Di balik utang yang mencekik, janji gaib menanti di atas bukit.
Terdesak tagihan, biaya sekolah tertunggak, dan ancaman penyitaan toko besok pagi, seorang ayah di ujung keputusasaan mendengar rahasia: tetangganya Pak Kasan mendadak kaya setelah mendatangi Simbah, juru kunci Makam Keramat Panjang.
Makam berukuran tak lazim di bukit itu konon memberi pinjaman tanpa bunga bagi yang terdesak. Tapi di dunia gaib, tak ada yang benar-benar gratis. Saat wangi pandan basah dan tanah kuburan mulai menyelimuti kamarnya, ia harus memilih sebelum subuh: seberapa mahal harga yang dibayar, saat yang dipertaruhkan bukan harta, melainkan nyawa sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — RITUAL TUJUH CEMANI
Hari Selasa Kliwon yang ditunggu akhirnya tiba membungkus seluruh lereng bukit dengan kabut tebal.
Hujan gerimis membendung desa sejak sore, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.
Aku berdiri kaku di tengah ruang dapur, merapikan tujuh botol kaca berisi minyak mawar segar di dalam goni.
Di samping meja kayu dapur, keranjang bambu berisi tujuh ekor ayam cemani hitam membisu tanpa suara.
“Mas... apakah kamu benar-benar harus menyembelih tujuh ekor ayam hitam ini malam ini?” tanya Ningsih berbisik gemetar.
Istriku melangkah mendekat sambil memeluk tubuh Dedek yang tertidur lelap di ranjang bambu kamar.
“Iya, Ningsih, ritual malam Selasa Kliwon ini adalah pengikat kejayaan toko grosir kita,” jawabku pelan.
“Apakah kamu tidak takut melangkah sendirian menembus kegelapan hutan pekat itu, Mas?” tanyanya cemas.
“Aku jauh lebih takut kalau sampai keselamatan anak dan istriku terancam lagi, Ningsih,” tegasku.
“Aku takut sekali kalau raga dan jiwamu ditarik permanen oleh iblis makam itu, Mas,” rintih Ningsih menangis.
“Jangan biarkan rasa cemas merusak pikiranmu malam ini, Ningsih,” bujukku pelan memegang bahunya.
“Aku pasti akan pulang kembali membawa keselamatan buat keluarga kita,” janji serakku menenangkan.
“Tolong jaga Dedek baik-baik di dalam kamar tidur selama aku pergi ke puncak bukit,” pesanku mengarahkan.
“Iya, Mas, aku akan memeluk Dedek di kamar dan berdoa terus sampai kamu kembali,” sahut Ningsih terisak.
“Jangan pernah membuka pintu dapur buat siapa pun sebelum mendengar ketukan tiga kali dariku,” pesanku lagi.
“Baik, Mas, aku mengerti pesanmu, aku pasti akan menunggu ketukan tiga kali darimu,” janji Ningsih.
Aku mengangguk pelan, lalu menyelipkan bilah pisau dapur tajam yang sudah diasah di saku kemeja.
Keranjang bambu berisi tujuh ekor ayam cemani hitam kuangkat erat memakai jemari tangan kiri.
Aku melangkah keluar lewat pintu dapur belakang, menembus lelehan air hujan dan kegelapan malam.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku yang bertelanjang menapak cepat di atas permukaan jalanan tanah setapak yang basah.
Gumpalan lumpur dingin dan embun malam membilas jemari kakiku di sepanjang tanjakan bukit.
Aroma bau pandan basah dan wangi kamboja busuk tercium menyengat menyertai setiap helaan napasku.
“Tolong berikan hamba keberanian dan perlindungan ya Allah buat melewati ujian gaib ini!” mohonku gemetar.
Jalanan tanah setapak menuju puncak bukit terasa kian menanjak licin dan sangat gelap pekat.
Keranjang bambu berisi tujuh ekor ayam hitam di tangan kiriku terasa dingin membekukan bagaikan es.
Srik!
Suara gersak dedaunan kering di balik rumpun bambu membuat langkah kakiku mendadak terhenti kaku.
Bayangan hitam tinggi besar berdiri membungkuk di balik rimbunan pohon pisang liar.
Dua titik mata merah menyala menatapku lurus-lurus dari balik kegelapan semak-semak hutan.
