"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naya 'Menuntut' Perhatian 26.
Nawang benar-benar pergi. Sisa wangi parfumnya yang bercampur aroma koridor sekolah perlahan menguap, digantikan oleh bau keringat Timy sendiri yang mulai mendingin.
Cowok itu masih bergeming di tempatnya. Kalimat Nawang tentang "duit bokap" dan "menghargai otak" berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Menyakitkan, karena Timy tahu semua itu benar.
"Tim, cabut yuk. Anak-anak ngajak ke kantin belakang," panggil Jojo, salah satu anggota sirkelnya yang sejak tadi menonton dari kejauhan.
Timy hanya mengangkat tangan tanpa menoleh, memberi isyarat agar mereka duluan. Dia butuh waktu untuk bernapas tanpa harus terlihat kuat di depan teman-temannya.
Namun, ketenangan yang dia carI langsung buyar begitu ponsel di saku celana basketnya bergetar panjang.
Nama Naya muncul di layar.
Timy menghela napas berat sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Nay? Kenapa?"
"Timy… lu di mana?" Suara Naya terdengar kecil, serak, dan ada getaran familier yang membuat dada Timy langsung menyempit. "Lu masih latihan? Bisa ke taman belakang sekarang? Kepala gue… pusing banget. Gue gak kuat jalan ke parkiran."
"Lu belum pulang? Kan kelas udah bubar dari sejam lalu, Nay."
"Gue nungguin lu," lirih Naya. "Gue gak mau pulang sendirian. Di rumah sepi banget. Nyokap belum balik kerja. Gue… gue takut, Tim."
Timy memijit pangkal hidungnya. Rasa bersalah langsung menghantamnya telak. Dia selalu ingat malam di mana ayah Naya meninggal karena kecelakaan —bagaimana Naya histeris dan memeluknya erat di rumah sakit, memohon agar Timy tidak ikut pergi meninggalkannya.
Sejak hari itu, Timy merasa punya kewajiban moral untuk menjaga gadis itu.
"Yaudah, tunggu situ. Gue ke sana."
Timy membatalkan niatnya untuk mandi di ruang ganti. Dia langsung menyambar tas ranselnya dan berjalan cepat menuju taman belakang sekolah yang sepi.
Di sana, Naya duduk di bangku semen di bawah pohon mahoni. Wajahnya pucat, kedua lututnya ditekuk ke dada, persis seperti anak kecil yang tersesat. Begitu melihat figur Timy mendekat, mata Naya langsung berbinar, meski sisa-sisa kecemasan belum sepenuhnya hilang dari wajahnya.
"Timy!" Naya langsung berdiri, menubrukan dirinya ke pelukan Timy tanpa memedulikan baju cowok itu yang masih basah oleh keringat.
Timy sempat menegang. Dulu, pelukan Naya terasa seperti pelukan seorang adik perempuan. Tapi belakangan ini, intensitas dan cara Naya menyentuhnya terasa berbeda. Ada tuntutan kepemilikan yang membuat Timy perlahan merasa tercekik.
"Nay, baju gue kotor," kata Timy pelan, mencoba melepaskan pelukan itu dengan halus.
Naya menggeleng, makin mempererat lingkar tangannya di pinggang Timy. "Gak apa-apa. Gue cuma butuh lu sebentar. Tadi di kelas, Pak Danu ngebahas soal figur ayah di materi sosiologi. Otak gue langsung eror Tim. Gue langsung inget Papa."
Timy menghela napas, mengusap punggung Naya pelan. "Iya, gue paham. Tapi sekarang kan ada gue. Yuk, gue anter pulang. Lu harus istirahat."
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran. Naya menggandeng lengan Timy dengan erat, seolah-olah jika dia melepasnya sedetik saja, dia akan jatuh ke jurang.
Timy membiarkannya, meski di sepanjang koridor, beberapa pasang mata anak-anak kelas sebelas memperhatikan mereka.
Saat mereka sampai di motor vespa matic putih milik Timy, Naya tidak langsung naik. Dia menatap helm cadangan yang biasa dipakai Nawang.
"Tim, helm yang ini… buat gue aja, ya? Maksudnya, kan lu udah gak jalan lagi sama Nawang," ucap Naya, nadanya terdengar santai tapi matanya menuntut jawaban pasti.
Timy tertegun. Helm itu dibeli khusus karena Nawang menyukai warna hitam doff tanpa corak norak. "Ini… helm cadangan biasa kok, Nay."
"Ya kalau cuma cadangan, berarti boleh buat gue, kan? Gue males pakai helm yang ganti-ganti. Gue mau yang ini aja, khusus buat gue kalau bareng lu," cecar Naya lagi. Kali ini, senyumnya agak dipaksakan, menyembunyikan rasa tidak aman yang besar.
