Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.
Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.
Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."
Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.
Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: KARTU HITAM DIBLOKIR DAN CEMBURU MEMBARA
Sejak kejadian gala dinner dan kemunculan Luna Amanda, hubungan aku dan Arga menjadi semakin aneh.
Arga menjadi lebih posesif. Lebih protektif. Tapi juga lebih dingin dan sering marah tanpa alasan.
Contohnya pagi ini.
Aku sudah berdandan rapi untuk berangkat ke kampus. Aku memakai kemeja putih sederhana dan rok hitam, tidak lagi memakai gaun-gaun mahal pemberian Arga karena aku takut dibilang pamer lagi di kampus. Kalung berlian 500 juta itu aku simpan di dalam kotak, tidak aku pakai.
Saat aku turun ke ruang makan penthouse untuk sarapan, Arga sudah duduk di sana dengan wajah ditekuk.
"Kenapa tidak pakai kalung yang saya belikan?" tanya Arga tanpa basa-basi, matanya langsung menatap leherku yang kosong.
"Kalungnya... terlalu mencolok untuk ke kampus Pak, nanti teman-teman saya..."
"Pakai. Sekarang. Saya tidak mau istri saya terlihat seperti gembel di kampusnya sendiri. Biar semua orang tahu kamu sudah laku mahal."
Nada suaranya memerintah dan menyebalkan. Aku akhirnya naik lagi ke atas dan memakai kalung itu dengan kesal.
Saat sarapan, Bibi Sari menyajikan nasi goreng dan telur mata sapi. Aku makan dengan lahap karena lapar.
"Oh ya, hari ini saya tidak bisa jemput kamu pulang jam 4. Saya ada meeting dengan investor dari Singapura sampai malam," kata Arga sambil membaca koran bisnis.
"Gak apa-apa Pak, saya bisa naik Transjakarta pulang."
"TIDAK BOLEH!" Arga membanting korannya. "Sudah saya bilang, istri Arga Wijaya tidak boleh naik kendaraan umum! Nanti sopir saya yang jemput kamu! Atau kamu pesan taksi online yang mahal!"
"Kenapa Bapak ngatur-ngatur terus sih?! Saya bisa jaga diri sendiri! Saya 22 tahun, bukan anak kecil!" Akhirnya aku meledak juga. Sudah seminggu aku ditahan, diatur, diancam, aku sudah muak.
Arga terkejut melihatku berani membantah. Matanya menyipit.
"Kamu berani membantah saya? Kamu lupa siapa yang bayar hutang ayahmu 500 juta? Siapa yang bayar kontrakan ibumu? Siapa yang belikan kamu kalung 500 juta yang kamu pakai itu?"
Kata-katanya menyakitkan, selalu mengungkit uang.
"Iya! Saya tahu saya dibeli! Saya tahu saya cuma istri kontrak 1 miliar! Tapi saya juga manusia Pak! Saya punya hak untuk naik apa saja yang saya mau!"
Arga berdiri dengan marah. Aura Alpha dominannya meledak, membuat Bibi Sari yang di dapur langsung gemetar ketakutan dan bersembunyi.
"Sinta, jangan coba-coba melawan saya. Kamu tahu akibatnya."
Aku juga berdiri, air mataku sudah menggenang. "Bapak cuma bisa ancam! Ancam! Ancam! Selain ngancam bisa apa lagi Pak?!"
Kami saling bertatapan dengan napas terengah. Suasana di ruang makan penthouse 50 miliar itu menjadi sangat panas dan tegang.
Tiba-tiba ponsel Arga berdering. Nama di layar: LUNA.
Wajah Arga langsung berubah. Dia mematikan telepon itu dengan cepat.
Aku melihatnya. Jelas-jelas aku melihat nama Luna di layar.
"Kenapa dimatiin Pak? Angkat saja, kan mantan kesayangan Bapak yang cantik jelita itu, yang lebih selevel sama Bapak daripada saya yang miskin ini," kataku dengan nada cemburu yang bahkan aku sendiri tidak sadar kenapa aku bisa secemburu itu.
Arga menatapku tajam. "Kamu cemburu lagi?"
"SAYA TIDAK CEMBURU!"
"Jelas-jelas cemburu. Setiap ada nama Luna kamu langsung meledak."
"Saya tidak cemburu! Saya hanya... saya hanya tidak suka Bapak bohong! Katanya sudah tidak ada hubungan, tapi masih teleponan!"
Arga malah tersenyum miring, senyum yang menyebalkan.
"Jadi kamu cemburu karena saya masih hubungi Luna? Menarik. Padahal di kontrak Pasal 2 kamu tidak boleh jatuh cinta pada saya. Tapi kenapa kamu cemburu seperti istri sungguhan?"
Aku terdiam. Benar, kenapa aku cemburu? Aku kan tidak boleh jatuh cinta. Ini hanya kontrak.
"Saya... saya tidak cemburu..."
"Alasan. Kamu sudah melanggar Pasal 2, Sinta Maharani. Kamu sudah jatuh cinta pada saya."
Kata-kata itu membuat wajahku merah padam sampai ke telinga.
"SAYA TIDAK JATUH CINTA! TIDAK!"
Arga berjalan mendekatiku, sangat dekat, sampai aku bisa merasakan napasnya.
