Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Video Tersebar 04.
Pukul tujuh pagi, dan harga diri Daffa sudah resmi masuk ke dalam liang kubur.
Baru saja kakinya melewati gerbang SMA Wahidin, tiga orang adik kelas perempuan langsung saling menyenggol bahu, berbisik heboh sambil menatap layar ponsel, lalu kompak tertawa tertahan saat Daffa lewat.
Daffa mematung, meraba wajahnya sendiri. Tidak ada belekan. Seragamnya rapi. Kancingnya lengkap.
Sial. Perasaannya mendadak tidak enak.
Begitu dia menapakkan kaki di koridor kelas XII, firasat buruknya terbukti.
Niko, Rian, dan Bams sudah berdiri di depan mading kelas, dikerumuni belasan anak lain.
Dari speaker ponsel Niko yang sengaja disetel volume maksimal, terdengar suara cempreng Rian dari rekaman semalam: "Uhuy! Selamat ya Daffa! Langgeng sampai pelaminan!" yang disusul suara melengking Lilis yang histeris.
"Asli, Daf, lu kalau bikin sekuel plot twist bilang-bilang dong. Viewers TikTok gue naik lima ribu semalam!" Niko menyambut Daffa dengan cengiran tanpa dosa, mengangkat ponselnya yang memajang video berdurasi tiga puluh detik dengan caption besar-besar: "Niat Nembak Kinar, Malah Jadian sama Pawang Macan."
"Hapus, Nik. Gue gak bercanda," desis Daffa. Wajahnya datar, tapi rahangnya mengeras. Ini bukan lagi sekadar bercandaan internal tongkrongan. Ini memalukan.
"Yaelah, Daf, dibawa santai kali. Lucu tau! Lagian si Lilisnya juga belum—" kalimat Rian terputus. Atmosfer di koridor mendadak turun drastis ke titik beku.
Dari ujung tangga, melangkah seorang gadis dengan aura yang sanggup membuat anak-anak yang sedang bergosip langsung bubar jalan.
Lilis berjalan dengan hentakan kaki yang begitu berat hingga rasanya lantai semen koridor ikut bergetar.
Rambut kuncir kudanya berayun ekstrem. Wajahnya merah padam, matanya menyalang penuh amarah, dan di tangan kanannya... dia menggenggam erat sebuah kemoceng bulu ayam warna-warni yang dia jarah dari ruang piket.
"DAFFAAA MAHENDRAAAAAAAA!!!"
Pekikan Lilis menggema, memantul di langit-langit koridor.
Daffa menelan ludah. Tanpa perlu dikomando oleh otaknya, insting bertahan hidup Daffa langsung mengambil alih. Dia berbalik dan langsung mengambil langkah seribu.
"HEH! JANGAN KABUR LU, COWO BRENGSEK!" teriakan Lilis makin histeris. Bunyi tepukan kemoceng yang dihantamkan ke telapak tangan Lilis terdengar seperti suara cambuk maut di telinga Daffa.
Aksi kejar-kejaran itu berpindah dramatis dari koridor lantai dua, turun melalui tangga darurat, hingga menembus area terbuka, lapangan basket utama.
Jam belum menunjukkan bel masuk, sehingga lapangan penuh dengan anak-anak yang sedang nongkrong pagi.
"LILIS, GAK USAH GILA! ITU BUKAN GUE YANG UPLOAD!" teriak Daffa sambil melompati garis three-point, menoleh ke belakang sekilas hanya untuk melihat kemoceng bulu ayam itu melayang beberapa sentimeter saja dari telinganya.
"GUE GAK PEDULI SIAPA YANG UPLOAD! GARA-GARA PUISI SAMPAH LU SEMALAM, GUE DILEDEKIN SATU SEKOLAH!" Lilis terus memburu. Napasnya memburu, tapi kemarahan memberinya energi setara atlet lari gawang. "SINI LU! GUE SIKAT MULUT LU PAKAI KEMOCENG INI!"
