Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 - Kami Mulai Kaya Sedikit
Seburuk apa pun rasa kesal Nina, tetap saja Intan sangat bahagia.
Nina boleh berdiri cemberut seharian di sana; Intan tidak punya waktu untuk itu. Semakin lama berjualan, semakin yakin dia bahwa dendam yang dipupuk hanya membuang tenaga. Tangan yang sibuk mengaduk mutiara tidak akan sempat mengepalkan diri untuk orang lain.
Hampir sebulan Intan berjualan. Bisnisnya bisa dikatakan tengah meroket, dan bahan baku yang masuk semakin lama semakin banyak. Ruang rumah mereka yang mungil itu tidak lagi cukup; karton-karton besar menumpuk di sudut ruang tamu, botol-botol susu dan madu berdiri berjajar di lantai dapur, dan kotak mutiara menumpuk di meja makan sampai-sampai tidak ada tempat untuk menaruh barang.
Rumah yang dulu sepi kini selalu menyebar aroma teh dan krim kocok. Ibu berkata setengah bercanda bahwa rumah mereka sudah berubah seperti pabrik minuman mini.
Baru Intan tahu bahwa berdagang itu bukan hanya soal menjual. Belanja bahan, memilah mutiara yang tidak mengecil saat direbus, menyimpan susu agar tidak cepat basi, sampai mengatur ritme pengiriman — semuanya saling bertaut seperti serangkaian gerigi. Setiap malam Intan dan Ibu duduk di dapur menyusun kebutuhan besok, menghitung dengan teliti, lalu mencatat angka-angkanya di buku tulis bekas.
Dulu Intan membuat es sendiri di rumah. Sekarang tidak lagi: setiap pagi ia menelepon memesan es batu, dan penjual es langganannya datang mengantar beberapa kotak setiap hari. Kotak-kotak es yang mengilap itu dipotong-potong, dihancurkan, lalu disimpan dalam wadah termos. Secara hitungan, beberapa kotak es habis dalam sehari.
Penjual es itu termasuk orang yang ramah; kadang ia ikut melongo melihat antrean di gerobak mereka sambil menghitung berapa keuntungan yang mungkin masuk ke kantong mereka. Intan memotong esnya menjadi balok-balok rapi, menghancurkan sebagian menjadi butiran halus untuk taburan, dan menyimpan sisanya dalam wadah termos bekas agar tidak cepat mencair.
Sedikit susu, sedikit gula, dan sejengkal kesibukan, begitulah pagi-pagi mereka berjalan.
Kadang-kadang Intan tersenyum sendiri melihat tumpukan karton di ruang tamu. Tiga bulan lalu lemari makan mereka nyaris kosong, dan ia ingat sekali Ibu yang pernah berkata lirih bahwa rumah ini tidak pernah benar-benar penuh. Sekarang lemari itu sesak, tetapi bukan itu yang membuat penuh; yang lebih berharga adalah cara mereka saling menatap ketika menghitung hasil dagangan di malam hari.
Bos toko air mineral yang menjaga pojok tempat mereka berjualan itu ikut merasakan limpahan rezeki. Pendapatannya bulan ini dua kali lipat dibanding bulan biasanya, berkat gerai mereka yang memakai banyak air mineral. Saking senangnya, beberapa kali ia tertawa lebar sampai seluruh giginya tak tersembunyi, lalu menyebut Intan "mitra usaha" seraya menepuk pundak Bapak.
Bos toko itu lalu menyarankan mereka menambah satu etalase kecil di sisi utara tokonya, tepat di jalur orang menuju pintu keluar. Mereka sempat menimbang ongkos tambahan, tetapi setelah dihitung-hitung ternyata ongkos itu jauh lebih kecil daripada untung dari jalur yang lebih ramai. Maka bulan berikutnya pojok mereka bertambah luas, tanpa menggeser tumpukan barang milik toko itu.
Pelanggan yang sama mulai datang pada jam yang sama, dan sebagian mulai memanggil nama Intan. Ada ibu-ibu yang memesan dua gelas sekaligus, satu untuk dirinya dan satu untuk anaknya yang baru selesai kursus; ada pula bapak-bapak yang menyambi menunggu istrinya belanja di toko sebelah. Lama-lama nama mereka tidak asing lagi di halaman toko itu, dan itu membuat Bapak bangga dengan cara yang tidak bisa ia sembunyikan.
