NovelToon NovelToon
Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Seporsi Kekalahan Dari Kehidupan, Aku Bangkit!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul / Tamat
Popularitas:286.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.

Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.

Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode — 11.

Deris mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Pukulan itu cukup keras hingga membuat kepalanya sedikit berdenyut. Tatapannya perlahan terangkat, lalu berhenti pada sosok pria yang berdiri di hadapannya.

"Revan Wiranata..." gumamnya lirih, lalu tersenyum sinis. "Jadi, Direktur Utama Wiranata Corp sekarang hobi ikut campur urusan rumah tangga orang lain?"

Revan berdiri tenang di depan Zahira, kedua tangannya masuk ke saku celana jasnya. Wajahnya tetap dingin, seolah pukulan yang baru saja ia layangkan bukan sesuatu yang pantas dibesar-besarkan.

"Aku memang tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga siapa pun, tapi yang kulihat barusan bukan seorang suami yang sedang berbicara dengan istrinya. Yang kulihat adalah seorang laki-laki yang memaksa seorang perempuan ikut dengannya, meski perempuan itu sudah berkali-kali mengatakan tidak."

Deris berdecak pelan. "Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Zahira masih istriku, gugatan cerai itu belum diputus pengadilan."

"Status hukum tidak pernah memberimu hak untuk memaksa seseorang," balas Revan tanpa mengubah ekspresi. "Saat seorang perempuan meminta dilepaskan, lalu kau justru mencengkeramnya semakin kuat, itu sudah cukup menjelaskan siapa yang sedang bertindak benar dan siapa yang sedang kehilangan kendali."

Rahang Deris mengeras. "Kau merasa hebat karena datang di saat seperti ini?"

"Aku tidak sedang menjadi pahlawan." Revan menatap tepat ke mata Deris, tajam dan dingin. "Aku hanya menghentikan sesuatu yang keterlaluan, sebelum berubah menjadi penyesalan yang jauh lebih besar."

Keheningan sejenak menyelimuti halaman kontrakan.

Zahira masih berdiri beberapa langkah di belakang Revan. Pergelangan tangannya berdenyut akibat cengkeraman Deris, tetapi rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan ucapan pria yang beberapa menit lalu memintanya menjadi istri siri.

Deris mengembuskan napas kasar. "Revan, jangan berpura-pura menjadi laki-laki paling benar. Kau bahkan tidak tahu apa yang sudah Zahira dan aku lalui selama tujuh tahun."

"Aku memang tidak tahu, dan aku juga tidak tertarik mengetahui urusan pribadi kalian. Tapi aku tahu satu hal, laki-laki yang menghargai perempuan tidak akan menawarkan posisi sebagai istri siri... kepada perempuan yang telah mengorbankan masa mudanya demi dirinya."

Wajah Deris berubah. "Kau... mendengar pembicaraan kami?"

"Cukup banyak untuk membuatku muak."

Deris mengepalkan kedua tangan. "Aku melakukan itu demi keadaan! Demi perusahaan! Demi masa depan!"

Revan menggeleng pelan. "Jangan jadikan ambisi dan keserakahan sebagai alasan untuk membenarkan penghinaan terhadap orang yang paling berjasa dalam hidupmu."

Tatapan Revan bergeser kepada Zahira sejenak sebelum kembali kepada Deris. "Zahira menemanimu saat usahamu nyaris bangkrut, dia lah yang membantu membangun perusahaanmu ketika orang lain memilih pergi meninggalkanmu. Sekarang setelah perusahaanmu berdiri kokoh, balasanmu adalah menceraikannya, membiarkan perempuan lain menghinanya, lalu meminta dia hidup dalam bayang-bayang sebagai istri siri-mu."

Revan berhenti sesaat. "Lalu kau masih bertanya kenapa aku memukulmu?"

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Revan membuat wajah Deris semakin sulit dipertahankan. Selama ini ia selalu merasa keputusannya masuk akal. Namun, ketika semua itu diucapkan oleh orang lain tanpa emosi sedikit pun, ia mendengar betapa menjijikkannya tindakannya sendiri.

"Sudah cukup." Suara Zahira memecah keheningan, Ia melangkah ke depan dan berdiri sejajar dengan Revan.

Tatapannya tertuju kepada Deris. "Aku lelah terus membahas hubungan yang sudah kamu hancurkan sendiri, Mas. Kamu datang ke sini bukan untuk meminta maaf, tapi datang hanya karena takut kehilangan sesuatu yang dulu kamu anggap tidak berharga."

