Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Pagi masih diselimuti kabut tipis ketika halaman depan kediaman Lin mulai ramai oleh persiapan keberangkatan. Kereta kuda utama, dihias sutra merah dan lambang keluarga Lin, sudah berdiri di depan gerbang, kuda-kudanya gelisah menghentak-hentakkan kaki di tanah dingin.
Yuxin berdiri di depan cermin kamarnya, mengenakan hanfu formal berwarna merah tua bersulam benang emas, jauh lebih megah dari apapun yang pernah dia pakai sebelumnya. Xiao Yan merapikan lipatan terakhir kainnya, tangannya sedikit gemetar karena gugup.
"Nona, semua sudah siap," ucap Xiao Yan. "Kereta sedang menunggu di depan."
Yuxin mengangguk, menatap bayangannya sendiri sejenak. Hari ini, dia akan melangkah menuju istana yang sama, tempat yang dulu merenggut nyawanya. Tapi kali ini, dia melangkah dengan mata terbuka lebar, bukan lagi gadis yang gemetar tak berdaya.
Dia tidak tahu bahwa di balik kereta kudanya, seseorang sudah lebih dulu menyelinap masuk, bersembunyi di balik tumpukan kain penutup barang bawaan sejak dini hari, jauh sebelum penjaga sempat memeriksa sekali lagi.
Rombongan keberangkatan bergerak perlahan begitu Yuxin selesai berpamitan pada kedua orang tuanya. Lin Boqing dan Nyonya Su berdiri di gerbang, melambai dengan wajah campuran bangga dan cemas. Ruoxi berdiri agak jauh di belakang mereka, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang seharusnya turut merasakan momen penting keluarganya.
Kereta kuda mulai melaju menyusuri jalan utama kota, diiringi dua pengawal berkuda di depan dan belakang. Yuxin duduk tenang di dalam, Xiao Yan di sampingnya, sesekali mengintip tirai jendela untuk melihat orang-orang yang berhenti sejenak memberi hormat pada rombongan bangsawan yang lewat.
Tepat ketika kereta melewati persimpangan ramai dekat pasar tengah kota, sesuatu bergerak di bagian belakang kereta.
Xiao Yan menoleh lebih dulu, matanya membelalak melihat bayangan yang menyelinap dari balik tumpukan kain di sudut kereta.
"Nona!"
Sebelum Xiao Yan sempat berteriak lebih keras, Yuxin sudah bergerak lebih dulu. Dia mendorong tubuh Xiao Yan ke sisi lain kereta, mengambil posisi siaga, matanya menajam menatap sosok yang baru saja muncul.
Chen Muyang, dengan wajah setengah mabuk namun penuh perhitungan, menyeringai licik sambil membuka jubah hanfu lusuhnya sendiri.
"Maaf, Yuxin," ucapnya keras, sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai keluar kereta, "tapi kita harus menyelesaikan ini sekarang juga!"
Sebelum dia sempat melangkah lebih dekat, Yuxin sudah menendang keras ke arah dadanya, membuat Chen Muyang terhuyung mundur menabrak dinding kereta. Teriakan itu sendiri dan kereta kuda yang bergoyang, sudah cukup menarik perhatian orang-orang di jalan, beberapa pedagang dan warga mulai berhenti, menoleh penasaran ke arah kereta bangsawan yang tiba-tiba bergoyang hebat.
"Ada apa di dalam sana?" seru salah satu pengawal, menghentikan kudanya, bertanya pada pengawal yang satunya.
Di dalam, Chen Muyang mencoba bangkit lagi, tapi Yuxin sudah lebih dulu menahannya dengan sikutnya di leher, menekannya ke lantai kereta.
"Kau pikir aku akan diam saja seperti dulu?" desis Yuxin, suaranya dingin, cukup pelan agar hanya Chen Muyang yang mendengar. "Kali ini, kau yang akan menanggung akibatnya, bukan aku."
Pintu kereta dibuka paksa oleh pengawal, dan seketika semua orang yang berkerumun di jalan bisa melihat dengan jelas, seorang pria tersungkur di lantai kereta, dengan penampilan yang berantakan, sementara Yuxin berdiri tegak di atasnya, tidak sedikit pun terlihat kacau, rambutnya masih tersanggul rapi, hanfunya tidak bergeser sehelai pun.
Bukan pemandangan skandal yang diharapkan siapapun yang merencanakannya.
"Pria ini menyelinap masuk ke kereta sejak sebelum kami berangkat," ucap Yuxin tegas, suaranya cukup keras untuk didengar kerumunan di luar. "Aku baru menyadarinya beberapa saat lalu, dan segera menghentikannya sebelum dia sempat berbuat lebih jauh."
Kerumunan yang tadinya mulai berbisik penuh spekulasi, kini justru berbalik arah, kagum melihat calon putri mahkota yang berhasil melumpuhkan penyusup dengan tangannya sendiri, bukan korban yang lemah tak berdaya.
Chen Muyang, yang rencananya justru berbalik menjadi bumerang, meronta di bawah tekanan siku Yuxin, mencoba bicara. "Tunggu, ini bukan seperti yang kakian kira... aku hanya merindukan adik angkatku saja!"
