Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan Ayah
Waktu perlahan merambat naik. Jarum jam dinding berukir kayu di ruang tamu sudah menunjuk tepat ke angka delapan malam. Kegelapan sore sepenuhnya telah digantikan oleh pekatnya malam yang merayap dingin dari luar halaman.
Adrian melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu menyunggingkan senyum sopan ke arah Ayah yang baru saja menyandarkan punggungnya di sofa.
"Om, sepertinya sudah makin malam," pamit Adrian lembut seraya beranjak berdiri dari tempat duduknya. "Saya izin pamit pulang dulu. Tidak enak juga mengganggu waktu istirahat Om yang baru saja sampai dari Bandung."
Ayah ikut berdiri, menepuk pelan bahu tegap Adrian dengan hangat. "Ah, sama sekali tidak mengganggu, Adrian. Justru Om senang bisa mengobrol santai seperti ini. Terima kasih ya sudah mampir dan menemani Sera."
"Sama-sama, Om," sahut Adrian ramah seraya menjabat tangan Ayah penuh hormat. "Saya pamit dulu, Om."
"Hati-hati di jalan ya, Nak." tutur Ayah tersenyum hangat.
Aku melangkah mendampingi Adrian menuju teras depan. Suasana malam terasa begitu sejuk saat kami melintasi ambang pintu. Adrian berjalan menghampiri motor besar hitamnya yang terparkir anggun di halaman rumahku. Saat ia meraih helm dan mengenakannya, matanya kembali menatapku lurus di bawah temaram pendar lampu teras.
Ada jeda hening yang membisu di antara kami. Tatapan matanya malam ini terasa berbeda, ada sorot kehangatan yang teramat familier.
"Sera," panggilnya pelan, suaranya teredam tipis oleh helm yang sudah terpasang rapi.
"Iya, Mas?"
"Gelangnya... dipake ya," bisiknya lembut. "Mas sungguh-sungguh bikin itu buat kamu."
Aku menunduk sejenak, membayangkan kotak kado berisikan gelang tali hitam dengan inisial SL yang masih tergeletak anggun di meja ruang tamu. "Makasih ya, Mas. Mas hati-hati di jalan."
Adrian menyunggingkan senyum tipis yang terlihat jelas dari binar matanya. Tangannya terulur mengusap pelan puncak kepalaku, usapan lembut dan protektif yang selalu sanggup menggetarkan relung hatiku, meski kini ada serpihan ragu yang mengganjal di dalam dada.
"Mas pulang dulu ya. Selamat malam, Sera."
Mesin motor besarnya meraung halus sebelum akhirnya melaju membelah kegelapan jalanan komplek. Aku berdiri membatu memandangi pendar merah lampu belakang motornya yang perlahan menghilang di belokan ujung gang, menyisakan deru angin malam yang menyapu dingin di permukaan kulitku.
Setelah mengunci pintu pagar depan dan menutup pintu kayu rumah rapat-rapat, aku melangkah kembali ke ruang tamu. Ayah tampak sedang memindahkan kotak gelang pemberian Adrian ke tepi meja agar tidak tersenggol, lalu menduduki kembali sofa empuknya seraya menghembuskan napas lega.
Aku berjalan menuju dapur, menyeduh dua gelas teh hangat manis untuk kami berdua. Begitu kembali ke ruang tamu, aku meletakkan nampan di atas meja, lalu mendudukkan diriku di sofa tepat di samping Ayah. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh, sebuah kebiasaan manja yang sudah lama tidak kulakukan karena Ayah lebih sering menghabiskan waktu bertugas di luar kota.
"Kangen Ayah..." gumamku pelan seraya melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya.
Ayah terkekeh hangat, melingkarkan tangannya di bahuku dan mengusap rambutku dengan kasih sayang yang amat dalam. "Ayah juga kangen banget sama anak gadis Ayah ini. Maaf ya, Ayah cuma bisa pulang beberapa bulan sekali."
"Enggak apa-apa, Yah. Yang penting Ayah sehat-sehat di Bandung," sahutku tulus.
Suasana ruang tamu terasa teramat hangat dan menenangkan. Di bawah temaram cahaya lampu gantung, kami mulai mengobrolkan banyak hal. Ayah menceritakan dinamika pekerjaan proyek pembangunan gedung di Bandung yang sedang ditanganinya. Beliau bercerita tentang betapa dinamisnya kota itu, tentang hawa dingin daerah Dago di malam hari, hingga kebiasaan Ayah yang sering berburu kuliner malam sepulang dari tapak proyek.