Deris menggeleng cepat. "Bukan begitu, Ra. Mas benar-benar sadar kalau Mas masih mencintaimu."

"Cinta?" Zahira tersenyum pahit.

Senyum wanita itu begitu tenang, tetapi menyimpan rasa kecewa yang dalam. "Kalau memang itu cinta, seharusnya kamu menjagaku dan menghargaiku ketika aku masih menjadi istrimu. Bukan menyadarinya setelah kamu sendiri yang menghancurkan rumah tangga kita."

"Mas khilaf...."

"Semua pengkhianat selalu menyebut perselingkuhan sebagai khilaf, setelah semuanya terbongkar."

Zahira menghembuskan napasnya. "Mas, aku sudah memaafkanmu.“

"Benarkah?" Mata Deris langsung berbinar.

"Tapi... jangan salah mengartikan maafku. Memaafkan adalah caraku membebaskan diriku dari kebencian, bukan membuka pintu agar kamu kembali masuk."

Kalimat wanita itu membuat dada Deris terasa sesak. Ia akhirnya menyadari bahwa Zahira telah menutup seluruh harapan yang pernah ia gantungkan pada pernikahan mereka. Kini, wanita itu hanya bersikap biasa, seolah dirinya tak lagi memiliki arti apa pun. Dan kesadaran itulah yang justru paling menghancurkan hati Deris.

Deris maju satu langkah. "Ra, Mas mohon...."

"Jangan mendekat lagi."

Nada suara Zahira tidak keras, tetapi cukup membuat langkah Deris berhenti.

"Aku sudah terlalu lama hidup dengan mengorbankan harga diriku sendiri. Sekarang aku sedang belajar menghargai diriku kembali. Jadi, jangan paksa aku mengulang kesalahan yang sama." Ekspresi Zahira tampak teguh.

Di sekitar mereka, beberapa tetangga mulai memperhatikan dari balik pagar. Deris menyadari banyak pasang mata memandang ke arahnya. Harga dirinya terasa diinjak. Namun, ia juga sadar tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di sana.

Sebelum masuk ke dalam mobil, ia menatap Zahira untuk terakhir kalinya malam itu.

"Aku tidak akan menyerah."

Zahira mengangguk pelan. “Baiklah, itu hakmu. Tapi ingat satu hal, Mas. Ada orang yang kehilangan sesuatu karena direbut orang lain, tapi ada juga... yang kehilangan karena kebodohannya sendiri. Dan kamu, termasuk yang kedua."

Kalimat itu menghantam Deris tanpa ampun, Ia tak mampu membalas sepatah kata pun. Mobilnya akhirnya melaju meninggalkan kompleks.

Revan baru menoleh setelah memastikan mobil Deris benar-benar menghilang, tatapannya jatuh pada bekas merah di pergelangan tangan Zahira.

"Pergelangan tanganmu memar, sebaiknya dikompres malam ini supaya pembuluh darah di bawah kulit tidak semakin membengkak."

Zahira mengikuti arah pandang Revan, lalu mengulas senyum tipis. "Terima kasih, Pak Revan. Bukan hanya karena membantu saya tadi, tetapi juga karena mengingatkan bahwa masih ada orang yang tahu cara menghormati seorang perempuan."

Revan mengangguk singkat. "Saya hanya melakukan hal yang menurut saya memang seharusnya dilakukan."

Revan tidak mengucapkan kata-kata manis ataupun berusaha mengambil hati Zahira. Namun dari tindakannya, Zahira menyadari satu hal. Seorang perempuan tidak membutuhkan ucapan indah untuk merasa dihargai. Yang benar-benar berarti adalah seseorang yang hadir dan bertindak pada saat ia membutuhkan.

“Maaf, Pak Revan... sudah malam. Demi menjaga kenyamanan, saya tidak bisa mengundang Anda masuk. Bagaimanapun juga, secara hukum saya masih berstatus istri orang,” ucap Zahira dengan canggung.

“Mphh...” Revan terkekeh pelan.

Zahira mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dengan bingung. “Kenapa tertawa?”

“Sampai kapan kamu akan berpura-pura tidak pernah mengenalku sebelum bekerja di perusahaan?” Revan menatapnya sambil mengangkat sebelah alis. “Zahira, apa kamu benar-benar melupakanku?”

