Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Jika ada satu hal yang Karin pelajari dari novel ini, itu adalah jangan pernah menerima ajakan bermain golf dari suami CEO.
"Kak Arlan, aku nggak bisa main golf," protes Karin saat Arlan sedang memilihkan sarung tangan golf untuknya di pro shop yang beraroma kulit mahal. "Nanti kalau stiknya kepleset, malah memukul kepala orang. Berbahaya, Kak. Nanti Kak Arlan dipenjara karena istrinya pembunuh berantai pakai stik golf."
Arlan tidak menoleh, fokusnya masih pada ukuran sarung tangan yang ia pilih. "Kita tidak akan bermain sungguhan, Karin. Kita hanya akan memukul beberapa bola sebagai basa-basi. Mr. Sterling, investor utama dari Inggris, sangat menyukai golf. Istrinya, Eleanor, juga. Ini adalah kesempatan untuk mengamankan kontrak proyek pelabuhan."
"Terus kenapa aku harus ikut? Kalau cuma basa-basi, kan bisa ngopi!"
"Karena Mr. Sterling bilang, dia hanya percaya pada pria yang mencintai istrinya dan mau menghabiskan waktu luang bersamanya," jawab Arlan datar, akhirnya menoleh dan menyodorkan sarung tangan itu. "Pakai ini. Dan tolong, hari ini jangan bicara soal hantu atau ulat. Cukup tersenyum dan angguk."
Karin menerima sarung tangan itu dengan pasrah. Oke. Senyum dan angguk. Aku bisa melakukan itu. Aku adalah istri CEO yang anggun dan normal.
***
Lapangan golf Dirgantara Country Club terlihat seperti lukisan. Rumputnya hijau sempurna, langitnya biru tanpa awan, dan udaranya segar. Namun, suasana hati Karin sama sekali tidak sejuk itu.
Di tengah tee box, mereka disambut oleh Mr. Sterling, pria paruh baya dengan wajah merah ceria, dan istrinya, Eleanor, yang mengenakan topi lebar dan tatapan yang bisa membekukan air mendidih. Dan yang membuat perut Karin mulas, berdiri di belakang Eleanor dengan senyum manis yang menjengkelkan, adalah Vanessa.
"Arlan! Senang melihatmu, kawan!" sapa Mr. Sterling dengan logat Inggris yang kental. "Dan ini pasti istri cantiknya, Mrs. Karin."
"Halo, Pak Sterling! Halo, Bu Eleanor!" sapa Karin riang, lupa dengan instruksi Arlan untuk bersikap anggun. Ia mengulurkan tangan, lalu tiba-tiba menariknya kembali dan menunduk hormat seperti pelayan restoran Jepang. "Selamat datang di Indonesia! Semoga bolanya lurus-lurus dan nggak nyasar ke hutan!"
Mr. Sterling tertawa renyah. "Ah, istri yang menyenangkan! Sangat... berenergi!"
Eleanor menatap Karin dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Ya, sangat... unik. Arlan, aku dengar istrimu sedang... pemulihan. Apakah dia aman memegang stik golf?"
"Karin perfectly aman, Eleanor," jawab Arlan dingin, melangkah maju dan secara natural merangkul pinggang Karin. Jantung Karin melonjak saat merasakan kehangatan tubuh pria itu melalui kemeja polosnya. "Mari kita mulai."
Vanessa melangkah maju, membawa tas peralatan golf dengan anggun. "Boleh aku bantu menyiapkan stik untuk Kak Arlan? Aku baru saja mengambil kursus privat minggu lalu. Mungkin aku juga bisa mengajari Kak Karin cara memegang stik yang benar, biar nggak memukul rumput terus."
Pelakor ini benar-benar nggak punya malu! Datang ke tempat suami-istri orang bawa-bawa stik golf! Batin Karin geram.
Arlan menatap Vanessa dengan tatapan yang bisa membekukan lautan. "Terima kasih, Vanessa. Tapi Bu Marta yang akan menyiapkan peralatanku. Kau bisa duduk di clubhouse dan menunggu."
Wajah Vanessa pucat, tapi ia tidak bisa membantah perintah langsung dari sang CEO. Ia mengangguk kaku dan menyingkir.
Permainan pun dimulai. Mr. Sterling dan Arlan memukul bola dengan sempurna, meluncur jauh ke fairway. Eleanor memukul dengan anggun meski tidak terlalu jauh.
Kini, giliran Karin.
Seorang caddy dengan sopan meletakkan sebuah bola golf putih di atas tee. Karin menatap bola kecil itu. Ia memegang stik golfnya seperti sedang memegang sapu ijuk.
"Silakan, Mrs. Karin," ucap Eleanor dengan senyum sarkastik. "Tunjukkan pada kami keahlianmu."
Karin menarik napas dalam. Oke, Karin. Pukul bolanya. Pukul sekuat tenaga. Lupakan aturan, lupakan gaya, yang penting bolanya pindah.
Ia mengayunkan stik itu dengan seluruh tenaga yang ia punya.
SWISH!
Stik golf itu membelah udara dengan kencang. Tapi bolanya? Bolanya tidak bergerak sedikit pun. Yang terjadi adalah Karin kehilangan keseimbangan karena ayunannya yang terlalu keras. Ia berputar satu kali, lalu jatuh terduduk dengan pantat menghantam umput hijau dengan suara buk yang pelan.
Hening.
lanjut kn thor💪