NovelToon NovelToon
Teror Arwah Ci Sepi

Teror Arwah Ci Sepi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.

Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!

Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.

Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. PAWAI HANTU DI BATAS DESA

"Ngapain duduk di situ sendirian? Apa Bapak tidak takut pagi-pagi buta melamun di tempat ini?" tanya Pak Anwar kebingungan. Sepasang matanya menyapu area sekitar pohon beringin tua yang tampak semakin angker dengan akar-akar gantung menjuntai di bawah remang cahaya subuh.

Rahsya segera bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celana kain hitamnya yang kotor terkena tanah telaga. Ia menghampiri Pak Anwar dengan langkah kaki yang kaku.

"Saya—"

Kalimat Rahsya tertahan di tenggorokan. Lidahnya mendadak kelu. Ia kebingungan harus memulai cerita dari mana; menceritakan tentang sosok bocah bernama Nathan dan wanita bernama Kinan rasanya akan terdengar terlalu gila untuk logika rasional seorang dokter.

"Habis jogging, Pak. Terus Bapak sendiri dari mana dan mau ke mana nih?" tanya Rahsya cepat, mencoba keras menghilangkan rasa gugupnya sambil menyeka butiran keringat dingin di pelipis.

"Saya habis menengok kondisi Pak Dahlan di rumahnya, ini baru mau jalan pulang ke rumah," sahut Pak Anwar dengan wajah yang tampak sangat letih dan pucat.

Rahsya mengernyitkan dahi. Insting medisnya segera terusik. "Memangnya Pak Dahlan sakit apa, Pak?"

Pak Anwar tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia melirik ketakutan ke arah pohon beringin besar di belakang Rahsya, lalu bergidik ngeri.

"Sebaiknya kita mengobrolnya jangan di tempat ini, Pak Dokter," bisiknya ketakutan sambil menarik paksa lengan Rahsya agar berjalan menjauh.

Rahsya mengangguk patuh. Mereka pun berjalan cepat meninggalkan area telaga yang mencekam itu.

"Semalam Pak Dahlan pingsan di atas jembatan bambu yang dekat rumahnya. Dia baru ditemukan tadi subuh oleh warga yang lewat mau pergi ke sawah," cerita Pak Anwar setelah jarak langkah mereka sudah cukup jauh dari area telaga.

"Kenapa bisa sampai pingsan begitu, Pak?" tanya Rahsya serius.

"Katanya Pak Dahlan habis melihat hantu kepala bersama si Jaka pas patroli keliling kampung di tepi telaga tadi malam. Terus kalau soal Pak Dahlan yang sampai pingsan di jembatan itu, katanya dia melihat hantu tanpa kepala pas mau menyeberang."

Pak Anwar bercerita dengan volume suara yang gemetar, sementara jemari tangannya tampak meraba tengkuk leher yang mendadak terasa dingin.

Rahsya tertegun mematung. Kedua kakinya seolah-olah tertanam kuat di atas tanah sawah yang lembap. Ingatan visual medisnya melesat kembali pada momen-momen mengerikan beberapa malam terakhir: kepala buntung yang jatuh menggelinding di bawah kakinya saat pulang dari rumah Pak Udin, dan sosok tubuh wanita tanpa kepala yang memegang kunci di depan vilanya.

"Jadi Pak Dahlan dan Jaka sempat melihat hantu kepala itu juga, Pak?" tanya Rahsya, suaranya terdengar sedikit parau.

"Benar sekali, Pak Dokter. Kok wajah Bapak kayak yang ketakutan begitu?"

Pak Anwar menyipitkan matanya, memperhatikan butiran keringat dingin yang bermunculan di dahi sang dokter kota.

"Soalnya... saya pernah mengalami apa yang mereka alami sendiri, Pak," aku Rahsya jujur.

"Waduh! Yang benar, Pak?"

Pak Anwar menghentikan langkah kakinya, menatap Rahsya dengan ekspresi wajah tidak percaya.

"Serius, Pak. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri. Malahan hantu wanita tanpa kepala itu sempat datang berdiri di depan vila saya," bisik Rahsya, teringat hembusan napas dingin di telinganya semalam.

Pak Anwar bergidik ngeri, ia menarik kain sarungnya lebih rapat ke tubuh. "Saya sarankan Bapak jangan pernah datang atau lewat ke area telaga itu lagi. Takutnya nanti Bapak didatangi lagi oleh makhluk itu."

"Iya, Pak. Kebetulan siang hari ini juga saya sudah bersiap akan pulang kembali ke Jakarta," jawab Rahsya.

Meskipun merasa lega karena akan segera pergi, rasa penasaran misteri masih mengganjal kuat di dalam dadanya. "Oh iya, Pak. Ngomong-ngomong, apa Bapak tahu siapa sebenarnya pemilik rumah kayu yang ada di tepi telaga itu?"

Pak Anwar mendadak menghentikan langkah kakinya sepenuhnya. Ia menatap Rahsya dengan tatapan mata bingung sekaligus ngeri, seolah-olah Rahsya baru saja menanyakan keberadaan sebuah bangunan gaib di tengah lautan.

"Rumah apa maksudnya? Di tepi telaga sana sama sekali tidak ada bangunan apa-apa, Pak Dokter," ujar Pak Anwar dengan nada suara yang berat.

