Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Musa melajukan mobilnya dengan tenang membelah jalanan pagi menuju Pondok Pesantren.
Di sampingnya, Laila duduk anggun sembari sesekali menatap pemandangan luar dari balik jendela kaca yang terpelitur gelap.
Jemari Musa tak lepas menggenggam erat tangan istrinya di atas pangkuan, menyalurkan kehangatan yang tak pernah putus.
Tak berapa lama, mobil Musa memasuki gerbang utama Pondok Pesantren.
Pintu gerbang kayu berukir megah itu terbuka lebar menyambut kedatangan sang ustaz muda.
Begitu mobil berhenti rapi di area parkir utama, Musa turun terlebih dahulu.
Langkah Musa yang tegap dan berwibawa langsung menjadi pusat perhatian para santri dan pengurus pondok yang lalu-lalang di sekitar halaman.
Dengan gerakan penuh kelembutan, Musa mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Laila, lalu mengulurkan tangannya membimbing sang istri berdiri.
Langkah kaki mereka yang sejajar mendadak memicu gejolak bisik-bisik di antara para santriwati.
Di sepanjang koridor gedung pembelajaran, puluhan santriwati tampak berkumpul di pinggir koridor, berbisik-bisik penasaran ingin melihat sosok wanita beruntung yang berhasil meluluhkan hati ustaz idaman mereka.
"Wah, itu Ustaz Musa!" bisik salah seorang santriwati sembari berjinjit.
"Iya, sama istrinya! Penasaran banget, sepasrah dan secantik apa ya wanita yang bisa bikin Ustaz Musa nolak ustazah lulusan Mesir?" timpal santriwati lainnya penuh intrik.
Namun, harapan para santriwati untuk melihat paras istri Musa pupus seketika saat menyadari Laila mengenakan cadar rapat berwarna hitam yang senada dengan pakaian syar'i anggunnya.
Kain halus itu menutup sempurna bagian bawah wajah Laila, hanya menyisakan sepasang mata bening nan indah yang terpancar lembut.
Meski wajahnya tersembunyi, para santriwati hanya bisa mengagumi keanggunan dan aura anggun yang terpancar alami dari setiap gerak-gerik Laila.
Dari cara berjalannya yang tenang hingga gestur santunnya saat mendampingi Musa, semua memancarkan kelas tersendiri.
"Yah, kenapa ditutup sih?" celetuk salah satu santriwati dengan nada kecewa yang tak sengaja terdengar cukup nyaring di udara pagi yang hening.
Musa yang pendengarannya amat tajam seketika menghentikan langkah kakinya.
Ia memutar badan, melangkah perlahan menghampiri kerumunan santriwati tersebut dengan pendar mata tajam yang membuat mereka seketika menunduk cemas.
"Wajah istriku hanya untuk aku," tegas Musa dengan suara berat, tenang, namun sarat akan penekanan kepemilikan yang tak terbantahkan.
Ia lalu menatap mereka satu per satu dengan wibawa seorang pengajar sekaligus pemimpin.
"Dan sekarang, ayo kalian masuk ke kelas."
Para santriwati yang tersentak kaget langsung menciut, menundukkan kepala dalam-dalam sembari menyembunyikan wajah mereka yang memerah malu.
"I-iya, Ustaz. Maaf. Assalamu'alaikum!" seru mereka serentak sebelum bergegas membubarkan diri dan berlari kecil menuju ruang kelas masing-masing.
"Wa'alaikumussalam," jawab Musa datar.
Di balik cadarnya, Laila menahan senyum tipis melihat ketegasan suaminya yang mendadak protektif hanya karena celetukan polos para santriwati.
Ia menyenggol pelan lengan Musa. "Musa, kamu ini, sama santri sendiri kok galak sekali."
Musa berpaling menatap Laila, pendar mata tajamnya seketika meleleh menjadi tatapan penuh kehangatan. Ia merangkul pinggang Laila dengan penuh kelembutan.
"Aku tidak galak, Sayang. Aku hanya menegaskan batas," bisik Musa rendah tepat di samping telinga istrinya.
"Keindahanmu itu aset berharga milikku, tidak boleh ada yang menawarnya walau cuma lewat pandangan."
Laila menggelengkan kepala pelan, merasa gemas sekaligus tersanjung oleh keposesifan suaminya yang tak pernah berkurang sedikit pun.
"Ayo, Abah dan Umi pasti sudah menunggu di dalam."
"Mari, Bidadariku," sahut Musa sembari menggenggam jemari Laila, membimbing langkah sang istri menuju kediaman utama pengasuh pesantren.
Musa membimbing Laila melangkah menuju Dalem utama pesantren.
Langkah mereka disambut keheningan ruang tamu yang anggun.
"Assalamu'alaikum, Abah. Umi." ucap Musa dan Laila serentak dengan nada santun.
Abah Kyai Adam yang sedang duduk di kursi ukir kayu jati segera mendongak dan menjawab hangat, "Wa'alaikumsalam."
Namun, pemandangan berbeda datang dari Umi Sinta.
Wanita paruh baya itu merespons dengan melengos, mengalihkan pandangannya ke arah lain dan hanya menjawab salam di dalam hati dengan raut wajah yang jelas-jelas tidak bersahabat.
Pengaruh bisikan dan hasutan dari Umi Mina dan Musdalifah tampaknya mulai meracuni pikirannya.
Tanpa basa-basi, Umi Sinta langsung menembakkan pertanyaan sinis dengan nada menuntut.
"Kenapa kemarin kalian tidak pulang ke pondok? Kalian dari mana saja?"
Musa menatap ibunya dengan ketenangan luar biasa.
Dengan pendar mata tajam namun tetap tenang, ia memberikan jawaban penuh penekanan yang telak.
