Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Hari Persidangan
Hari persidangan perceraian akhirnya tiba.
Mateo Leonardo Agler datang ke pengadilan dengan pikiran yang sejak tadi terus mengganggunya.
Entah mengapa, dia merasa yakin Ivy akan terlihat kacau hari ini.
Bagaimanapun juga, mereka telah menikah selama beberapa tahun. Mereka memiliki seorang anak bersama dan meskipun pernikahan itu tidak pernah didasari cinta dari pihak Mateo, Mateo berpikir Ivy pasti akan merasa kehilangan ketika semuanya benar-benar berakhir. Mungkin Ivy akan menangis, mungkin dia akan memohon agar pernikahan mereka tidak berakhir, mungkin dia akan meminta harta, uang, atau setidaknya sesuatu yang bisa membuatnya tetap terhubung dengan keluarga Agler. Namun semua dugaan Mateo salah, ketika Ivy memasuki ruang persidangan, wanita itu terlihat begitu tenang. Tidak ada mata sembap, tidak ada wajah pucat karena menangis, tidak ada tangan yang gemetar, bahkan tidak ada sedikit pun kesedihan di matanya. Ivy datang dengan pakaian sederhana namun elegan, rambutnya tertata rapi, wajahnya tenang, dan langkahnya mantap.
Yang paling membuat Mateo terdiam adalah, Ivy sama sekali tidak menatapnya, aeolah-olah Mateo tidak ada di sana.
Mateo mengerutkan keningnya.
"Ivy."
Panggilan itu membuat langkah Ivy berhenti sesaat, namun wanita itu hanya menoleh sedikit kepada pengacaranya.
"Apakah semuanya sudah siap?"
"Sudah, Nyonya."
Ivy mengangguk, kemudian dia kembali berjalan.
Tanpa melihat Mateo, tanpa sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, Mateo merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Bukankah seharusnya Ivy marah? Bukankah seharusnya wanita itu menangis? Bukankah seharusnya dia menunjukkan sedikit saja bahwa perceraian ini menyakitinya?
Namun Ivy justru terlihat seperti seseorang yang baru saja terbebas dari belenggu panjang.
Persidangan pun dimulai.
Hakim membacakan dokumen-dokumen perceraian dan memastikan bahwa kedua belah pihak telah menyetujui perpisahan tersebut.
"Ibu Ivy Alexandra Myles, apakah Anda tetap pada keputusan untuk mengakhiri pernikahan ini?"
"Ya."
Jawabannya singkat.
Tegas.
Tanpa keraguan.
"Apakah Anda mengajukan tuntutan mengenai harta bersama, tunjangan, atau aset lainnya?"
Ivy menggeleng.
"Tidak."
Mateo yang mendengar itu langsung menoleh.
Tidak ada?
Ivy tidak meminta apa pun?
Hakim kembali bertanya.
"Anda yakin?"
"Saya yakin."
Ivy menarik napas pelan.
"Saya tidak membutuhkan uang Tuan Mateo, saya juga tidak ingin bergantung pada keluarga Agler setelah perceraian ini."
Ruangan menjadi hening.
Mateo menatapnya.
Mendengar kata-kata Ivy, Mateo merasa ada sesuatu yang membuat harga dirinya sedikit terusik.
Selama ini dia mengira Ivy bertahan dalam pernikahan mereka karena kekayaan keluarga Agler. Dia mengira tanpa dirinya, Ivy tidak akan mampu menjalani kehidupan yang sama.
Ternyata...
Dia salah.
"Saya mempunyai kehidupan saya sendiri," lanjut Ivy tenang. "Saya mampu menghidupi diri saya sendiri."
Hakim kemudian menyelesaikan proses administrasi perceraian.
Tidak ada perselisihan.
Tidak ada perebutan harta.
Tidak ada drama.
Perceraian mereka berjalan jauh lebih mudah daripada yang Mateo bayangkan.
Dan akhirnya...
Pernikahan yang selama ini menjadi ikatan antara Ivy Alexandra Myles dan Mateo Leonardo Agler resmi berakhir.
Ivy berdiri.
Dia merapikan pakaiannya sebelum mengambil tasnya.
Mateo masih duduk beberapa saat, seolah belum sepenuhnya menerima kenyataan bahwa semuanya benar-benar telah selesai.
Ketika Ivy berjalan melewatinya, Mateo akhirnya bertanya,
"Kau benar-benar tidak menginginkan apa pun?"
Ivy berhenti lalu menoleh pada Mateo, tatapannya tenang. Tidak ada lagi tatapan cinta dari mata Ivy, tidak ada juga kebencian, hanya ketenangan seseorang yang sudah selesai dengan masa lalunya.
"Tidak."
"Kenapa?"
Ivy tersenyum tipis.
"Karena sejak awal aku menikahi mu, aku sama sekali tidak menginginkan harta mu Mateo."
Mateo terdiam.
Ivy melanjutkan,
"Selain itu, aku juga tidak ingin menjalani hidupku dengan menggunakan uangmu."
Setelah mengatakan itu, Ivy kembali berjalan.
Tidak menunggu jawaban.
Tidak menoleh lagi.
Begitu keluar dari gedung pengadilan, Ivy menghirup udara dalam-dalam.
Aneh.
Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyakitkan, namun yang dia rasakan justru kelegaan. Selama bertahun-tahun, hidupnya terasa seperti berputar di sekitar Mateo.
Mencintai Mateo.
Mengejar perhatian Mateo.
Berusaha mendapatkan tempat di hati Mateo.
Dan akhirnya kehilangan putrinya karena pernikahan yang tidak pernah memberinya kebahagiaan.
Sekarang semuanya sudah berakhir.
Ivy berhenti di tangga pengadilan dan menatap langit.
"Mulai hari ini..."
Dia tersenyum kecil.
"aku hanya akan hidup untuk diriku sendiri."
Tidak jauh dari sana, Mateo berdiri di pintu keluar.
Dia memperhatikan punggung Ivy yang semakin menjauh. Anehnya, untuk pertama kalinya sejak mengenal Ivy Mateo merasa wanita itu benar-benar tidak membutuhkannya dan ada satu hal yang tidak diketahui Mateo. Ivy bukanlah wanita miskin yang selama ini dia bayangkan. Jauh sebelum menikah dengannya, Ivy sudah membangun kehidupannya sendiri. Dia memiliki sebuah butik yang cukup terkenal, butik itu bahkan memiliki pelanggan dari kalangan sosialita dan selebritas.
Namun tidak seorang pun dari keluarga Myles maupun keluarga Agler yang mengetahuinya.
Ivy sengaja menyembunyikan semuanya, selama ini dia tidak pernah menggunakan kekayaannya untuk membuktikan sesuatu kepada siapa pun.
Dia hanya ingin memiliki sesuatu yang menjadi miliknya sendiri dan kini, setelah perceraian itu selesai Ivy akhirnya bisa kembali ke kehidupan yang selama ini dia tinggalkan.
Tanpa Mateo.
Tanpa keluarga Agler.
Tanpa orang-orang yang terus menyalahkannya.
Ivy masuk ke dalam mobilnya.
Sebelum mobil itu bergerak, ponselnya berdering.
Sebuah pesan masuk dari manajer butiknya.
"Nona Ivy, semua persiapan sudah selesai, apakah anda akan kembali ke butik hari ini?"
Ivy menatap pesan tersebut beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
"Ya."
Jarinya mengetik sebuah balasan.
"Aku akan segera ke sana, terimakasih Mia."
Mobil pun melaju meninggalkan gedung pengadilan.
Tanpa sekali pun Ivy menoleh ke belakang.
Bersambung