“Siapa yang berdiri di balik pohon pisang itu?” tanyaku berbisik dengan nada suara bergetar hebat.
“Apakah kamu utusan gaib dari Makam Keramat Panjang yang sengaja mengawasi langkahku?” tanyaku tegang.
“Jawab pertanyaan saya sekarang kalau kamu memang penunggu hutan ini!” seruku berusaha tegar.
Tidak ada jawaban suara kata manusia yang membalas bisikan ketakutanku di tengah hutan sepi.
Namun desah napas dingin berbau bangkai busuk terasa menyapu lembut tengkuk leher kiriku.
Suara tawa serak seorang wanita tua mendadak bergema sangat dekat di samping daun telinga.
“Surya... bawa tujuh ayam cemani hitam itu ke batu nisan tempat rumahku...” bisik suara gaib itu.
“Sembelih lehernya dan siramkan tujuh liter minyak mawar di atas tanahku...” tambah suara mendesis.
“Anak dan istri mu di rumah sedang menunggu kepulanganmu membawa kepastian...” lanjut suara dingin itu.
Seluruh bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak bagaikan ditusuk ribuan jarum es membekukan.
“Ingat pesan Ujang, jangan pernah menoleh ke belakang sedikit pun!” bisikku mengingatkan diri.
“Fokuskan pikiran cuma buat sampai ke puncak bukit makam keramat!” tegasku menguatkan hati.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, lalu melangkah berlari sekuat tenaga menaiki tanjakan bukit.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras di atas bebatuan licin dan perakaran pohon jati tua yang melilit.
Di ujung tanjakan bukit, dua tiang batu hitam berlumut berdiri menatap anggun dan angker.
Makam Keramat Panjang terhampar membisu di bawah naungan pohon kamboja raksasa yang rindang.
Gundukan tanah makam sepanjang lima meter itu membentang kaku di atas tanah pelataran bukit.
Cklek!
Suara dentang jam dinding dari balai desa di kejauhan terdengar berbunyi dua belas kali berturut-turut.
Tepat pukul dua belas malam, puncaknya malam Selasa Kliwon yang paling sakral dan mengerikan.
Aku menuntun langkahku mendekati batu nisan tua di ujung gundukan tanah makam dengan tubuh gemetar.
Lututku bergetar hebat saat aku berlutut di atas tanah merah yang basah berembun dingin.
“Permisi, Mbah... saya Surya datang membawa sajen tujuh ayam cemani Selasa Kliwon,” bisikku gemetar.
“Saya datang buat menepati janji pengikat kejayaan toko grosir keluarga saya,” tambahku serak.
“Saya mohon dengan sangat, lindungilah anak dan istri saya dari bahaya gaib,” pintaku memohon ampun.
Grombol!
Tanah merah di atas gundukan makam sepanjang lima meter itu mendadak berguncang sangat hebat.
Retakan-retakan tanah terbuka lebar, mengeluarkan asap hitam tebal yang berbau bangkai menyengat.
Dua lengan hitam raksasa berdaging busuk menerobos keluar dari dalam gundukan tanah makam.
Jemari berkerut dengan kuku-kuku hitam panjang mencengkeram erat pinggiran batu nisan tua.
Sosok mahluk raksasa tinggi besar membungkuk berdiri perlahan di atas gundukan tanah makam.
Wajahnya yang hancur membusuk tidak memiliki hidung, dan dua titik matanya menyala merah terang.
“Surya... kamu datang membawa tujuh ayam cemani dan tujuh liter minyak mawar...” gemuruh suara gaib.
“Apakah kamu benar-benar membawa tujuh ekor ayam cemani hitam mulus tanpa cacat malam ini?” tanyanya.
Aku terpaku kaku berlutut di atas tanah basah, dadaku bergemuruh dihantam rasa takut luar biasa.
“Saya datang membawa tujuh ekor ayam cemani hitam mulus tanpa cacat sesuai janji, Mbah,” sahutku bergetar.
“Saya juga membawa tujuh botol kaca minyak mawar segar di dalam kantong goni ini,” tambahku menjelaskan.
“Siramkan seluruh minyak mawar itu ke atas batu nisanku dari ujung ke ujung!” perintah mahluk raksasa itu.