"Gue kan berniat nembak Kinar, kenapa jadi lu yang baper?!" Daffa membela diri, masih terus memutari tiang ring basket untuk menghalangi jangkauan Lilis.
"BAPER MATAMU PICEK! GUE MALU, DAFFA! MALU!"
Kalimat Lilis yang terakhir tidak diucapkan dengan nada membentak, melainkan ada getaran menahan tangis yang terselip di sana.
Langkah Daffa melambat secara otomatis. Otak nya berjalan—dia sadar, bagi perempuan sekeras Lilis, ditertawakan dan dijadikan bahan lelucon viral di media sosial adalah sebuah penghinaan besar. Lilis tidak baper karena puisi, Lilis terluka karena harga dirinya diinjak-injak. Sialnya, momentum melambatnya Daffa dimanfaatkan dengan baik oleh Lilis.
PLAK!
Kemoceng itu sukses mendarat telak di bahu kanan Daffa. Rasa perih yang lumayan langsung menyengat kulis dibalik seragamnya.
"Aduh! Sakit, Lis!" Daffa mengaduh, refleks memegangi bahunya.
Dia tidak lari lagi. Dia berhenti, menghadap Lilis yang kini terengah-engah di depannya dengan jarak satu meter. Kemoceng masih terangkat di udara, siap menghantam lagi.
"Biarin! Biar lu tau rasa!" napas Lilis naik turun dengan cepat. Matanya yang berkaca-kaca menatap Daffa penuh kebencian. Di pinggir lapangan, puluhan pasang mata menonton mereka seolah-olah ini adalah tontonan drama gratis.
"Gue minta maaf," ucap Daffa tiba-tiba. Suaranya merendah, tidak ada lagi nada bercanda atau ketakutan yang dibuat-buat. "Gue serius. Gue bakal suruh Niko hapus videonya sekarang juga."
Lilis menurunkan kemocengnya beberapa senti, tapi matanya masih menatap tajam. "Lu pikir dengan dihapus, ingatan orang-orang langsung hilang? Semua orang udah nonton, Daf. Termasuk... anak-anak kelas dua belas." Voice-nya melemah di kalimat terakhir.
Daffa langsung mengerti. Lilis menyukai salah satu cowok anak futsal, itu rahasia umum yang hanya diketahui beberapa orang. Dan video viral ini pasti merusak citranya di depan cowok itu. Ada rasa bersalah yang mendadak menyelusup di dada Daffa, menggantikan rasa kesal akibat dikejar-kejar tadi.
"Gue yang bakal jelasin ke orang-orang kalau itu cuma salah paham. Gue yang bakal tanggung jawab," kata Daffa tegas, melangkah satu tapak lebih dekat. "Gue gak bermaksud bikin lu jadi bahan tawaan."
Lilis menatap Daffa, mencari kebohongan di mata cowok itu.
Namun, yang dia temukan hanyalah rasa bersalah yang tulus. Perlahan, genggaman Lilis pada gagang kemoceng melonggar. Dia membuang muka, mengusap sudut matanya dengan kasar sebelum air matanya benar-benar jatuh di depan umum.
"Awas aja kalau sampai istirahat nanti video itu masih ada," ancam Lilis dengan suara serak, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lapangan basket, meninggalkan kemocengnya tergeletak begitu saja di lantai semen.
Daffa menghela napas panjang, memungut kemoceng tersebut. Dia menatap ke arah koridor lantai dua, di mana Niko dan Rian masih menonton dengan wajah agak bersalah setelah melihat Lilis hampir menangis.
Daffa mengacungkan kemoceng itu ke arah mereka dengan tatapan dingin.
Permainan malam semalam, ternyata melukai seseorang lebih dalam dari yang mereka kira. Dan Daffa tahu, mulai hari ini, urusannya dengan Lilis tidak akan pernah sesederhana dulu lagi.
......................
...****************...
TBC,