PERANG TANPA PAHLAWAN
Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.
Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.
Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.
Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 — Menghitung Harga
Pemakaman massal untuk seratus delapan puluh tiga prajurit yang gugur di Benteng Korrath berlangsung selama dua hari penuh, upacara yang jauh melampaui skala pemakaman mana pun yang pernah Ardan saksikan sebelumnya.
Setiap nama dibacakan dengan hormat, setiap keluarga yang hadir—baik secara fisik maupun melalui surat yang akan dikirimkan—diberi pengakuan atas pengorbanan yang telah dibuat. Ardan berdiri di barisan depan sepanjang kedua hari itu, memaksa dirinya mendengarkan setiap nama, setiap kisah singkat yang dibacakan tentang mereka yang telah hilang.
Ketika nama Bryn dibacakan, bersama penjelasan singkat tentang keterampilannya sebagai pembuat perhiasan dan dedikasinya pada regu, Ardan merasakan sesuatu di dadanya yang hampir membuatnya goyah. Ia mengingat cincin kecil yang pernah ditunjukkan Bryn padanya, "hanya latihan" katanya, pengingat bahwa ia masih bisa membuat sesuatu yang indah.
Cincin itu kini disimpan oleh Ress, yang telah menemukannya di antara barang-barang Bryn, berjanji untuk menyerahkannya pada keluarga lelaki muda itu ketika kesempatan memungkinkan.
---
Setelah pemakaman, Ardan menghadapi tugas yang tidak kalah berat—menulis surat pribadi kepada keluarga setiap prajurit dari kompi nya yang gugur, sebuah tradisi yang ia mulai sejak menjadi kopral dan terus ia pertahankan meski kini jumlahnya jauh lebih besar.
"Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri," kata Serena, menemukannya larut malam masih menulis surat demi surat, tangan dan matanya lelah namun tekadnya tidak goyah.
"Mereka pantas mendapat kata-kata yang tulus, bukan surat formal yang ditulis oleh juru tulis yang tidak pernah mengenal mereka," jawab Ardan, meski kelelahan jelas terlihat di wajahnya.
Serena duduk di sampingnya, mengambil beberapa surat dari tumpukan tanpa diminta. "Biarkan aku membantu. Aku mengenal beberapa dari mereka juga, cukup untuk menulis sesuatu yang tulus."
Mereka bekerja bersama hingga larut malam, berbagi kenangan tentang setiap nama, memastikan setiap surat membawa sedikit kehangatan manusia di tengah kesedihan yang tak terhindarkan.
---
Beberapa hari kemudian, Jenderal Roderic memanggil Ardan untuk evaluasi resmi atas keputusan dan pelaksanaan operasi Korrath.
"Secara strategis, ini adalah kemenangan penting," kata Roderic, meninjau laporan lengkap dari pertempuran. "Korrath bertahan, garis pertahanan selatan tetap utuh, dan kerusakan yang ditimbulkan pada pasukan Ravharn akan membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk pulih."
"Tapi seratus delapan puluh tiga nyawa, Jenderal."
"Aku tahu bobotnya, Ardan. Aku sungguh tahu." Roderic menatapnya dengan empati yang jarang ia tunjukkan secara terbuka. "Tapi aku juga ingin kau mendengar ini dengan jelas: keputusanmu, perencanaanmu, kepemimpinanmu di medan pertempuran—semua itu kemungkinan besar menyelamatkan ratusan, mungkin ribuan nyawa lain yang akan hilang jika Korrath jatuh."
"Bagaimana aku bisa yakin itu benar?"
"Kau tidak bisa, sepenuhnya. Itu bagian dari beban kepemimpinan yang harus kau terima." Roderic berdiri, berjalan ke jendela tenda, menatap keluar ke arah perkemahan yang masih berduka. "Tapi aku melihat bagaimana kau memimpin gelombang pertama sendiri, bagaimana kau mengalihkan sumber daya untuk menyelamatkan unit Serena saat kritis, bagaimana kau sekarang menulis surat pribadi untuk setiap keluarga yang kehilangan orang tercinta. Ini bukan tindakan seseorang yang mengabaikan nilai nyawa manusia demi strategi semata."
