Isabella adalah mantan pembunuh bayaran paling berbahaya dan paling di takuti di dunia gelap. Selama bertahun-tahun tangannya telah berlumuran darah.
Namun semuanya berubah saat Isabella menemukan seorang bayi perempuan di depan apartemennya. Sejak saat itu dia memutuskan pensiun demi keselamatan anaknya. Tapi sayangnya sang bos tidak menyukai itu, hingga dia membunuh anak Isabella karena menganggap jika anak itu adalah penghalang Isabella.
Melihat sang putri tewas, Isabella marah dan mulai memburu satu persatu orang yang telah membunuh putrinya. Setelah dendamnya terbayar, Isabella memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Namun kematian ternyata bukan akhir baginya, karena setelah membuka mata kembali. Isabella mendapati dirinya berada di tubuh seorang wanita bernama Isabella Iris, seorang ratu yang di buang dari istananya sendiri.
Bagimana kisah Isabella selanjutnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Sarapan Pagi Yang Hangat
Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menembus celah-celah pepohonan yang mengelilingi rumah mereka. Udara pagi terasa begitu sejuk, kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika Isabella sudah sibuk berada di dapur.
Hari ini ia kembali menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya dan juga membantu Tidak banyak makanan yang akan dibuat pagi ini.
Isabella hanya mengambil beberapa potong daging rusa yang masih tersisa dari hasil buruannya di hutan kemarin, daging itu kemudian dipotong menjadi beberapa bagian kecil sebelum ia masukkan ke dalam panci. Ia menambahkan air, sedikit garam, beberapa rempah sederhana.
"Sepertinya cukup dibuat menjadi tumisan daging dengan kuah bening," gumam Isabella sambil mengaduk panci.
Di sisi lain, ia juga menyiapkan kentang untuk digoreng.
Martha yang sudah bangun sejak tadi segera datang membantu.
"Biarkan aku mengupas kentangnya, Nyonya."
Isabella menoleh dan tersenyum.
"Baik, setelah itu potong menjadi bentuk kecil-kecil, jangan terlalu tipis."
"Baik nyonya."
Martha segera duduk dan mulai mengupas kentang. Sementara itu, Isabella mengambil sayur pakis yang masih tersisa sedikit. Ia membersihkannya, lalu menumisnya dengan sedikit bawang putih dan garam. Aroma masakan perlahan memenuhi ruangan, namun aroma itu ternyata juga berhasil membangunkan tiga anak yang masih berada di kamar. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki kecil.
"Ibu..."
Isabella menoleh, Sean, Liam, dan Elora muncul dari arah kamar dengan rambut yang masih sedikit berantakan. Ketiganya masih tampak mengantuk, tetapi begitu mencium aroma makanan, mata mereka langsung berbinar. Sean menjadi yang pertama mendekat.
"Ibu sedang memasak apa?"
Isabella tersenyum.
"Daging rusa."
"Daging rusa?" Liam langsung ikut mendekat.
"Apa daging rusanya di masak seperti kemarin ibu?" Lanjut Liam
"Tidak sayang, hari ini daging rusanya dibuat dengan kuah bening."
"Kalau yang ini?" Elora menunjuk wajan di sebelah Isabella.
"Itu kentang sayang."
Elora mengerutkan hidung kecilnya.
"Apakah rasanya enak?"
Isabella terkekeh pelan.
"Semalam Elora bahkan memakannya dengan sangat lahap."
"Semalam? Benarkah ibu?" Tanya Elora bingung.
Mungkin dia merasa bingung, karena semalam kentangnya di masak bersama daging dan di tambahkan dengan kecap. Jadi mungkin Elora berpikir jika itu juga daging bukan kentang.
"Wahhh kelihatannya enak, ibu kentangnya akan di masak apa?" tanya Sean cepat.
"Kentangnya akan digoreng."
Mendengar jawaban itu, wajah Sean langsung cerah.
"Aku suka kentang goreng!"
"Aku juga!" seru Liam.
"Aku juga!" Elora tidak mau kalah.
Ketiganya kemudian mulai mengajukan pertanyaan secara bersamaan, Isabella bersyukur mereka masih memiliki sedikit minyak.
"Ibu, apa dagingnya sudah matang?"
"Ibu berapa lama kentangnya akan di goreng?"
"Ibu apa kentangnya sudah bisa Liam makan?"
"Ibu apa nanti siang kita akan makan daging rusa lagi?"
Isabella sampai tertawa kecil melihat mereka.
"Satu per satu, kalau kalian bertanya bersamaan, Ibu tidak bisa menjawab semuanya."
Ketiganya langsung terdiam, Isabella kemudian mengusap kepala mereka satu per satu.
"Tenang, Semuanya akan mendapatkan makanan dan untuk makan siang kalian masih akan makan daging rusa, karena daging rusa dan kentangnya masih ada banyak."
Untuk sisa daging rusa, Martha sudah mengawetkannya dengan cara pengasapan. Jadi Isabella bisa tenang selama dia pergi ke kota nanti, selain itu kentangnya juga masih cukup untuk 4 hari kedepan.
