Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB SEMBILAN BELAS
## Bab 19: Malam Sebelum Semuanya Berubah
Aku berbaring di kamar, punggung menghadap pintu, berpura-pura sudah tertidur ketika sebenarnya mataku masih terbuka lebar menatap kegelapan. Di ruang tamu, aku bisa mendengar samar-samar suara Bayu yang masih terjaga, sesekali terdengar helaan napas panjang yang menandakan ia juga tidak benar-benar tenang malam itu.
Pertanyaan-pertanyaan yang tadi kulontarkan padanya terus berputar di kepalaku. Jawaban yang ia berikan—"itu bukan seperti yang kamu pikirkan"—alih-alih menenangkan, justru semakin memperkuat firasat yang selama beberapa minggu terakhir terus tumbuh diam-diam dalam diriku. Jika memang tidak ada yang perlu disembunyikan, kenapa ia tidak langsung memberikan penjelasan yang jelas dan meyakinkan seperti biasanya?
Aku mulai merangkai kembali semua kejadian kecil yang selama ini kuanggap wajar satu per satu dalam kepalaku—foto polaroid dan gelang bayi di lemari, tarik tunai rutin yang tidak jelas peruntukannya, kekakuan Feri saat pertama kali kami bertemu, pertanyaan aneh ibu mertuaku soal kondisi rumah tangga kami, notifikasi dari seseorang bernama Wulan yang katanya "admin kantor mitra", dan sekarang, cerita Tika tentang perempuan yang menyambut Bayu di depan sebuah kontrakan sambil menggendong anak kecil.
Satu per satu, kejadian itu memang bisa dijelaskan secara terpisah. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, aku mengizinkan diriku sendiri untuk melihat semuanya sebagai satu kesatuan—dan pola yang terbentuk dari kesatuan itu membuat dadaku terasa sesak oleh kemungkinan yang, selama ini, selalu kutolak untuk kupikirkan secara serius.
---
Sekitar tengah malam, Bayu akhirnya masuk ke kamar, bergerak pelan-pelan agar tidak membangunkanku, meski aku tahu betul ia sadar aku belum benar-benar tertidur. Ia berbaring di sampingku, jarak di antara kami malam itu terasa lebih jauh dari biasanya, meski secara fisik kami hanya terpisah beberapa senti di atas kasur yang sama.
"Yu," bisiknya pelan, mungkin mencoba memastikan apakah aku sudah tidur atau belum.
Aku tidak menjawab, memilih untuk tetap berpura-pura tertidur, tidak siap untuk melanjutkan percakapan yang, aku tahu, akan membutuhkan keberanian yang belum sepenuhnya kumiliki malam itu. Bayu menghela napas pelan, tidak melanjutkan panggilannya, membiarkan keheningan menguasai kamar kami untuk sisa malam itu.
Aku terjaga cukup lama setelah itu, mendengarkan napas Bayu yang perlahan menjadi teratur, tanda ia sudah tertidur, sementara aku sendiri masih terjebak dalam pikiran yang terus berputar tanpa henti. Aku memikirkan tentang pernikahan kami, tentang lima tahun yang sudah kami lalui bersama, tentang kepercayaan penuh yang selama ini kuberikan tanpa pernah benar-benar mempertanyakannya secara mendalam.
*Apakah aku terlalu naif selama ini?* batinku, sebuah pertanyaan yang terasa menyakitkan untuk diakui, namun semakin sulit untuk dihindari mengingat semua bukti kecil yang selama ini luput dari perhatianku, padahal jika dikumpulkan, sebenarnya sudah cukup jelas membentuk sebuah pola yang mengarah pada satu kesimpulan.
---
Menjelang subuh, ketika langit mulai sedikit terang, aku akhirnya mengambil keputusan dalam hati—aku tidak akan lagi menunggu penjelasan yang terus berubah-ubah dari Bayu, tidak akan lagi puas dengan jawaban-jawaban yang, meski terdengar masuk akal secara terpisah, tidak pernah benar-benar menghilangkan rasa tidak nyaman yang terus tumbuh dalam diriku.
