NovelToon NovelToon
Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Dihina Pengangguran Oleh Keluarga Suami, Aku Wanita Kaya Raya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi
Popularitas:48.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.

“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.

Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.

Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.

“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Begitu motor Kartika memasuki jalan depan rumah lama keluarga Deva, suasana di sana sudah kacau. Asap hitam membumbung tinggi ke langit malam. Udara dipenuhi bau gosong yang menusuk hidung. Teriakan warga bersahut-sahutan memenuhi jalan sempit di depan rumah.

“Airnya sini!” 

“Cepat! Cepat!” 

“Awas apinya naik!”

Kartika langsung meminggirkan motor dengan tangan gemetar. Matanya membelalak melihat rumah yang selama ini ditempati Iriana sudah dilalap api besar. Lidah-lidah api menjulur liar dari jendela. Suara kayu terbakar terdengar patah-patah menyeramkan.

Beberapa warga berlarian membawa ember. Ada yang menyiram air seadanya. Ada yang mencoba membantu mengeluarkan barang. Namun, api terlalu besar.

Kartika sampai mundur beberapa langkah karena hawa panasnya terasa sampai ke kulit.

Beberapa polisi sudah berdiri di sekitar lokasi sambil menanyai warga. Sedangkan suara sirene mobil pemadam mulai terdengar dari kejauhan. 

Tak lama kemudian sebuah motor berhenti mendadak. Iriana turun dengan wajah pucat. Begitu melihat rumahnya yang tinggal lautan api, wanita itu langsung menjerit histeris.

“Oh, Tuhan!” Tangisnya pecah seketika. “Rumahkuuu!” Tubuh Iriana hampir ambruk kalau saja tidak ditahan warga. 

Delisa yang turun dari motor langsung ikut menangis keras. Anak kecil itu memandangi rumah yang terbakar dengan mata merah penuh air mata.

“Mamaaa ... sepeda aku!” Tangis Delisa terdengar menyayat hati. “Tidak ... sepeda Delisa kebakaaaar!”

Kartika langsung teringat sepeda kecil warna pink itu. Sepeda hadiah dari Deva tiga bulan lalu. Waktu itu Kalingga mendapat ranking satu dan dibelikan sepeda baru. Deva lalu membelikan Delisa juga supaya anak itu tidak merasa iri. Dan sekarang. sepeda itu ikut hangus terbakar.

Delisa menangis sampai sesenggukan sambil memegangi baju ibunya. “Mama, tolong sepeda Delisaaaa.”

Iriana langsung memeluk anaknya erat sambil ikut menangis histeris. “Mama enggak tahu, Mama bisa bawakan sepeda kamu, Delisa.”

Beberapa menit kemudian Bu Hania datang dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat penuh keringat. Begitu melihat rumah yang dulu ditempatinya puluhan tahun kini tinggal kobaran api, wanita itu langsung lemas.

“Oh, tidak! Rumahku ...!” 

Tubuh Bu Hania gemetar hebat. Matanya membesar penuh shock.

Rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sana ada banyak kenangan hidup mereka. Tempat anak-anaknya tumbuh besar. Tempat ia menghabiskan puluhan tahun hidup bersama Pak Dimas. Lalu, sekarang semuanya hancur di depan matanya.

Mobil pemadam akhirnya datang. Suara sirene memekakkan telinga. Petugas langsung sibuk menarik selang dan menyemprotkan air ke arah api.

Namun, proses pemadaman berlangsung lama. Api sudah terlalu besar. Warga hanya bisa berdiri menonton dengan wajah cemas.

Sebagian berbisik-bisik. Sebagian lagi menghela napas prihatin.

Api baru berhasil dipadamkan hampir satu jam kemudian. Dan saat asap mulai menipis yang tersisa hanya puing-puing hitam. Atap rumah sudah runtuh. Dinding menghitam. Barang-barang di dalam rumah nyaris tidak ada yang tersisa. Semua habis.

Pak Dimas dan Deva datang hampir bersamaan. Begitu turun dari mobil, langkah Deva langsung terhenti. Matanya menatap nanar ke arah reruntuhan rumah itu. Dia juga shock.

Pak Dimas bahkan sampai memegang dadanya sendiri pelan. Rumah yang dibangunnya sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun kini tinggal arang.

Seorang petugas pemadam mendekat setelah selesai berbicara dengan polisi. “Kebakaran diduga berasal dari kompor gas yang lupa dimatikan,” jelasnya serius.

