NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kepulangan yang Tidak Diundang

Waktu berlalu begitu cepat, membawa Brooklyn dan Liam melewati tiga tahun beberapa bulan pernikahan yang penuh gejolak. Sejak masa pemulihan Liam dari bronkitis akut itu, hubungan mereka memang tidak lantas berubah drastis menjadi harmonis seperti dalam dongeng-dongeng romantis. Namun ada sesuatu yang perlahan bergeser—Liam menjadi sedikit lebih jarang membentak, sedikit lebih jarang melontarkan penghinaan, meski ia tetap menjaga jarak emosional yang dingin dan tidak pernah benar-benar membuka hatinya kepada Brooklyn.

Brooklyn sendiri, di sisi lain, telah lama berhenti mengharapkan cinta dari pernikahan ini. Ia menjalankan perannya sebagai istri dengan profesionalisme yang tenang, tanpa lagi mengejar kehangatan yang jelas tidak akan pernah ia dapatkan. Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah kekosongan tetap ada, tersembunyi rapi di balik topeng ketenangan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun terakhir.

Musim gugur kembali menyelimuti New York, dedaunan berwarna keemasan berguguran di sepanjang Central Park, menandakan bahwa sepuluh hari lagi akan menjadi hari yang istimewa—hari jadi pernikahan mereka yang keempat, sekaligus hari ulang tahun Brooklyn yang jatuh tepat di tanggal yang sama, sebuah kebetulan yang selalu terasa ironis mengingat bagaimana pernikahan ini bermula.

Brooklyn tidak pernah mengharapkan perayaan besar untuk hari itu. Pengalaman pahit dari ulang tahun-ulang tahun sebelumnya telah mengajarkannya untuk tidak lagi berharap apa pun dari Liam. Namun tahun ini, entah kenapa, ada secercah harapan kecil yang kembali muncul dalam dirinya—mungkin karena perubahan kecil yang ia rasakan dari sikap Liam belakangan ini, mungkin karena ia mulai berpikir bahwa setelah tiga tahun lebih, seharusnya ada sedikit kemajuan dalam hubungan mereka.

Namun harapan kecil itu akan segera hancur berkeping-keping oleh kejadian yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

...***...

Sore itu, Brooklyn sedang duduk di ruang baca penthouse mereka, menikmati secangkir teh hangat sambil membaca novel favoritnya, ketika suara pintu depan terbuka membuatnya menoleh dengan penasaran. Biasanya Liam baru pulang menjelang malam, namun kali ini ia pulang jauh lebih awal dari biasanya.

Brooklyn bangkit dari kursinya, bermaksud menyambut Liam seperti kebiasaan yang masih ia jaga meski hubungan mereka tidak pernah benar-benar hangat. Namun langkahnya seketika terhenti di ambang pintu ruang baca ketika matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak.

Di belakang Liam, melangkah masuk dengan anggun ke dalam penthouse mereka, berdiri seorang wanita dengan rambut hitam legam yang tergerai sempurna, wajah cantik dengan mata cokelat yang tajam, dan senyum yang begitu familiar meski Brooklyn belum pernah bertemu langsung dengannya sebelumnya.

Helena Broxley.

Brooklyn mengenali wanita itu dari foto-foto lama yang pernah ia temukan secara tidak sengaja di ponsel Liam bertahun-tahun lalu, dari cerita-cerita yang pernah ia dengar dari berbagai sumber tentang wanita yang telah merebut hati suaminya jauh sebelum pernikahan mereka dimulai. Namun melihat sosok itu secara langsung, berdiri dengan begitu percaya diri di dalam rumahnya sendiri, membuat dada Brooklyn terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia definisikan—kemarahan, ketidakpercayaan, dan luka lama yang tiba-tiba kembali terbuka.

"Liam," ucap Brooklyn, suaranya terdengar datar meski hatinya bergejolak hebat, "siapa yang kau bawa ini?"

Liam menatap Brooklyn sejenak, ekspresinya sulit dibaca—ada sedikit rasa canggung yang terlihat di matanya, namun juga ada sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat Brooklyn semakin waspada.

"Brooklyn, ini Helena," ucap Liam akhirnya, suaranya terdengar hati-hati. "Helena baru saja kembali ke New York setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri. Kami kebetulan bertemu kembali beberapa minggu lalu."

Kata "beberapa minggu lalu" itu membuat Brooklyn semakin terkejut. Berarti pertemuan mereka sudah berlangsung cukup lama tanpa sepengetahuannya sama sekali.

Helena melangkah maju dengan senyum yang terlihat ramah di permukaan, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Brooklyn merasakan firasat tidak menyenangkan. "Kau pasti Brooklyn," ucapnya, suaranya lembut namun terdengar sedikit merendahkan. "Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Liam. Senang akhirnya bisa bertemu langsung."