Pipi Zahira langsung memerah. “B-bukan begitu. Aku justru mengira kamulah yang tidak ingin mengenalku lagi. Karena itu, aku memilih bersikap profesional di kantor.”

Revan menggeleng pelan. “Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal kalau kamu bekerja di perusahaan. Aku bahkan sempat meminta informasi tentangmu kepada Nina, tetapi aku juga melarangnya memberi tahu kamu kalau aku sudah mengetahui semuanya. Dia bilang kamu sedang menjalani proses perceraian, karena itulah aku memilih menjaga jarak. Aku ingin menghormatimu selama statusmu masih menjadi istri orang lain.”

Revan berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi tadi, saat melihat mobil Deris mengikuti kendaraanmu... firasatku langsung tidak enak. Jadi percayalah, aku bukan sengaja mengikutimu.”

Zahira terdiam, penjelasan itu membuatnya tidak tahu harus berkata apa.

“Zahira,” panggil Revan dengan suara lebih lembut. “Di luar urusan pekerjaan, boleh kita tidak saling bersikap formal?”

Tanpa sadar, Zahira mengangguk pelan.

“Terima kasih sudah menolongku tadi, Van.” Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. “Sekarang aku harus masuk. Sudah malam, tidak enak kalau tetangga melihat kita terus berdiri di sini. Kamu juga hati-hati di jalan.”

Revan mengangguk. “Oke. Selamat malam, Zahira. Senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Senyum tipis menghiasi wajah pria itu sebelum ia berbalik dan masuk ke dalam mobil, lalu perlahan meninggalkan halaman rumah kontrakan itu.

Zahira masih berdiri beberapa saat menatap mobil yang semakin menjauh. Entah mengapa, pipinya terasa menghangat. Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba muncul, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

1
Ardhianna Maniezz
itu baru bos yang keren
Mama Gezkara
kak Zahira suka banget sama warna putih, krem dan hitam ya kak...🤭
Rere💚: Itu aku yg suka, jadi ketempelan karakter Zahira nya deh 🤭
total 1 replies
murni l.toruan
Orang yang terdekat tidak pernah melihat batu yang bersinar. itu yang dialami Zahira. Deris gigit jari dan siap bangkrut
Sisca Raharjo
huhu bikin gregetan 🙄🙄
murni l.toruan
Pelakor tidak ada otak, bodoh n tolol
Punkpunk 234
kuyang sama Kunti klop bngt klo udah niat jahat 😡 dasar pasukan iblizz..😡😡
murni l.toruan
Karma dibayar lunas..sah..sah . terimalah karma keluargamu Deris
murni l.toruan
Baru baca saja aku emosi,
Sazmah Maa
rasakan kau deris
Thewie
masih tidur Lo ya deris.. bangun banguuuun
Thewie
nahhh kan karma datangnya naek jet🤭🤣🤣
Punkpunk 234
wadduhh c Kunti kena gampar.. mantan beud dakh👍😆👍
Punkpunk 234
good job Raa.. cuekkin aja pelakor gila mah👍💪👍
❥␠⃝ ͭ🍁ᴅʜɪᴛᴀ💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🇮🇩
ular betina mau dijadikan istri.. lah berlian malah di buang.. selama ini Denis matanya buta sih.. ngga ngeliat yang baik dan perhatian yg mana.. makan tuh pilihan mu Denis.. ❣️
♉ᴶᴬnjiku ᴷᴬᴿena 𝐂𝐢𝐧ᵀᴬ
lah ngapain noleh, kaya ngga laki lain-lain aja, pecundang mah buang aja kelaut biar dimakan ikan hiu.. ngga punya perasaan banget tuh si Deris😎
Eric ardy Yahya
Jalang diam aja , ELU UDAH KALAH YOTAL
Eric ardy Yahya
wah mengulang kejadian Zahira nih , Kurasa Rafka akan jadi orang bodoh kedua
Eric ardy Yahya
SADAR DIRI BU , ANAK ELU BIANG KEROK DAN MENYALAHKAN ZAHIRA ? emang benar-benar otak anda udah Korslet . Zahira wanita berkarir selama 7 tahun , dibandingkan anak elu yang manja yang pakai cara koneksi buat masuk
Dwi Vella
bagus👍👍
Desi Belitong
ada juga ya pelakor gak Tau malu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!