NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Dua kali ia berhenti di depan rak perlengkapan di toko grosir langganan. Dua kali ia membaca label sarung tangan karet sambil berpura-pura sedang mencari sesuatu yang lain. Dan dua kali ia pulang dengan tangan kosong dan perasaan aneh, seperti seseorang yang berutang sesuatu pada orang yang bahkan tidak tahu ia berutang.

Sementara itu, di balik bak cuci piring Waroeng Reyhan, Anindya menghitung hal-hal yang tidak boleh ia tunjukkan pada siapa pun.

Hari kedua jauh lebih parah dari yang Bayu janjikan. Ia bangun dengan jari-jari yang rasanya seperti bukan miliknya. Di kamar kos, ia mengoleskan lotion dari botol yang hampir habis, menunggu sampai meresap, lalu menempelkan plester di dua ruas yang kulitnya mulai mengelupas. Plester itu bertahan sampai jam sembilan, sebelum akhirnya basah, lepas, dan hanyut bersama busa sabun. Ia tidak mengeluh. Ia mengambil plester baru dari tas dan memasangnya lagi, sambil berharap tidak ada yang melihat.

Karena ia tahu persis apa yang terjadi pada orang yang mengeluh di hari kedua.

Pemilik toko roti dulu pernah berkata, di hari ia batuk-batuk di belakang etalase, "Kalau sakit, jangan masuk. Banyak yang antre gantiin." Dua minggu kemudian, lewat sebuah pesan singkat, ia memang digantikan.

Mbak Sari melihat plester itu. Tapi Mbak Sari hanya melirik sekilas lalu kembali memotong bawang, dan buat Mbak Sari, itu sudah cukup jelas artinya: *saya tahu, dan saya nggak akan bahas.*

"Pake hansaplast mah percuma, Nin," kata Teh Lilis sambil lewat membawa panci. "Basah doang, nanti malah lecet."

"Nggak apa-apa, Teh. Cuma sebentar."

"Sebentar apanya, kamu kerja sampai jam empat."

Teh Lilis tidak menawarkan solusi, karena memang tidak punya. Ia hanya menggeleng, lalu pergi.

Siang itu, Anindya makan di bangku plastik belakang dapur bersama Bayu dan Teh Lilis, dengan nasi dan sayur asem sisa menu warung yang selalu dimasak lebih banyak untuk karyawan. Seorang laki-laki dari bagian goreng, lebar dan tenang, lewat sambil mengelap tangan dan berkata dengan nada orang berpengalaman, "Tangan tukang cuci piring itu kayak sepatu baru. Dua minggu baru enak."

"Dua minggu itu lama banget, Mas," kata Anindya.

"Makanya sabar."

Dua minggu. Anindya menatap telapak tangannya yang berdenyut. Ia tidak yakin tangannya akan bertahan dua hari lagi, apalagi dua minggu. Tapi ia menelan nasi di mulutnya bersama kekhawatiran itu, dan tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.

Di sela-sela itu, Reyhan lewat di dapur dua kali. Tidak bicara, tidak berhenti. Tapi pada kedua kalinya, matanya jatuh ke tangan Anindya sebelum buru-buru pindah ke arah lain. Anindya tidak melihatnya. Bayu melihat, dan memilih menyesap tehnya lebih lama dari biasanya.

---

Apotek dua puluh empat jam di dekat perempatan itu sepi sekali.

Jam sepuluh lewat tiga puluh malam, hanya ada satu apoteker perempuan muda di balik meja dan Reyhan, yang berdiri di depan rak perlengkapan medis dengan tangan di saku, seperti orang yang tidak sengaja masuk dan sedang pura-pura membaca label.

"Cari apa, Mas?"

"Sarung tangan."

"Medis, atau yang buat cuci piring?"

"Yang... bisa buat cuci." Reyhan berdeham. "Latex."

"Buat siapa, Mas? Ukurannya biasanya beda-beda."

Di titik ini, Reyhan terdiam agak lama. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena jawabannya ada di kepalanya dengan sangat jelas, terlalu jelas: ukuran jari-jari yang memerah itu, cara tangan itu menggenggam gelas, lebar telapaknya yang kecil.

"M," katanya akhirnya.

Apoteker itu menatapnya sebentar dengan ekspresi yang jelas-jelas menahan komentar, lalu mengambilkan satu kotak. "Buat pegawai ya, Mas?"

"Ya."

"Baik banget bosnya."

"Itu perlengkapan kerja," kata Reyhan datar, dan membayar tanpa menunggu kembalian.

Setengah jam kemudian, warung sudah gelap. Semua kursi terbalik di atas meja, semua kompor mati, semua orang sudah pulang. Hanya satu lampu dapur yang masih menyala. Reyhan berdiri di depan bak cuci dengan sebuah kantong plastik putih di tangan, dan tidak tahu harus berbuat apa dengan dirinya sendiri.

Ia sempat mengambil kertas kecil dari laci, menulis dua kata, lalu menatapnya lama. *Pakai ini.* Terlalu terang-terangan. Ia meremas kertas itu dan memasukkannya ke saku.

Lalu ia menyampirkan kantong plastik di keran bengkok, menepuk kenop keran sekali seolah memastikan benda itu tidak jatuh, mematikan lampu, dan pergi.

Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan. Dan seperti biasa, tidak ada keberanian.

---

Pagi itu Anindya datang jam enam lima puluh, lima menit lebih dekat ke jam tujuh daripada kemarin. Mbak Sari, yang sudah menunggu di depan pintu sambil melipat tangan, hanya berkata, "Nah, gini dong. Nggak kepagian."

"Iya, Mbak. Saya belajar."

"Bagus."

