Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Rian sangat terkejut mendengar ucapan ibunya. Tidak biasanya ibunya berkata seperti itu, meskipun ia tau ibunya tidak begitu menyukai Nadia selama ini. Tapi memintanya bercerai dengan Nadia, baru pertama kali ibunya menyarankan hal ini.
Ia kembali menunduk, jarinya saling meremas diantara kedua lututnya. Ingin sekali ia membela Nadia, ia tau selama ini Nadia sudah bekerja keras untuk rumah ini. Tanpa Nadia rumah ini tidak akan hidup, dan kosong. Tapi kenapa ibunya itu selalu menutup mata atas apa yang sudah dilakukan Nadia selama ini.
"Tidak, Bu. Nadia adalah istri yang sangat baik. Aku tidak mungkin menceraikannya hanya karena perdebatan kami tadi." Kata Rian mulai membuka suara. "Dia sudah mengurus rumah ini, mengurusku dan juga mengurus ibu. Dia wanita yang baik, bu... "
"Tapi dia tidak bisa memberikan keturunan untukmu, untuk keluarga kita. Jadi, untuk apa mempertahankannya, sesempurna apapun seorang wanita, dia masih cacat kalau belum memberikan anak untukmu. " potong Bu Ratna.
Rian tidak bisa menjawab ucapan ibunya lagi. Sebelumnya rumah ini memang sangat hangat untuk dijadikan hunian, tapi setelah Nadia keguguran dua tahun lalu, membuat rumah ini menjadi dingin. Nadia larut dalam kesedihan karena dia akan sulit memiliki anak lagi, walau kemungkinan itu masih ada. Tapi ibunya yang tidak sabaran, mungkin membuat Nadia stress. Sedangkan dia sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak ada waktu untuk menemani Nadia. Rian sangat sadar akan hal itu.
"Sudahlah bu, jangan bicara yang aneh-aneh lagi. Aku pusing. Dan tolong jangan menyudutkan Nadia lagi." kata Rian.
"Menyudutkan bagaimana, seorang istri yang baik itu pendiam, pengertian, tidak menambah beban pikiran suami. Kamu sudah cukup lelah dengan pekerjaan, mencari nafkah pergi pagi pulang malam, memikirkan cicilan rumah, dan kebutuhan sehari-hari. Apa kamu mau, pulang ke rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat menjadi tempat bertengkar setiap hari? Nadia selalu mengeluh, ibu sudah berkali-kali bilang, dia harus lebih mengerti posisimu. Tapi lihatlah, setiap kali kamu pulang dengan lelah, dia justru menuntut perhatian lebih, seolah kamu tidak punya beban apa-apa."
Kata-kata itu masuk begitu saja, menumpuk di benak Rian. Selama ini ia tumbuh besar dengan ajaran bahwa segala yang dilakukan ibunya adalah demi kebaikannya. Dan kini, diantara dua wanita yang paling ia sayangi, ia merasa terjepit tanpa tahu kemana harus berpaling.
Jika ia memihak Nadia, ia merasa durhaka kepada ibunya yang sudah membesarkannya dengan susah payah sendirian selama ini. Jika ia memihak ibunya, ia melihat wajah sedih Nadia, dan sikapnya menjadi semakin pendiam, jauh dari gadis ceria yang dulu pernah ia kenal dan cintai sepenuh hati. Siapapun yang ia pilih, pasti ada hati yang terluka.
Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Nadia yang belum tidur mendengar semua percakapan suami dan ibu mertuanya. Ia berdiri mematung di dekat daun pintu, bibirnya terkatup rapat agar tidak mengeluarkan suara tangis yang tertahan. Ia ingin berteriak, mengatakan kalau ia juga lelah dan tertekan dengan keadaan di rumah ini. Tidak ada yang peduli padanya, tidak ada yang mengerti dirinya. Dia hanya bertahan dan berjuang sendiri di rumah ini.
"Ternyata ibu tidak menyukaiku selama ini. Dia memintaku untuk mengerti, tapi tidak ada satupun di rumah ini yang mengerti aku. Kenapa kalian begitu egois." Nadia bermonolog dengan dirinya sendiri, lalu kembali menuju tempat tidurnya, menahan semua kepedihan di hatinya.
