Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suster itu bernama Lia.
Rambutnya diikat rapi, wajahnya masih muda, mungkin tidak jauh dari umur Anya. Tas medis besar berwarna biru tua tergantung di bahunya. Di dadanya tersemat name tag kecil bertuliskan Lia - Homecare.
Arhan pun berkenalan. Ia mengulurkan tangan dengan sedikit gugup, telapak tangannya masih dingin dan sedikit lengket karena tadi memegang kaleng kornet.
"Pagi, Suster. Saya Arhan, suaminya Anya," kata Arhan, suaranya pelan.
"Pagi, Pak Arhan," jawab Suster Lia ramah. "Saya Lia, perawat yang ditugaskan Dokter Rendra untuk cek harian Ibu Anya. Tidak apa-apa saya masuk sekarang?"
Sebelum mempersilahkan masuk, Arhan menahan pintu sedikit. Ia melihat sekilas ke arah dapur, memastikan Anya tidak mendengar.
Dengan gugup mengatakan kepada suster itu, dengan suara yang hampir berbisik.
"Suster... maaf, boleh saya bicara sebentar?"
Suster Lia mengangguk. "Boleh, Pak. Silakan."
Arhan menarik napas pendek. Kalimat Dokter Rendra kemarin berputar di kepalanya.
Kita sudah melakukan semua pemeriksaan lanjutan. Hasil biopsi dan CT scan terakhir mengkonfirmasi apa yang kita takutkan. Kanker serviks istri Bapak, Ibu Anya, sudah berada di stadium lanjut. Penyebarannya cukup agresif.
"Begini, Suster. Soal yang kemarin Dokter Rendra bilang. Yang kanker serviks stadium lanjut itu... yang tiga puluh hari itu..." ucap Arhan terbata-bata. Ia tidak sanggup melanjutkan.
Suster Lia langsung mengerti.
"Pak Arhan belum memberi tahukan Ibu Anya tentang hasil biopsi dan CT scan terakhir dari Dokter Rendra?" tanya Lia pelan.
Arhan menggeleng cepat, matanya menunduk ke lantai.
"Belum, Suster. Pas masih di ruang rumah sakit kemarin, Anya sempat tanya ke saya kondisinya gimana. Anya kan sudah tau dari awal dia kanker serviks, Suster. Tapi dia belum tau kalau sudah stadium lanjut dan agresif. Dia belum tau soal tiga puluh hari itu."
Ia mengangkat wajahnya, menatap Suster Lia dengan tatapan memohon.
"Jadi nanti kalau memeriksa, tolong jangan bilang yang sebenarnya dulu ya, Suster. Jangan bilang soal stadium lanjut itu, jangan bilang soal tiga puluh hari itu. Saya takut Anya kaget. Saya janji nanti saya yang akan bilang sendiri pelan-pelan."
Suster Lia pun mengerti. Ia mengangguk pelan.
"Saya paham, Pak Arhan. Banyak keluarga yang seperti ini. Tidak apa-apa. Saya di sini cuma untuk cek kondisi umum, tensi, suhu, dan pastikan obatnya diminum teratur. Soal hasil biopsi dan CT scan terakhir, saya tidak akan menyinggung sama sekali. Bapak tenang saja."
Mendengar itu, dada Arhan terasa sedikit lega.
"Terima kasih, Suster."
"Iya, Pak."
Arhan mempersilahkan suster itu dan memintanya duduk di ruang tamu. Ruang tamu kecil mereka dengan sofa kain yang sudah agak pudar warnanya.
"Silakan duduk dulu, Suster. Saya panggil istri saya dulu. Dia ada di dapur."
Suster Lia duduk, meletakkan tas medisnya di sampingnya.
Arhan kembali ke dapur.
Anya masih terdiam. Ia masih duduk di kursi kayu yang sama, di depan mangkok kaca yang berantakan itu. Tangannya yang belepotan telur mentah ia letakkan di atas pahanya, diam. Matanya menatap kosong ke arah mangkok itu. Kuning telur yang pecah tidak sempurna dan cangkang-cangkang kecil bertebaran.
Arhan mencoba menenangkan Anya. Ia berjongkok lagi di samping Anya, mengambil tisu dan dengan sangat hati-hati membersihkan sisa telur di tangan Anya. Gerakannya pelan.
"An," panggilnya pelan.
Anya tidak menjawab, hanya menunduk.
"An, lihat aku," kata Arhan lembut.
Anya akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah, basah.
"Maaf ya, Han. Aku tidak bisa... bahkan telur saja aku gagal," bisiknya.
