NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Musa melajukan mobilnya dengan tenang membelah jalanan pagi menuju Pondok Pesantren.

Di sampingnya, Laila duduk anggun sembari sesekali menatap pemandangan luar dari balik jendela kaca yang terpelitur gelap.

Jemari Musa tak lepas menggenggam erat tangan istrinya di atas pangkuan, menyalurkan kehangatan yang tak pernah putus.

Tak berapa lama, mobil Musa memasuki gerbang utama Pondok Pesantren.

Pintu gerbang kayu berukir megah itu terbuka lebar menyambut kedatangan sang ustaz muda.

Begitu mobil berhenti rapi di area parkir utama, Musa turun terlebih dahulu.

Langkah Musa yang tegap dan berwibawa langsung menjadi pusat perhatian para santri dan pengurus pondok yang lalu-lalang di sekitar halaman.

Dengan gerakan penuh kelembutan, Musa mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Laila, lalu mengulurkan tangannya membimbing sang istri berdiri.

Langkah kaki mereka yang sejajar mendadak memicu gejolak bisik-bisik di antara para santriwati.

Di sepanjang koridor gedung pembelajaran, puluhan santriwati tampak berkumpul di pinggir koridor, berbisik-bisik penasaran ingin melihat sosok wanita beruntung yang berhasil meluluhkan hati ustaz idaman mereka.

"Wah, itu Ustaz Musa!" bisik salah seorang santriwati sembari berjinjit.

"Iya, sama istrinya! Penasaran banget, sepasrah dan secantik apa ya wanita yang bisa bikin Ustaz Musa nolak ustazah lulusan Mesir?" timpal santriwati lainnya penuh intrik.

Namun, harapan para santriwati untuk melihat paras istri Musa pupus seketika saat menyadari Laila mengenakan cadar rapat berwarna hitam yang senada dengan pakaian syar'i anggunnya.

Kain halus itu menutup sempurna bagian bawah wajah Laila, hanya menyisakan sepasang mata bening nan indah yang terpancar lembut.

Meski wajahnya tersembunyi, para santriwati hanya bisa mengagumi keanggunan dan aura anggun yang terpancar alami dari setiap gerak-gerik Laila.

Dari cara berjalannya yang tenang hingga gestur santunnya saat mendampingi Musa, semua memancarkan kelas tersendiri.

"Yah, kenapa ditutup sih?" celetuk salah satu santriwati dengan nada kecewa yang tak sengaja terdengar cukup nyaring di udara pagi yang hening.

Musa yang pendengarannya amat tajam seketika menghentikan langkah kakinya.

Ia memutar badan, melangkah perlahan menghampiri kerumunan santriwati tersebut dengan pendar mata tajam yang membuat mereka seketika menunduk cemas.

"Wajah istriku hanya untuk aku," tegas Musa dengan suara berat, tenang, namun sarat akan penekanan kepemilikan yang tak terbantahkan.

Ia lalu menatap mereka satu per satu dengan wibawa seorang pengajar sekaligus pemimpin.

"Dan sekarang, ayo kalian masuk ke kelas."

Para santriwati yang tersentak kaget langsung menciut, menundukkan kepala dalam-dalam sembari menyembunyikan wajah mereka yang memerah malu.

"I-iya, Ustaz. Maaf. Assalamu'alaikum!" seru mereka serentak sebelum bergegas membubarkan diri dan berlari kecil menuju ruang kelas masing-masing.

"Wa'alaikumussalam," jawab Musa datar.

Di balik cadarnya, Laila menahan senyum tipis melihat ketegasan suaminya yang mendadak protektif hanya karena celetukan polos para santriwati.

Ia menyenggol pelan lengan Musa. "Musa, kamu ini, sama santri sendiri kok galak sekali."

Musa berpaling menatap Laila, pendar mata tajamnya seketika meleleh menjadi tatapan penuh kehangatan. Ia merangkul pinggang Laila dengan penuh kelembutan.

"Aku tidak galak, Sayang. Aku hanya menegaskan batas," bisik Musa rendah tepat di samping telinga istrinya.

"Keindahanmu itu aset berharga milikku, tidak boleh ada yang menawarnya walau cuma lewat pandangan."

Laila menggelengkan kepala pelan, merasa gemas sekaligus tersanjung oleh keposesifan suaminya yang tak pernah berkurang sedikit pun.

"Ayo, Abah dan Umi pasti sudah menunggu di dalam."

"Mari, Bidadariku," sahut Musa sembari menggenggam jemari Laila, membimbing langkah sang istri menuju kediaman utama pengasuh pesantren.

Musa membimbing Laila melangkah menuju Dalem utama pesantren.

Langkah mereka disambut keheningan ruang tamu yang anggun.

"Assalamu'alaikum, Abah. Umi." ucap Musa dan Laila serentak dengan nada santun.

Abah Kyai Adam yang sedang duduk di kursi ukir kayu jati segera mendongak dan menjawab hangat, "Wa'alaikumsalam."

Namun, pemandangan berbeda datang dari Umi Sinta.

Wanita paruh baya itu merespons dengan melengos, mengalihkan pandangannya ke arah lain dan hanya menjawab salam di dalam hati dengan raut wajah yang jelas-jelas tidak bersahabat.

Pengaruh bisikan dan hasutan dari Umi Mina dan Musdalifah tampaknya mulai meracuni pikirannya.

