NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Layar Merah yang Meremukkan Hati dan Tangan Penyelamat di Ujung Jurang

Jari-jemari Juwita menari di atas keyboard dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata. Di hadapannya, barisan kode kecerdasan buatan yang ia rancang sendiri mengalir seperti air terjun digital. Di sekelilingnya, suara ketukan tombol dari seratus peserta lain bergema sahut-sahutan di dalam aula mewah berpendingin ruangan itu. Namun, Juwita tidak mendengar apa pun. Pikirannya hanya terpusat pada satu hal: wajah pucat ibunya yang terbaring di lantai semen tadi pagi, dan janji suci yang ia ikrarkan di atas penderitaan wanita itu.

Waktu menunjukkan sepuluh menit terakhir sebelum batas akhir pengunggahan proyek.

Tiba-tiba, layar monitor Juwita berkedip liar. Warna biru yang tenang seketika berubah menjadi merah pekat. Muncul sebuah peringatan sistem dengan teks berkedip cepat:

FATAL ERROR: CORE REPOSITORY CORRUPTED. UNABLE TO COMPILE.

Juwita terpaku. Napasnya tercekat. Ia buru-buru mengetik baris perintah pemulihan, namun kursor di layarnya bergerak sendiri, menghapus ratusan baris kode inti yang ia ketik dengan cucuran keringat dan air mata. Sistem keamanannya ditembus dari jaringan lokal. Seseorang telah menyusupkan skrip perusak (malicious payload) langsung ke dalam direktori kerjanya dari terminal lain.

Juwita mendongak, matanya yang tajam langsung menyapu ruangan dan mendarat di barisan depan. Kevin Aditama duduk bersandar dengan seringai kemenangan yang menjijikkan di wajahnya. Di sebelah Kevin, seorang peserta lain buru-buru menutup layar laptopnya sambil mengalihkan pandangan. Sabotase itu begitu telanjang, begitu keji. Mereka tahu mereka tidak bisa mengalahkan kejeniusan Juwita secara adil, jadi mereka menghancurkannya dari dalam.

Tidak... tidak mungkin... batin Juwita merintih. Tangannya gemetar hebat di atas keyboard yang kini mati total.

Panitia utama berdiri di tengah panggung dengan mikrofon di tangan. "Waktu habis! Sesi pengunggahan proyek ditutup. Silakan seluruh peserta meninggalkan meja kerja dan melihat layar utama untuk pengumuman hasil penilaian."

Layar raksasa di depan aula mulai menampilkan daftar proyek yang berhasil dikompilasi. Nama-nama peserta bermunculan, diiringi tepuk tangan riuh dari para pendukung. Di urutan teratas, proyek buatan Kevin Aditama menduduki posisi nomor satu dengan nilai sempurna. Sementara di bagian paling bawah, tertulis nama Juwita: GAGAL / SISTEM RUSAK (0 Poin).

Dunia seakan runtuh seketika di sekeliling Juwita.

Semua perjuangannya—berlari menembus kemacetan dengan sepatu jebol, bertengkar dengan panitia di lobi, dan yang paling menyayat hati, meninggalkan ibunya yang sekarat di rumah—berakhir dengan kekalahan telak di atas panggung yang kotor oleh kelicikan.

Pertahanan Juwita akhirnya jebol. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Gadis itu menundukkan kepala, mencengkeram erat tepi meja kayunya hingga buku-buku jarinya memutih. Isak tangis yang selama ini ia tahan mati-matian akhirnya pecah, tertelan oleh suara bising tepuk tangan orang-orang kaya yang merayakan kemenangan semu.

"Ibu... maafkan Juwita..." bisiknya di sela isak tangis yang menyayat hati, tubuhnya bergetar hebat. "Juwita gagal... Juwita tidak bisa melindungi apa pun..."

Di barisan kursi juri, Profesor Hendra menyipitkan mata. Pakar teknologi terkemuka itu bukanlah orang yang bisa dibodohi dengan mudah. Sejak awal, ia mengamati gerak-gerik Juwita yang luar biasa tenang namun penuh determinasi. Ketika layar Juwita mendadak mati, Profesor Hendra memerintahkan tim forensik digital dewan juri untuk memeriksa log server pusat secara real-time.

Hasilnya membuat darah Profesor Hendra mendidih.

Ia melihat adanya transfer data ilegal yang masuk ke komputer Juwita dari alamat IP terminal nomor 42—terminal yang didaftarkan atas nama tim Kevin Aditama. Sebuah sabotase tingkat rendah yang dibungkus dengan kecurangan pengecut.

"Tunggu," suara berat Profesor Hendra memecah keheningan aula melalui mikrofon utama, membuat tepuk tangan riuh seketika terhenti. Profesor Hendra bangkit dari kursinya, wajahnya mengeras menahan amarah yang meluap-luap.

Kevin yang tadinya tersenyum lebar mendadak menegang. Jantungnya berdegup kencang.

"Profesor, acara penutupan dan pengumuman pemenang sudah bisa dilanjutkan," ucap Kepala Sekolah Pelita Bangsa—Pak Haris—yang duduk di jajaran tamu undangan, mencoba tersenyum canggung untuk menutupi kecemasannya.

Profesor Hendra mengabaikannya. Ia melangkah tegap ke atas panggung, menatap tajam ke arah layar raksasa. Dengan sebuah gestur tangan, ia memerintahkan teknisi untuk menampilkan sesuatu di proyektor utama.