Brooklyn menatap Helena dengan tatapan yang sulit ia sembunyikan, mencoba mempertahankan ketenangannya meski hatinya bergejolak hebat oleh berbagai pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya. "Aku juga sudah mendengar banyak tentangmu, Helena," jawabnya akhirnya, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

Suasana canggung menyelimuti ruangan itu untuk beberapa saat, sebelum Liam akhirnya menjelaskan lebih lanjut, meski penjelasannya terasa tidak cukup untuk meredakan kegelisahan yang mulai tumbuh dalam diri Brooklyn.

"Helena membutuhkan bantuan mencari tempat tinggal sementara di New York," jelas Liam, matanya menghindari tatapan langsung dengan Brooklyn. "Aku pikir tidak ada salahnya menawarkan salah satu kamar tamu di sini untuk sementara waktu, sampai dia menemukan apartemen yang cocok."

Kalimat itu terasa seperti petir yang menyambar Brooklyn secara tiba-tiba. Ia menatap Liam dengan mata membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Kau ingin dia tinggal di sini?" tanya Brooklyn, suaranya bergetar antara ketidakpercayaan dan kemarahan yang mulai membara. "Di rumah kita? Sepuluh hari sebelum hari jadi pernikahan kita?"

Liam tampak sedikit tidak nyaman mendengar pertanyaan itu, namun kesombongan dan keteguhan hatinya membuatnya tetap mempertahankan keputusannya. "Ini hanya sementara, Brooklyn. Aku tidak melihat masalah besar dalam hal ini. Helena adalah teman lama, dan dia membutuhkan bantuan."

"Teman lama," ulang Brooklyn dengan nada sinis yang tidak bisa ia sembunyikan lagi, "atau wanita yang selama ini terus kau pikirkan bahkan setelah kita menikah? Wanita yang namanya terus kau gumamkan bahkan dalam tidurmu?"

Ucapan itu membuat suasana semakin tegang, Helena tampak sedikit terkejut mendengar pengakuan tidak langsung tersebut, sementara wajah Liam berubah menjadi sedikit memerah karena rasa malu bercampur amarah.

"Brooklyn, jangan membuat suasana semakin buruk di depan tamu," ucap Liam tajam, nada suaranya kembali ke sikap defensif yang sudah lama Brooklyn kenal.

"Tamu?" Brooklyn tertawa pahit, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang mendesak keluar. "Kau membawa wanita yang telah menjadi sumber dari segala penderitaanku selama tiga tahun terakhir ke dalam rumah kita, dan kau menyebutnya sebagai tamu biasa?"

Helena, yang sejak tadi hanya menyaksikan pertengkaran itu dengan ekspresi yang sulit ditebak, akhirnya angkat bicara dengan nada yang terdengar tenang namun penuh perhitungan. "Aku tidak ingin menjadi sumber masalah di antara kalian berdua. Mungkin sebaiknya aku mencari tempat lain saja, Liam."

"Tidak perlu," potong Liam cepat, menatap Helena dengan ekspresi yang membuat hati Brooklyn semakin teriris. "Kau bisa tinggal di sini selama yang kau butuhkan. Brooklyn hanya perlu membiasakan diri dengan situasi ini."

Kata-kata itu menjadi pukulan terakhir bagi Brooklyn malam itu. Ia menatap Liam yang begitu mudah membela kehadiran Helena, mengabaikan perasaannya sendiri sebagai istri sah yang seharusnya dihormati dalam rumah tangganya sendiri.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Brooklyn berbalik dan berjalan menuju kamarnya sendiri, meninggalkan Liam dan Helena berdiri di ruang tamu penthouse yang kini terasa seperti medan pertempuran baru dalam hidupnya. Ia menutup pintu kamarnya dengan pelan, mencoba mempertahankan sisa-sisa martabat yang masih ia miliki, meski hatinya telah hancur berkeping-keping oleh kejadian yang baru saja terjadi.

Duduk sendirian di tepi ranjangnya, Brooklyn menatap kalender kecil di meja samping ranjangnya yang menandai hari jadi pernikahan mereka yang akan tiba sepuluh hari lagi—hari yang seharusnya menjadi perayaan cinta dan komitmen, kini terancam menjadi awal dari kehancuran yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi sepuluh hari ke depan dengan kehadiran Helena yang tiba-tiba menjadi bagian dari kehidupan rumah tangganya. Namun satu hal yang ia yakini dengan pasti—perubahan kecil yang sempat ia rasakan dari sikap Liam belakangan ini kini terasa seperti ilusi belaka, hancur seketika oleh kembalinya wanita yang telah lama menguasai hati suaminya, bahkan sebelum pernikahan mereka dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!