---
Percakapan itu bergeser ke topik yang telah lama tertunda sejak kesibukan mempersiapkan dan melaksanakan operasi Korrath—perkembangan penyelidikan mereka terhadap Majelis Abu.
"Lord Hallister telah mengirim pesan," kata Roderic, mengambil sebuah gulungan dari mejanya. "Ia telah mengidentifikasi satu nama lagi di dewan yang mungkin bisa dipercaya—Lady Theresa yang pernah kita diskusikan. Lebih penting lagi, ia mendengar desas-desus tentang pertemuan rahasia yang akan diadakan dalam waktu dekat, melibatkan beberapa tokoh berpengaruh dari berbagai kerajaan."
"Pertemuan Majelis Abu sendiri?"
"Mungkin. Atau setidaknya pertemuan yang terkait erat dengan mereka." Roderic menatapnya dengan intensitas baru. "Jika kita bisa mengidentifikasi lokasi dan waktu pertemuan ini, kita mungkin memiliki kesempatan untuk mendapatkan bukti definitif yang kita butuhkan—mungkin bahkan mengidentifikasi para pemimpin tertinggi mereka."
Meski kelelahan fisik dan emosional dari peristiwa Korrath masih membebani dirinya, berita ini menyalakan kembali tekad Ardan yang sempat meredup oleh beban kesedihan.
"Apa yang perlu saya lakukan?"
"Untuk sekarang, pulihkan diri dan pasukanmu. Kita akan membutuhkan kekuatan penuhmu untuk langkah selanjutnya ini. Tapi bersiaplah, Kapten—aku percaya kita semakin dekat pada momen yang mungkin mengubah segalanya."
Pemulihan pasukan setelah Korrath membutuhkan waktu lebih dari sekadar beberapa minggu istirahat fisik—seluruh kompi, termasuk Ardan sendiri, membawa luka emosional yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mulai sembuh.
Ardan memanfaatkan periode ini untuk memperkuat ikatan dengan prajurit-prajuritnya yang tersisa, mengadakan sesi-sesi informal di mana mereka bisa berbagi kenangan tentang yang telah hilang, memproses trauma bersama alih-alih memendamnya sendirian.
"Ini membantu," kata Wyn suatu sore, yang telah pulih cukup untuk kembali bertugas ringan meski masih dalam pemulihan penuh. "Mengetahui aku tidak sendirian dalam merasa seperti ini."
"Tidak ada yang sendirian di sini," jawab Ardan, prinsip yang telah ia pegang sejak Halric pertama kali mengajarinya tentang pentingnya saling menjaga.
Sementara itu, di balik layar, penyelidikan terhadap desas-desus pertemuan rahasia Majelis Abu berlanjut dengan kehati-hatian ekstra. Lord Hallister, melalui jaringan kontaknya yang semakin luas di istana, berhasil mengumpulkan detail tambahan yang menjadi terobosan signifikan.
---
"Pertemuan itu dijadwalkan diadakan di sebuah vila terpencil di perbatasan antara wilayah Valdren dan Dravak," lapor Hallister melalui surat terenkripsi yang diterima Roderic. "Lokasi yang dipilih dengan cermat—cukup jauh dari pengawasan resmi kedua kerajaan, namun cukup dekat untuk memudahkan perjalanan bagi perwakilan dari berbagai pihak."
Informasi itu memicu perencanaan intensif. Roderic mengumpulkan lingkaran kepercayaan terdekatnya—Ardan, Orwin, Thalion, dan beberapa perwira lain yang telah terbukti loyalitasnya—untuk mendiskusikan bagaimana memanfaatkan kesempatan langka ini.