Pada hari pengumuman hasil ujian masuk SMA, Intan berangkat ke gerobak seperti hari-hari biasa, sama sekali tidak gugup. Dari sudut pandangnya, angka itu sudah lama tertulis di telapak tangan; tidak ada gunanya gugup. Ia sibuk melayani pelanggan sampai tengah hari.
Pengumuman hasil ujian memang hari besar bagi hampir semua teman sekelas, tetapi bagi Intan angka itu hanyalah penegasan atas apa yang sudah ditanamnya sejak tiga bulan lalu. Di kehidupan sebelumnya Intan menunggu pengumuman dengan dada berdebar, takut mengecewakan Bapak dan Ibu yang sudah membanting tulang. Kini ia bahkan sulit mengingat hari apa pengumuman itu seharusnya jatuh; kesibukan gerobak lebih jujur daripada kegugupan yang tidak perlu dibuat-buat.
Ketika Intan sedang sibuk-sibuknya, Bapak datang mengantar makanan. Pertanyaan pertamanya bukan tentang dagangan, melainkan tentang ini: "Nilai ujian masuk SMA-nya berapa, Nak?"
Intan tahu pertanyaan itu pasti datang. Bapak menaruh bekal di atas etalase, lalu berdiri menunggu jawaban seperti anak kecil menunggu gula-gula. Di belakangnya, dua pelanggan yang sudah memesan malah ikut mendengar sambil terkekeh, membuat ujung telinga Intan sedikit hangat.
Intan menahan senyum, lalu menjawab dengan tenang: "Belum kuperiksa! Nanti malam pulang dulu, baru kutelepon untuk memeriksa, biar Ibu dan Dimas ikut mendengar sama-sama."
Bapak kaget. "Kamu! Kamu! Kamu seperti orang gila kerja! Memangnya nilai ujian masuk SMA itu hal yang boleh diabaikan?"
Intan menahan lengan Bapak yang sudah menggapai-gapai mencari telepon. "Sabar, Pak." Sebaiknya didengar di rumah, biar Ibu ikut mendengar. Bapak mengarahkan jarinya ke arah Intan sambil menggeleng-geleng, kesal tetapi tertawa pelan, lalu kembali ke posisinya di balik etalase.
Bapak masih tergemas, tetapi kedua tangannya tetap lincah: membuka bekal, menuang teh, mengelap etalase, dan menyambut pelanggan yang datang, semuanya tanpa terputus. Sebulan membantu jualan telah membuat Bapak mahir; setiap gerakannya seperti orang yang sudah bertahun-tahun berdagang. Intan tersenyum melihat punggungnya yang sedikit kaku tetapi sibuk itu, lalu melanjutkan melayani antrean di depan gerobak.
Antrean itu tidak terlalu panjang, tetapi kelihatannya tidak akan putus sampai senja. Setiap kali Intan menoleh, Bapak sudah berada di sisi yang lain, mengambil gelas atau menyodorkan sedotan sebelum Intan sempat memintanya. Seisi pojok toko itu terasa seperti dapur rumah mereka yang kedua: sibuk, hangat, dan tidak pernah mengeluh.
Ketika matahari mulai condong ke barat, antrean di depan gerobak akhirnya mulai menipis. Intan baru bisa menarik napas, menyeduh segelas teh, lalu duduk di samping etalase untuk memakan bekal yang sejak tadi dibawa Bapak. Pelanggan yang baru saja pergi masih berdiskusi tentang dia; sebagian memesan sekali lagi sebelum pulang, seolah belum rela meninggalkan tempat itu.
Bapak membereskan gelas-gelas yang tersisa dengan gerakan yang semakin ringan, lalu menghampiri Intan. Wajahnya sejak tadi gelisah, diselimuti pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan. Dia sudah beberapa kali membuka mulut, tetapi setiap kali kata-kata itu kembali hilang, sampai akhirnya ia hanya bertanya, "Nak, sudah makan?" "Sudah," jawab Intan sambil mengunyah. "Bapak juga belum? Ayo, duduk sebentar."
Intan melihat semua itu, lalu tersenyum tipis. Keranjang bahan di bawah etalase tidak pernah kosong selama tiga bulan terakhir; hari ini pun sama saja. Tapi ada satu hal yang harus ia bereskan sore ini, dan ia sudah tahu persis apa hasilnya. Hanya saja, ia ingin melihat wajah ayahnya yang gelisah itu sedikit lebih lama lagi. Jadi ia mengunyah pelan-pelan, menyesap tehnya, lalu mengulurkan tangan ke arah tas di bawah etalase, tempat ponsel Bapak tersimpan sejak tadi.