"Kami ke hotel, Umi. Seperti, Umi tidak pernah muda saja."
Jawaban gamblang dari putra tunggalnya itu seketika membuat Umi Sinta terkejut hingga bungkam sejenak.
Pengakuan itu makin membuat Umi Sinta merasa posisinya dan pengaruhnya atas diri Musa kian terancam oleh kehadiran Laila.
Menutup kekagetan dan rasa tak sukanya, Umi Sinta melipat tangan di dada.
Tanpa sedikit pun menyunggingkan senyum, ia memerintah Laila dengan nada dingin.
"Sekarang buatkan umi teh, dan kopi untuk Abah di dapur."
Atmosfer ruang tamu seketika membeku. Sebelum Laila sempat bergeser atau mengangguk mentaati perintah mertuanya, Musa langsung memotong dengan suara berat dan dingin yang menggelegar tak terbantahkan.
"Maaf, Umi. Istriku bukan pelayan."
Kata-kata Musa bergaung tegas di udara, memancarkan benteng perlindungan mutlak bagi sang istri.
Kepalan tangan Musa di atas pangkuannya tampak mengeras, menahan amarah atas sikap sang ibu yang dinilainya tak adil.
Melihat gejolak ketegangan yang hampir meledak antara suami dan ibu mertuanya, Laila tidak tinggal diam.
Dengan kelembutan yang menyejukkan, Laila mengulurkan jemari lenturnya, mengelus lembut kepalan tangan Musa.
Touch sederhana itu seketika menyalurkan kehangatan yang menenangkan suaminya agar tidak terjadi bentrokan lebih jauh dengan sang ibu.
"Musa, tidak apa-apa," bisik Laila sangat lembut, mendongak menatap sepasang mata suaminya dengan senyum tulus dari balik cadar.
Laila kemudian bangkit berdiri dengan gerakan sangat anggun.
Ia menunduk santun memberi hormat pada Abah Kyai dan Umi Sinta, lalu melangkah perlahan menuju area dapur untuk menaati perintah mertuanya.
Musa hanya bisa menatap punggung istrinya yang perlahan menghilang di belokan koridor dalam, mata tajamnya menyalurkan pendar yang sarat akan perlindungan mendalam sekaligus kecemasan akan intrik keluarga yang mulai mengintai rumah tangga mereka.
Laila menyusuri koridor dalam hingga sampai di area dapur Dalem yang luas dan bersih.
Di sana, tampak seorang wanita paruh baya—seorang bibi pengasuh dapur—sedang sibuk memotong sayuran di atas meja kayu.
"Assalamu'alaikum, Bi." sapa Laila lembut.
Bibi dapur itu berbalik kaget, lalu membelalakkan matanya melihat sosok wanita anggun berbusana syar'i dan bercadar yang menyapanya.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Mbak?"
"Bi, saya Laila. Mau membuat teh untuk Umi dan kopi untuk Abah," tutur Laila santun.
Mendengar nama itu, raut wajah bibi dapur seketika berbinar penuh rasa takjub dan bahagia.
"Masya Allah, Mbak Laila, istrinya Den Musa?"
"Iya, Bi," jawab Laila sembari mengangguk ramah di balik cadarnya.
"Masya Allah, cantiknya dan anggun sekali. Ayo, ayo, sini Bibi bantu, Mbak!" seru bibi dapur dengan antusias, segera mengelap tangannya dan menyiapkan teko serta cangkir-cangkir keramik untuk Laila.
Sambil meracik bubuk kopi dan menyeduh teh hangat, bibi dapur menatap Laila dengan pendar nostalgia yang hangat.
"Mbak Laila tahu ndak? Melihat Den Musa sekarang yang gagah, galak, dan ditakuti banyak orang begitu, Bibi suka senyum-senyum sendiri kalau ingat masa kecilnya dulu," ujar bibi dapur membuka cerita.
Laila menoleh dengan binar rasa ingin tahu yang besar.
"Memangnya bagaimana masa kecil Musa, Bi?"
Bibi dapur terkekeh pelan sembari mendekat. "Dulu itu ya, Mbak. Den Musa kalau habis mandi pagi, bukannya langsung rapi siap-siap, malah jalan ngeloyor ke kompleks kelas santri cuma pakai celana pendek sambil mengempit botol susunya! Nanti sampai di pojokan kelas, dia duduk manis ngedot botol susu sampai tertidur pulas di sana!"
Bayangan seorang sosok Musa yang sekarang begitu dingin, protektif, berotot, dan memimpin jaringan mafia bawah tanah—ternyata pernah berjalan mengempit botol susu sambil mengantuk sewaktu kecil—seketika terlintas di pikiran Laila.
Laila tak sanggup lagi menahan tawanya.
"Hahaha!"
Tawa Laila pecah terbahak-bahak di balik kain penutup wajahnya.
Matanya sampai berembun menahan geli mendengarkan rahasia masa kecil suaminya yang teramat menggemaskan dan bertolak belakang dengan citranya saat ini.
tp kak ,, khawatir juga sih kalo org udh gelap mata oleh rasa iri gx bisa di bendung ,, bisa berbuat nekat senekat nekat ny ,,
jgn sampe deh rumah tangga Musa dan Laila di ganggu oleh fitnah Musdalifah
😒😒😒😒😒🥱🥱🥱
makany jgn coba2 ngusik umi Laila ,,
jd hancur lebur kn Hrga diri kalian ,, 😏😏😏😏😏
umi Sinta bisa menerima Laila dg baik ,,
bisa2 ny pak kiyai nikahin perempuan model gtuu ,,
semangat Musa berantas semua org2 yg udh nyakitin Laila ,,
sedangkan Nakula ny B aj ,, 🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
msh aj di pilih ,, buka mata mu lebar2 umiiiiii