“Sembelih leher tujuh ekor ayam cemani itu dan tumpahkan darahnya tepat di atas nisanku!” serunya.
Grojok!
Dengan jemari gemetar hebat, aku melepaskan sumpul tujuh botol kaca minyak mawar dari tas goni.
Cairan minyak mawar harum menyiram permukaan batu nisan, menyebarkan aroma wangi gaib yang sangat pekat.
Setelah itu, aku membuka selot keranjang bambu, mengeluarkan seekor demi seekor ayam cemani hitam.
Aku menekan leher ayam cemani pertama rapat-rapat di atas permukaan batu nisan tua yang berlumur minyak.
Aku merogoh pisau dapur tajam dari saku kemeja memakai jemari tangan kiri yang bergetar keras.
Sret!
Bilah pisau dapur tajam kugoreskan keras menembus urat leher ayam cemani hitam pertama tersebut.
Darah segar berwarna merah gelap memancar keras menyembur membasahi permukaan batu nisan tua.
Grojok!
Aroma wangi amis darah menyengat pekat membumbung tinggi bercampur dengan asap hitam makam.
Ayam cemani pertama berguncang kejang sebentar di atas nisan sebelum akhirnya terkulai mati kaku.
Satu per satu hingga tujuh ekor ayam cemani hitam kusembelih lehernya di atas permukaan batu nisan tua.
Darah segar dari tujuh ekor ayam cemani hitam mengalir deras membungkus batu nisan, meresap ke dalam tanah.
Begitu darah tujuh ayam cemani terserap tanah, mahluk raksasa itu mengaum keras mengerikan.
Auman gaib itu bergemuruh hebat mengguncang seluruh pepohonan hutan dan tanah pelataran bukit.
“Darah manis tujuh ayam cemani ini sangat nikmat membakar dahagaku yang menanti!” seru mahluk itu.
“Wangi tujuh liter minyak mawar ini menyempurnakan penetapan pengikat kejayaan tokomu!” tambahnya.
Mahluk raksasa itu membungkukkan wajah hancurnya tepat di atas batu nisan yang berlumur darah.
Mulut besarnya yang bertaring tajam mengisap lelehan darah segar tujuh ayam cemani dari batu nisan.
Pendar cahaya merah menyala dari matanya makin berkilau terang di dalam kegelapan malam.
“Sajen darah tujuh ayam cemani Selasa Kliwon sudah kuterima utuh dan sempurna, Surya!” gemuruh suara gaib.
“Toko grosirmu akan tetap menjadi yang paling kaya dan tak tertandingi di pelosok negeri!” tegas mahluk itu.
“Segel sisik hitam di lehermu akan tetap terkunci rapat tanpa merambat menelan mukamu!” lanjutnya.
Jantungku melonjak keharuan luar biasa mendengar terkuncinya penyebaran sisik hitam di leherku.
“Terima kasih banyak, Mbah! Terima kasih atas perlindungan dan kejayaan toko saya!” jeritku gemetar.
“Ingat baik-baik, ikatan perjanjian modal gaib ini tetap berlaku abadi seumur hidupmu!” ancam mahluk itu.
“Setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon kamu wajib datang menyembelih darah segar!” tegasnya.
“Tanda nisan di kuku jempolmu dan sisik hitam di lehermu adalah segel abadi milikku!” lanjut mahluk itu.
“Kalau kamu alpa satu kali saja... nyawa anak dan istri mu yang langsung kucabut masuk!” gertaknya keras.
“Saya janji tidak akan pernah alpa, Mbah! Saya akan selalu datang mematuhi perintah!” sahutku bersumpah.
“Saya akan rajin membawa sajen dan menyembelih darah segar setiap jadwal ritual!” janjiku.
“Pulanglah sekarang sebelum kegelapan malam menelan raga dan jiwamu!” perintah mahluk raksasa itu.
“Pergilah sekarang menemui istri dan anakmu yang sedang menunggu di rumah!” serunya bergemuruh.
Aku menyambar keranjang bambu dan pisau dapur, lalu berbalik berlari sekuat tenaga menuruni bukit.
Drap! Drap! Drap!
Langkah kakiku menapak deras menembus kegelapan jalanan tanah setapak yang licin berembun.
