol.

Tanpa menunggu balasan dari Arkan, Nayla membalikkan badannya dengan cepat. Gadis itu melangkah kaki dengan hentakan kasar menjauhi pagar bambu, berjalan setengah berlari menuju rumahnya di ujung jalan setapak bawah langit senja yang mulai menggelap.

Arkan tetap berdiri mematung di dekat pilar pagar kayu, menatap kepergian gadis itu dengan napas yang mendadak terasa sesak di dalam dadanya. Kemenangan egonya malam itu karena berhasil membuat Nayla pergi dengan amarah entah kenapa sama sekali tidak memberikan rasa puas yang biasa ia rasakan di Jakarta. Sebaliknya, sebuah perasaan hampa, sesal yang samar, dan getaran rasa panas yang asing di balik dadanya justru membuat sang Tuan Muda kota meremas kain kasa di tangan kanannya dengan frustrasi, tidak menyadari bahwa kesalahpahaman dan keangkuhan kaku yang ia pertahankan hari ini akan menjadi awal dari ujian hubungan yang jauh lebih rumit.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!