Aku mendengarkan setiap tuturan kata Ayah dengan saksama. Setiap cerita tentang Bandung selalu berhasil memantik binar impian yang membara di dalam mataku.
"Terus... soal sekolah kamu gimana, Nak?" tanya Ayah mengalihkan pembicaraan, menatap wajahku lembut. "Kenaikan kelas kemarin lancar, kan? Teman-teman kamu gimana?"
Aku tersenyum mekar, menceritakan perkembangan sekolahku di kelas sepuluh lalu. Aku menceritakan tentang persahabatanku dengan Naura yang makin erat meski kami berbeda sekolah, tentang kelakuan lucu Dini dan Celine di kelas, hingga kemenangan kelompokku meraih nilai tertinggi di pelajaran Seni Budaya gara-gara musikalisasi puisi kemarin.
Ayah mendengarkan seraya sesekali tertawa renyah, manggut-manggut bangga atas pencapaianku. Namun di sela-sela cerita itu, mata bijak Ayah mendadak melirik ke arah kotak kado gelang berinisial SL di atas meja.
"Adrian itu..." Ayah membuka suara dengan nada tenang namun sarat akan makna. "Anaknya sopan ya. Pembawaannya juga dewasa."
Jantungku sempat berdesir pelan mendengarnya. "Iya, Yah. Mas Adrian emang baik."
"Kalian sudah berapa lama dekat?" tanya Ayah santai, namun tatapannya menembus langsung ke dalam manik mataku.
"Hampir setahunan, Yah," jawabku jujur seraya menunduk memainkan jari-jemariku.
Ayah diam sejenak, menyesap teh hangatnya perlahan sebelum kembali berucap.
"Sera... Ayah ini laki-laki. Ayah paham betul bagaimana cara laki-laki menatap wanita yang dia sayangi."
Ucapannya membuatku mendongak menatap Ayah dengan dada yang berdebar kencang. Aku membisu, membiarkan kata-kata Ayah meresap dalam-dalam ke relung pikiran.
Ayah merangkul pundakku lebih erat, menyalurkan kehangatan seorang pelindung. "Sera anak Ayah yang pintar. Di usia kamu sekarang, wajar kalau kamu mulai mengenal rasa suka dan dekat sama seseorang. Tapi ingat pesan Ayah ya... fokus utama kamu di kelas sebelas ini adalah mengejar impian kamu sendiri. Jangan pernah mengorbankan masa depan atau cita-cita kamu hanya demi menjaga perasaan orang lain."
"Tapi Ibu maunya Sera masuk Kebidanan, Yah..." bisikku luntur.
Ayah tersenyum lebar, mengacak rambutku gemas. "Soal Ibu, biar Ayah yang urus. Ibu kamu itu cuma khawatir karena teknik itu identik dengan dunia laki-laki yang keras. Tapi kalau Sera memang sungguh-sungguh mau ke ITB, mau belajar teknik seperti Ayah dulu, Ayah bakal pasang badan untuk mendukung kamu sepenuhnya. Bandung itu kota yang indah, Nak. Ayah ingin kamu melebarkan sayap di sana."
Air mata haru menyelinap halus di sudut mataku. Dukungan tulus dari Ayah rasanya bagai bahan bakar baru yang menyiram kobaran semangatku yang sempat redup oleh urusan asmara yang tak berarah.
"Terima kasih ya, Yah..." bisikku seraya memeluk pinggang Ayah erat-erat. "Sera janji bakal belajar makin giat di kelas sebelas nanti."
"Itu baru anak Ayah," puji Ayah bangga seraya mencium dahiku hangat.
Malam makin melarut ketika Ayah akhirnya pamit masuk ke kamar utama untuk beristirahat. Aku merapikan cangkir-cangkir bekas teh di dapur, mematikan lampu ruang tamu, lalu melangkah menuju kamarku sendiri seraya membawa kotak hadiah dari Adrian.
Di dalam kamar yang sunyi, aku mendudukkan diri di tepi tempat tidur. Kuambil gelang tali hitam berinisial SL itu dari dalam wadah beludrunya. Di bawah sinar lampu kamar yang kekuningan, ukiran perak huruf SL itu berkilau indah dan presisi.
Seraphine Luna.
Aku memandangi gelang itu dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ada kehangatan dan rasa sayang pada Adrian yang telah mewarnai seluruh perjalanan kelas sepuluhku. Namun di sisi lain, nasihat Ayah malam ini seolah membuka mataku lebar-lebar.
Aku melingkarkan gelang tali hitam itu di pergelangan tangan kiriku. Tali teranyamnya terasa pas, cantik, dan memberikan rasa dingin yang menenangkan di permukaan kulitku.