"Kalau tidak jatuh cinta, kenapa kamu menangis saat lihat Luna peluk saya di gala dinner kemarin? Kenapa kamu marah saat mahasiswi genit dekati saya di kampus? Kenapa kamu tanya soal foto Luna di dompet saya? Itu semua ciri-ciri wanita yang jatuh cinta, Nyonya Wijaya."
Aku tidak bisa menjawab. Dadaku sesak. Apakah benar aku sudah jatuh cinta pada Arga? Pada pria yang membeli dan membenciku? Pada pria yang menganggap ayahku pembunuh orang tuanya?
Tidak mungkin. Tidak boleh.
Arga kemudian mengambil ponselnya dan di depanku, dia memblokir nomor Luna. Dia menunjukkan layar ponselnya padaku.
"Nomor Luna sudah saya blokir. Puas? Saya tidak butuh dia. Saya hanya butuh istri kontrak yang patuh dan tidak cemburu buta. Mengerti?"
Aku mengangguk dengan air mata.
Arga kemudian pergi ke kantor dengan wajah kesal, meninggalkanku sendirian di penthouse.
Siang harinya, aku pergi ke kampus dengan sopir pribadi Arga. Di kampus, aku mencoba fokus pada skripsi, tapi pikiranku terus memikirkan pertengkaran tadi pagi.
Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Arga? Tidak, tidak mungkin. Aku hanya... kasihan padanya. Ya, kasihan karena dia yatim piatu.
Sore jam 4, sopir Arga tidak datang menjemput seperti biasanya. Aku telepon sopirnya, tidak diangkat. Aku telepon Arga, tidak diangkat juga.
Akhirnya aku memutuskan untuk naik Transjakarta pulang, melanggar perintah Arga. Aku sudah muak diatur.
Di dalam Transjakarta yang penuh sesak, kalung berlian 500 juta ku menarik perhatian banyak orang. Beberapa pria menatapku dengan tatapan aneh. Aku merasa tidak aman dan memeluk tas ku erat.
Sesampainya di depan gedung The Wijaya Tower, aku turun dengan lega.
Tapi saat aku mau masuk ke lobi, satpam menghentikanku.
"Maaf Nyonya, Tuan Arga bilang Nyonya tidak boleh masuk sebelum jam 8 malam. Tuan Arga sedang marah."
Apa?! Aku diusir dari rumahku sendiri? Dari penthouse 50 miliar itu?
Aku mencoba telepon Arga lagi, tetap tidak diangkat. Aku duduk di kursi lobi gedung mewah itu dengan seragam kuliahku, kalung berlian 500 juta, tapi tidak boleh masuk ke rumah sendiri. Orang-orang yang lewat menatapku kasihan.
Jam 7 malam, aku masih di lobi. Perutku lapar. Aku mau beli roti di minimarket seberang, tapi saat aku gesek kartu hitam tak terbatas pemberian Arga, mesin EDC menolak.
TRANSAKSI DITOLAK. KARTU DIBLOKIR.
Arga memblokir kartu hitamku! Kartu yang katanya tak terbatas itu dia blokir hanya karena aku membantah dan naik Transjakarta!
Air mataku tumpah. Pria itu benar-benar kejam. Dia menghukumku dengan uang lagi.
Tepat jam 8 malam, Arga muncul dari lift pribadi. Wajahnya masih dingin.
Dia melihatku duduk di lobi dengan mata bengkak menangis.
"Kenapa masih di sini? Masuk," katanya dingin.
"Sopir tidak jemput, satpam tidak kasih masuk, kartu diblokir, saya lapar Pak..." isakku.
Arga terdiam sebentar, lalu menghela napas.
"Masuk. Itu hukuman karena kamu melanggar aturan saya pagi ini. Kamu naik Transjakarta padahal sudah saya larang. Kamu membahayakan diri kamu sendiri dan kalung 500 juta itu. Kalau kalung itu hilang dirampok di bus, kamu mau ganti pakai apa? Pakai ginjal ayahmu?"
Lagi-lagi ancaman.
Aku berjalan masuk ke lift dengan lemas. Di dalam lift, Arga tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak roti.
"Makan. Bibi Sari bilang kamu belum makan sejak pagi."
Ternyata dia masih peduli? Atau ini hanya agar propertinya tidak mati kelaparan?
Aku memakan roti itu dengan air mata. Rasanya hambar.
Sampai di penthouse, Arga mengaktifkan kembali kartu hitamku di depan mataku.
"Kartu sudah aktif lagi. Tapi ingat, sekali lagi kamu bantah saya dan naik kendaraan umum, saya tidak hanya blokir kartu, saya blokir juga biaya hidup ayah dan ibumu. Mengerti?"
Aku mengangguk ketakutan.
Malam itu, kami tidur seranjang lagi, dengan garis bantal di tengah. Tapi jarak terasa lebih jauh dari biasanya.
Aku membelakanginya dan menangis pelan agar tidak terdengar.
Di balik punggungku, Arga menatap punggungku yang bergetar karena menangis. Tangannya sempat terangkat ingin mengelus punggungku, tapi dia urungkan.
"Maaf..." bisik Arga sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi aku mendengarnya.
Maaf? Arga Wijaya minta maaf?
Apakah aku salah dengar? Atau serigala es itu mulai mencair?
(Bersambung...)
""(TT)(TT)"