"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.
Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
"Nama Anggraini bukan pintu umum yang bisa kamu ketuk sesuka hati."
Kalimat itu keluar dari mulut perempuan berkerudung krem yang berdiri di depan gerbang rumah tua Menteng. Usianya mungkin lewat lima puluh, tetapi punggungnya masih tegak, matanya tajam seperti orang yang terbiasa memeriksa siapa yang pantas duduk di meja keluarga.
Naira turun dari mobil tanpa meminta Bagas membukakan pintu.
Di belakangnya, Surya berdiri dengan wajah tenang. Terlalu tenang untuk orang yang baru saja mendengar nama istrinya disebut seperti noda.
"Saya tidak mengetuk sesuka hati," kata Naira. "Saya datang membawa hak ibu saya."
Perempuan itu tertawa pendek. "Ibumu sudah tidak punya hak di sini."
Maya yang ikut sebagai kuasa hukum mengangkat alis. "Ibu Ratri Anggraini, benar?"
"Kamu tidak perlu menyebut nama saya seolah kita satu meja," jawab Ratri.
"Baik. Kalau begitu saya sebut sesuai berkas notaris." Maya membuka map. "Ratri Anggraini, anggota dewan yayasan sementara, penerima kuasa administratif sejak Dr. Sari Anggraini dinyatakan hilang."
Wajah Ratri berubah sedikit.
Naira melihat itu.
Lima tahun menjadi istri yang dianggap tidak berguna membuatnya ahli membaca jeda. Orang yang benar-benar bersih biasanya marah karena dihina. Orang yang menyembunyikan sesuatu marah karena disebut terlalu tepat.
"Saya hanya ingin bertemu Eyang Mirah," kata Naira.
"Beliau tidak bisa menerima tamu."
"Saya cucunya."
"Cucu?" Seorang pria keluar dari pendopo. Tubuhnya besar, batiknya mahal, senyumnya dingin. "Anak dari perempuan yang meninggalkan rumah, mencuri data yayasan, lalu membuat malu keluarga?"
Surya melangkah satu kali.
Bagas ikut bergerak.
Naira mengangkat tangan. "Papa."
Surya berhenti, tetapi rahangnya mengeras.
Pria itu menatap Surya dengan sisa keberanian yang dipaksakan. "Pak Surya Atmadja, saya menghormati posisi Anda di Jakarta. Tapi ini urusan keluarga Anggraini."
"Sari istri saya," kata Surya pelan. "Naira anak saya. Jangan ajari saya arti keluarga."
Ratri segera menyela, "Pak Wibowo hanya menyampaikan fakta. Sari sudah dicoret dari struktur keluarga. Ada rapat keluarga. Ada berita acara."
"Ada tanda tangan Eyang Mirah?" tanya Naira.
Ratri diam.
Wibowo menjawab, "Beliau sakit saat itu."
"Sakit atau dibuat tidak bisa bicara?"
Udara di depan gerbang seperti berhenti.
Seorang satpam tua menunduk. Jemarinya gemetar di sisi celana. Naira melihatnya, lalu mengingat wajah yang pernah ia lihat di foto lama ibunya. Satpam itu dulu berdiri di belakang Sari saat peresmian klinik kecil Yayasan Anggraini.
"Pak Idris," panggil Naira.
Satpam itu terkejut. "Non..."
Ratri langsung menoleh tajam. "Idris."
Idris menelan ludah.
Naira tidak mendesaknya. Ia hanya mengeluarkan satu foto dari amplop. Foto Sari muda berdiri di depan rumah itu, menggendong bayi. Di belakangnya ada Mirah Anggraini, tersenyum dengan tangan memegang bahu putrinya.
"Ibu saya tidak meninggalkan rumah ini untuk mencuri," kata Naira. "Ia keluar karena ada proyek uji klinik yang ingin ia hentikan."
"Fitnah," kata Wibowo cepat.
"Maka buka arsip yayasan."
"Kamu pikir semudah itu?"
"Tidak." Naira menatapnya. "Makanya saya datang dengan surat permohonan akses, kuasa ahli waris sementara dari pihak ayah, dan pengajuan pemeriksaan administratif ke pengawas yayasan."
Maya menyerahkan salinan dokumen.
Ratri tidak mengambilnya.
Wibowo justru merebut dan membaca dengan cepat. Wajahnya makin gelap. "Kamu belum diakui keluarga."