Aku memutuskan untuk mencari kebenaran sendiri, dengan caraku sendiri—memanfaatkan ketelitianku sebagai orang yang terbiasa bekerja dengan data dan angka, mengumpulkan bukti-bukti kecil yang selama ini sudah mulai kucatat secara diam-diam, sebelum akhirnya menghadapkannya langsung pada Bayu dengan bukti yang tidak bisa lagi ia bantah dengan penjelasan sederhana.
Aku bangkit pelan-pelan dari ranjang, berjalan ke ruang kerja kecil kami, membuka kembali spreadsheet yang selama ini kususun, menambahkan daftar pertanyaan dan kejanggalan yang perlu kucari jawabannya: *Siapa Wulan sebenarnya? Di mana lokasi kontrakan yang dilihat Tika? Kenapa ada foto Bayu menggendong bayi yang tidak dikenal? Berapa sebenarnya total uang yang selama ini mengalir keluar tanpa penjelasan jelas?*
Daftar pertanyaan itu, meski terlihat sederhana dalam bentuk tulisan, sebenarnya menjadi awal dari sebuah proses yang akan mengubah segalanya—proses pencarian kebenaran yang, aku tahu, tidak akan mudah dan mungkin akan menyakitkan, namun terasa jauh lebih penting daripada terus hidup dalam kenyamanan semu yang, kini kusadari, mungkin sudah lama runtuh tanpa pernah benar-benar kusadari keruntuhannya.
---
Pagi harinya, aku bangun lebih dulu seperti biasa, menyiapkan sarapan dan kopi untuk Bayu dengan gerakan yang, di permukaan, terlihat sama seperti hari-hari biasa lainnya. Namun di dalam hatiku, ada perubahan besar yang sudah terjadi semalam—sebuah keputusan untuk tidak lagi menjadi istri yang hanya menerima penjelasan tanpa benar-benar mencari kebenaran di baliknya.
"Pagi, Yu," sapa Bayu, keluar dari kamar dengan wajah yang tampak kurang tidur, matanya sedikit sembab, tanda ia juga melewati malam yang berat seperti diriku.
"Pagi, Mas," jawabku, mencoba terdengar senormal mungkin, meski di dalam hati, aku sudah tidak lagi bisa memandangnya dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Kami sarapan dalam diam yang tidak biasa, jauh dari obrolan ringan yang biasanya mengisi pagi-pagi kami. Sesekali Bayu melirikku, seperti mencoba membaca apa yang sedang kupikirkan, namun aku memilih untuk tetap tenang, menyembunyikan niatku untuk mulai mencari kebenaran dengan caraku sendiri, tanpa memberi kesempatan padanya untuk kembali menyiapkan alasan-alasan baru yang bisa menutupi kejanggalan yang sudah mulai kusadari.
Bayu berangkat kerja pagi itu dengan pelukan yang terasa lebih kaku dari biasanya, seolah kami berdua sama-sama menyadari bahwa sesuatu yang besar sedang bergerak di bawah permukaan kehidupan rumah tangga kami yang, selama ini, tampak begitu tenang dan baik-baik saja.
Setelah kepergiannya, aku duduk sebentar di ruang tamu, menatap ponselku yang menyimpan daftar pertanyaan yang kususun semalam. Hari itu, aku memutuskan, akan menjadi hari pertama dari perjalanan panjang untuk mencari tahu, sekali dan untuk selamanya, kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik senyum hangat suamiku—sebuah perjalanan yang, aku tahu, akan membawaku pada sebuah kenyataan yang mungkin akan menghancurkan segalanya yang selama ini kupercaya sebagai kebahagiaan hidupku.
---
*Bersambung ke Bab 20*