Bagaimana jadinya jika seorang dokter bedah dan ahli toksikologi jenius dari abad ke-21 bertransmigrasi ke tubuh seorang Permaisuri yang lemah dan dibuang?
Anran, seorang dokter genius masa depan, tewas dalam insiden laboratorium dan terbangun di tubuh Permaisuri Kerajaan Great Yan. Tak hanya dibuang ke Istana Dingin karena fitnah kejam, tubuh Permaisuri ini juga diracuni secara perlahan oleh musuh-musuhnya di istana belakang.
Permaisuri lama yang penakut dan mudah menangis telah lenyap. Kini, Anran bangkit membawa kecerdasan medis modern, keahlian racun yang mematikan, dan keberanian tanpa batas!
Satu per satu racun dibongkar, fitnah selir licik dipatahkan, dan intrik politik kerajaan dihancurkan. Seluruh istana dibuat gempar oleh perubahan drastis sang Permaisuri yang kini anggun, cerdas, dan tidak bisa diintimidasi oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 35
... mereka. Keheningan yang sarat akan rasa takzim seketika melingkupi seluruh ruangan. Pendar pilar-pilar giok berukir naga dan feniks bersepuh emas memantulkan siluet ganda dua penguasa teragung Kerajaan Great Yan yang melangkah berdampingan di atas karpet sutra merah keemasan.
Tanpa perlu aba-aba, seluruh hadirin—mulai dari para menteri senior, jenderal perang berzirah perak, utusan diplomatik dari empat kerajaan tetangga, hingga anggota keluarga kekaisaran—menundukkan tubuh mereka seraya bersujud penuh kepatuhan. Suara benturan mahkota, perhiasan, dan zirah perang yang menyentuh lantai pualam bergaung bersahut-sahutan, menciptakan harmoni penghormatan tertinggi yang belum pernah menyaksikan tandingannya sepanjang sejarah kekaisaran.
"Hamba sekalian mematuhi perintah Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri! Semoga Kerajaan Great Yan menikmati kedamaian abadi, dan semoga Yang Mulia berdua panjang umur bertahun-tahun tanpa batas!"
Seruan menggelegar itu membumbung tinggi, memantul di antara ukiran megah di atap Aula Keagungan sebelum bergema keluar memenuhi seluruh penjuru kompleks istana.
Anran mengulas senyum tipis yang amat memikat. Di bawah pendar cahaya obor minyak cendana yang hangat, mahkota feniks emas di kepalanya memancarkan pendaran giok merah yang sangat memukau. Gaun sutra kebesarannya yang bersulam benang emas melambai anggun di setiap langkahnya. Tidak ada lagi sisa-sisa pandangan remeh dari para menteri seperti saat ia pertama kali terbangun di istana ini sebagai permaisuri yang teraniaya; kini, setiap pasang mata yang menatapnya dipenuhi oleh rasa takut yang hormat, takzim, dan kekaguman mendalam pada sosok Ratu Agung yang telah menyelamatkan kekaisaran dari kehancuran.
Kaisar Tian menggenggam erat jemari halus Anran, membimbing sang permaisuri menaiki anak tangga pualam menuju Tahta Naga dan Tahta Feniks yang berdiri megah berdampingan di puncak aula kebesaran.
Saat keduanya berbalik menghadap ke arah seluruh hadirin, Kaisar Tian mengangkat tangan kanannya. Dalam seketika, seluruh aula kembali hening tanpa suara, seolah helai napas pun ditahan demi mendengarkan sabda sang penguasa.
"Malam ini," ujar Kaisar Tian dengan suara baritonnya yang berat, tegas, dan bergaung penuh wibawa di setiap sudut ruang, "Kerajaan Great Yan tidak hanya merayakan kemenangan di garis perbatasan dan panen raya yang melimpah, tetapi juga merayakan era baru kejayaan yang dibangun di atas fondasi kedamaian, keadilan, dan kebenaran."
Kaisar Tian memalingkan wajahnya, menatap Anran dengan pendar mata yang dipenuhi kasih sayang mutlak serta kebanggaan tiada tara.
"Puluhan tahun lalu, istana ini hampir runtuh oleh racun konspirasi dan pengkhianatan terselubung. Namun Permaisuri Anran berdiri sebagai benteng terkuat—membongkar kejahatan, menata ulang Balai Pengobatan Kerajaan, serta menyembuhkan jutaan rakyat di seantero benua. Tanpa kebijaksanaan, ketegasan, dan keberanian sang Permaisuri Agung, tidak akan ada Great Yan yang berdiri kokoh dan makmur seperti hari ini!"
Mendengar maklumat langsung dari sang kaisar, para jenderal dan menteri kembali menundukkan kepala mereka seraya menyerukan nama Permaisuri Anran dengan penuh semangat. Utusan dari Kerajaan Selatan bahkan membungkuk dalam-dalam, menunjukkan rasa syukur atas obat-obatan dan bantuan medis massal yang pernah dikirimkan Anran saat wilayah mereka dilanda wabah rawa beracun.
Kasim Zhao dan Pangeran Yuan'er melangkah maju membawa nampan batu giok berisi dua cangkir emas berukir. Pangeran Yuan'er menyajikan cangkir tersebut kepada kedua orang tuanya dengan wajah berbinar bangga.
Anran menerima cangkir emas itu, lalu melangkah satu titik lebih maju di samping Kaisar Tian. Tatapan matanya yang jernih memindai seluruh hadirin di Aula Keagungan dengan ketenangan seorang penguasa sejati.
"Kekuatan sejati sebuah kekaisaran," ucap Anran dengan suara halus namun sarat akan ketegasan yang menembus setiap sudut aula, "tidak pernah diukur dari seberapa banyak pedang yang kita hunyutkan di medan perang, melainkan dari seberapa banyak nyawa rakyat yang sanggup kita selamatkan dari penderitaan. Kerajaan Great Yan akan tetap berdiri abadi selama kita semua menjaga keadilan, kejujuran, dan belas kasih di atas segala kepentingan pribadi."
Sorak-sorai penuh penghormatan kembali membahana.