Semua langsung menoleh ke arah Iriana. Wanita itu langsung menutup mulutnya sendiri dengan tubuh yang gemetar.

Iriana langsung teringat sesuatu. Sebelum menjemput Delisa di PAUD tadi, ia memang sempat memasak daging dan sosis, makanan kesukaan anaknya buat makan setelah pulang sekolah. Karena terburu-buru ia lupa mematikan kompor.

Tangis Iriana langsung pecah lagi. “Aku enggak sengajaaa.” 

Iriana terduduk lemas di jalan sambil menangis histeris. Delisa ikut menangis ketakutan melihat ibunya.

Malam itu keluarga besar Pak Dimas akhirnya berkumpul di rumah Deva. Suasana rumah terasa muram dan berat. Tidak ada suara televisi ataupun obrolan santai. Yang terdengar hanya suara isak tangis pelan dan helaan napas panjang.

Iriana duduk sambil memeluk Delisa. Mata keduanya sembab. Sedangkan Bu Hania terus melamun dengan wajah kosong.

“Mamah sekarang harus gimana?” gumam Iriana sesenggukan.

Pak Dimas mengusap wajahnya pelan.

“Mau gimana lagi, kamu harus cari tempat tinggal baru,” jawab pria tua itu lirih. 

Kalimat itu langsung membuat Iriana menangis lagi. Ia kehilangan rumah, barang-barang berharga, perabotan, pakaian, dan semuanya.

Bu Hania yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Sementara tinggal dulu aja di rumah Deva.”

Kalimat itu membuat Kartika yang sedang menuangkan air langsung berhenti. Ia perlahan menoleh. Dan tanpa ragu langsung menjawab, “Tidak bisa!”

Semua orang langsung terdiam. Bahkan Deva terlihat kaget mendengar jawaban istrinya yang begitu tegas.

Kartika meletakkan teko pelan di meja. “Aku enggak bisa satu rumah sama Iriana.”

Nada suaranya tenang, tetapi jelas.

Karena Kartika tahu persis apa yang akan terjadi kalau mereka tinggal serumah, pasti ribut dan cekcok. Dan ia tidak mau rumahnya berubah jadi medan perang setiap hari. Karena itu akan mempengaruhi perkembangan psikis anak-anak mereka nantinya.

Bukannya iba, Bu Hania langsung mengernyit tajam. “Kenapa enggak bisa?”

Kartika menatap mertuanya. “Bukannya di rumah Ibu masih ada kamar kosong bekas Gavin?”

Semua langsung menoleh ke arah Gavin dan Rosita. Pasangan itu saling pandang canggung. Karena memang benar. Kamar Gavin masih ada. Hanya saja penuh barang-barang lama yang belum dibereskan.

“Kamarnya masih berantakan,” gumam Gavin malu-malu.

“Di sana juga enggak ada AC-nya,” sahut Bu Hania cepat.

Kartika langsung menahan napas pelan.

Sedangkan Iriana ikut menimpali dengan wajah memelas. “Delisa enggak bisa tidur kalau panas.”

Pak Dimas langsung ikut bicara. “Kalau begitu Kaivan tidur sama Kalingga dulu. Biar kamar Kaivan dipakai Iriana dan Delisa. Ini untuk sementara, kok!”

Kartika langsung menatap suaminya. Dadanya mulai terasa panas.

“Kalau cuma masalah AC,” jawab Kartika datar, “pasang aja AC di kamar bekas Gavin.”

Ia masih berusaha tenang. “Yang penting mereka bisa tinggal di rumah Ibu.”

Bu Hania langsung menatap tajam. Jelas sekali wanita itu tidak suka dibantah.

Deva terlihat gelisah di tengah suasana panas itu. Ia menoleh pelan ke arah istrinya.

“Sayang ...” suaranya melembut. “Enggak apa-apa, ya, ini hanya sementara?”

Kartika langsung menggeleng tegas. “Enggak bisa, Mas. Yang ada nanti mereka malah ribut terus sama anak-anak.”

Belum selesai Kartika bicara, Iriana langsung menyahut sinis. “Bilang aja Mbak Kemuning enggak mau serumah sama aku.”

Kartika langsung menatap iparnya tajam. Namun sebelum sempat membalas, Pak Dimas lebih dulu bicara.

“Kalau kamu enggak mau serumah sama Iriana,” katanya pelan, “ya, kamu aja yang tinggal di rumah Ayah.”

DEG.

Kartika langsung melongo tidak percaya. “Kenapa aku yang harus pergi?” tanyanya pelan.

