Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 28
"Tapi sekarang kamu berani mencubit lenganku di supermarket, kan?" goda Khadafy dengan binar jenaka yang berkilat di balik sorot matanya yang pekat. "Atau memprotes cara potong kentangku yang ketebalan?"
"Mas Khadafy!" sergah Zheana gemas, pipinya mendadak terasa panas.
"Itu kan refleks karena Mas bikin kaget! Lagi pula, siapa yang memprotes? Zhea cuma mengingatkan..."
"Apapun itu, Zhea," potong Khadafy pelan, suaranya melembut dramatis, menghentikan kalimat defensif istrinya.
"Aku jauh lebih bersyukur kamu yang sekarang. Yang berani menatap mataku, yang berani bicara terbuka, dan tidak lagi menarik diri karena batasan yang memang sudah tidak ada lagi di antara kita."
Zheana membisu. Binar lampu remang televisi memantulkan kilau di manik mata Khadafy, menampilkan ketulusan tanpa sisa. Pengakuan jujur itu sukses membuat dada Zheana berdesir hebat, melelehkan sisa kebingungan yang sempat menggelayutinya sejak pagi.
"Terima kasih, Mas..." bisik Zheana lirih, jemarinya membalas remasan pelan pada genggaman tangan Khadafy.
"Makasih karena udah buat Zhea merasa dihargai di sini."
Khadafy mengangguk tipis, mengusap puncak jilbab instan yang dikenakan Zheana dengan begitu protektif.
"Sudah makin malam. Besok kamu harus bangun pagi untuk ke kantor, Manajer Marketingku."
"Mas! Zhea kan belum terima promosinya!" protes Zheana seraya tertawa kecil, meloloskan diri dari usapan Khadafy dan berdiri dari sofa.
Namun, tawa manis Zheana mendadak surut saat matanya tak sengaja melirik ke arah koridor menuju kamar utama. Kesadaran baru menghantam kepala Zheana dengan keras, malam ini adalah malam pertama mereka di penthouse ini sebagai suami istri sah. Tidak ada lagi kamar terpisah seperti di rumah lama, dan tidak ada lagi batasan syariat untuk mereka saling menghindar.
Khadafy yang menyadari perubahan raut wajah istrinya melangkah perlahan mendekati meja untuk mematikan televisi.
"Kenapa, Zhea?"
"Nggak apa-apa, Mas," jawab Zheana terbata. Jemarinya meremas tepi bajunya sendiri.
"Zhea... Zhea mau ganti baju dulu di kamar mandi."
"Kamar mandi di dalam kamar utama lengkap, Zhea. Baju ganti dan perlengkapanmu sudah dipindahkan ke lemari utama tadi siang," tutur Khadafy tenang, seolah tak mendeteksi kepanikan luar biasa yang tengah membakar dada istrinya.
Zheana menelan ludah dengan susah payah. Dengan langkah pelan yang dipaksakan, ia berjalan mendahului Khadafy menuju kamar utama.
Kamar berukuran luas itu tampak begitu elegan dengan nuansa warna monochrome dan krem yang hangat. Di tengah ruangan, berdiri sebuah king-size bed bergaya modern dengan seprai abu-abu gelap yang rapi. Zheana buru-buru menyambar pakaian tidurnya dari dalam lemari besar dan melesat masuk ke dalam kamar mandi secepat kilat.
Di dalam kamar mandi, Zheana bersandar pada pintu kayu yang tertutup rapat. Matanya membelalak menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya merah padam, napasnya naik turun tak beraturan.
"Duh, Zhea... tenang, tenang," bisiknya pada diri sendiri seraya menepuk-nepuk kedua pipinya.
"Mas Khadafy itu suami sah kamu. Secara hukum dan agama, udah halal... tapi kok tetep deg-degan banget sih!"
Setelah menghabiskan waktu hampir dua puluh menit untuk cuci muka, menggosok gigi, dan mengganti pakaian dengan setelan piyama kain katun berlengan panjang lengkap dengan jilbab bergo instan rumahan yang rapi, Zheana akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar mandi.
Cklek.
Uap hangat terpancar keluar, dan pandangan Zheana langsung tertuju pada ranjang. Khadafy sudah berada di sana, bersandar pada headboard ranjang seraya menyimak sesuatu dari komputer tablet di tangannya. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan kaus hitam polos yang santai dan celana kain panjang. Rambut basahnya yang sedikit berantakan membuat penampilannya terlihat jauh lebih muda dan santai.