"Saya tidak minta diakui oleh Anda."
"Anggraini bukan nama yang bisa kamu pakai untuk menaikkan harga diri setelah diceraikan."
Dimas yang sejak tadi berdiri di dekat mobil lain tersentak.
Ia datang tanpa diundang. Naira tahu sejak mobil Mahendra berhenti di seberang jalan. Ia tidak peduli.
Tetapi kalimat itu menusuk tempat lama.
Dulu orang-orang Mahendra juga bicara begitu. Perempuan yang diceraikan harus menunduk. Perempuan yang ditinggal harus malu. Perempuan yang tidak dipilih seolah kehilangan hak untuk punya asal-usul.
Naira tersenyum kecil.
"Pak Wibowo," katanya, "kalau harga diri saya perlu dinaikkan, saya tidak akan datang ke gerbang yang dijaga orang-orang yang takut pada rekam medis seorang perempuan tua."
Wibowo melotot. "Jaga mulutmu."
"Saya menjaga mulut saya sejak umur dua puluh dua. Hasilnya, orang seperti Anda merasa bisa menulis sejarah ibu saya."
Ratri maju. Suaranya merendah. "Dengar, Nak. Sari sudah membuat ibumu sendiri stroke. Eyang Mirah jatuh sakit setelah membaca laporan pelanggaran etik Sari. Kalau kamu masih punya sedikit adab, jangan ganggu beliau."
"Kalau begitu izinkan saya memeriksa beliau."
"Kamu bukan dokter keluarga kami."
"Saya dokter."
"Banyak dokter."
"Tidak banyak yang pernah menangani kasus neurotoksik akibat obat sedatif jangka panjang."
Ratri membeku.
Naira menangkap reaksi itu.
Dimas juga menangkapnya. Ia menatap Ratri, lalu menatap Naira. Rasa bersalah di wajahnya bertambah satu lapis, karena dulu ia pernah menertawakan kemampuan Naira membaca orang dari satu kedipan.
"Saya belum bilang Eyang memakai sedatif," ujar Ratri.
"Saya juga belum bilang beliau memakainya," balas Naira. "Anda yang baru saja memberi tahu saya."
Idris menutup mulutnya.
Surya menatap gerbang. "Buka."
Wibowo tertawa kasar. "Ini bukan pelabuhan Anda, Pak Surya."
"Benar," kata Surya. "Karena itu saya masih bicara baik-baik."
Maya mengeluarkan ponsel. "Saya akan menghubungi notaris keluarga dan pengawas yayasan. Kalau akses keluarga ditolak, kami minta pemeriksaan resmi. Media masih di depan rumah sakit tadi. Mereka mungkin senang mendengar cucu Dr. Sari dilarang bertemu neneknya yang koma."
Ratri mendekat ke Naira. "Kamu belajar mengancam dari ayahmu?"
"Saya belajar bertahan dari ibu saya."
Hening.
Gerbang akhirnya terbuka bukan karena mereka mengalah, melainkan karena terlalu banyak mata melihat. Dua mobil berhenti di pinggir jalan. Beberapa tetangga keluar pura-pura menyiram tanaman. Seorang pengendara motor memperlambat laju.
Rumah tua Anggraini tampak dingin. Bukan karena sepi, tetapi karena terlalu lama dipakai menyimpan kebohongan.
Naira melangkah masuk.
Di ambang pendopo, Wibowo berkata lirih, "Sekali kamu masuk, jangan harap bisa keluar dengan nama ibumu tetap bersih."
Naira berhenti.
Ia menoleh.
"Saya datang justru karena nama ibu saya tidak pernah kotor."
Ratri tersenyum tanpa hangat. "Kamu belum tahu semua hal, Nak."
"Mungkin."
Naira menatap pintu dalam rumah.
"Tapi saya tahu satu hal. Orang yang benar tidak perlu mengunci perempuan tua agar sejarah tetap diam."
Di lantai dua, dari balik jendela yang tirainya tidak tertutup rapat, seseorang bergerak cepat.
Naira melihat bayangan itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak konferensi, rasa takut yang masuk ke dadanya tidak membuatnya mundur.
Ia justru berjalan lebih cepat.
Di dalam rumah, dua perempuan paruh baya berdiri di dekat tangga.
"Non Naira," kata yang lebih tua, suaranya dibuat lembut. "Mungkin sebaiknya menunggu di bawah. Bu Mirah tidak biasa melihat banyak orang."