Seketika, layar besar yang tadinya menampilkan daftar pemenang berubah menjadi barisan kode jaringan dan rekaman packet capture secara live.

"Sebagai Ketua Dewan Juri, saya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga integritas kompetisi ini," suara Profesor Hendra menggema tegas, memenuhi seluruh ruangan yang kini diliputi keheningan mencekam. "Kompetisi ini bukan ajang untuk anak-anak manja yang menghalalkan segala cara untuk menang, dan bukan pula tempat untuk menginjak-injak karya orang lain yang berjuang dengan darah dan air mata."

Profesor Hendra menunjuk ke arah layar. "Baru saja, sistem keamanan kami mendeteksi adanya serangan siber ilegal yang sengaja disusupkan untuk merusak file kerja peserta nomor 99 atas nama Juwita. Dan jejak digital ini... mengarah secara spesifik ke terminal nomor 42."

Wajah Kevin Aditama memucat pasi bagai mayat hidup. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia menoleh ke belakang, mendapati seluruh pasang mata di ruangan itu kini menatapnya dengan sorot jijik dan terkejut.

"Peserta atas nama Kevin Aditama dan timnya secara resmi didiskualifikasi karena terbukti melakukan kecurangan dan sabotase!" bentak Profesor Hendra, suaranya menggelegar penuh wibawa.

Bisik-bisik dan sorakan marah langsung meledak di dalam aula. Kevin menundukkan kepalanya, runtuh seketika di kursi, seluruh keangkuhannya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.

Profesor Hendra mengalihkan pandangannya dari layar, menatap ke arah sudut ruangan tempat Juwita duduk bersimpuh sambil terisak. Hati tua profesor itu terasa perih melihat kerapuhan di punggung gadis muda tersebut.

Profesor Hendra melangkah turun dari panggung, berjalan menghampiri meja Juwita. Ia berlutut pelan di samping kursi gadis itu, lalu dengan sangat lembut, tangan tua sang profesor terulur menyentuh bahu Juwita yang bergetar.

"Anakku," suara Profesor Hendra melembut, kontras dengan ketegasannya di atas panggung tadi. "Bangkitlah. Orang hebat tidak dinilai dari seberapa sering ia dijatuhkan, tapi dari keberaniannya berdiri kembali."

Juwita mengangkat wajahnya. Air matanya membasahi pipinya yang tirus, matanya merah bengkak menatap pria paruh baya di hadapannya dengan sejuta rasa haru yang menyesakkan dada.

"Pihak dewan juri telah mengambil backup otomatis dari server awan sesaat sebelum sistemmu disusupkan," lanjut Profesor Hendra sambil tersenyum hangat. Ia menyerahkan sebuah flashdisk kecil kepada Juwita. "Komputer di panggung utama menunggumu. Tunjukkan pada dunia apa yang sebenarnya bisa dilakukan oleh otakmu yang cemerlang. Aku dan seluruh juri di sini akan menyaksikan keadilan yang sesungguhnya."

Keheningan total menyergap ruangan itu. Tidak ada yang berani bersuara.

Juwita menatap flashdisk di tangannya, lalu menatap Profesor Hendra. Ada gelombang emosi yang begitu dahsyat menghantam dadanya—perasaan bahwa di tengah dunia yang begitu kejam dan penuh orang-orang licik, masih ada tangan malaikat yang menyelamatkannya dari jurang kehancuran. Ia teringat ibunya. Ibu, lihatlah... Tuhan masih mendengar doa kita.

Dengan perlahan, Juwita bangkit berdiri. Isak tangisnya berhenti. Air matanya mengering, digantikan oleh sorot mata yang menyala terang, memancarkan kekuatan seorang pejuang yang bangkit dari abu kepedihan. Ia melangkah pasti menaiki panggung utama, memasukkan flashdisk itu ke dalam slot komputer pusat, dan meletakkan tangannya di atas keyboard.

"Jalankan programnya, Juwita," bisik Profesor Hendra dari samping panggung.

Juwita menarik napas dalam-dalam. Jari-jemarinya menari dengan anggun, memasukkan baris perintah pemulihan terakhir. Seketika, layar raksasa di belakangnya menyala terang, menampilkan visualisasi kecerdasan buatan yang sangat kompleks, indah, dan belum pernah disaksikan oleh siapa pun sebelumnya—sebuah karya mahakarsa yang lahir dari air mata, kemiskinan, dan penderitaan yang tak bertepi.

Seketika, seluruh isi aula terperangah. Beberapa ilmuwan muda dan juri berdiri dari tempat duduk mereka, terpukau luar biasa. Dan di detik berikutnya, tepuk tangan yang begitu gemuruh, tulus, dan penuh hormat meledak memenuhi ruangan. Orang-orang yang tadinya mencemooh Juwita kini berdiri, memberikan penghormatan tertinggi kepada gadis miskin berbalut seragam kusam tersebut.

Juwita berdiri tegak di atas panggung, menatap lautan manusia yang bertepuk tangan untuknya. Namun, di dalam hatinya, ia tahu kemenangan ini bukan untuk dirinya sendiri. Ia mendongak menatap langit-langit aula, air mata haru kembali menetes di pipinya—bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kemenangan. Ibu... kita menang. Juwita bukan anak haram. Hari ini, dunia bertekuk lutut di hadapan kita.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!