[SEASON 2]
Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'
"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Raja Demon Yang Hilang Ingatan Part 2
"Baiklah kalau begitu, Tuan Alan! Terima kasih banyak, aku benar-benar sangat berterima kasih karena Anda bersedia menolongku yang kesusahan ini," ucap Damian dengan nada suara yang teramat tulus.
Nada itu memancarkan aura kekanak-kanakan yang murni dan tanpa dosa.
Alan hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gestur kaku. Sementara itu, senyuman canggung di wajah tegapnya masih belum menghilang sepenuhnya. Ia merasa seolah-olah dirinya saat ini sedang dipaksa berbicara dengan seorang anak kecil yang jiwanya terperangkap secara magis di dalam wujud tubuh pria dewasa yang tegap dan gagah.
"Jadi... sekarang di mana posisi keberadaan teman Anda itu, Tuan?" tanya Damian kembali.
Keningnya tampak berkerut dalam saat ia mencoba mengedarkan pandangan matanya, memindai kegelapan pekat di sekeliling area dalam ladang jagung yang pengap.
Ia tampaknya sudah sangat tidak sabar untuk menanti datangnya hari esok. Keinginan kuat untuk bisa segera pulang ke kastil agungnya telah menjelma menjadi satu-satunya kompas penunjuk arah yang tersisa di dalam kepalanya saat ini.
"Dia saat ini sedang berada di titik lokasi yang tidak jauh dari tempat kita berdiri. Sepertinya dia masih setia menungguku di area jalan setapak luar sana," jawab Alan sembari menjulurkan jari tangannya, menunjuk ke arah timur.
Arah itu menuju ke akses utama jalur jalan tanah gembur yang biasa dilewati oleh para warga lokal Desa Arcania untuk mengurus ladang pertanian mereka. Sebenarnya, tepat di balik perbukitan sunyi yang berjarak tidak terlampau jauh dari posisi mereka saat ini, terdapat sebuah akses jalur jalan yang jauh lebih lebar.
Jalan itu sudah dilapisi oleh tatanan batu rata yang mulus dan bisa dilalui dengan mudah oleh kereta-kereta kuda besar. Jalur alternatif tersebut melintasi area ladang kentang milik keluarga White yang rumah kayunya berdiri kokoh di
puncak bukit.
Namun, karena pekatnya kegelapan malam yang turun dan minimnya sarana penerangan obor jalan, Alan sama sekali tidak menyadari keberadaan jalur infrastruktur yang jauh lebih mudah dan efisien tersebut.
"Dan satu hal lagi... sebaiknya mulai sekarang kamu tidak perlu lagi memanggil diriku dengan sebutan 'Tuan'," ujar Alan dengan raut wajah yang sengaja dibuat datar.
Ia mencoba memberikan instruksi yang dirasanya lebih logis untuk situasi mereka saat ini. "Karena jika dihitung berdasarkan realitas, aku ini masih berusia sangat muda, Damian. Bahkan sebenarnya... usia kronologisku jauh lebih muda jika dibandingkan dengan usiamu yang sebenarnya."
Pernyataan logis yang diutarakan Alan seketika membuat tubuh Damian tertegun mati di tempatnya. Ia menatap lurus ke arah wajah Alan dengan pancaran pandangan mata yang dipenuhi oleh kebingungan yang teramat besar. Ia seolah-olah baru saja mendengar Alan melontarkan untaian kalimat menggunakan bahasa asing kuno yang sangat rumit untuk dicerna oleh otaknya.
"Bagaimana bisa aku memanggil nama Anda begitu saja? Saya melihat rupa fisik Anda jauh lebih dewasa dan matang dariku. Maaf, sepertinya aku tidak akan bisa melakukan hal itu, Tuan. Aku hanya ingin menghormati Anda dan bersikap sopan," sanggah Damian polos.
"Bagaimanapun juga fakta yang ada... di dalam inti lubuk dada ini, aku hanyalah seorang anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun."
Damian Dexter mengucapkan untaian kalimat itu dengan binar sepasang manik mata hitam pekat yang teramat polos dan jujur. Pemandangan itu terasa sangat ironis dan kontras dengan struktur garis rahangnya yang tegas, kokoh, serta bentang kedua bahunya yang tegap dan lebar layaknya seorang prajurit tangguh yang siap berperang. Ia meremas jemari tangannya sendiri yang kekar dengan gestur canggung.
Pria itu tampak benar-benar dilingkupi kebingungan yang besar atas perubahan raga dewasanya yang abnormal.
Mendengar pengakuan yang teramat absurd dan di luar nalar sehat tersebut, Alan membulatkan sepasang matanya lebar-lebar. Mulutnya sempat ternganga beberapa sentimeter. Ia menatap lurus ke arah wujud Damian dari ujung kepala hingga ujung kaki demi mencari letak kebohongan. Namun, keheningan yang kaku itu tidak bertahan lama.