Ini rumahnya. Rumah yang dibeli bersama Deva. Rumah tempat anak-anaknya tumbuh. Lalu, sekarang justru dirinya yang disuruh keluar.

Bu Hania dengan tatapan dingin, langsung menyahut cepat. “Kamu juga harus punya simpati. Adik ipar kamu lagi kena musibah.”

Kartika tersenyum kecut.

Lagi-lagi Kartika yang harus mengalah. Selalu saja begitu. Dan yang paling menyakitkantidak ada satu pun yang benar-benar memikirkan perasaannya.

“Sayang ....” Deva menatap Kartika memohon. Tatapan pria itu penuh lelah.

Namun, Kartika tetap menggeleng. “Aku tetap enggak bisa, Mas.”

“Kalau kamu enggak mau, ya, udah sana keluar dari rumah kakakku!” bentakan Iriana terdengar keras.

Kartika langsung shock. Kalimat itu langsung membuat seluruh tubuh Kartika membeku. Matanya membesar dan napasnya tertahan.

Bu Hania justru ikut mendukung.“Iya. Kalau enggak mau serumah sama Iriana, sana pergi dari sini!”

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tepat ke dada Kartika dan sangat menyakitkan. Untuk beberapa detik wanita itu benar-benar tidak bisa bicara apa-apa

***

Bismillah. Semoga dapat bab 20 terbaik, biar bisa lanjut terus. Teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen.

1
Nar Sih
waah ..lucu yaa ,ank kecil jamn sekarang udah pinter main cium,,dan pasti kalingga jdi idola☺️
Ma Em
Kalingga meren msh kecil sdh banyak cewe yg suka apalagi nanti kalau sdh remaja wah bisa ngantri tuh cewe mau jadi pacar Kalingga eh Kaivan ikut juga mau dicium 😄😄😄.
Ita rahmawati
gpp loh kan dicium bkn dipukul 🤦🤣
Baekhyuneeisti
semangat thor💪
Mardiana
wahhh calon bintang sekolah nih 😀😀
Kar Genjreng
Hahah Keren Kalingga di hari pertama masuk sekolah baru teman baru semua serba baru,,, sekarang menjadi pria tampan dan dapat ciuman dari gadis cantik,,,anak anak ya duhhh,,,kalingga lain kali kasih tau saja Kalingga ga mau di cium masih kecil terkecuali Mama Om dan Tante nya,,, kalau sama gadis kecil ga mau nah kalau masih ganggu lapor guru jangan dorong 👍👍
Nar Sih: pasti jadi idola kalingga nya ya kak
total 3 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Lingga baru masuk juga sudah punya fans🤣🤣
Hary Nengsih
ada 2 aja masi kecil dh ada ratu sklah
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
plot twis nya ank perempuan yg nyium kalingga trnyata ank dri mantan'y kartika🤣🤣
Aisyah Virendra
bisa jadi kisah selanjutnya nih 🤣🤣🤣🤣Kalingga dan Arunaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝
Noor hidayati
anak SD sudah berani mencium lawan jenisnya,ini yang nyosor cewek lagi
Marlina
wow kelakuan anak jaman now 🤣🤣
carenina
syukurlah tdk di bully cuma dicium 🤣🤣...semoga kalingga kerasan ya tinggal sama mama dr pd tinggal dit4 papa byk lintah...nanti papa nya diajak tinggal bersama kalau sdh pintar🤣
Rahma Inayah
woww amazing ank sd cewek pula SDH berani cium pria dpn org umum ..gak ada malunya .bnr Kalingga hrs. BS bela diri.hr pertma sekolah Kalingga SDH ada penggemar SDH berani cium...cium pula ..Mash kecil SDH JD idola gmn besar nnt pasti JD rebutan cewek2 secara bibit nya unggul Deva ganteng dan Kartika cantik ya jls ngasilin ank yg ganteng
Eka Haslinda
gue kira napa thor.. ternyata Kalingga dah punya fans.. ratu sekolah pula 🤣🤣🤣
Fa Yun
🤣🤣 Kalingga
Dartihuti
🤣🤣🤭🤭🤭main cium aja sapa yg gk kesel ya Ngga...duuuh anak sekarang bener deh🤗
Oma Gavin
wkwkwk baru pertama masuk sekolah sudah jadi primadona gimana Kalingga harusnya bangga fing dicium ratu sekolah 😂
🌸 Sunshine 🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
tinimawon
ayo deva cepat sadar jangan lembek jadi laki²
Perempuan
nich orang masih punya perasaan gak yaa? heran dech
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!