NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam dan Perjanjian Satu Tahun

Apartemen 45A terasa terlalu sepi.

Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku masih duduk di sofa putih itu, masih memakai jas milik Brayen. Jas itu belum kulepas. Aroma kayunya masih membuatku merasa aman.

Tiba-tiba, bel apartemen berbunyi.

_TING TONG._

Jantungku langsung berdegup kencang. Siapa?

Aku membuka pintu dengan ragu.

Brayen.

Ia sudah berganti kemeja. Kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan lehernya yang tegas. Rambutnya sedikit berantakan, seperti habis mengacaknya karena frustasi. Di tangannya, ada sebuah map hitam yang sama seperti tadi. Tapi kali ini lebih tebal.

"Boleh masuk?" suaranya rendah.

Aku mengangguk panik dan minggir. "I-iya, Tuan..."

Brayen masuk. Ia melihat sekeliling apartemen yang masih rapi, lalu menatapku yang masih memeluk jasnya. Ada kilatan aneh di matanya.

"Kau belum ganti baju?"

Wajahku memerah. "Aku... aku tidak punya baju ganti, Tuan... gaun ku kan sobek..."

Tanpa bicara, ia meletakkan map hitam itu di atas meja makan kaca. "Duduk."

Aku duduk di ujung meja, sangat jauh darinya. Brayen duduk di seberangku. Jarak kami hanya satu meja, tapi rasanya seperti satu dunia.

"Kau sudah makan?"

Aku menggeleng. Mules dan drama hari ini membuatku tidak nafsu makan.

Brayen menekan tombol intercom di dinding. "Antar makan malam ke 45A. Dua porsi. Sekarang."

Lima menit kemudian, pelayan hotel datang mendorong troli penuh makanan. Steak wagyu, pasta, sup hangat, dan jus stroberi. Semua ditata cantik. Pelayan itu pergi tanpa bicara.

" Makan," perintah Brayen sambil membuka tutup piringnya sendiri.

Aku mengambil sendok dengan tangan gemetar. Baru satu suapan sup hangat masuk ke mulutku, rasa hangat itu langsung membuat air mataku ingin jatuh. Sudah lama sekali aku tidak makan makanan hangat seperti ini. Di rumah ibu tiriku, aku selalu makan sisa.

Brayen melihatku. Ia diam, memperhatikan bagaimana aku makan dengan pelan dan hati-hati, seperti takut makanannya akan diambil.

Setelah piring kami setengah kosong, Brayen akhirnya mendorong map hitam itu ke tengah meja. Ke arahku.

"Isyana, kita perlu bicara serius. Tentang pernikahan besok."

Aku meletakkan sendokku. Jantungku berdegup lagi.

Brayen membuka map itu. Di halaman pertama tertulis besar:

*PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK - ALKANTARA*

"Pernikahan kita besok bukan pernikahan biasa," Brayen memulai, suaranya kembali dingin dan profesional, seperti CEO yang sedang rapat. "Kakekku sekarat. Permintaan terakhirnya adalah melihatku menikah dan memiliki penerus. Aku tidak punya waktu untuk pacaran. Dan kau... kau butuh perlindungan dari ibu tirimu. Jadi ini saling menguntungkan."

Aku menelan ludah. "Maksud Tuan..."

"Aku sudah menyiapkan perjanjian," Ia membalik halaman. Ada banyak pasal. Mataku langsung tertuju pada pasal 5 yang dilingkari tinta merah.

_Pasal 5: Dalam masa 1 (satu) tahun pernikahan, pihak kedua (Isyana) wajib memberikan seorang anak / keturunan yang sah bagi keluarga Alkantara. Jika dalam 1 tahun tidak dapat memberikan anak, maka pernikahan akan dianggap batal dan akan dilakukan perceraian secara otomatis tanpa tuntutan harta._

Darahku membeku. Tanganku dingin.

"Anak?" bisikku, suaraku hampir hilang.

