Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Tidak akan ada kisah seperti itu. Mama orang pertama yang tidak akan pernah setuju jika Kenanga kembali bersama dengan dia," sahut Salma dengan sedikit emosi.
"Sudah, Ma, jangan hiraukan apa yang dikatakan Lucky. Dia itu cuma asal bicara," ujar Halim sambil mengusap punggung istrinya agar wanita itu lebih tenang.
Dia pun melirik ke arah anak laki-lakinya dengan kesal. Bagaimana bisa Lucky berkata seperti itu padahal anak itu jelas tahu jika mamanya sangat membenci Azka. Orang tua mana yang tidak akan terluka jika putrinya disakiti, baik sengaja ataupun tidak.
"Maaf, Ma, aku hanya bercanda kok tadi," ucap Lucky dengan perasaan bersalah.
"Lain kali tidak ada candaan seperti itu. Itu sama sekali tidak lucu."
"Iya, maaf, Ma."
Sementara itu, Kenanga hanya bisa diam karena dia pun tidak memiliki niatan untuk kembali dengan Azka lagi. Lagipula bukankah pria itu sudah menikah. Meskipun Kenanga tidak tahu bagaimana takdir mereka ke depannya, tetapi sebisa mungkin dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Dirinya sangat membenci pelakor, tentu tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang itu.
Setelah selesai makan malam, mereka berkeliling mencari makanan pinggir jalan untuk dibawa pulang. Memang tidak baik untuk kesehatan, mengingat ini sudah sangat larut. Apalagi diantara makanan yang dibeli banyak mengandung minyak, tapi tidak apa-apalah sesekali, tidak setiap hari juga.
Setelah keinginan semua orang semua terpenuhi. Mereka pun kembali pulang dengan wajah penuh kebahagiaan.
Hari-hari telah berlalu, Lucky juga sudah pulang keesokan harinya setelah makan malam. Sebelum pergi laki-laki itu memberikan semangat pada sang Kakak. Tidak lupa juga dia meminta kakaknya untuk selalu memberi kabar jika sudah terjadi sesuatu di sini.
Kehidupan Kenanga di rumah kedua orang tuanya pun merasa begitu tenang. Wanita itu sangat menikmati keberadaannya di sana. Bukan berarti dia tidak melakukan kegiatan apa pun. Kenanga bukanlah wanita pemalas. Dirinya ikut membantu kedua orang tuanya berkebun dan menanam segala jenis sayuran.
Sejak kecil Kenanga sudah sering ikut berkebun bersama kedua orang tuanya, tentu saja tidak sulit baginya untuk kembali menekuni kegiatan itu. Justru sangat menyenangkan baginya, seperti bernostalgia mengingat kebersamaan keluarganya dulu.
Saat siang hari, Kenanga dan kedua orang tuanya menikmati makan siang di sebuah gubuk yang dibangun di tengah kebun. Suasana terasa begitu asri dan menenangkan. Semua pekerja pun juga beristirahat di gubuk lain.
"Kenanga, bagaimana perkembangan kelanjutan sidang perceraian kamu?" tanya Halim.
"Alhamdulillah, berjalan sesuai keinginanku, tapi sekarang aku masih belum tahu hasil sidang hari ini. Semoga saja hakim menyetujuinya dengan segera. Aku tidak ingin lagi mempunyai hubungan dengan keluarga itu," jawab Kenanga.
"Mudah-mudahan saja. Papa juga berniat untuk menjual saham yang Papa peroleh dari Bima," ujar Halim dengan memandang jauh ke depan.
"Kenapa, Pa? Bukankah sebelumnya dari awal Papa menginginkan saham itu?"
"Sama seperti kamu, Papa juga tidak ingin terlibat dengan dia lagi. Jika Papa masih memegang saham itu, pasti nanti akan ada alasan bagi Bima datang ke sini untuk menemuimu dan membujukmu kembali bersama. Papa tidak ingin itu terjadi."
"Mama setuju. Dulu dia pernah memanfaatkan Kenanga untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Ke depannya tidak menutup kemungkinan jika dia akan melakukan hal yang sama. Orang seperti itu pasti akan selalu melakukan segala cara untuk membuat apa yang menjadi keinginannya terwujud. Mama juga tidak ingin kamu berhubungan dengan orang seperti itu lagi," sela Salma.
"Mama tenang saja, kali ini aku benar-benar sudah sadar dan tidak akan pernah mau kembali bersama pria seperti itu."
