NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Salju turun makin lebat menutupi atap kedai tua, menciptakan selimut putih yang meredam bisingnya malam. Di dalam kamar belakang yang sempit, bau kayu pinus terbakar membaur hangat dengan udara dingin yang merembes lewat celah dinding batu.

Mu Jin duduk bersila di atas balai-balai kayu. Di pangkuannya, pedang aneh bersegi empat terbaring kaku. Tangan kanannya mengusap perlahan guratan besi dingin itu, melatih ingatan ototnya agar menyatu sempurna dengan berat senjata barunya.

TOK! TOK!

Ketukan pelan di pintu kayu memecah hening.

“Anak Muda, datanglah ke ruang tengah. Makanan hangat sudah siap,” suara Lao Jiang memanggil dari balik pintu, disusul derak langkah kakinya yang menjauh.

Mu Jin menyarungkan pedangnya kembali, mengikatnya erat di punggung, lalu melangkah keluar.

Di ruang tengah kedai yang remang oleh cahaya lentera minyak, sebuah meja kayu tebal telah tertata. Dua mangkuk sup daging asap yang membumbung hangat dan semangkuk nasi jagung keras disajikan di atasnya. Lao Jiang duduk bersandar pada kursi kayu, memegang kendi arak beras murahan.

Di sudut ruangan dekat tungku api, seorang gadis muda berusia belasan tahun berdiri menunduk. Pakaiannya dari kain linen tebal yang ditambal rapi. Begitu Mu Jin melangkah masuk, gadis itu sekilas menatapnya dengan mata bulat yang bening, sebelum akhirnya menundukkan kepala makin dalam, meremas ujung bajunya dengan canggung. Rasa malu dan takut bercampur di wajahnya yang kemerahan akibat hawa dingin.

“Ini Jiang Xia, anak perempuan satu-satunya yang menyisakan napas di rumah ini,” kata Lao Jiang pelan, menuangkan arak ke dalam cangkir tanah liatnya. Dia memberi isyarat pada gadis itu. “Xia-er, duduklah.”

Gadis bernama Jiang Xia itu melangkah perlahan, duduk di sisi jauh meja, tetap menundukkan kepala tanpa berani menatap langsung ke arah Mu Jin yang tertutup mantel bulu hitam.

Mu Jin duduk di hadapan Lao Jiang, mengambil mangkuk supnya tanpa bersuara. Dia menyantap makanan itu dengan irama yang konstan dan dingin, sebuah kebiasaan bertahan hidup yang tak terpengaruh oleh kehangatan suasana.

Lao Jiang meneguk araknya hingga tandas, membiarkan rasa panas minuman itu membakar kerongkongannya. Matanya yang tersisa satu menatap uap sup di atas meja, mendadak meredup oleh kenangan pahit.

“Rumah ini dulu ramai, Anak Muda,” bisik Lao Jiang, suaranya parau menahan beban tua. “Sebelum orang-orang dari klan besar datang mengatasnamakan pajak perbatasan lima tahun lalu. Istriku... ibunya Xia-er, digantung di gerbang desa ini hanya karena dia menyembunyikan separuh karung gandum untuk makan anak kami.”

Jari-jari Jiang Xia yang kurus mengepal makin erat di atas pangkuannya. Bau duka yang belum usai mendadak pekat menggantung di udara.

Lao Jiang menyeringai pahit, menatap Mu Jin. “Mereka bilang itu hukum Murim. Orang kecil yang tidak membayar dianggap pengkhianat. Sejak hari itu, aku berhenti percaya pada keadilan pendekar. Aku melarikan diri ke sini, membawa Xia-er yang ketakutan setengah mati setiap kali melihat orang membawa senjata.”

Mu Jin tidak berhenti mengunyah. Matanya tetap datar, tidak memancarkan simpati, tapi juga tidak menunjukkan kebosanan. Dia mengenal aroma cerita itu. Itu adalah bau yang sama dengan abu di Lembah Nian, bau ketidakberdayaan rakyat biasa di bawah kaki orang-orang yang memiliki kekuatan.

“Dunia ini tidak punya hukum untuk orang seperti kita, Tua,” kata Mu Jin serak setelah menelan makanannya. “Hukum hanya ada untuk mereka yang memegang besi.”

Lao Jiang terkekeh pelan, tawa yang kering tanpa rasa humor. “Kau benar. Tapi di tanah yang membusuk ini, melihat seorang pria membelah kayu dengan tumpuan yang jujur tanpa berniat menindas... itu sudah cukup membuatku mau membagi sup hangat malam ini.”