"Ya," Brayen menatapku lurus. Tatapannya dalam dan menusuk. "Keluarga Alkantara butuh penerus. Itu syarat utama kakekku. Jika kau tidak bisa memberikannya dalam satu tahun, kau bebas. Kau bisa pergi dengan apartemen ini sebagai kompensasi. Tidak akan ada yang menahanmu."

Aku menatap tulisan itu lama. Satu tahun. Anak. Dengan pria sedingin dan sekejam Brayen Lucian Alkantara yang baru kutemui hari ini.

Air mataku jatuh menetes ke atas kertas perjanjian itu.

"Kenapa... kenapa harus aku, Tuan? Kenapa tidak wanita lain yang lebih... lebih pantas? Yang lebih cantik, lebih kaya..."

Brayen terdiam lama. Ia menatap air mataku yang jatuh di atas kontraknya.

Lalu, ia melakukan sesuatu yang membuatku terkejut.

Ia mengulurkan tangannya, mengambil tisu, dan dengan gerakan yang sangat pelan, ia menghapus air mata di pipiku.

Sentuhannya dingin, tapi lembut.

"Karena tadi," bisiknya, suaranya tidak lagi seperti CEO. Lebih dalam, lebih pelan. "Saat gaunmu disobek, saat semua orang melihat punggungmu yang terbuka, kau tidak berteriak meminta tolong pada siapapun. Kau hanya menutupi tubuhmu sendiri dengan tanganmu yang kecil. Kau kuat, Isyana."

Ia menarik tangannya kembali.

"Dan wanita kuat sepertimu, pantas melahirkan anak yang kuat untuk keluarga Alkantara. Bukan wanita manja seperti adik tirimu."

Aku terdiam. Wajahku memerah mendengar kata-katanya.

"Jadi?" Ia mendorong sebuah pulpen emas ke arahku. "Kau setuju? Kau tanda tangan di sini, besok kita akad. Ayahmu, Pak Albert, akan menjadi wali. Setelah itu, kau tidak akan pernah lagi diinjak oleh wanita tua itu."

Aku menatap pulpen itu. Menatap Brayen. Menatap apartemen indah atas namaku.

Ini gila. Ini seperti menjual diriku. Tapi di sisi lain... ini adalah satu-satunya jalan keluar dari neraka.

Jika aku menolak, aku harus kembali ke rumah Rina dan Lalita. Kembali menjadi pembantu. Kembali gaunnya disobek lagi.

Jika aku menerima... aku akan menjadi Nyonya Alkantara. Meski hanya kontrak satu tahun.

Aku mengambil pulpen itu dengan tangan yang sangat gemetar.

"Aku..." suaraku bergetar. "Aku setuju, Tuan Brayen."

Aku menandatangani kertas itu. _Isyana._

Brayen melihat tanda tanganku. Ada sesuatu yang berkilat di matanya. Lega? Puas? Atau sesuatu yang lain?

Ia mengambil map itu dan menutupnya. Lalu ia berdiri.

"Bagus. Besok jam 9 pagi, aku jemput untuk akad. Pakai gaun putih yang sudah kusiapkan di lemari kamarmu. Jangan pakai gaun sobek itu lagi."

Ia berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh.

"Dan Isyana..."

"Ya, Tuan?"

Brayen menatapku yang masih memeluk erat jas kebesarannya.

"Jas ku tidak perlu kau kembalikan. Kau tetap pakai malam ini. Karena setelah akad besok, kau tidak hanya memakai jas ku, tapi kau memakai nama ku seumur hidup."

DEG!

Nyonya Alkantara

Aku memegang erat jasnya yang masih kupakai. Wajahku memerah seperti tomat.

Pintu tertutup. Brayen pergi.

Aku sendirian lagi di meja makan dengan piring steak yang setengah habis dan sebuah perjanjian satu tahun yang baru saja mengikat hidupku dengan CEO paling kejam di Jakarta.

Tapi anehnya, untuk pertama kalinya, perjanjian itu tidak terasa menakutkan. Justru... membuat jantungku berdegup kencang karena hal lain.

Karena cinlok yang mungkin akan datang.

---Besambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!