Aroma wangi bunga kantil busuk dan bau bangkai perlahan-lahan memudar hilang ditiup angin.
Sesampainya di halaman rumah panggung, aku segera mendorong pintu dapur belakang dan menguncinya.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu dapur tiga kali sesuai dengan kode janji yang kubuat bersama Ningsih.
Ningsih bergegas membuka selot kayu pintu dapur dari dalam dengan raut wajah lega luar biasa.
“Alhamdulillah ya Allah... kamu sudah pulang kembali dengan selamat, Mas!” jerit Ningsih memelukku.
“Aku sudah menuntaskan ritual sajen tujuh ayam cemani di atas bukit, Ningsih,” jawabku pelan.
Aku meletakkan pisau dapur bernoda darah dan keranjang bambu di atas meja kayu dapur.
Dedek sedang tertidur pulas di atas ranjang bambu dengan nafas yang sangat halus dan teratur.
Wajah anak kami terlihat sangat bersih, hangat, dan bebas dari bekas pendar memar hitam gaib.
“Bagaimana kondisi tempat makam keramat itu saat kamu menyembelih tujuh ayam tadi, Mas?” tanya Ningsih.
“Suasana di makam itu sangat mencekam dan menakutkan, Ningsih,” jawabku berbisik jujur.
“Apakah mahluk gaib penunggu makam itu benar-benar menerima tujuh ayam cemanimu, Mas?” tanya Ningsih.
“Mahluk itu menerima seluruh sajen tujuh ayam cemani dan tujuh liter minyak mawar, Ningsih,” tuturnya.
“Penunggu makam sudah menyegel sisik hitam di leherku tanpa merambat lagi,” tambahku.
“Beliau bilang raga dan keselamatan keluarga kita aman selama aku mematuhi jadwal,” tuturku menghibur.
“Alhamdulillah ya Allah... terima kasih banyak sudah menyelamatkan keluarga kami malam ini,” rintih Ningsih.
“Tapi tolong perlihatkan leher dan ibu jari tangan kananmu sekarang, Mas,” minta Ningsih berbisik cemas.
Aku perlahan melepaskan kerah kemeja leher tinggiku dan balutan perban di leher tangan kanan.
Di bawah pendar redup lampu minyak tanah, pemandangan keajaiban dan ketegangan terlihat jelas.
Sisik hitam tebal yang membungkus leher kananku tetap membeku kaku tepat di garis bawah rahang.
Sisik hitam gaib itu tidak merambat naik ke wajahku, namun memancarkan pendar kebiruan redup abadi.
Di ibu jari tangan kananku, noda hitam batu nisan di bawah kuku masih terukir sangat rinci.
“Mas... sisik hitam di lehermu benar-benar terkunci dan tidak merambat ke mukamu!” jerit Ningsih gemetar.
“Sisik hitam ini adalah segel abadi yang wajib kubawa seumur hidupku, Ningsih,” jawabku.
“Selama aku mematuhi jadwal ritual, sisik hitam ini tidak akan membahayakan kalian,” jelasku.
“Apakah rasa dingin menyengat di lehermu ini masih terasa menyiksa saat kamu bernapas, Mas?” tanya Ningsih.
“Rasa nyerinya membeku kaku, tapi aku sanggup menahannya demi kebahagiaan kalian,” jawabku.
Ningsih memeluk erat tubuhku, menangis terisak di atas dadaku dengan kepasrahan yang dalam.
“Aku akan selalu menemanimu menghadapi ujian berat perjanjian ini, Mas,” bisik Ningsih penuh haru.
“Kita tanggung beban gaib ini bersama-sama demi masa depan dan keselamatan Dedek,” sambungnya.
Aku membalas pelukan Ningsih dengan derai air mata keharuan dan tekad yang makin terpatri bulat.
Dedek menggeliat pelan di atas ranjang bambu, tersenum manis di dalam tidurnya yang tenang.
Wajah anak kami terlihat sangat polos, dilindungi oleh pengorbanan raga dan jiwa ayahnya sendiri.
Perjanjian berdarah di Makam Keramat Panjang kini telah resmi menyegel garis takdir hidupku.
Sisik hitam di leherku dan noda nisan di kuku jempolku akan menjadi saksi abadi pengorbananku.
---