Jiang Xia perlahan mendongak, menatap mata Mu Jin yang kosong dari balik pendar temaram api unggun. Gadis pemalu itu tidak lagi melihat seorang monster berbahaya pada diri Mu Jin, melainkan sesosok bayangan kaku yang membawa penderitaan yang sama dalamnya dengan rumah mereka.

Di luar gubuk, angin utara meraung memukul dinding batu, namun di dalam kedai tua itu, tiga jiwa yang terluka saling berbagi keheningan di bawah naungan malam yang dingin.

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari utara sempat membiaskan cahaya di atas puncak gunung es, suara kayu membelah udara sudah bergema di belakang kedai.

Mu Jin berdiri di tengah tumpukan gelondongan pinus beku. Pakaian kusamnya basah oleh keringat meskipun hawa dingin menyengat kulit. Lengan kirinya yang pernah patah kini mulai menyatu kembali dengan kokoh, meski sesekali menyisakan getaran ngilu jika dipaksa menahan beban berlebih.

Mu Jin bukanlah pria yang tak tahu diri. Dia tahu harga dari semangkuk sup hangat, atap tempat berteduh, dan keheningan yang diberikan Lao Jiang. Maka, sebagai gantinya, dia mengambil alih seluruh pekerjaan kasar di kedai tersebut.

CRACK!

Kapak kayu di tangannya jatuh lurus. Gelondongan besar terbelah dua dengan presisi sempurna.

Mu Jin merendahkan tubuhnya, menata kayu-kayu bakar itu secara rapi di bawah atap samping gubuk agar tidak basah oleh salju. Setiap gerakan yang dia lakukan bukan sekadar bekerja, melainkan sarana melatih tumpuan kaki dan keseimbangan badannya, memastikan bahwa saat waktunya tiba untuk mengayunkan pedang aneh bersegi empat di punggungnya, tubuhnya tidak akan mengecewakannya lagi.

Saat Mu Jin sedang mengikat seikat kayu bakar tebal dengan tali jerami, pintu belakang kedai terbuka pelan.

Jiang Xia melangkah keluar membawa ember kayu berisi air bersih. Gadis pemalu itu tertegun sejenak begitu melihat Mu Jin yang bertelanjang dada di tengah sapuan angin es, memperlihatkan jaringan bekas luka bakar, tebasan, dan jahitan kasar di sepanjang punggung dan dadanya.

Wajah Jiang Xia mendadak memerah. Dia menundukkan kepala dalam-dalam, menggeser langkahnya dengan canggung agar tidak menghalangi jalan Mu Jin.

“Air... air hangat untuk mencuci muka ada di tungku, Paman,” bisik Jiang Xia hampir tak terdengar, suaranya sangat halus bercampur rasa sungkan yang tebal.

Mu Jin menghentikan kegiatannya sejenak. Dia tidak menatap gadis itu dengan pandangan menakutkan, namun matanya tetap sedingin telaga es.

“Aku sudah selesai,” kata Mu Jin serak. Dia menyambar mantel bulu hitamnya, mengenakannya kembali ke tubuhnya.

Sambil mengangkat dua ikat kayu bakar yang sangat berat di kedua pundaknya, Mu Jin melangkah melewati Jiang Xia. Langkah kakinya begitu tenang dan tidak membusungkan dada, persis seperti seorang pekerja kasar biasa yang tidak pernah mengenal pertumpahan darah.

Jiang Xia menatap punggung tegap yang terbungkus mantel hitam itu dengan pandangan samar. Meski pria asing ini membisu dan terkesan menakutkan, ada rasa aman yang aneh yang dia bawa di sekitar kedai. Sejak Mu Jin tinggal di sana, tidak ada lagi bandit-bandit kecil pembuat onar yang berani menendak pintu kedai ayahnya.

Mu Jin membawa kayu-kayu itu ke dalam dapur, menatanya tepat di samping tungku masak tempat Lao Jiang sedang merebus beras jagung.

“Kau membelah kayu seperti orang kesetanan setiap pagi, Anak Muda,” kata Lao Jiang sambil menyeringai, menghembuskan asap dari pipa tembakaunya. “Tanganmu itu dirancang untuk memegang senjata atau memegang kapak?”

Mu Jin meletakkan ikatan kayu terakhir dengan perlahan. “Besi hanyalah alat, Tua. Yang membedakan hanya apa yang dihancurkannya.”

Dia lalu duduk di sudut dapur, menarik kain bersih untuk membersihkan bilah pedang aneh bersegi empatnya dari debu. Luka-lukanya makin membaik setiap hari, dan di dalam keheningan Desa Lemah Salju ini, sang tukang kayu perlahan sedang mengumpulkan kembali seluruh kekuatannya.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!