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba saja Pak Toni datang dan berkata, "Maaf, Pak, Bu. Di rumah ada yang mencari Non Kenanga."
Semua orang pun menoleh seolah meminta penjelasan siapa tamu tersebut. Belum berkata apa-apa, Kenanga lebih dulu bertanya, "Mencariku? Siapa, Pak Toni?"
"Mas Azka."
"Azka yang dulu itu?" tanya Salma.
"Iya, Bu," jawab Toni karena dia pun juga tahu kisah masalalu Kenanga.
"Usir saja dia. Ngapain dia datang ke sini," ujar Salma.
Toni terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Salma. Sebenarnya dia juga merasa tidak enak memberi informasi seperti ini, mengingat keluarga ini tidak menyukai orang itu, tapi dirinya hanya pekerja di tempat ini, tidak mungkin mengusir tamu dari majikannya begitu saja tanpa perintah.
"Jangan begitu! Bagaimanapun juga dia itu tamu, tidak baik memperlakukan tamu seperti itu," sela Halim.
"Tergantung tamunya seperti apa," sahut Salma yang kemudian bertanya pada sang putri. "Kenanga, kamu mau menemui dia?"
Dari tatapan matanya Kenanga bisa menyimpulkan jika mamanya itu melarangnya untuk menemui Azka. Namun, dalam hati tidak mungkin dirinya mengusir tamu begitu saja. Benar kata sang papa, dirinya harus memperlakukan tamu dengan baik, terlepas dari niat orang itu saat datang ke rumah.
"Tidak ada salahnya karena hanya sebentar saja."
"Sudahlah, Ma, biarkan saja Kenanga menemuinya sekarang," ucap Halim yang kemudian menoleh ke arah putrinya. "Tapi ingatlah, Kenanga, kamu harus jaga batasan. Bagaimanapun juga saat ini kamu masih status istri orang."
"Iya, Pa. Aku mengerti."
Kenanga pun pergi dari sana bersama dengan Pak Toni. Tidak lupa membersihkan kaki dan tangannya yang terkena tanah tadi saat berkebun.
"Pak Toni, Azka datang bersama siapa?" tanya Kenanga di sela langkah mereka.
"Hanya sendiri, Non. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, barangkali dia datang bersama dengan keluarganya."
Dari jauh Kenanga bisa melihat keberadaan Azka yang sedang duduk di teras rumahnya. Pak Toni pun memilih untuk kembali ke gudang yang ada di samping rumah untuk melanjutkan pekerjaannya. Kenanga mendekat ke arah teras rumah dan mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Maaf, membuatmu menunggu lama," ujar Kenanga yang berusaha bersikap sopan.
"Tidak. Hanya menunggu sebentar saja."
Kenanga pun duduk di kursi yang ada di samping Azka. Namun, masih terhalang oleh sebuah meja. Terdapat segelas teh di sana. Mungkin bibi yang membuatkannya, jadi Kenanga tidak perlu menawarinya minuman lagi.
"Ada apa ya, Mas Azka, datang ke sini? Apa ada keperluan?" tanya Kenanga yang tidak ingin berbasa-basi.
"Aku hanya ingin berterima kasih padamu karena sudah menolong anakku."
"Waktu itu kamu sudah berterima kasih. Kenapa berterima kasih lagi?"
"Sekarang aku ingin berterima kasih dengan benar. Aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Kamu ada waktu 'kan?"
"Maaf, Mas Azka, tapi aku sedang ada pekerjaan."
"Kalau begitu lain waktu bagaimana?"
"Sekali lagi aku minta maaf, tidak bisa."
"Kenapa? Apa kamu sengaja menghindariku?"
"Aku tidak harus menjelaskan alasan kenapa aku menolak makan siang bersama kamu, kan? Kamu tentu masih sangat ingat apa yang menjadi alasannya."
"Kenanga, aku minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitimu."
"Bermaksud atau tidak, tapi semuanya sudah terjadi. Aku tahu kamu tidak sebenarnya bersalah, tapi ketidak tegasan kamu itu yang membuatku terluka. Aku berharap ini yang terakhir kalinya kamu datang ke sini. Tidak pantas rasanya pria beristri menemui wanita yang bersuami."
itu karma buat km bima.... mndzolimi istri yg sdh mngbdikn hidupnya untuk suami yg g ada otak & durhaka macam km....
syukurin km bima milih jalang mkne anaknya pun jalang.
jd nikmati saja.
bibit nya saja bpk ibu yg gk bner berharap apa Dr darah turunan gk bner.