Tanpa basa-basi, Umi Sinta langsung menembakkan pertanyaan sinis dengan nada menuntut.

"Kenapa kemarin kalian tidak pulang ke pondok? Kalian dari mana saja?"

Musa menatap ibunya dengan ketenangan luar biasa.

Dengan pendar mata tajam namun tetap tenang, ia memberikan jawaban penuh penekanan yang telak.

"Kami ke hotel, Umi. Seperti, Umi tidak pernah muda saja."

Jawaban gamblang dari putra tunggalnya itu seketika membuat Umi Sinta terkejut hingga bungkam sejenak.

Pengakuan itu makin membuat Umi Sinta merasa posisinya dan pengaruhnya atas diri Musa kian terancam oleh kehadiran Laila.

Menutup kekagetan dan rasa tak sukanya, Umi Sinta melipat tangan di dada.

Tanpa sedikit pun menyunggingkan senyum, ia memerintah Laila dengan nada dingin.

"Sekarang buatkan umi teh, dan kopi untuk Abah di dapur."

Atmosfer ruang tamu seketika membeku. Sebelum Laila sempat bergeser atau mengangguk mentaati perintah mertuanya, Musa langsung memotong dengan suara berat dan dingin yang menggelegar tak terbantahkan.

"Maaf, Umi. Istriku bukan pelayan."

Kata-kata Musa bergaung tegas di udara, memancarkan benteng perlindungan mutlak bagi sang istri.

Kepalan tangan Musa di atas pangkuannya tampak mengeras, menahan amarah atas sikap sang ibu yang dinilainya tak adil.

Melihat gejolak ketegangan yang hampir meledak antara suami dan ibu mertuanya, Laila tidak tinggal diam.

Dengan kelembutan yang menyejukkan, Laila mengulurkan jemari lenturnya, mengelus lembut kepalan tangan Musa.

Touch sederhana itu seketika menyalurkan kehangatan yang menenangkan suaminya agar tidak terjadi bentrokan lebih jauh dengan sang ibu.

"Musa, tidak apa-apa," bisik Laila sangat lembut, mendongak menatap sepasang mata suaminya dengan senyum tulus dari balik cadar.

Laila kemudian bangkit berdiri dengan gerakan sangat anggun.

Ia menunduk santun memberi hormat pada Abah Kyai dan Umi Sinta, lalu melangkah perlahan menuju area dapur untuk menaati perintah mertuanya.

Musa hanya bisa menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang di belokan koridor dalam, mata tajamnya menyalurkan pendar yang sarat akan perlindungan mendalam sekaligus kecemasan akan intrik keluarga yang mulai mengintai rumah tangga mereka.

Laila menyusuri koridor dalam hingga sampai di area dapur Dalem yang luas dan bersih.

Di sana, tampak seorang wanita paruh baya—seorang bibi pengasuh dapur—sedang sibuk memotong sayuran di atas meja kayu.

"Assalamu'alaikum, Bi." sapa Laila lembut.

Bibi dapur itu berbalik kaget, lalu membelalakkan matanya melihat sosok wanita anggun berbusana syar'i dan bercadar yang menyapanya.

"Wa'alaikumsalam. Eh, Mbak?"

"Bi, saya Laila. Mau membuat teh untuk Umi dan kopi untuk Abah," tutur Laila santun.

Mendengar nama itu, raut wajah bibi dapur seketika berbinar penuh rasa takjub dan bahagia.

"Masya Allah, Mbak Laila, istrinya Den Musa?"

"Iya, Bi," jawab Laila sembari mengangguk ramah di balik cadarnya.

"Masya Allah, cantiknya dan anggun sekali. Ayo, ayo, sini Bibi bantu, Mbak!" seru bibi dapur dengan antusias, segera mengelap tangannya dan menyiapkan teko serta cangkir-cangkir keramik untuk Laila.

Sambil meracik bubuk kopi dan menyeduh teh hangat, bibi dapur menatap Laila dengan pendar nostalgia yang hangat.

"Mbak Laila tahu ndak? Melihat Den Musa sekarang yang gagah, galak, dan ditakuti banyak orang begitu, Bibi suka senyum-senyum sendiri kalau ingat masa kecilnya dulu," ujar bibi dapur membuka cerita.

Laila menoleh dengan binar rasa ingin tahu yang besar.

"Memangnya bagaimana masa kecil Musa, Bi?"

Bibi dapur terkekeh pelan sembari mendekat. "Dulu itu ya, Mbak. Den Musa kalau habis mandi pagi, bukannya langsung rapi siap-siap, malah jalan ngeloyor ke kompleks kelas santri cuma pakai celana pendek sambil mengempit botol susunya! Nanti sampai di pojokan kelas, dia duduk manis ngedot botol susu sampai tertidur pulas di sana!"

Bayangan seorang sosok Musa yang sekarang begitu dingin, protektif, berotot, dan memimpin jaringan mafia bawah tanah—ternyata pernah berjalan mengempit botol susu sambil mengantuk sewaktu kecil—seketika terlintas di pikiran Laila.

Laila tak sanggup lagi menahan tawanya.

"Hahaha!"

Tawa Laila pecah terbahak-bahak di balik kain penutup wajahnya.

Matanya sampai berembun menahan geli mendengarkan rahasia masa kecil suaminya yang teramat menggemaskan dan bertolak belakang dengan citranya saat ini.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!