Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Arena Serigala
Senin pagi tiba dengan langit Jakarta yang mendung tertutup awan kelabu. Di lantai 30 Gedung Dirgantara Tower, ruang rapat utama bergaya board room eksekutif sudah dipenuhi oleh jajaran dewan komisaris, tim auditor independen, serta para pemegang saham veteran.
Di ujung meja mahoni berukuran besar, Dion duduk menyilangkan kaki dengan senyum penuh kemenangan. Di sampingnya, Ibu Helen sibuk berbisik dengan beberapa komisaris senior, membangun opini untuk menjatuhkan posisi Arvin.
Pintu ganda ruang rapat mendadak terbuka.
Arvin melangkah masuk dengan balikan setelan jas tiga lapis berwarna charcoal grey. Langkah kakinya mantap, memancarkan aura dominasi mutlak yang seketika membungkam bisik-bisik di dalam ruangan. Tepat di sampingnya, Dania berjalan tegap mengenakan blazer blazer hitam berpotongan tajam.
Meski lingkaran hitam samar menghiasi bawah matanya—akibat tidak tidur menjaga Rehan di ICU—wajah Dania terpancar keteguhan yang tak tergoyahkan.
Arvin menarik kan kursi di samping posisinya untuk Dania, sebuah gerakan formal yang kaku namun penuh penekanan status.
"Selamat pagi, Anggota Dewan yang terhormat," sapa Arvin dingin seraya duduk di kursi pimpinan. "Kita mulai rapat evaluasi dan audit independen hari ini."
Ibu Helen langsung mengetuk meja dengan pulpen mewahnya, memotong sebelum Arvin sempat membuka dokumen.
"Mari kita hemat waktu, Arvin," ujar Ibu Helen dengan suara lantang yang mengudara di ruangan. "Sesuai klausa khusus surat wasiat Almarhum Kakak saya, Wijaya Dirgantara, kamu hanya berhak memegang lima puluh satu persen saham utama dan posisi CEO jika sudah menikah secara sah dengan wanita pilihan Kakekmu."
Ibu Helen menunjuk Dania dengan tatapan merendahkan. "Namun, kami menemukan indikasi kuat bahwa pernikahan ini hanyalah rekayasa kontrak untuk menyelamatkan posisimu dari ancaman pembagian saham."
Dion ikut menyeringai, melemparkan satu bundel berkas ke tengah meja rapat.
"Ini adalah bukti aliran dana sebesar ratusan juta dari rekening perwalian Dirgantara ke Rumah Sakit Medika Utama untuk biaya operasi adik Nyonya Dania," potong Dion dengan nada mengintimidasi. "Pernikahan ini bukan didasari hubungan sah, melainkan transaksi jual beli keputusan! Dania hanya menjual tanda tangannya demi menyelamatkan adiknya yang sekarat!"
Beberapa komisaris tua mulai bersungut-sungut, saling bertukar pandang penuh keraguan. Atmosfer di dalam ruangan mendadak memanas dan penuh ancaman.
Dania mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa panas menjalar di dadanya saat Dion menyebut adiknya sebagai bahan tumpangan transaksi kotor. Namun, sebelum Dania sempat bersuara, Arvin mengangkat satu tangannya—memberikan isyarat agar Dania tetap tenang.
Arvin tidak sedikit pun terlihat panik. Ia bersandar di kursinya, menyatukan ujung-ujung jarinya di atas meja, lalu menatap Dion dengan tatapan menembus bagai belati.
"Sudah selesai, Dion?" tanya Arvin datar, suaranya tenang tanpa ada riak emosi.
Dion mengernyit, merasa terganggu dengan reaksi Arvin yang terlalu tenang. "Apa maksudmu? Bukti itu nyata! Kamu memanfaatkan dana perusahaan untuk menyuap wanita ini agar mau berpura-pura menjadi istrimu!"
Arvin memiringkan kepalanya sedikit, lalu menoleh pada Rian yang berdiri di dekat layar proyektor. "Rian, tampilkan Dokumen Lampiran B-12 dan laporan audit internal sub-divisi pengadaan."
Rian menekan remote. Layar proyektor raksasa di belakang Arvin seketika menyala, menampilkan grafik keuangan dan jejak transaksi digital berstempel legalitas hukum.
"Pertama," ujar Arvin seraya berdiri, merapikan kancing jasnya. "Dana perwalian yang dialokasikan untuk penanganan medis keluarga Dania Kirana adalah hak mutlak yang diatur langsung dalam addendum surat wasiat Kakek Wijaya pasal empat ayat dua—yang ditandatangani jauh sebelum Kakek wafat."
Arvin menatap Ibu Helen dan para komisaris tua. "Kakek sudah mengenal keluarga Dania dan mendaftarkan mereka sebagai penerima dana proteksi perwalian keluarga sejak dua tahun lalu. Jadi, tidak ada istilah penyuapan atau transaksi mendadak seperti yang dituduhkan Dion."
Wajah Ibu Helen mendadak berubah agak pucat. Ia menoleh tajam pada Dion, menyadari sepupunya itu telah memberinya informasi yang tidak utuh.
"Dan kedua..." Arvin melangkah perlahan mengitari meja rapat, berhenti tepat di belakang kursi Dion. Pria tinggi tegap itu menunduk sedikit, membisikkan kalimat yang terdengar begitu jelas di seluruh ruangan.
"Daripada meragukan keabsahan pernikahan resmiku yang sudah terdaftar di catatan sipil negara... bagaimana kalau dewan komisaris lebih dulu memeriksa laporan aliran dana sepuluh miliar dari proyek Grand Dirgantara Tower yang mengalir ke rekening pribadi perusahaan cangkang milikmu di Singapura, Dion?"
DEG!
Wajah Dion seketika memutih bagai mayat. Kertas-kertas di tangannya terlepas dan jatuh berserakan di atas lantai marmer.