NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 — Tawaran dari Sang Pengumpul Informasi

Undangan itu datang dalam bentuk yang tidak biasa—bukan melalui utusan resmi istana, melainkan sebuah surat kecil yang diselipkan di antara laporan dagang harian Zhou Chen, tanpa tanda pengenal jelas siapa pengirimnya.

"Kediaman Pangeran Kelima. Malam ini. Datanglah sendirian."

Zhou Chen menatap surat itu lama, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Ini bisa jadi jebakan—cara halus untuk menyingkirkannya tanpa menimbulkan kecurigaan terbuka. Namun bisa juga benar-benar sebuah tawaran, mengingat sikap Zhou Ming yang sejak awal lebih condong ke arah rasa ingin tahu ketimbang permusuhan langsung.

"Yang Mulia yakin ingin pergi sendirian?" tanya Ah Fu, khawatir. "Bagaimana kalau ini jebakan?"

"Kalau Zhou Ming ingin menyingkirkanku," jawab Zhou Chen, "dia tidak perlu repot-repot mengundangku secara terang-terangan seperti ini. Dia lebih suka bermain dengan informasi daripada kekerasan langsung."

Meski begitu, sebagai langkah berjaga-jaga, ia tetap memberi tahu Zhao Kai untuk bersiaga di sekitar kediaman Zhou Ming—tanpa mendekat secara mencolok, tetapi cukup dekat untuk bertindak jika keadaan darurat terjadi.

Kediaman Zhou Ming jauh berbeda dari yang dibayangkan Zhou Chen. Alih-alih kemewahan berlebihan yang biasa dipamerkan pangeran-pangeran lain, ruangannya sederhana namun dipenuhi rak-rak buku dan gulungan catatan yang tertata rapi—lebih mirip perpustakaan pribadi seorang cendekiawan daripada kediaman seorang pangeran.

Zhou Ming sendiri duduk di balik meja kerjanya, menyesap teh dengan tenang saat Zhou Chen memasuki ruangan, ditemani seorang pelayan yang segera mengundurkan diri begitu tamu duduk.

"Terima kasih sudah datang, Kakak Keempat," kata Zhou Ming, senyum tipis terukir di wajahnya—senyum yang sulit dibaca apakah itu keramahan tulus atau sekadar taktik.

"Suratmu cukup menarik untuk membuatku penasaran," jawab Zhou Chen, duduk di kursi seberang dengan sikap waspada namun tenang.

Zhou Ming tertawa pelan. "Sesuai dugaanku—Kakak memang bukan orang yang mudah takut, meski situasinya cukup mencurigakan." Ia meletakkan cangkir tehnya, ekspresinya berubah lebih serius. "Baiklah, aku akan langsung ke intinya. Aku tahu tentang kelompok kecilmu. Tentang Xiao Hei, Yue Er, Zhao Kai, dan yang lainnya. Aku juga tahu tentang kerja samamu dengan Adik Ketujuh, dan tentang penyelidikanmu terhadap serangan di jalur dagang."

Zhou Chen menjaga wajahnya tetap tenang, meski dalam hati ia mengakui—jaringan informasi Zhou Ming memang seluas yang dikabarkan.

"Kalau kau sudah tahu semua itu," kata Zhou Chen hati-hati, "mengapa tidak langsung melaporkannya ke Ayahanda atau saudara-saudara lain?"

"Karena aku tertarik," jawab Zhou Ming sederhana. "Selama bertahun-tahun, aku mengumpulkan informasi tentang semua orang di istana ini—kekuatan mereka, kelemahan mereka, ambisi tersembunyi mereka. Tapi kau..." Ia menatap Zhou Chen lekat-lekat. "Kau adalah anomali. Pangeran yang dulunya dianggap paling tidak berbahaya, tiba-tiba menunjukkan pola pikir dan strategi yang jauh melampaui usianya. Aku ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi padamu."

Zhou Chen terdiam sejenak, menimbang situasi dengan hati-hati. Zhou Ming bukan tipe orang yang bisa dibohongi dengan mudah—terlalu banyak petunjuk yang sudah ia kumpulkan untuk menerima alasan sederhana seperti "banyak membaca" atau "hampir mati membuatku berpikir ulang".

Namun mengungkapkan kebenaran sepenuhnya tentang Mata Dewa dan transmigrasinya jelas bukan pilihan yang bijaksana.

"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya," kata Zhou Chen akhirnya, memilih jalan tengah antara kejujuran dan kehati-hatian. "Tapi yang bisa kukatakan adalah, sejak insiden di Hutan Terlarang, aku mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda. Aku menyadari betapa banyak potensi yang terbuang sia-sia di kerajaan ini—orang-orang berbakat yang diabaikan, sumber daya yang tidak dimanfaatkan dengan benar, masalah-masalah yang sebenarnya punya solusi sederhana jika seseorang mau repot-repot mencarinya."