Alan secara mendadak langsung meledak dalam suara tawa geli yang teramat keras hingga menggema membelah keheningan ladang jagung. Pria itu terpingkal-pingkal hebat hingga harus menepuk-nepuk permukaan paha jaket kulitnya berkali-kali demi menyalurkan rasa geli yang membakar dadanya.
"Apa... apa telingaku tidak salah dengar saat ini? Hahaha! Tolong jangan pernah mengatakan omong kosong yang konyol seperti itu lagi di depanku, Damian!" seru Alan di sela-sela hembusan napas tawanya yang meledak-ledak.
Ia sampai harus memegangi bagian perutnya yang mulai terasa kram akibat terlalu banyak tertawa terbahak-bahak.
Sementara Alan sibuk menertawakannya, Damian hanya memilih untuk tetap berdiri mematung sekaku patung. Ia menatap lurus ke arah wajah Alan dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi sangat datar, dingin, dan kaku. Ia sama sekali tidak terpengaruh atau terpancing emosi oleh suara tawa ejekan yang dilontarkan di hadapannya.
"Aku seratus persen sangat serius dengan setiap bait ucapanku, Tuan Alan. Apa di mata Anda wujudku saat ini terlihat seperti seseorang yang sedang membual? Apakah ada letak hal yang lucu atau salah dari struktur perkataanku tadi? Kalau memang menurut Anda ada, coba tolong beritahu aku di mana letak kesalahannya secara spesifik," tanya Damian dengan nada suara yang terdengar datar namun sarat akan penekanan yang menuntut jawaban logis.
Sontak, hantaman nada dingin dari Damian berhasil menghentikan paksa suara tawa keras Alan seketika. Pria itu berdeham kecil dengan canggung. Ia merapikan letak kerah jaket kulit hitamnya yang sedikit bergeser, dan berusaha keras mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi normal dan berwibawa meskipun sisa-sisa rasa geli masih menggelitik rongga dadanya.
"Ekhmm. Maafkan aku, sebenarnya sama sekali tidak ada yang salah dengan struktur kalimatmu. Aku hanya merasa teramat sulit untuk memercayai logika saat kamu mengklaim jiwamu sebagai seorang bocah berumur sepuluh tahun, sementara wujud fisik ragamu berdiri sebagai pria dewasa setinggi ini," ujar Alan sembari mengangkat telapak tangannya ke udara. Ia mencoba mengukur rasio tinggi tubuh Damian secara visual.
Damian menganggukkan kepalanya pelan, kedua belah bahu tegapnya kembali merosot lesu ke bawah. "Iya, aku sangat memaklumi tanggapan Anda, Tuan. Karena jujur saja, kondisi jiwaku pun sama persis dengan Anda saat ini. Aku sendiri teramat sulit untuk memercayai fenomena gila apa yang sebenarnya sedang menimpa diriku saat ini."
"Mungkin... kamu sedang mengalami gejala amnesia parsial akibat efek pembekuan yang terlalu lama," duga Alan. Pria itu mencoba melemparkan sebuah penjelasan yang dirasanya paling logis untuk menenangkan situasi pelik tersebut.
Namun di dalam lubuk hati kecilnya, Alan sebenarnya sama sekali tidak memiliki niat untuk menggali atau memulihkan lembaran masa lalu Damian lebih dalam lagi. Ia menaruh ketakutan dan kekhawatiran yang besar di dalam jiwanya.
Jika ingatan hitam sang Raja Demon legendaris itu sampai kembali pulih secara utuh, insting membunuh dan kekejaman supernatural pria itu pasti akan ikut bangkit kembali, dan mereka berdua terpaksa harus terlibat dalam perang berdarah lagi seperti belasan tahun lalu. Alan jauh lebih menyukai dan memilih sosok Damian yang berada dalam kondisi linglung, polos, dan penurut seperti anak kecil ini.
"Lalu... ke mana lagi aku harus melangkah sekarang, Tuan? Apakah aku harus berjalan mengikuti pergerakan teman Anda yang tadi diceritakan?" tanya Damian dengan raut wajah kebingungan yang kentara.
Alan menepuk dahinya sendiri cukup keras dengan telapak tangan. Ia mendadak teringat kembali akan keberadaan Ethan yang sempat ia tinggalkan sendirian di luar ladang jagung.
"Ah, iya! Aku hampir saja melupakan eksistensi anak itu. Waktu malam sudah semakin larut dan dingin, lebih baik sekarang kamu berjalan ikut bersamaku untuk menemui dirinya di luar. Kita harus bergegas bergerak mencari tempat penginapan terdekat untuk bermalam,"