"Yaudah, pakai aja dulu sekarang," jawab Timy final, malas berdebat.
Di sepanjang jalan menuju rumah Naya, angin sore menerpa mereka. Naya memeluk pinggang Timy erat, menyandarkan kepalanya di punggung cowok itu. Sementara Timy, pikirannya kosong.
Pikirannya makin berontak. Dia tahu dia harus membuat batasan tegas dengan Naya, tapi setiap kali dia melihat mata Naya yang rapuh, bayangan pemakaman ayah Naya kembali melintas.
Timy takut jika dia menjauh, Naya akan benar-benar hancur. Dan dia tidak mau memikul rasa bersalah itu seumur hidupnya.
Motor Timy berhenti di depan pagar rumah minimalis Naya.
Rumah itu tampak sepi, gembok pagarnya terbuka tapi lampu teras belum dinyalakan.
Naya turun dari motor, melepaskan helm, lalu menatap Timy penuh harap. "Lu… gak mau mampir dulu? Bikinin gue teh hangat kayak biasanya?"
"Gue belum mandi, Nay. Badan gue lengket banget," tolak Timy halus.
Raut wajah Naya langsung berubah drastis. Matanya meredup, dan bibirnya bergetar. "Lu berubah ya, Tim. Sejak putus dari Nawang, lu kayak sengaja ngejauh dari gue. Lu nyalahin gue atas putusnya kalian?"
"Enggak, Nay, demi Tuhan gak ada hubungannya sama lu," sahut Timy frustrasi. Dia mematikan mesin motornya, sadar percakapan ini akan panjang jika tidak diredam. "Gue cuma capek. Hari ini latihan fisik berat banget."
"Gue cuma punya lu, Timy!" Suara Naya meninggi, mulai tidak stabil. Setitik air mata lolos di pipinya. "Nyokap gue sibuk kerja, Papa udah gak ada. Di sekolah gue gak punya sirkel kayak lu. Satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa aman cuma lu. Kenapa sekarang lu kayak terpaksa banget ada di dekat gue?"
Kalimat itu menghantam Timy seperti gada besi. Menuntut, manipulatif secara tidak sadar, tapi juga lahir dari luka nyata.
Naya tidak berpura-pura sakit, kan? Trauma gadis itu nyata, kan? dan itulah yang membuat situasi ini menjadi racun bagi Timy.
Dia merasa seperti ditarik ke dalam lumpur hisap—makin dia berontak untuk lepas, makin kuat lumpur itu menenggelamkannya.
Timy turun dari motor. Dia memegang kedua pundak Naya, menatap langsung ke mata cewek itu.
"Nay, dengerin gue," kata Timy dengan suara berat, mencoba menahan emosinya sendiri. "Gue selalu ada buat lu. Gue gak bakal ke mana-mana. Tapi lu gak bisa terus-terusan kayak gini. Lu harus belajar jalan sendiri juga. Gue gak bisa 24 jam jadi tameng lu."
"Kenapa gak bisa?" potong Naya cepat, menatap Timy tajam dengan mata yang basah. "Dulu lu janji sama Papa sebelum dia meninggal, lu bakal jagain gue. Janji lu itu palsu?"
Timy terbungkam.
Kata janji itu seperti rantaian besi yang mendadak mengikat lehernya, membuatnya susah payah mencari pasokan udara.
Naya menggunakan memori tentang almarhum ayahnya sebagai kartu as untuk mengunci Timy agar tidak bisa pergi.
"Gue gak pernah ingkar janji, Nay," ucap Timy, suaranya kini terdengar datar, lelah yang amat sangat merayap ke seluruh sendinya. "Gue pulang dulu."
Tanpa menunggu balasan Naya, Timy kembali naik ke atas motornya, menyalakan mesin, dan langsung memutar gas tanpa menoleh lagi.
Melalui kaca spion, dia bisa melihat Naya masih berdiri di depan pagar, menatap kepergiannya dengan tatapan hancur bercampur amarah.
Di bawah lampu jalanan kota yang mulai menyala satu per satu, Timy mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Kepalanya pening. Di satu sisi, ada Nawang yang melangkah maju dengan kedewasaannya, meninggalkan Timy yang dianggapnya masih kekanak-kanakan.
Di sisi lain, ada Naya yang menariknya mundur ke belakang, mengurungnya dalam ruang bawah tanah penuh trauma dan ketergantungan.
Timy tertawa sinis di balik helmnya.
Selama ini dia merasa menjadi pusat semesta di sekolah karena statusnya sebagai kapten basket dan anak orang kaya.
Tapi sore ini, dia sadar dia hanyalah seorang pengecut yang terjebak di antara dua perempuan—yang satu terlalu kuat untuk dia genggam, dan yang satu terlalu rapuh untuk dia lepaskan.
......................
...****************...
Tbc,