"Jika kita bisa mengamati pertemuan ini, mengidentifikasi siapa yang hadir, mungkin bahkan mendapatkan bukti langsung tentang apa yang didiskusikan," kata Roderic, "ini bisa menjadi bukti definitif yang telah lama kita cari."
"Bagaimana kita melakukannya tanpa terdeteksi?" tanya Ardan. "Jika mereka menyadari pengawasan, mereka bisa membatalkan pertemuan, atau lebih buruk, melacak kembali sumber kebocoran informasi hingga ke Hallister."
---
Perencanaan untuk operasi pengawasan itu membutuhkan presisi yang belum pernah mereka terapkan sebelumnya. Tim kecil, terdiri dari individu-individu dengan keterampilan khusus—kemampuan menyelinap, mengamati tanpa terdeteksi, dan jika diperlukan, melarikan diri dengan cepat jika situasi memburuk.
"Aku ingin menjadi bagian dari tim ini," kata Kael, keterampilan memanah dan kemampuannya membaca situasi menjadikannya kandidat ideal untuk misi semacam ini.
"Aku juga," tambah Serena. "Latar belakangku memberiku pemahaman tentang protokol dan bahasa tubuh politik istana yang mungkin berguna untuk menginterpretasikan apa yang kita saksikan."
Ardan mempertimbangkan permintaan mereka dengan hati-hati, menyadari risiko besar yang terlibat namun juga nilai dari keahlian yang mereka tawarkan. "Baiklah. Tapi kita bergerak dengan kehati-hatian maksimal. Ini bukan pertempuran yang bisa kita menangkan dengan kekuatan—ini membutuhkan kesabaran dan presisi."
Tim yang akhirnya terbentuk mencakup Ardan sendiri, Kael, Serena, dan dua pengintai elit dari pasukan Sylvaris yang direkomendasikan Thalion, ahli dalam bergerak tanpa terdeteksi bahkan di wilayah yang tidak familiar.
---
Persiapan untuk misi ini membutuhkan waktu dua minggu penuh, mempelajari peta wilayah vila yang dimaksud, menyiapkan jalur masuk dan keluar alternatif, dan memastikan komunikasi darurat jika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana.
Malam sebelum keberangkatan, Ardan menghabiskan waktu dengan Tobin, yang akan tetap memimpin kompi selama ketidakhadirannya.
"Aku mempercayakan mereka padamu," kata Ardan, menyerahkan tanggung jawab sementara pada sahabatnya yang telah tumbuh jauh dari pemuda ketakutan yang pertama kali ia temui di gang-gang Elar yang terbakar.
"Mereka akan aman," janji Tobin, meski kekhawatiran untuk keselamatan Ardan sendiri jelas terlihat di matanya. "Kau yang harus berhati-hati, mengerti? Kami semua telah kehilangan terlalu banyak. Aku tidak ingin menambahkanmu ke daftar itu."
"Aku akan berhati-hati," janji Ardan, meski keduanya tahu bahwa misi semacam ini membawa risiko yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh kehati-hatian semata.
Lena, yang kini secara resmi menjadi pasangan Tobin setelah beberapa bulan hubungan yang berkembang diam-diam di tengah kesibukan perang, bergabung dengan mereka, membawa perlengkapan medis darurat untuk Ardan bawa dalam perjalanannya.
"Jaga dirimu," katanya, memeluk Ardan singkat namun tulus. "Kami membutuhkanmu kembali dengan selamat, bukan hanya untuk penyelidikan ini, tapi untuk semua orang yang telah kau pimpin dan lindungi sejauh ini."
Keesokan paginya, sebelum fajar sepenuhnya menyingsing, tim kecil itu berangkat menuju vila terpencil di perbatasan, membawa harapan bahwa misi ini akan menjadi langkah menentukan dalam perjuangan panjang mereka melawan bayangan Majelis Abu yang telah merenggut begitu banyak sepanjang perjalanan mereka.