Zhou Ming mendengarkan dengan seksama, matanya menyipit sedikit—tanda bahwa ia sedang menganalisis setiap kata yang diucapkan lawan bicaranya.

"Jawaban yang cukup pintar," katanya akhirnya, "cukup jujur untuk terdengar tulus, tapi cukup samar untuk tidak mengungkapkan apa pun yang benar-benar penting." Ia tersenyum tipis, kali ini terlihat lebih tulus. "Aku menghargai itu. Aku tidak akan memaksa mengorek rahasiamu lebih jauh—setiap orang berhak memiliki rahasia mereka sendiri, termasuk diriku."

Suasana di ruangan itu sedikit mencair setelah pertukaran itu. Zhou Ming menuangkan teh untuk tamunya, sebuah gestur kecil yang menandakan pergeseran sikap dari sekadar interogasi menjadi percakapan yang lebih terbuka.

"Aku punya tawaran untukmu," katanya, kembali ke tujuan utama pertemuan ini. "Aku tahu tentang kelompok bayaran Gagak Hitam yang terlibat dalam serangan terhadap jalur dagangmu. Aku juga punya dugaan kuat tentang siapa yang menyewa mereka—meski aku belum memiliki bukti yang cukup untuk memastikannya secara terbuka."

Zhou Chen menegakkan tubuhnya, perhatiannya sepenuhnya tertuju pada kata-kata Zhou Ming. "Siapa?"

"Belum saatnya kuungkapkan," jawab Zhou Ming, sedikit menggoda namun tetap serius. "Tapi sebagai gantinya, aku menawarkan kerja sama. Aku memiliki akses ke informasi yang mungkin tidak kau miliki. Kau, di sisi lain, tampaknya memiliki kemampuan untuk melihat dan memperbaiki hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain—sesuatu yang bisa sangat berguna bagi rencana panjangku sendiri."

"Rencana panjang seperti apa?"

Zhou Ming tersenyum, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih dalam dari sekadar keramahan biasa. "Kerajaan Zhou terlalu lemah, Kakak. Bukan hanya di mata kerajaan-kerajaan besar di luar sana, tapi juga karena kita terlalu sibuk saling menjatuhkan satu sama lain alih-alih bekerja sama menghadapi ancaman sesungguhnya. Aku muak dengan itu. Dan sepertinya, kau juga merasakan hal yang sama."

Kata-kata itu menggema dalam pikiran Zhou Chen, mengingatkannya pada percakapannya sendiri dengan Zhou Feng beberapa waktu lalu—tentang pentingnya kerja sama dibanding persaingan buta demi kursi kosong.

Mungkin, pikirnya, menatap Zhou Ming dengan pandangan baru, dia bukan ancaman yang harus kuwaspadai. Mungkin, dia adalah sekutu lain yang tidak kuduga akan kutemui secepat ini.

"Baiklah," kata Zhou Chen akhirnya, setelah mempertimbangkan tawaran itu dengan seksama. "Aku menerima kerja sama ini. Tapi dengan satu syarat—kejujuran di antara kita, sejauh yang bisa kita berikan tanpa membahayakan diri masing-masing."

Zhou Ming mengangguk, mengangkat cangkir tehnya sebagai simbol kesepakatan. "Setuju. Dan sebagai langkah pertama—aku akan membantu mencari tahu identitas dalang di balik Gagak Hitam. Kau, sebagai gantinya, izinkan aku sesekali meminta bantuanmu untuk 'melihat' hal-hal yang tidak bisa kulihat sendiri."

Zhou Chen tersenyum tipis, menerima jabat tangan yang diulurkan Zhou Ming sebagai tanda kesepakatan baru di antara mereka.

Malam itu, saat ia berjalan pulang menuju kediamannya sendiri, Zhou Chen merasakan sesuatu yang baru—bukan lagi sekadar bertahan hidup sendirian di tengah istana yang penuh intrik, melainkan mulai membangun jaringan sekutu yang, meski masih rapuh, perlahan mulai terbentuk menjadi kekuatan yang nyata.

Zhou Feng. Zhou Ming. Dan lima orang yang setia mengikutiku sejak awal.

Ini baru permulaan, pikirnya, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam Kerajaan Zhou. Tapi untuk pertama kalinya sejak aku terdampar di dunia ini, aku mulai merasa bahwa aku benar-benar bisa mengubah sesuatu.

Ia belum tahu, bahwa identitas dalang di balik Gagak Hitam yang akan segera terungkap, akan membawa perebutan takhta ini ke babak yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

Bersambung ke Bab 13 — Wajah di Balik Gagak Hitam

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!