"Woy sampah rendahan."
"Sampah? Sampah? Sampah seperti ku masih bisa di daur ulang, tapi sampah seperti mu pantasnya dihancurkan."
Juna Adiwiyata hanya siswa beasiswa yang datang dengan tangan kosong ke Akademi Arcapolis—sekolah elite tempat nama keluarga menentukan siapa yang berhak menunduk dan siapa yang berhak menginjak.
Di sana, tidak ada yang peduli seberapa keras kau belajar. Yang ada hanya empat faksi, empat Raja, dan satu aturan tak tertulis: yang lemah akan diinjak sampai lupa cara berdiri.
Juna pernah jadi bagian dari yang lemah itu. Dihina, dipukuli, diseret ke gudang gelap sampai tubuhnya nyaris tak bernyawa—sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dari titik matinya sendiri dan mengubah segalanya.
Bukan sistem yang memberi kekuatan cuma-cuma. Sistem yang mengukur kekuasaan.
"Aku bangkit bersama orang-orang terbuang, dan akan menghancurkan mereka yang membuang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sore itu, lapangan olahraga Arcapolis ramai seperti biasa, dipenuhi siswa-siswa yang berlatih sepak bola, basket, dan atletik di berbagai sudut yang sudah dibagi sesuai jadwal masing-masing klub. Juna berdiri sendirian di ujung lintasan lari, keringat mengucur deras di sekujur tubuhnya setelah menyelesaikan rangkaian latihan rutin yang sudah menjadi kebiasaannya sejak sistem itu aktif.
[STR: 45] [SPD: 34] [INT: 60]
Panel kecil itu berkedip di sudut pandangannya, menampilkan angka-angka yang terus merangkak naik sejak malam-malam latihan tanpa henti yang ia jalani. Juna menyeka keringat di dahinya, menatap angka-angka itu dengan kepuasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
'Dari anak lemah yang bahkan nggak bisa push up seratus kali tanpa ngos-ngosan,' batinnya, mengepalkan tangannya yang kini terasa jauh lebih kokoh, 'sekarang aku bisa ngalahin orang yang badannya dua kali lipat aku.'
Ia baru saja hendak melanjutkan latihan ketika langkah kaki mendekat dari arah lapangan basket, disusul suara riang yang terdengar ramah.
"Eh, lu yang katanya ngalahin Ben Si Gorila Gunung, kan?" seorang pemuda berbadan atletis menghampiri, mengenakan jersey basket dengan kain oranye yang melilit lehernya seperti syal kebanggaan. Beberapa temannya yang berjaket merah mengikuti dari belakang, wajah mereka penasaran bercampur kagum.
Juna menoleh, mengamati sosok itu dengan tatapan tenang. "Tergantung, siapa yang nanya?"
"Nama gue Dika," pemuda itu menjawab santai, menyeringai lebar. "Tapi bukan gue yang penting di sini. Si bos mau ketemu lu langsung."
Juna mengangkat alis, tidak terlalu terkejut dengan kedatangan itu. Sejak kekalahan Kaisar Dirgantara menyebar luas ke seluruh sekolah, ia sudah menduga cepat atau lambat faksi lain akan mulai memperhatikannya.
"Bos lu di mana?" Juna bertanya, nadanya santai namun waspada.
"Udah di sini," Dika menjawab, menunjuk ke arah lapangan basket tempat beberapa siswa berjaket merah lainnya berkumpul, menunggu dengan sikap yang jauh lebih formal dibanding kerumunan biasa.
Juna melangkah mendekat, mengamati setiap wajah yang menatapnya dengan campuran rasa penasaran dan hormat yang asing baginya. Beberapa dari mereka bahkan berbisik-bisik pelan, menyebut namanya seolah ia sudah menjadi legenda kecil di kalangan Olahraga.
"Jadi ini orangnya," salah satu dari mereka berkata pelan kepada temannya, "yang bikin Kaisar Dirgantara sampe tunduk."
"Gila, badannya biasa aja kelihatannya," yang lain menjawab, nadanya penuh keraguan yang segera hilang begitu mengingat cerita yang beredar. "Tapi kalo cerita yang beredar bener, dia emang pantes diwaspadai."
Juna mendengar bisikan itu samar-samar, namun ia memilih untuk tetap tenang, menjaga ekspresinya tetap datar meski di dalam hatinya ada kepuasan tersembunyi mendengar reputasinya sudah menyebar sejauh ini.
"Lu beneran ngalahin Kaisar sendirian?" salah satu anggota lain bertanya penasaran, matanya menyipit menilai tubuh Juna dari ujung kepala sampai kaki. "Soalnya badan lu kelihatan biasa aja, nggak kayak petarung."
"Nggak semua kekuatan keliatan dari badan," Juna menjawab santai, sudut bibirnya terangkat tipis.
"Sombong juga nih anak," yang lain berbisik ke temannya, namun nada suaranya lebih ke arah kagum daripada mengejek.
Dika yang berjalan di sampingnya tertawa kecil mendengar pertukaran itu. "Tenang aja, nanti juga lu bakal tau sendiri. Bos gue emang paling suka sama orang yang berani ngomong gitu."
Juna melirik sekilas ke arah Dika, menyimpan informasi kecil itu dalam benaknya.
'Jadi rajanya suka sama orang yang berani,' pikirnya, 'menarik. Berarti aku nggak perlu jaga sikap terlalu banyak di depannya nanti.'
Mereka terus berjalan melewati beberapa kelompok siswa yang sedang berlatih, tatapan penasaran terus mengikuti setiap langkah Juna, beberapa bahkan menghentikan latihan mereka sejenak hanya untuk melihat sosok yang namanya sudah jadi buah bibir di kalangan Olahraga sejak pagi tadi.
Seorang siswa yang sedang melakukan lemparan bebas di lapangan basket bahkan sampai meleset jauh dari ring, saking terganggunya konsentrasi oleh kerumunan yang berjalan melewatinya.
"Woy, itu beneran dia?" bisiknya kepada teman satu timnya, mengabaikan bola yang menggelinding menjauh.
"Kayaknya iya," temannya menjawab, ikut menatap penasaran. "Gila, padahal cuma anak baru, udah bikin geger sekolah dalam waktu sesingkat itu."
Juna mendengar semua bisikan itu dengan telinga yang sudah terlatih menangkap detail kecil, namun ia tetap menjaga langkahnya tetap tenang, tidak menunjukkan reaksi berlebihan meski dadanya diam-diam membusung mendengar pengakuan yang terus mengalir dari mulut ke mulut.
'Biarin mereka bisik-bisik,' batinnya, melangkah semakin dekat ke kerumunan itu. 'Semakin banyak yang takut, semakin mudah aku bergerak nanti.'