Khadafy mendongak saat mendengar pintu terbuka. Matanya meneliti penampilan Zheana dari atas ke bawah, terutama jilbab bergo yang masih melekat erat menutup kepala istrinya.
Sebelah alis Khadafy terangkat tipis.
"Kamu... mau tidur pakai jilbab, Zhea?"
Zheana seketika membeku di tempatnya berdiri, tangannya refleks memegang pinggiran jilbabnya.
"Eh? Iya, Mas... Maksudnya... Zhea masih refleks, belum terbiasa..."
Khadafy meletakkan tabletnya di meja samping ranjang. Pria itu menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelah kirinya.
"Pintu kamar ini terkunci rapat, Zhea. Tidak ada orang lain di sini selain aku, suamimu," tutur Khadafy dengan suara rendah yang menenangkan.
"Secara syariat, aku sudah mahram mu yang paling berhak. Kamu tidak perlu menutupi auratmu dariku lagi. Buka jilbabmu agar tidurmu lebih nyaman."
Zheana meremas jemarinya. Dengan gerakan canggung dan napas bergetar, jemarinya perlahan terangkat merapikan bergo instannya, lalu melepas kain itu pelan-pelan. Rambut hitam pekatnya yang lurus dan harum mengurai jatuh melewati bahunya.
Khadafy terpana sejenak. Sorot matanya yang pekat meredup, mengagumi keindahan alami istrinya yang selama ini tersembunyi rapat di balik kain jilbab karena menjaga kehormatan.
Dengan langkah ragu yang amat canggung, Zheana berjalan mendekati sisi ranjang. Ia merayap naik ke atas kasur empuk itu, mengambil tempat paling pinggir hingga tubuhnya hampir merapat ke tepi ranjang. Ia menarik selimut tebal hingga menutup sebatas dadanya, berbaring kaku bagaikan patung dengan mata menatap lurus ke langit-langit kamar.
Bruk.
Suara gerakan Khadafy yang mematikan lampu meja samping membuat kamar mereka kini hanya diterangi pendar lampu tidur dim berwarna kuning hangat.
Selang beberapa detik, Zheana merasakan kasur di sampingnya membal naik turun saat Khadafy memperbaiki posisi berbaringnya. Bau harum sabun beraroma kayu maskulin milik Khadafy langsung menyergap penciuman Zheana dari jarak yang amat dekat.
"Kenapa tidurnya di ujung sekali, Zhea?" suara bariton Khadafy berbisik di kegelapan, terdengar begitu dekat dari telinga kanan Zheana.
Nanti kamu jatuh."
"Nggak kok, Mas... Di sini pas," cicit Zheana dengan suara mencicit yang amat pelan. Jantungnya berdegup gila-gilaan, ketakutan kalau-kalau suara detak dadanya bisa terdengar oleh pria di sampingnya.
Tiba-tiba, sebuah lengan tegap merayap di atas pinggang Zheana.
Zheana menahan napas seketika saat Khadafy menarik tubuh mungilnya dengan sekali gerakan lembut namun pasti, mengikis jarak lebar di antara mereka hingga punggung Zheana bersentuhan penuh dengan dada bidang Khadafy yang hangat. Pria itu memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Zheana, lalu menyandarkan dagunya dengan rileks di ceruk bahu istrinya.
"Mas Khadafy..." bisik Zheana panik, tubuhnya kaku tak berani bergerak sedikit pun.
"Tidur, Zhea," bisik Khadafy dekat di lehernya, napas hangatnya menyapu kulit sensitif Zheana hingga bulu kuduk gadis itu meremang hebat.
"Aku tidak akan melangkah lebih jauh jika kamu belum siap. Tapi biarkan aku memeluk istri sahku malam ini. Aku hanya ingin tidur dengan tenang."
Zheana menggigit bibir bawahnya, merasakan kehangatan yang mengalir dari dekapan kokoh Khadafy. Rasa canggung yang semula memuncak perlahan-lahan luruh, tergantikan oleh rasa aman karena berada dalam dekapan pria yang kini menjadi pelindung halal dalam hidupnya. Jemari mungil Zheana perlahan terangkat, mengelus lembut jemari besar Khadafy yang berada di atas perutnya.
"Selamat tidur, Mas Khadafy..." bisik Zheana pelan.
Khadafy mengecup singkat puncak kepala Zheana yang beraroma sampo manis, lalu mempererat pelukannya.
"Selamat tidur, Zheana."