Mendengar itu, ketiga anak tersebut tersenyum lega. Martha yang melihat pemandangan itu ikut tersenyum. Rasanya rumah yang selama ini sunyi kini benar-benar berubah, sekarang anak-anak jauh lebih ceria di banding dulu. Isabella juga sudah mulai bisa menerima ketiga anaknya, walaupun tampa sepengetahuan Martha. Jika wanita yang di layaninya saat ini bukanlah majikannya yang dulu.
Beberapa saat kemudian, semua makanan akhirnya selesai, Martha membantu Isabella mengangkat piring-piring ke meja.
Daging rusa dengan kuah bening diletakkan di tengah meja, di sebelahnya terdapat kentang goreng yang masih mengepulkan sedikit uap. Sayur pakis tumis juga diletakkan dalam sebuah mangkuk besar, Isabella memandang makanan itu sebentar. Menurutnya, makanan tersebut sangat sederhana.
Namun ketika Isabella menoleh kepada anak-anaknya, ia melihat ketiganya memandang meja makan dengan mata berbinar. Bagi mereka, hidangan itu terlihat seperti jamuan mewah. Sean bahkan menelan ludah ketika melihat kentang goreng.
"Wah..."
Liam memandang daging rusa dengan kagum.
"Banyak sekali."
Elora tersenyum lebar.
"Apa Elora boleh memakan semuanya ibu?" Tanya Elora
Isabella mengangguk.
"Tentu, duduklah."
Ketiga anak itu segera menarik kursi mereka.
Namun ketika Sean hendak mengambil piring pertama, Liam juga meraih piring yang sama.
"Aku dulu!"
"Tidak! Aku yang mengambilnya lebih dulu!"
"Tapi tanganku sudah menyentuhnya!"
"Aku juga!"
Keduanya mulai saling menarik piring.
Elora yang berada di sebelah mereka hanya memandang bingung.
"Jangan berebut!" Kata Martha.
Namun Sean dan Liam masih belum mau mengalah.
Isabella segera menghentikan mereka.
"Sean. Liam."
Suara Isabella tidak keras, tetapi cukup membuat keduanya langsung berhenti. Mereka menatap ibunya.
"Sekarang duduk yang tenang."
Keduanya menundukkan kepala.
"Maaf, Ibu," ucap Sean pelan.
"Maaf," sambung Liam.
Isabella tersenyum lembut.
"Bagus."
Ia mengambil piring tersebut dan membagikannya satu per satu.
"Sean."
"Terima kasih, Ibu."
"Liam."
"Terima kasih!"
"Elora."
"Terima kasih, Ibu."
Setelah itu Isabella juga menyiapkan makanan untuk Martha.
Martha sempat menggeleng.
"Nyonya, saya bisa mengambilnya sendiri."
"Sudah, kau duduk saja."
Isabella kemudian duduk di tempatnya sendiri dan mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan sangat lahap apalagi ketiga anak isabella. Sean bahkan mengambil kentang goreng dengan penuh semangat.
"Enak sekali!"
Liam mencicipi daging rusa dengan kuah bening.
"Dagingnya lembut."
Elora yang awalnya ragu terhadap sayur pakis akhirnya ikut mencicipinya, matanya langsung membesar.
"Enak..."
Isabella tersenyum melihat mereka.
"Kalau enak, makanlah yang banyak. Makannya pelan-pelan saja, kalian bisa tersedak."
Ketiganya mengangguk, Martha yang mencicipi makanannya juga terdiam beberapa saat. Ini sangat enak, dia tidak pernah tau kalau isabella ternyata bisa memasak makanan seenak ini.
Walaupun bagi isabella makanan ini hanya makanan sederhana, tapi bagi Martha dan anak-anak, ini adalah makanan termewah yang pernah mereka makan.
Martha sampai terharu hingga membuatnya menangis.
"Kenapa kau menangis Martha?" Tanya isabella bingung.
"Aku hanya merasa bahagia nyonya, makanan ini terasa sangat enak. Padahal beberapa hari yang lalu aku bahkan sudah pasrah, makanan kita hanya tersisa 2 roti kering. Aku pikir kita akan mati kelaparan di tempat ini, aku bahkan sudah bersiap-siap." Kata Martha.
"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian mati kelaparan Martha, mulai sekarang kalian tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi." Ucap Isabella.
"Baik nyonya." Martha mengangguk sambil menghapus air matanya.
Mereka akhirnya melanjutkan sarapan pagi itu dengan hati yang bahagia, Martha menatap Isabella diam-diam, Ia tidak tahu sejak kapan rumah kecil di tengah hutan ini mulai terasa seperti rumah sesungguhnya, tapi dia bahagia.
Dan Isabella sendiri hanya tersenyum sambil melihat ketiga anaknya makan dengan bahagia.
Ada sesuatu yang hangat memenuhi dadanya, dulu ia mungkin tidak pernah membayangkan akan menikmati pagi sederhana seperti ini.
Tetapi sekarang, melihat ketiga anaknya tersenyum hanya karena sepiring kentang goreng dan daging rusa, Isabella merasa semua kelelahan yang ia rasakan terbayar.
"Pelan-pelan," katanya lembut ketika melihat Liam hampir tersedak karena makan terlalu cepat.
Liam segera menutup mulutnya dan mengangguk.
Sean tertawa kecil.
Elora ikut tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya, pagi di tengah hutan itu dipenuhi suara tawa sebuah keluarga.
Bersambung