Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 — Permintaan Maaf
Dua hari kemudian, Bu Ratna meminta bertemu langsung dengan Kirana, sebuah permintaan yang membuat gadis itu campur aduk antara gugup dan penasaran. Mereka sepakat bertemu di sebuah kafe tenang, jauh dari keramaian kantor maupun media yang masih sesekali membahas berita heboh beberapa hari lalu.
Kirana tiba lebih dulu, duduk gelisah menunggu kedatangan calon ibu mertuanya itu, hatinya dipenuhi berbagai kemungkinan tentang apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu.
Bu Ratna datang tepat waktu, penampilannya tetap anggun seperti biasa, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya—sebuah kelembutan yang tidak Kirana lihat sebelumnya.
"Terima kasih sudah bersedia ketemu, Kirana," Bu Ratna membuka pembicaraan, duduk di seberang Kirana dengan sikap yang jauh lebih hangat dari pertemuan pertama mereka di koridor kantor.
"Iya, Bu," Kirana menjawab, masih sedikit waspada meski mencoba bersikap sopan.
Bu Ratna menghela napas panjang, tampak mengumpulkan keberanian untuk memulai apa yang ingin ia sampaikan. "Kirana, saya di sini untuk minta maaf. Secara langsung, tanpa alasan yang mengada-ada."
Kirana terkejut mendengar pengakuan langsung itu, tidak menyangka wanita berwibawa di hadapannya akan seterbuka ini.
"Saya yang bertanggung jawab atas berita yang beredar kemarin," lanjut Bu Ratna, suaranya penuh penyesalan yang tulus. "Saya nggak pernah bermaksud sejauh itu, tapi saya harus akui, saya yang memulai semuanya karena ketakutan dan kekhawatiran saya sendiri."
"Kenapa, Bu?" Kirana bertanya pelan, ingin memahami alasan di balik tindakan yang begitu menyakitkan itu.
Bu Ratna kemudian menceritakan kembali kisah masa lalu yang sudah ia sampaikan pada Rangga—tentang ayah Rangga yang pernah nyaris bangkrut karena dikhianati rekan bisnis, tentang trauma yang membuatnya begitu waspada terhadap siapa pun yang datang dari keluarga bermasalah secara finansial.
Kirana mendengarkan dengan seksama, hatinya perlahan melunak memahami akar dari kekhawatiran Bu Ratna, meski luka akibat fitnah yang ia alami masih terasa begitu segar.
"Saya paham kekhawatiran Ibu," Kirana akhirnya berkata, suaranya tenang meski masih menyimpan sedikit rasa sakit. "Tapi Bu, saya bukan orang yang seperti itu. Saya kehilangan segalanya bukan karena kesalahan saya sendiri, dan saya berjuang bangkit dari nol tanpa memanfaatkan siapa pun, termasuk Rangga."
"Saya tahu itu sekarang, Kirana," Bu Ratna mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Dan saya menyesal sudah membiarkan ketakutan saya menghancurkan reputasimu tanpa sempat benar-benar mengenal siapa kamu sebenarnya."
"Terima kasih sudah mengakuinya, Bu," Kirana berkata tulus, meski masih ada jarak yang perlu waktu untuk dipulihkan sepenuhnya. "Itu artinya banyak buat saya."
Bu Ratna kemudian mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah draf pernyataan resmi yang sudah ia siapkan. "Saya sudah menyiapkan klarifikasi resmi yang akan saya rilis besok, mengakui keterlibatan saya dan meluruskan semua fitnah yang beredar soal kamu. Saya harap ini bisa membantu memulihkan namamu."
Kirana membaca draf itu dengan seksama, matanya berkaca-kaca melihat betapa detail dan tulusnya permintaan maaf yang tertulis di sana, jauh melampaui yang ia harapkan.
"Makasih banyak, Bu," Kirana berkata, suaranya bergetar menahan haru.
"Saya juga mau bilang," Bu Ratna menambahkan, menatap Kirana dengan pandangan yang lebih hangat, "saya lihat sendiri, seberapa besar Rangga berjuang buat kamu. Dia nggak pernah seserius dan seberani ini soal perasaannya sama siapa pun sebelumnya. Itu artinya kamu memang spesial buat dia."
Kirana tersenyum kecil, wajahnya memerah mendengar pengakuan itu. "Rangga juga spesial buat saya, Bu."
"Saya masih butuh waktu buat benar-benar bisa menerima kalian sepenuhnya," Bu Ratna berkata jujur, "tapi saya janji, saya nggak akan lagi mengambil tindakan sepihak kayak kemarin. Kalau saya punya kekhawatiran, saya akan bicarakan langsung sama kalian berdua."
"Saya menghargai itu, Bu," Kirana mengangguk, merasakan kelegaan besar yang menyelimuti dadanya.
...****************...
Keesokan harinya, klarifikasi resmi dari Bu Ratna dirilis ke publik, mengakui keterlibatannya dalam penyebaran informasi yang disalahartikan media, sekaligus menegaskan bahwa Kirana adalah karyawan berprestasi yang layak dihormati atas kerja kerasnya, bukan sosok oportunis seperti yang digambarkan sebelumnya.
Berita klarifikasi itu menyebar hampir secepat berita fitnah sebelumnya, dan perlahan reputasi Kirana mulai pulih, bahkan beberapa media memuji keberanian Bu Ratna untuk mengakui kesalahannya secara terbuka—sebuah langkah yang jarang dilakukan oleh figur publik sekelasnya.
Di kantor, suasana perlahan kembali normal, rekan-rekan kerja yang sempat ragu kini kembali bersikap hangat, bahkan beberapa secara khusus mendatangi meja Kirana untuk menyampaikan dukungan mereka.
Malam itu, Kirana dan Rangga duduk berdua di apartemen Rangga, merayakan kelegaan setelah badai besar yang baru saja mereka lewati bersama.
"Kita berhasil lewatin ini," Kirana berkata pelan, bersandar di bahu Rangga, merasakan ketenangan yang begitu berharga setelah minggu-minggu penuh gejolak.
"Karena kita hadapi bareng-bareng," Rangga membalas, mengecup lembut puncak kepala Kirana. "Dan ini baru permulaan, Kirana. Saya yakin, apa pun tantangan yang akan datang selanjutnya, kita bisa lewatin bareng-bareng, selama kita saling percaya satu sama lain."
Kirana tersenyum, menatap Rangga dengan penuh cinta dan keyakinan, tidak menyadari bahwa di balik ketenangan yang baru saja mereka temukan, sebuah rahasia lain dari masa lalu Kirana—sesuatu yang berkaitan dengan Om Broto dan kebangkrutan keluarganya—sedang menunggu waktu yang tepat untuk terungkap, membawa tantangan baru yang jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka hadapi sebelumnya.
ini novel saya pertama🥰🥰