"Diam," potong Yuxin dingin, menekan lebih keras. Dia menoleh pada pengawal yang berdiri di pintu kereta, wajahnya tenang seolah tidak terjadi apa-apa yang berarti. "Tolong tangkap dia. Aku ingin dia diinterogasi soal siapa yang menyuruhnya melakukan ini."
Mata Chen Muyang membelalak ngeri mendengar kalimat terakhir itu.
Dua pengawal segera menyeret Chen Muyang keluar dari kereta, memaksanya berlutut di tengah jalan yang kini dipadati orang-orang yang penasaran. Tangannya diikat cepat dengan tali kasar, namun mulutnya masih terus bergerak, berusaha membalikkan keadaan yang sudah kadung berbalik melawannya.
"Tunggu, kalian salah paham!" serunya, matanya liar menatap kerumunan yang mengelilingi mereka. "Aku bukan penyusup! Aku kakaknya! Kakaknya Yuxin!"
Bisik-bisik di antara kerumunan langsung berubah, sebagian mulai saling berpandangan bingung.
"Kakak?" gumam salah satu warga. "Bukankah dia putri sulung keluarga Lin?"
"Benar!" Chen Muyang cepat menyambar celah itu, suaranya semakin keras seolah ingin didengar sebanyak mungkin orang. "Sebelum dia jadi putri bangsawan, dia dulu dibesarkan di keluarga kami! Aku kakaknya sejak kecil! Dia hanya malu mengakuiku sekarang karena sudah jadi orang penting!"
Yuxin turun dari kereta dengan tenang, tidak sedikit pun menunjukkan kepanikan yang diharapkan Chen Muyang. Dia berdiri di depan kerumunan, wajahnya tetap terjaga, meski di dalam hatinya dia tahu persis bahaya dari klaim itu, kalau dibiarkan berkembang tanpa dibantah dengan tegas, bisa menimbulkan keraguan baru soal identitas dan latar belakangnya sebelum resmi diakui istana.
"Memang benar dulu dia kakakku," ucap Yuxin, suaranya jernih, cukup keras untuk didengar seluruh kerumunan. "Aku memang pernah dibesarkan oleh keluarga Chen sebelum kebenaran identitasku terungkap. Tapi sekarang aku sudah tidak ada hubungan apaoun dengan keluarga Chen."
"Lihatlah! betapa dia tidak tahu terima kasih. Padahal aku dulu adalah keluarganya.... aku hanya ingin bertemu dengannya karen merindukan adikku yang sudah lama tidak bertemu." Chen Muyang meronta, mencoba bangkit meski tangannya terikat. "Kau dulu memanggilku Kakak! Kau tinggal serumah denganku bertahun-tahun!"
"Aku memang tinggal serumah dengan keluarga yang membesarkanku," Yuxin membalas tenang, matanya menatap tajam ke arah Chen Muyang, "sebagai anak yang ditukar sejak bayi, dan disiksa selama bertahun-tahun oleh keluarga Chen. Kau sendiri yang sering memukuliku setiap kali aku tidak memberimu uang untuk mabuk-mabukan."
Kerumunan mulai bergumam lebih keras, kali ini nada simpati mulai bergeser sepenuhnya pada Yuxin.
"Kalau dia benar kau merindukan adikmu," salah satu pengawal menyela, menatap tajam pada Chen Muyang, "kenapa kau menyelinap masuk ke kereta secara diam-diam, alih-alih datang secara terhormat menemui adikmu?"
Chen Muyang tergagap, tidak siap dengan pertanyaan yang tepat menyerang inti kebohongannya. "Aku... aku hanya ingin bicara dengannya secara pribadi, tapi rombongan ini terlalu ketat penjagaannya, jadi aku terpaksa..."
"Terpaksa menyelinap ke dalam kereta calon putri mahkota, membuka bajumu sendiri, lalu berteriak-teriak di tengah jalan ramai?" potong Yuxin, alisnya terangkat sinis. "Kalau memang niatmu baik, kenapa caramu justru seperti seseorang yang sengaja ingin menciptakan skandal?"
Pertanyaan itu tepat mengenai titik lemah rencana yang sudah kadung berantakan. Chen Muyang terdiam, tidak menemukan jawaban yang masuk akal.
Kepala pengawal melangkah maju, menghadap Yuxin dengan hormat. "Nona Lin, apa yang harus kami lakukan dengan pria ini?"
Yuxin menatap Chen Muyang yang masih berlutut, wajahnya penuh keringat dingin, ketakutan mulai menggantikan keyakinan yang tadi dia bawa dari kedai arak semalam.
"Bawa dia ke kantor pengadilan kota," jawab Yuxin akhirnya, suaranya tegas tanpa secuil pun keraguan. "Aku ingin dia diinterogasi secara resmi. Aku yakin, orang seperti dia tidak akan berani melakukan hal senekat ini sendirian, tanpa ada yang mendorongnya dari belakang."
Mata Chen Muyang membelalak ngeri, menyadari bahwa jalan yang tadinya dia kira akan menyelamatkannya, justru semakin dalam menjerat dirinya sendiri dalam kesusahan.