Arhan menggeleng keras. Ia meraih kedua tangan Anya yang sudah ia bersihkan, menggenggamnya erat.
"Tidak, An. Kamu tidak gagal. Kamu hebat. Kamu sudah berusaha. Omeletnya belum jadi bukan karena kamu tidak bisa, tapi karena aku yang belum nyalain kompornya. Salah aku, bukan salah kamu."
Anya tersenyum kecil, sangat kecil.
"Dan sekarang," lanjut Arhan, "ada suster yang datang. Dia mau periksa kamu sebentar, ya? Biar kamu cepat enakan lagi, biar besok kita bisa coba masak lagi bareng. Mau ya?"
Anya pun bersedia. Ia mengangguk pelan. "Mau."
Arhan dengan cepat membawa Anya ke kamarnya. Ia memapah Anya berdiri dari kursi dapur, tangannya melingkar di pinggang Anya yang kurus. Langkah mereka pelan menuju kamar tidur.
Sampai di kamar, Arhan membantu Anya duduk di tepi ranjang.
"Tunggu sebentar ya, aku beresin dapur dulu biar tidak berantakan pas suster masuk," kata Arhan.
Anya mengangguk. "Iya, Han."
Arhan kembali ke dapur dengan langkah cepat. Lalu membereskan meja makan yang berantakan oleh Anya. Ia membuang telur berantakan itu ke tempat sampah. Cangkang-cangkang kecil ia pungut satu per satu dengan tisu. Meja yang lengket ia lap sampai bersih. Mangkok kaca ia cuci cepat di wastafel. Dalam waktu dua menit, dapur itu kembali bersih, seolah tidak pernah ada usaha memasak yang gagal di sana.
Setelah memastikan dapur bersih, ia mencuci tangannya.
Arhan menghampiri suster itu di ruang tamu dan menuntunnya ke kamar Anya.
"Suster, silakan. Istri saya sudah di kamar," kata Arhan.
Suster Lia berdiri dan mengikuti Arhan.
Sampai di depan kamar, Suster Lia mengetuk pelan pintu yang sudah terbuka.
Suster itu pun menyapa Anya dengan suara yang sangat ramah.
"Pagi, Ibu Anya! Wah, pagi-pagi sudah cantik saja. Gimana tidurnya semalam? Enak?"
Anya tersenyum. "Pagi, Suster. Lumayan enak tidurnya."
Suster Lia masuk dan duduk di kursi kecil di samping ranjang. Ia mengeluarkan alat tensi dan termometer dari tasnya.
"Saya cek sebentar ya, Bu."
Arhan duduk di kursi kayu dekat laptop. Laptopnya masih dalam keadaan tertutup dari semalam. Dari kursi itu, ia menatap Anya. Menatap punggung Anya yang kurus, menatap tangan suster yang mulai memasangkan alat tensi di lengan Anya. Jantungnya berdegup kencang lagi.
Proses pemeriksaan berjalan pelan. Suster Lia mengecek tensi, suhu, detak jantung. Semua ia catat di buku kecilnya.
"Nah, tensinya agak rendah ya, Bu. Tapi masih batas aman. Mungkin karena kecapean pagi ini? Tadi habis ngapain, Bu?" tanya Suster Lia sambil tersenyum.
Anya tersenyum kecil.
Arhan yang duduk di kursi kayu langsung menegang. Tangannya mencengkeram sandaran kursi.
Anya menjawab polos, "Tadi mau masak, Suster. Mau bikin omelet buat suami saya."
Suster Lia mengangguk-angguk. "Wah, rajin sekali Ibu."
"Omelet kornet. Tapi... telurnya tidak bisa aku pecahkan, Suster. Tanganku tidak kuat," kata Anya menunduk.
Suster Lia menatap Arhan sekilas, lalu kembali menatap Anya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Bu. Besok-besok coba lagi ya kalau sudah lebih kuat."
Anya mengangguk. Lalu, tanpa diduga oleh Arhan, bibir Anya bergerak lagi. Ia menatap suster itu dengan tatapan yang dalam.
Lalu bibir Anya mengatakan kepada suster tentang diagnosa terakhir dirinya. Dengan suara yang pelan, tapi sangat jelas di kamar yang sepi itu.
"Suster, saya mau tanya. Kata suami saya waktu masih di rumah sakit kemarin hasil biopsi dan CT scan terakhir saya belum keluar. Saya kan sudah tau saya kanker serviks, Suster. Tapi Dokter Rendra bilang apa ya setelah pemeriksaan lanjutan kemarin? Kondisi saya yang sekarang itu sebenarnya bagaimana ya, Suster?"