Gembok dibuka, lampu dinyalakan satu per satu, dan Anindya langsung menuju bak cuci untuk mengambil apron. Di situ ia berhenti.

Di keran bengkok yang selalu ia lihat sejak kemarin, tergantung sebuah kantong plastik putih. Bukan kantong dari warung. Terlalu bersih, terlalu rapi, dengan simpul kecil di bagian atas.

"Mbak Sari?"

"Hm."

"Ini punya siapa?"

Mbak Sari menoleh sebentar, melihat kantong itu, lalu mengangkat bahu. "Bukan punya saya."

Anindya membuka simpulnya dengan hati-hati. Di dalamnya ada sebuah kotak kecil, dan di dalam kotak itu, sepasang sarung tangan latex berwarna kuning pucat, masih tertutup plastik tipis. Tidak ada kertas, tidak ada catatan, tidak ada nama.

Selama beberapa detik, ia tidak bisa bergerak. Dadanya terasa aneh, sesak dan hangat sekaligus, seperti seseorang yang selama berminggu-minggu berjalan di tengah hujan tanpa payung dan tiba-tiba menyadari ada atap kecil di atas kepalanya.

Teh Lilis, yang baru datang, langsung berhenti di ambang pintu seperti anjing pelacak mencium sesuatu. "Eh, eh, apaan tuh? Kenapa ada sarung tangan di sini?"

"Ada yang ngegantung di keran, Teh. Saya nggak tahu siapa."

"Wah." Teh Lilis meletakkan tasnya dan mendekat dengan mata berbinar. "Pengagum rahasia!"

"Teh Lilis..."

"Beneran! Siapa lagi yang tahu tangan kamu lagi parah? Itu pasti dari orang yang perhatian."

"Pakai aja," kata Mbak Sari dari meja potong, tanpa menoleh. Pisaunya tidak berhenti bergerak. "Kamu butuh."

Dan itu keputusan final.

Jam sembilan, ketika para laki-laki datang dan melihat Anindya mencuci piring dengan sarung tangan kuning yang masih agak kebesaran di ujung jari, hampir semuanya berhenti.

"Wah, perlengkapan baru," kata Dimas. "Siapa yang romantis nih?"

"Pasti Bayu," kata seorang pelayan cepat, menyeringai.

"Bukan aku," jawab Bayu singkat. Ia meletakkan dispenser kopinya, dan tanpa sadar, matanya bergerak sebentar ke arah koridor menuju ruang kerja. Hanya satu detik. Tidak ada yang memperhatikan. Kecuali mungkin laki-laki lebar dari bagian goreng, yang berpura-pura sibuk dengan wajan.

"Atau dia," lanjut si pelayan, menunjuk rekannya.

"Eh? Bukan, Mbak! Maksudnya, bukan saya!" Pelayan yang canggung itu langsung merah sampai ke telinga.

Semua orang tertawa. Anindya juga, walau dengan canggung, dan walau jantungnya bekerja sedikit lebih cepat dari seharusnya.

Reyhan datang jam sepuluh kurang sepuluh, lebih awal dari biasanya. Seperti kemarin, ia lewat koridor tanpa suara. Tapi hari ini, saat melewati pintu dapur, langkahnya melambat seperempat detik. Hanya seperempat detik, dan hanya orang yang sangat teliti yang akan menyadarinya.

"Mas!" Teh Lilis tidak termasuk orang yang teliti, tapi ia termasuk orang yang tidak bisa menahan diri. "Mas, ada yang ngasih sarung tangan buat Anin, lho. Nggak tahu siapa. Nggantung di keran."

Reyhan berhenti. Ia menoleh perlahan, wajahnya sedatar biasa. Matanya jatuh ke tangan Anindya yang masih basah di dalam sarung tangan kuning itu, lalu naik ke wajahnya, lalu kembali ke Teh Lilis.

"Bagus," katanya.

"Mas tahu siapa?"

"Nggak."

"Beneran?"

"Saya baru datang, Lis."

Teh Lilis mengangguk-angguk, kecewa tapi tidak menyerah. Reyhan sudah hampir pergi ketika ia berhenti lagi, kali ini tanpa menoleh.

"Kalau ada yang ngasih perlengkapan," katanya, "dipakai. Jangan disimpan."

"Iya, Mas," jawab Anindya pelan. "Terima kasih."

Hening sesaat. Lalu Reyhan menjawab, "Buat apa terima kasih ke saya. Saya nggak ngapa-ngapain."

Dan ia pergi ke arah ruang kerja, melewati kusen pintu. Tangannya mengetuk kayu kusen itu dua kali, kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika ia gugup. Hanya Bayu yang tahu itu. Dan Bayu memilih untuk diam.

---

Siang itu, untuk pertama kalinya sejak masuk kerja, tangan Anindya tidak terasa terbakar.

Ia mencuci piring lebih tenang, lebih cepat, dan tidak perlu lagi menahan napas setiap kali air panas menyentuh kulit. Di sela-sela kerja, ia sesekali menatap sarung tangan kuning itu, seolah ingin memastikan ia tidak sedang bermimpi.

Pas. Terlalu pas, malah. Ujung jarinya tidak kebesaran, pergelangan tangannya tidak longgar. Ukurannya tepat seperti tangannya sendiri.

Seperti ada seseorang yang pernah mengukurnya diam-diam.

Anindya menatap pintu ruang kerja di ujung koridor, yang tertutup rapat seperti biasa. Ia tidak berani menebak. Tidak setelah semua yang ia alami. Tapi ada satu pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan dari kepalanya, pelan dan keras kepala seperti air yang merembes lewat celah.

*Siapa yang tahu tanganku sampai sedetail ini?*

Bersambung ke Bab 3..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!