"Yang saya lihat sejak kemarin cuma garis polisi yang terpasang di sekitar pohon beringin tempat mayat Rehan ditemukan. Tidak ada rumah kayu di sana... mungkin dulu memang sempat ada, tapi sudah lama banget. Sekitar sembilan tahun yang lalu rumah kayu itu sudah hangus terbakar tidak tersisa sama sekali, Pak."

Darah di dalam tubuh Rahsya seolah-olah membeku seketika. Jika Pak Anwar dan warga desa tidak melihat keberadaan rumah itu, lantas bangunan apa yang ia masuki secara fisik barusan? Dan siapa sebenarnya bocah bernama Nathan serta wanita yang dipanggil Kinan itu?

Fakta sejarah bahwa rumah kayu itu sudah hangus terbakar menjadi abu hampir satu dekade yang lalu menghantam logika medis Rahsya telak.

Sepasang lututnya terasa sangat lemas, seolah seluruh persendian tubuhnya mendadak kehilangan kekuatan. Jika rumah itu sudah jadi abu sembilan tahun lalu, lantas tangan dingin siapa yang tadi menyeret paksa tubuhnya masuk ke dalam?

Dan Nathan... anak sekecil itu, mungkinkah dia adalah salah satu korban tewas dari tragedi kebakaran tersebut?

Rahsya tidak berani membuka suara untuk bertanya lagi. Sepanjang sisa perjalanan kaki menuju ke arah vila, ia hanya melangkah kaku seperti robot dengan pandangan mata kosong menatap lurus ke depan.

Suara gesekan alas kakinya dengan permukaan aspal jalanan terdengar seperti detak jarum jam yang sedang menghitung mundur sisa keberaniannya.

Pak Anwar yang berjalan di sampingnya berkali-kali melirik cemas, namun Rahsya seolah sedang berada di dimensi lain; telinganya masih terngiang-ngiang suara tawa bocah Nathan dan tatapan mata dingin wanita bernama Kinan itu.

****

Sesampainya di depan gerbang vila, Rahsya menghentikan langkahnya mendadak. Ia menatap lurus ke arah garasi tempat motor sport-nya terparkir. Bayangan Nathan yang tadi pagi merentangkan kedua tangan kecilnya menghadang jalannya di titik yang sama kembali muncul dengan jelas di pelupuk matanya.

"Pak Dokter... Pak Dokter tidak apa-apa?" tegur Pak Anwar sambil memegang pundak Rahsya, seketika membuyarkan lamunan horor pria itu.

Rahsya tersentak kaget, deru napasnya memburu. "I-iya, Pak. Saya tidak apa-apa. Terima kasih banyak sudah mengantar," jawabnya singkat dengan suara parau.

Tanpa menunggu balasan kata dari Pak Anwar lagi, Rahsya segera melangkah masuk ke dalam halaman vila. Ia tidak menolehkan wajahnya lagi ke arah belakang. Pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal utama: pergi secepat mungkin dari Desa Ci Sepi ini sebelum "keluarga" gaib di rumah kayu tepi telaga itu datang menjemput jiwanya kembali.

Saat ia masuk ke dalam area garasi dan hendak menyambar kunci motornya di atas meja periksa, sepasang matanya tidak sengaja melirik ke arah sebuah cermin besar yang ada di pojok garasi.

Di sana, di dalam pantulan kaca cermin, ia melihat sesuatu yang membuat seluruh darahnya tersirap dan nyaris berteriak histeris. Di dalam cermin itu, ia melihat sesosok nenek-nenek bungkuk yang mengenakan kain kebaya dan kain carik kusam.

Rambutnya yang panjang berwarna putih menjuntai lebat bagaikan sebuah permadani raksasa. Sepasang matanya tampak hampir copot sebelah, dan barisan giginya berwarna hitam legam.

"Cu, mau ke mana, Cu?" suara parau itu mendadak bergema langsung di dalam kepalanya.

"Mau pulang, Nek! Mau berhenti jadi manusia sekalian!" teriak Rahsya histeris ketakutan.

Ia refleks menyambar helm fullface-nya di atas meja, memakainya dengan gerakan asal-asalan yang sangat terburu-buru sampai nyaris menjepit hidungnya sendiri karena panik. Ia langsung meloncat naik ke atas jok motor sport-nya, menyalakan mesin, dan langsung melesat cepat keluar gerbang bak seorang pembalap kejuaraan dunia MotoGP yang keahlian berkendaranya melampaui juara pertama.

Teror itu tidak berhenti sampai di sana saja. Saat motornya baru saja hendak melewati batas gerbang desa dan di sepanjang jalanan aspal keluar, Rahsya disuguhi oleh pemandangan berbagai macam makhluk gaib yang berdiri berjejer di pinggir jalan. Kalau dipikir-pikir menggunakan sisa logikanya, ia saat ini seperti sedang dipaksa menonton sebuah acara pawai hantu tingkat nasional.

Namun, karena hormon adrenalin di dalam tubuhnya saat ini sudah mengalir melebihi batas dosis normal, rasa ketakutannya mendadak berubah menjadi sebuah rasa kekesalan yang hakiki pada dunia mistis desa ini.

Sesosok hantu kuntilanak tiba-tiba saja muncul melayang di dalam pantulan kaca spion motornya, terbang mengejarnya dengan rambut hitam panjang yang berkibar-kibar mengerikan ditiup angin.

"Dokteeeerrr... tungguuu..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!