Sedangkan di ruang tengah, Bu Ratna masih menasehati Rian. Memberikan penekanan kepada anaknya agar lebih tegas lagi kepada istrinya dan tidak membiarkannya untuk bersikap seenaknya di rumah ini.
"Pokoknya kamu jangan biarkan Nadia itu ngelunjak. Ibu nggak mau dengar kalian bertengkar dan berdebat setiap malam seperti tadi. Ibu ingin rumah ini kembali tenang seperti dulu. " ucap Bu Ratna penuh penekanan. "Ibu tidur dulu. "
Rian menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan kasar. Mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap pintu kamarnya dengan perasaan yang campur aduk.
Ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar, mungkin dengan tidur ia bisa melupakan semua yang terjadi malam ini. Saat masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Nadia sudah tidur membelakanginya dengan nafas teratur. Setelah menghela nafas berat, ia mulai merebahkan tubuhnya di samping Nadia, menatap punggung Nadia dengan penuh rasa bersalah.
Ia memeluk Nadia dari belakang dan mengucapkan kata-kata yang seharusnya ia katakan sejak tadi.
"Maafkan aku, sayang. Aku sudah terlalu keras padamu malam ini. Dan terima kasih sudah bertahan denganku sampai saat ini. " bisik Rian lirih.
Tak lama rasa lelah membawanya tidur begitu cepat dengan memeluk Nadia dari belakang. Nadia yang ternyata hanya pura-pura tidur tanpa terasa meneteskan air matanya. Selalu saja begitu, Rian akan mengucapkan maaf yang terlambat, itupun saat ia sedang tidur.
"Kamu selalu seperti ini, mas. Tidak pernah menghargaiku dan semua yang aku lakukan selama ini." lirih Nadia dengan tangis tertahan.
Pikiran Nadia melayang kembali ke masa dua tahun lalu. Ke hari di mana kehangatan pernikahan mereka menguap begitu saja, meninggalkan rasa sepi yang tak kunjung hilang.
Dua Tahun Lalu...
Aroma karbol dan disinfektan menyeruak kuat di lorong rumah sakit. Nadia terbangun dari pengaruh obat bius dengan rasa nyeri yang menyayat di perut bagian bawahnya. Matanya yang sembap menyapu sekeliling ruang rawat inap yang hening.
Di samping tempat tidur, yang pertama kali menyambutnya bukanlah dekapan hangat sang suami, melainkan tatapan tajam dan napas berat dari Bu Ratna.
"Sudah bangun kamu, Nadia?" suara Bu Ratna menginterupsi kesunyian, dingin dan penuh ketegangan.
"I-ibu..." bisik Nadia dengan tenggorokan yang serak. Tangannya yang dipasangi selang infus bergetar perlahan bergerak menyentuh perutnya yang kini terasa kosong. Air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahan. "Anak Nadia... mana, Bu?"
Bu Ratna bersedekap, menghela napas kasar. "Sudah tidak ada. Dokter bilang janinmu tidak bisa diselamatkan. Keguguran di usia tiga bulan."
Dunia Nadia rasanya runtuh seketika. Isakan tangis pecah dari bibirnya yang pucat. Rasa kehilangan itu begitu nyata, menghantam dadanya hingga ia sulit bernapas. "Mas... Mas Rian mana, Bu? Dia ada di mana?"
Bu Ratna menatapnya tanpa simpati sedikit pun.
"Rian sedang urus administrasi di luar. Dia itu sangat kecewa, Nadia. Kamu tahu sendiri betapa Rian mendambakan anak pertama ini. Dia bekerja siang malam buat persiapin semuanya. Tapi kamu? Cuma gara-gara terpeleset di tangga rumah karena kurang hati-hati, kamu menghilangkan calon cucu Ibu!"
"Nadia tidak sengaja, Bu... Nadia tadi cuma mau menyiram tanaman di lantai atas..."
"Sengaja atau tidak sengaja, hasilnya sama saja!" potong Bu Ratna ketus. "Harusnya kamu itu mengerti kapasitas dirimu. Kalau tidak kuat jalan, ya diam di kamar! Jangan aneh-aneh. Sekarang lihat akibatnya? Kamu bikin Rian terpukul!"