"Beliau tidak biasa melihat orang atau tidak boleh melihat orang?"
Perempuan itu menunduk.
Ratri menyusul dari belakang. "Kamu mempermalukan staf rumah."
"Tidak. Saya memberi mereka kesempatan untuk tidak ikut menanggung dosa orang lain."
Wibowo tertawa. "Bahasamu berat sekali untuk perempuan yang baru kemarin diakui."
Naira berhenti di anak tangga pertama. "Pak Wibowo, pengakuan orang lain tidak pernah menjadi awal keberadaan saya. Saya sudah ada sebelum Anda mengizinkan."
Surya menghela napas kecil.
Di ujung tangga, terdengar benda jatuh. Seperti gelas plastik menyentuh lantai.
Naira langsung naik.
Ratri mencoba menahan lengannya, tetapi kali ini Naira lebih dulu menatap tangannya.
"Jangan."
Satu kata itu membuat Ratri menarik tangan kembali.
Pintu kamar di lantai dua tertutup. Dari sela bawahnya, cahaya keluar tipis. Tidak ada suara televisi. Hanya mesin pendingin dan bunyi tetesan yang terlalu teratur.
Naira menyentuh gagang pintu.
Dingin.
"Kalau setelah pintu ini terbuka saya menemukan satu saja hal yang tidak sesuai standar perawatan," katanya tanpa menoleh, "kita tidak lagi bicara sebagai keluarga."
Wibowo mencibir. "Lalu sebagai apa?"
Naira membuka pintu.
"Sebagai dokter yang melaporkan dugaan kekerasan medis terhadap pasien rentan."
Di dalam rumah, dua perempuan paruh baya berdiri di dekat tangga. Mereka bukan keluarga inti, tetapi sikap mereka seperti pagar hidup. Salah satunya membawa baki teh yang tidak pernah disajikan.
"Non Naira," kata yang lebih tua, suaranya dibuat lembut. "Mungkin sebaiknya menunggu di bawah. Bu Mirah tidak biasa melihat banyak orang."
"Beliau tidak biasa melihat orang atau tidak boleh melihat orang?"
Perempuan itu menunduk.
Ratri menyusul dari belakang. "Kamu mempermalukan staf rumah."
"Tidak. Saya memberi mereka kesempatan untuk tidak ikut menanggung dosa orang lain."
Wibowo tertawa. "Bahasamu berat sekali untuk perempuan yang baru kemarin diakui."
Naira berhenti di anak tangga pertama. "Pak Wibowo, pengakuan orang lain tidak pernah menjadi awal keberadaan saya. Saya sudah ada sebelum Anda mengizinkan."
Dimas yang mendengar dari bawah menunduk.
Kalimat itu seperti ditujukan kepadanya juga.
Berapa lama ia membuat Naira merasa harus diizinkan menjadi seseorang? Di rumah Mahendra, ia pernah membiarkan ibunya memanggil Naira penumpang hidup. Ia pernah diam ketika Clara diberi kursi terhormat sementara Naira diminta menyiapkan minuman.
Sekarang Naira berdiri di rumah ibunya, masih harus melawan kalimat yang sama dengan wajah berbeda.
"Naira," panggilnya pelan.
Naira tidak menoleh. "Mas Dimas, kalau kamu datang hanya untuk merasa bersalah, lakukan di luar. Rumah ini sudah terlalu penuh."
Wajah Dimas pucat.
Surya menghela napas kecil, antara puas dan sakit.
Di ujung tangga, terdengar benda jatuh. Seperti gelas plastik menyentuh lantai.
Naira langsung naik.
Ratri mencoba menahan lengannya, tetapi kali ini Naira lebih dulu menatap tangannya.
"Jangan."
Satu kata itu membuat Ratri menarik tangan kembali.
Pintu kamar di lantai dua tertutup. Dari sela bawahnya, cahaya putih keluar tipis. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara perawat. Hanya mesin pendingin dan bunyi tetesan yang terlalu teratur.
Naira menyentuh gagang pintu.
Dingin.
"Kalau setelah pintu ini terbuka saya menemukan satu saja hal yang tidak sesuai standar perawatan," katanya tanpa menoleh, "kita tidak lagi bicara sebagai keluarga."
Wibowo mencibir. "Lalu sebagai apa?"
Naira membuka pintu.
"Sebagai dokter yang melaporkan dugaan kekerasan medis terhadap pasien rentan."